10.Kepercayaan yang hancur

2107 Words
Taksi selalu menjadi pilihan Naya untuk mengantarnya pergi kemanapun, seperti saat ini ia pulang kerumahnya dengan menggunakan alat transportasi tersebut. Sebenarnya ini bukan waktunya Naya untuk pulang sekolah karena jam sekolah masih sangatlah lama, alih alih menghabiskan waktu berjalan-jalan ke tempat lain untuk menyesuaikan waktu pulang sekolahnya, ia lebih memilih pulang ke rumah mengabaikan konsekuensi yang mungkin ia hadapi, bisa saja salah satu keluarganya melihatnya berada di rumah di jam yang tidak seharusnya lalu mengadukan Naya ke ayah angkatnya sehingga Naya mendapat hukuman. Namun Naya tak peduli, semenjak ia pulang dari rumah pak Dadang Sudirman dan bertemu dengan Bagas dan ibunya, pikiran nya serasa penuh dan ingin pecah, jika saja Naya ingin menjadi lebih gampang ia tinggal mempercayai semua ucapan Atha karena semua fakta dan bukti mengarah ke sana, namun Naya enggan mengakui semuanya. Rasanya tidak mungkin keluarga Dharmendra melakukan hal itu semua, apakah selama ini mereka berpura-pura tulus menyayangi Naya karena mereka benar-benar hanya ingin mengincar harta Naya? Ia harus bisa membuktikan semua hal itu sendiri. Bodoh memang, jelas-jelas semua fakta, bukti bahkan saksi membenarkan bahwa Naya memang harus menjauhi keluarga Dharmendra, namun karena ego Naya mengabaikan semuanya, ia hanya berharap ia tak menyesal di kemudian hari. Taksi yang di tumpangi Naya akhirnya sampai di depan gerbang rumahnya, setelah membayar ongkos taksi Naya masuk rumah melalui gerbang yang telah di buka oleh satpam rumahnya. “Non Naya kenapa pulang sekarang?” tanya satpam yang membukakannya pintu gerbang tadi. “Iya pak, sudah malas di sekolah” jawab Naya seenaknya, namun ekspresi yang ditunjukkan seolah menunjukkan kekhawatiran. “Tapi tuan dan nyonya sudah ada di dalam rumah lo non, nanti kalau kena marah gimana?” peringat sang satpam lagi. Hal itu sempat membuat Naya terkejut, ia berfikir mungkin ia bisa langsung di hukum jika ketahuan membolos. “Jadi ayah dan ibu sudah pulang?” tanya Naya. “Sudah Non” “Ya udah pak, saya mau masuk diam-diam dulu” ucap Naya, sang satpam hanya mengangguk sebagai respon. Naya pun masuk ke dalam rumah dengan hati-hati, menyuruh asisten rumah tangga untuk diam ketika berpapasan dengan dirinya. Hingga akhirnya Naya tiba di lantai 2 tempat kamarnya berada, ketika Naya hendak menghampiri pintu kamarnya, Naya mendengar suara keras dari arah pintu lain. Suara itu seperti suara perdebatan, bukan hanya satu orang dari yang di dengar Naya, ia memperkirakan 3 orang lebih. Naya pun menghampiri asal suara tersebut yang rupanya berasal dari ruang kerja Ayahnya, ruang kerja Ayah angkatnya juga berada di lantai 2 letaknya berdampingan dengan kamar kedua orang tua angkatnya, alasannya agar Ayahnya dapat bekerja lebih efektif. Ketika Naya sampai di depan pintu ruang kerja Ayah angkatnya, suara itu semakin nyaring terdengar. Sepertinya ada yang sedang menggebu-gebu meluapkan amarah, Naya pun di buat penasaran. Naya mencoba membuka pintu tersebut yang rupanya tak terkunci, Naya mencoba membuka sedikit bukan bermaksud untuk melihat siapa yang ada di dalam, hanya untuk mendengar dan memastikan siapa saja