Cintamu abadi, aku tahu itu.
Makanya sampai detik ini, aku tidak ingin berhenti mencintaimu.
***
Tanpa mereka sadari, waktu berlalu bagaikan kedipan mata. Nara memandang kelas barunya dengan takjub. Kelas 12 Nara bahkan merasa baru kemarin ia berkenalan dengan Sandra di parkiran. Nara duduk di barisan paling depan karena ia ingin lebih fokus memperhatikan saat gurunya menjelaskan. Nara takut tidak bisa menyimak dengan maksimalkalau di belakang. Nara mendengus, teringat Deeka yang lebih sering tertidur setiap guru menjelaskan. Cowok itu memang terlalu cuek, santai, seakan tidak peduli dengan nilai. Nara ingat, nilai cowkitu sering mendapat di bawah KKM. Namun, cowok itu tidak terlihat sedih. Ia malah sering menghibur Roni saat sahabatnya itu tidak mendapat nilai seratus. Maksud Deeka, ia saja yang mendapat nilai lima tetap bisa tertawa. Jadi, tidak seharusnya Roni bersedih. Lagipula, masih ada ujian-ujian berikutnya. Waktu mereka masih panjang.
Nara tersenyum saatmengingat pertemuan terakhirnya dengan Deeka. Tiba-tiba, ia jadi merasa gugup. Tangannya bahkan jadi berkeringat saat mengingat ia tidak boleh menjaga jarak lagi dengan Deeka. Namun, apa keputusannya sudah benar? Astaga, Nara hampir lupa ancaman Siska. Bagaimana jika Siska tahu Nara ingin dekat dengan Deeka sekarang? Pasti Siska akan marah sekali.
Oh, tidak, seseorang yang mengganggu pikiran Nara akhirnya datang. Nara langsung menunduk saat Deeka datang bersama Roni. Cowok itu terlihat begitu santai melewati Nara, mengambil tempat duduk di paling belakang. Nara bingung, Deeka melewatinya begitu saja tanpa menyapanya sehingga dirinya merasa kecewa. Namun, Nara bukanlah siapa-siapa Deeka. Jadi, apa yang sebenarnya Nara harapkan?
Ketika bel masuk berbunyi, Sandra sudah duduk di sebelah Nara. Sandra mengatakan dirinya bersyukur karena kelas mereka tidak diacak meskipun memang ada beberapa murid kelas sebelah yang jadi pindah ke kelas yang sama dengan Nara. Semua murid yang pindah kelas adalah cewek, dan saat ini mereka sedang berdiri mengelilingi meja Deeka dan Roni. Nara menoleh ke belakang, melihat Deeka mengobrol dan berkenalan dengan para cewek itu. Senyuman cowok itu sangat ramah, Deeka pasti senang karena dikelilingi perempuan cantik. Oh, astaga, kenapa malah jadi kesal,sih? batin Nara.
Nara kembali melihat ke depan, berusaha mengabaikan tawa dari para cewek yang sedang mengobrol dengan Deeka. Jadi, cowok itu memang baik dan ramah kepada siapa saja. Bukan hanya dengan Nara. Seharusnya Nara sudah tahu, tapi tetap saja dirinya merasa kesal. Darahnya terasa sedikit mendidih.
Pada waktu yang sama, Deeka sebenarnya sedang kewalahan meladeni para cewekasing yang tiba-tiba sok akrab menyapanya. Ia terus pura-pura tersenyum agar tidak menyinggungperasaan para cewek tersebut karena mereka sekarang satu kelas dengan Deeka. Jika Deeka salah bicara sedikit, ia pasti akan menjadi bahan gosip. Ia sangat tahu para cewek itu hobi bergosip, tidak jauh berbeda dengan Siska. Hal yang sangat tidak disukai Deeka.
Mereka semua berbeda sekali dengan Nara—yang terlihat tidak ingin membicarakan hal tidak penting semacam itu. Di saat para cewek lain bergosip, Nara malah memilih belajar atau membaca novel. Cewek itu pendiam, tapi menyenangkan untuk diajak bicara,seperti saat di taman. Deeka tidak akan lupa dengan suara Nara yang halus dan enak didengar.
