Kebenaran memang terkadang terdengar menyakitkan. Tapi, itu sebenarnya jauh lebih baik dibanding kebohongan yang menyenangkan. *** Sesampainya di rumah sakit, Nara turun lebih dulu sebelum mengembalikan helm kepada Roni. Nara menatap rumah sakit dengan pandangan menerawang. Ia tidak menyangka akan kembali datang ke rumah sakit untuk menjenguk Deeka. Nara kira, saat itu adalah pertama dan terakhir kalinya. Saat itu, kepala Deeka hanya terluka. Lalu, sekarang, Nara takut tidak siap mendengar kenyataan soal penyakit cowok itu. “Ayo, Ra.” Roni entah kenapa menggenggam tangan Nara, mungkin ia berpikir Nara tidak kuat berjalan untuk bertemu Deeka. “Kenapa lo diem aja?” “Eh, ayo.” Nara tersenyum canggung, mengabaikan tautan tangannya dan Roni.