yang ada di dalam ruang kerja ayahnya. “Ayah selalu percaya padamu” ucap Arga, Ayah angkat Naya, suaranya terdengar penuh dengan emosi. “Begitu mempercayaimu, karena ayah tahu kamu tak akan pernah mengecewakan ayah” jeda Arga, ketika tak ada sahutan yang membalas ia melanjutkan ucapannya. “Kamu selalu bilang untuk tidak khawatir, untuk menyerahkan semua padamu, ayah pikir semua akan baik-baik saja. Tapi kenyataannya-“ jeda Arga lagi, kali ini terdengar luapan emosi yang meluap-luap. `PRAAANG`. Suara benda keras terjatuh. “Aduh...” suara Adam merintih kesakitan di sertai pekikan terkejut dari dua orang lain yang Naya kenali sebagai Shinta ibu angkatnya dan Abi kakak angkat Naya yang lain. Mendengar hal barusan Naya membuka pintu lebih lebar lagi dan melongokkan sedikit kepalanya ke dalam untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi. Terlihat Ayahnya berada di kursi kerjanya namun bukan dalam posisi duduk, Ayahnya terlihat seperti baru saja berdiri. Di depannya terlihat Adam sedang meringkuk kesakitan memegangi dahinya, terlihat sedikit darah menetes. Di sampingnya terdapat vas bunga yang sudah pecah, sepertinya Arga baru saja melempar vas bunga itu ke arah Adam. Sedangkan dua orang lain berdiri tak jauh dari situ terlihat terkejut. “Hentikan Ayah! Ayah bisa melukai kak Adam” ucap Abi. Ia menghampiri Adam mencoba menolongnya. “Aku tidak peduli, bagaimana bisa semuanya berantakan seperti ini, sebelumnya semua baik baik saja. Tapi karena Adam tidak becus semua berantakan, anak itu kabur dengan kasus kriminalnya, dan entah rumor yang di sebar oleh siapa membuat reputasi perusahaan kita menjadi buruk. Membuat client kabur dan banyak proyek besar gagal, kalau terus seperti ini kita bisa bangkrut” ucap Arga penuh emosi. “Itu tidak menjadi alasan untuk melukai anakmu ayah” ucap Abi lantang. Naya terkejut dengan sikap yang di tunjukkan Abi barusan, sangat jarang bagi Naya untuk melihat sisi lembut Abimanyu, disini Naya melihat Abi begitu peduli dengan kakaknya Adam. “Aku tidak peduli, semua gagal karena dia” ucap Arga sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Adam. Melihat itu Abi dipenuhi emosi, ia berdiri menghampiri meja kerja ayahnya, menatap tajam ke arahnya. Melihat sikap berani Abi, membuat ibunya menjadi khawatir. “Sayang, tenang sayang, jangan gegabah ibu mohon nak” pinta Shinta mencoba meredakan emosi Abi, namun Abi sama sekali tak peduli ia lebih fokus pada Ayah yang ada di depannya. “Ayah, semua kekacauan ini bukan di sebabkan oleh kak Adam, semua kekacauan ini bermula dari sikap Ayah yang egois” “Apa maksudmu, jadi semua ini salah ayah?” “Ya benar” ucap Abi yakin. “Beraninya kau, bagaimana Ayah yang bersalah di sini, kenapa-“ protes Arga belum selesai karena di potong Abi. “Ini semua salah Ayah, karena dari awal Ayah tidak mengijinkan kami untuk membunuh Atha” teriak Abi lantang, membuat ayahnya terdiam. Naya yang dibalik pintu juga terkejut dengan baru saja ia dengar. “Jika saja Ayah tidak melarang kami untuk membunuh Atha, semuanya tidak akan kacau seperti ini, kita lebih leluasa menjalankan rencana kita dan menguasai semua harta yang ada disini” lanjut Abi. Kali ini emosi Arga di tujukan pada Abi, dengan tatapan yang sama