Seharusnya Deeka mendengar nasehat Roni, untuk mulai berubah demi Nara. Namun… bukankah itu tidak benar? Kita tidak boleh berubah demi orang lain. Sesuka apa pun kita pada orang tersebut, jangan jadikan dia sebagai alasan untuk berubah. Kita harus berubah lebih baik, tanpa paksaan. Bukan demi orang lain, tapi, demi diri sendiri. Itu baru benar. Lihat? Deeka tidak bodoh-bodoh amat, kan? Iya, Deeka pasti akan berubah lebih baik. Namun, nanti. Ia merasa waktunya sudah tepat. Lagipula, ia masih sangat muda. Waktunya masih banyak.
Setelah bermenit-menit—yang terasa sangat lama—akhirnya para cewek genit itu kembali ke meja mereka masing-masing. Meniggalkan Deeka yang langsung mengembuskan napas lega. Deeka mulai memperhatikan guru Fisika mereka yang sedang berbasa-basi, mengucapkan selamat karena murid-muridnya sudah naik ke kelas XI. Ya, ya, gurunya pasti heran karena Deeka berhasil naik kelas. Nilai Deeka memang parah, tapi presensi nyapenuh. Dirinya yang selalu masuk itu menjadi pertimbangan yang kuat. Namun, tentu saja wali kelasnya tetap meminta Deeka agar belajar lebih giat di kelas 11. Jangan malas seperti kelas 10, tentu saja.
“Baiklah, bagaimana kalau kita mulai belajar? Pada tahun ajaran baru ini, Ibu ingin kalian ada kelompok belajar. Tunggu, biar Ibu saja yang tentukan kelompoknya.”
Hampir semua murid langsung mendesah malas. Mereka lebih suka menentukan kelompok sendiri. Deeka cuek saja bertopang dagu, menunggu Bu Siti menyebutkan nama Deeka. Saat mengumumkan anggota kelompok tiga, pendengaran Deeka barulah menajam, karena ada nama Nara di kelompok itu.
“Nara, Sandra, Roni, dan… Deeka. Astaga, Deeka, kamu Ibu tempatkan satu kelompok dengan Nara agar ketularan rajin dan pintarnya. Jangan bikin Ibu kecewa, oke?” Bu Siti memandang Deeka dengan cukup tegas. Sedangkan Deeka hanya mengacungkan jempol, lalu mengedipkan satu matanya saat melihat Nara menoleh ke arahnya. Deeka kemudian tertawa pelan, karena Nara malah terlihat geli.
Baiklah, sepertinya ini awal yang bagus untuk perubahan Deeka agar menjadi lebih baik. Semoga Nara merasa sebahagia Deeka, saat mengetahui mereka mendapat kelompok yang sama. Mari bilang ‘aamiin’ bersama-sama!
***
Nara merasa waktu sudah mempermainkannya. Satu tahun yang lalu, ia ingat betapa kesal dirinya pada Deeka. Ia bahkan sampai menjaga jarak, membentengi diri dengan cara membenci cowok itu. Sejujurnya, Nara melakukan semua itu karena ia terlalu takut. Ia sangat akan takut jatuh cinta pada Deeka. Ayahnya pernah mengatakan cinta itu menyakitkan. Nara yang sangat percaya pada ayahnya itu, hanya bisa mengangguk dan berjanji tidak akan jatuh cinta sampai ia merasa siap untuk merasakan sakit. Makanya ia bersikap galak pada Deeka, bahkan sering kali pura-pura tidak menyadari kehadiran cowok itu.
Namun, detik ini, saat ia sedang membantu Deeka mengerjakan soal Fisika.Jantung Nara terus berdebar dengan ritme yang tidak semestinya. Tangan Nara terasa dingin, sedangkan wajahnya terasa sangat panas. Ia menggeser posisi duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Deeka, tapi cowok itu malah ikut bergeser mendekati Nara. Astaga, Nara bisa gila jika terus seperti ini.
“Dee, gue boleh minta minum?” tanya Nara berusaha menyembunyikan gugup. Ia tahu, suaranya pasti jadi terdengar sangat ketus dan tidak menyenangkan. Entahlah, Nara sadar dirinya selalu berubah menjadi sedikit galak setiap salah tingkah. Aneh sekali.
“Boleh, minta helicopter juga boleh.” Deeka terkekeh, bangkit berdiri untuk melesat menuju dapur.
Ketika Deeka sudah pergi, Sandra jelas melihat wajah Nara yang begitu lega. “Lo kenapa, Ra?”
“Hah? Nggak apa-apa. Memangnya gue terlihat gimana?” jawab Nara, yang malah kemudian balik bertanya. Apa wajah Nara memang terlihat sangat merah, hingga Sandra bertanya begitu?
“Terlihat lucu,” jawab Sandra terkekeh pelan. Ia menoleh ke Roni yang duduk di sebelahnya. “Iyakan, Ron?”
Roni mengerjap, menatap Nara datar, sebelum akhirnya mengangguk. “Lo terlihat lucu.”
Nara memegangi kedua pipi dengan panik, bangkit dari duduknya. “Astaga, gue kayaknya harus ke toilet.”
Roni menunjuk arah ke toilet.Ia cukup hafal letak ruangan di rumah Deeka karena sering bermain ke sini. Nara mengangguk, setengah berlari menuju ke arah yang Roni tunjukkan. Nara harus becermin untuk melihat sendiri kondisi wajahnya. Apa benar terlihat lucu? Apa-apaan Sandra dan Roni? Mengapa wajah Nara dibilang lucu? Memangnya Nara itu Sule?
Sandra langsung tertawa ketika Nara sudah menghilang dari ruang TV. Ia menoleh ke Roni yang kembali sibuk mengerjakan soal. Wajah cowok itu terlihat begitu serius, membuat Sandra merasa gemas ingin mencubit pipinya. Bohong, jika Sandra berkata tidak tertarik pada Roni. Cowok itu terlalu menarik untuk tidak disukai. Memang kebanyakan murid cewekdi sekolahnya lebih menyukai Deeka karena Deeka lebih terlihat ramah dan ceria. Namun, entah mengapa, sifat Roni yang tidak banyak bicara dan terkesan serius—sangat membuat Sandra kagum.
Roni merasa diperhatikan lekat-lekat oleh Sandra, tapi ia tetap memilih pura-pura sibuk dan tidak mengacuhkannya karena ia bingung harus berbuat apa. Ronimemang sudah satu kelas dengan Sandra selama satu tahun, tapi bukan berarti hubungannya dan Sandra bisa dibilang dekat. Roni sangat jarang mengobrol dengan cewek itu. Rasanya canggung sekali. Ia tidak ingin muncul gosip yang aneh-aneh lagi. Terakhir kali ia bersikap ramah pada seorang cewek, ia langsung digosipkan memiliki hubungan dengan cewektersebut—yang sebenarnya tidak Roni kenal. Makanya sejak saat itu, ia selalu menjaga jarak. Termasuk dengan Sandra.
“Eh, Nara mana? Kok malah hilang?” Deeka datang membawa nampan berisi empat gelas jus jeruk. Ia sedikit membungkuk untuk meletakkan gelas satu persatu di meja, pada gelas keempat, tangannya terasa lemas hingga gelas itu terlepas begitu saja, membuat bukunya yang ada di meja jadi basah kuyup. “Astaga, lagi-lagi gue ceroboh. Maaf, maaf!”
Roni berdecak, mengamankan buku yang lain agar tidak terkena jus yang tumpah. “Udah, cepat keringin buku lo.”
Deeka mengangguk, mengambil bukunya yang basah dan menjemurnya di teras. Lagi-lagi Deeka dilanda ketakutan. Deeka menjadi tidak sabar menunggu hasil pemeriksaannya keluarminggu depan. Namun, ia harus menyiapkan mental. Apa pun hasil pemeriksaannya, ia tidak boleh terlihat sedih. Setidaknya, jangan di depan keluarganya. Deeka mengembuskan napas, kembali masuk dan bergabung dengan teman-temannya. Nara sudah kembali duduk, tapi wajahnya terlihat bingung melihat meja yang basah. Deeka langsung menjelaskan kalau jus jeruknya tidak sengaja tumpah mengenai bukunya.
“Makanya, hati-hati, dong. Buku itu mahal, tahu.” Deeka meringis mendengar omelan dari Nara. Cewek itu benar, bukunya memang mahal. Seharusnya Deeka bisa lebih hati-hati lagi. Namun, bagaimana Deeka sebenarnya sudah merasa berhati-hati?
“Iya, gue akan lebih hati-hati,” ujar Deeka tertawa. Ia merasa lucu, karena jika dihitung, ia sudah terlalu banyak mengatakan hal semacam itu. Lebih hati-hati, tapi ia tetap saja terjatuh. Lebih hati-hati, tapi tetap saja ia membuat gelas pecah. Lebih hati-hati? Deeka mulai merasa muak dengan kalimat itu. “Ayo, kita lanjut belajar.”
Di sela-sela belajar mereka, Deeka terus mencuri beberapa detik untuk memperhatikan wajah Nara yang sangat serius. Alis cewek itu sampai bertautan, membuat Deeka gemas. Namun, tentu saja Deeka selalu membuang muka setiap dipergoki oleh Nara. Astaga, jantungnya jadi berdebar tidak beraturan. Namun, Deeka tidak pernah kapok. Ia terus melakukan hal itu berkali-kali, hingga ia merasa wajah Nara terlihat tidak nyaman.
“Jangan ngeliatin gue mulu,” ucap Nara dengan ketus dan sedikit menunduk menatap buku cetaknya. “Baca bukunya, Dee. Habis itu gue akan kasihpertanyaan.”
Deeka berkedip beberapa kali, langsung memfokuskan pandangannya ke buku. “Iya, ini juga lagi baca, Ra. Siapa yang ngeliatin lo, sih? PD banget.”
“PD?” Nara menajamkan matanya, mendelik ke Deeka yang kini sedang pura-pura baca buku. “Gue mergokin lo ngeliatin gue hampir sepuluh kali, ya!”
Deeka terkekeh hambar. “Cie, dihitung.”
“Nggak tahu, ah. Bodoh amat.”
Deeka yang telah membuat Nara marah, sama sekali tidak merasa bersalah. Baginya, ekspresi Nara ketika marah sangat menghibur. Namun, sebagai cowok yang baik hati, Deeka merasa harus tetap meminta maaf.
“Maaf, deh. Gue janji akan lebih fokus belajar,” bisik Deeka, agar Roni dan Sandra tidak dengar. Sayangnya, Nara tetap cemberut, sampai Deeka akhirnya berinisiatif mencubit pipi Nara dengan gemas. “Lo jadi tambah jelek kalo cemberut. Ayo, senyum.”
“Ih! Lepas!” Nara memegang tangan Deeka yang mencubit pipinya. Tiba-tiba darahnya berdesir lebih cepat. Tangannya seolah tersetrum saat memegang tangan Deeka. Perasaan apa ini? pikir Nara, yang saat ini bingung dengan perasaannya.
Deeka tertawa hambar, melepas tangannya dari pipi Nara. Deeka senang, ternyata cewek itu terlihat gugup juga seperti dirinya. Deeka sempat berpikir bahwa Nara mulai luluh dengan pesona dan karismanya. Namun, pikiran itu segera dihilangkan dari benaknya karena mungkin sajawajah Nara gugup begitu karena ingin buang air kecil. Bisa jadi, kan?
“Gue mau ke toilet. Lagi.” Nara bangkit berdiri, membuat senyum Deeka sedikit pudar.
Lihat? Ternyata tebakan Deeka benar. Nara memang ingin buang air kecil. Bukannya jatuh cinta!
***
Hari mulai larut, Deeka mengantar semuanya hingga depan pintu. Roni dan Sandra membawa motor, hanya Nara yang tidak membawa kendaraan. Sepeda Nara sepertinya rusak. Deeka awalnya mengira Nara akan pulang dengan Sandra. Namun, cewek jail itu malah berkata ia harus segera pulang dan tidak bisa mengantar Nara karena arah rumahnya berlawanan. Deeka melirik Roni agar mengantarkan Nara pulang, tapi sahabatnya yang baik hati itu malah menolak juga. Katanya lelah dan harus sampai rumah sebelum jam enam.
Deeka jadi menggaruk belakang kepalanya. Deeka heran mengapamereka menolak untuk mengantarkan Nara ke rumah. Apalagi Sandra! Ia kansahabat Nara, seharusnya ia mau mengantar sahabatnya sampai rumah tanpa lecet sedikit pun. Namun, ini tidak. Sahabat macam apa itu? Bikin kesal saja. “Kalian kok jahat? Terus, Nara pulang gimana?”
Sandra berdeham. “Kenapa nggak lo aja yang nganterin, Dee?”
Mata Deeka rasanya nyaris keluar. “Hah? Oh, jadi kalian—”
Roni dengan cepat menginjak kaki Deeka agar sahabatnya yang bodoh itu diam. Deeka tadi sempat tidak sadar dengan maksud terselubung Roni dan Sandra menolak mengantar Nara pulang.Deeka merasa bersalah karena sempat menganggap Roni dan Sandra adalah sahabat yang tega membiarkan ceweksebaik Nara pulang jalan kaki. Dasar bodoh. “Tapi, kalau bisa anterinnya pakai mobil aja. Lo akhir-akhir ini hobi banget jatoh. Bahaya kalau Nara jatoh dari motor nanti, kayak lo beberapa hari yang lalu.”
“Hah? Deeka jatoh dari motor?” tanya Nara dengan mata membulat, menatap Deeka. “Apa yang luka? Lo keliatan sehat-sehat aja.”
“Cuma siku, nggak parah.” Deeka meringis. “Lagian, itu udah beberapa hari yang lalu. Lukanya udah sembuh, kok.”
“Ohh, kirain parah.” Nara mengangguk, sedikit lega karena luka Deeka tidak parah.
Roni berdeham, melirik Sandra. “Ya udah, kita pulang duluan, ya!”
Sandra memeluk Nara singkat. “Dah, Ra! Sampai ketemu besok!”
Selepas Roni dan Sandra pergi, Nara melirik Deeka lumayan canggung. Tadi, Roni menyuruh Deeka mengantar Nara dengan mobil? Wow, Deeka bisa menyetir? Memangnya dia sudah punya SIM? pikirnya.
“Tunggu sini, gue mau manggil sopir pribadi gue dulu,” ujar Deeka sebelum kembali masuk ke dalam rumah. “Bang Andra!”
Nara menghela napas, ternyata yang menyetir adalah sopir pribadinya. Bukan Deeka. Namun, nama supirnya itu… Bang Andra. Nara merasa nama itu terlalu bagus. Benar saja, ketika “sopir pribadi” Deeka keluar dari rumah, rasanya Nara mau pingsan detik itu juga. “Dia supir lo?”
Andra mengernyit, menunjuk Deeka. “Hah? Gue? Sopirnya nih bocah?”
Deeka yang ditunjuk, hanya bisa tertawa sambil mengamit lengan abangnya dengan manja. “Astaga, Ra. Masa Abang gue yang seganteng ini dibilang sopir, sih?”
“Lah, tadi lo yang—”
“Ssstt, udah, ayo kita berangkat.” Deeka menarik tangan Nara agar mereka berjalan mendahului Andra, lalu berbisik, “Gue tadi bercanda pas nyebut sopir pribadi. Aduh, kalau Abang gue marah, lo jadi gagal pulang.”
Nara mendengus geli, masuk ke dalam mobil saat Deeka membukakan pintu. “Ngomong-ngomong, Abang lo ganteng banget. Nggak kayak adeknya.”
Sial. Inilah yang Deeka takutkan.
“Eh, lo duduk di sebelah gue. Memangnya gue sopir lo?” Andra menjewer telinga Deeka saat adiknya itu mau masuk ke kursi peumpang.
“Ya elah, Bang. Kali ini aja, gue mau duduk di belakang. Lo nggak peka banget jadi abang.” Deeka memohon dengan nada yang begitu frustrasi, hingga Andra merasa tidak tega.
“Oke, kali ini aja.”
Selama perjalanan, Nara terus memandang jendela, sesekali melihat abangnya Deeka yang sedang serius menyetir. Juur saja, Nara akui wajah abangnya Deeka sangat tampan. Sedikit lebih tampan dari Deeka, membuat Nara merasa semakin gugup saja berada satu mobil dengan dua cowok itu.
Deeka yang duduk di sebelah Nara, mulai merasa kesal karena Nara terus mencuri pandang ke arah abangnya, padahal Deeka dari tadi terus memperhatikan Nara. Rasanya seperti diselingkuhi, hati Deeka terasa sakit sekali seakan ditusuk-tusuk oleh belati. Oke, itu berlebihan dan Deeka jadi terdengar lemah. Deeka tidak selemah itu, ia juga tidak cemburu dengan abangnya! Andai Nara tahu sifat Andra yang manja, pemalas, kuliah tidak lulus-lulus, dan jarang gosok gigi—pasti Nara akan mundur seribu langkah. Itu ide bagus, Deeka harus membocorkan aib abangnya itu pada Nara, agar saingan Deeka berkurang.
“Jadi, sejak kapan kalian pacaran?” tanya Andra tiba-tiba, lantas Nara langsung terbatuk karena terkejut. Apa tadi katanya? Pacaran?
“Ki-kita nggak pacaran, Kak,” jawab Nara terdengar sangat canggung.
“Astaga, syukurlah. Lo memang layak mendapat cowok yang lebih waras, Ra.” Andra tertawa puas, kemudian langsung mendapat hadiah tinju di lengannya dari sang Adik. “Aduh, lo marah karena gue sebut nggak waras, Dee? Biasanya lo nggak pernah protes.”
“Gue marah bukan karena hal itu. Tapi, karena lo sok akrab sama dia, Bang. Duh, jangan bikin gue gatel untuk menyebarkan aib lo.”
Andra semakin tertawa. “Aib lo lebih banyak, gue nggak takut.”
Deeka tidak ingat dirinya menyimpan lebih banyak aib dibanding abang kandungnya itu. Sial. Ini namanya skakmat. “Nggak tahu, ah. Gelap!”
Setelah sampai di depan rumah Nara, Andra langsung turun dan membukakan pintu untuk Nara. Ketika Nara sudah turun, Andra langsung menutup pintu mobilnya dan mengunci semua pintu dengan tombol yang ada di kunci mobil. Tentu saja itu membuat Deeka terkurung di dalam mobil sendirian. Andra tersenyum miring, merasa puas mengerjai adiknya. Andra tahu sekali kalau Deeka itu gampang panikdan malas berpikir di situasi tertentu. Sebenarnya bisa saja Deeka membuka kuncinya dari dalam, tapi yang cowok itu pikirkan hanya ‘Andra dan Nara yang bicara berdua’. Deeka sudah terlalu cemburu, hingga tidak bisa melakukan apa pun selain memukul kaca jendela.
“Bang! Gue belom turun, woy! Buka!” seru Deeka dari dalam mobil sambil memukul-mukul kaca jendela. “Bang, gue kutuk nih jadi teh celup!”
Andra hanya mendengus geli, ia kemudian mengulurkan tangannya ke depan Nara. “Boleh pinjem ponsel? Kita kayaknya harus lebih sering bekomunikasi, deh.”
Nara mengerjap. Seperti dihipnotis, ia menyerahkan ponselnya dengan suka rela. “Mau ngapain, Kak?”
“Panggil aja gue Bang Andra. ‘Kakak’ itu terlalu imut untuk gue. Dan… selesai. Kita udah temenan di LINE. Salam kenal,” ujar Andra setelah mengotak-atik ponsel Nara. Tidak lupa, ia mengedipkan satu matanya di akhir kalimat. Tingkahnya itu tentu saja membuat kaki Nara terasa sedikit lemas.
“O-oke, Bang Andra. Salam kenal.”
“BANG ANDRA! BUKA!” seru seseorang yang masih terkurung di mobil, mulai merasa panas melihat kedekatan abangnya dan Nara. “Gue pecahin kacanya, nih!”
Andra menekan satu tombol yang membuat pintu mobil jadi tidak terkunci. Telinganya jadi sakit karena mendengar adiknya teriak-teriak seperti Tarzan. Sedetik kemudian, Deeka langsung keluar dari mobil, meraih kedua lengan Nara.
“Lo nggak diapa-apain, kan?” tanya Deeka panik, sedikit mengguncang kedua lengan Nara.
Ketika Nara baru mau menjawab, Andra tiba-tiba sudah menjewer telinga Deeka. Menyeret Deeka menjauh dari Nara. “Ayo, pulang. Jangan modus mulu.”
“Aduh, aduh! Jangan jewer! Nanti kalau kuping gue copot, gimana?!”
Nara akhirnya tertawa melihat adegan di depan matanya. Abangnya Deeka sangat tampan dan terlihat baik, tapi sepertinya Nara akhirnya tahu hatinya jatuh untuk siapa.