tajam Arga membalas omongan Abi. “Berapa kali harus Ayah katakan? Jangan libatkan Atha jika ia tidak ingin ikut campur. Rencana kita bisa berhasil tanpa dia” ucap Arga. “Tidak ingin ikut campur dari mana ayah? Ayah lupa apa yang ia lakukan 10 tahun lalu? Ia hampir menggagalkan rencana kita” ucap Abi. “Ya, tapi rencana kita masih tetap berjalan, nyatanya mereka berdua tetap mati” balas Arga dengan tatapan sengit. “Tapi tetap masih cacat Ayah, nyatanya Naya masih hidup sampai sekarang dan itu semua karena Atha, jika saja Atha tidak bertingkah saat itu pasti seluruh keluarga Adhitama mati dengan kecelakaan itu” ucap Abi tak kalah sengit. Arga tak bisa membalas lagi ucapan Abi, nyatanya semua yang di ucapkan Abi benar, Atha adalah penyebab utama kegagalan dalam rencananya. Tapi Arga tak ingin mengakui itu, alih alih menyalahkan Atha yang hampir menggagalkan rencananya, ia lebih memilih mengkambing hitamkan Adam. Melihat Ayahnya tak lagi berkutik untuk membalas ucapannya, membuat Abi tersenyum menyeringai. “Jadi? Bolehkah kami menyingkirkan Atha?” tanya Abi, membuat Ayahnya menatap sengit ke arahnya. “Oh ayolah Ayah, kita sudah membuat keberadaan Atha seolah-olah tak ada di dunia, kenapa tak langsung di singkirkan saja, toh tak kan ada yang menyadari” ucap Abi enteng. Arga dipenuhi emosi sekarang, ia berjalan memutari meja kerjanya untuk menghampiri Abi. “Jangan pernah sentuh Atha!” peringat Arga tegas. Tapi peringatan itu tak membuat gentar Abi, ia justru malah maju menantang Ayahnya. “Kenapa ayah? Kenapa kami tak boleh menyentuh Atha?” tanya Abi enteng. Arga menatap tajam Abi, menunggu apakah Abi berani membahas masa lalu itu sekarang di hadapannya. Sedang Shinta dan Adam tengah menatap Abi khawatir, berharap Abi tak mengatakan apapun. “Apa karena Atha merupakan satu-satunya kenang-kenangan Ayah yang tersisa dengan w************n selingkuhan mu itu?” tanya Abi tak gentar. “Abi cukup” teriak Shinta, mencoba menghentikan. “Kenapa kau lebih menyayangi Atha ayah? Kenapa bukan kami berdua? Atha hanya anak haram hasil hubungan gelapmu” teriak Abi lagi menghiraukan ibunya. ‘PLAK’ Suara tamparan membuat suasana sepi seketika. Semua terkejut dengan apa yang di lakukan Arga, ia menampar Abi cukup keras hingga membuat kepalanya menoleh ke belakang. Belum cukup puas dengan menampar Abi, Arga mengambil bangku di dekat meja kerjanya hendak mengayunkan nya ke arah Abi. Melihat bahaya yang akan menimpa anaknya Shinta bergerak maju ingin melindungi Abi. “Tidak Arga, jangan lakukan itu, jangan sakiti anakku lagi” ucap Shinta mencoba menghentikan Arga. Arga yang melihatnya terhenti sejenak, detik selanjutnya ia kembali mengayunkan kursi itu mengabaikan ucapan Shinta. ‘BRRUAAAK’ Suara hantaman kursi nyaring terdengar, namun Shinta dan Abi tak merasakan kesakitan apapun, karena Adam datang terlebih dahulu tepat di depan mereka sehingga kursi itu mengenai tubuhnya, mereka hanya terkena serpihan kursi yang remuk. Sedetik kemudian tubuh Adam ambruk ke bawah karena hantaman kursi yang keras, melihat itu Abi berteriak maju menghampiri kakaknya khawatir. “KAKAK...” teriak Abi. “Bahkan kau tak mendengarkan ucapan ku, aku istrimu Arga, istrimu bisa-bisanya kau berniat memukul istrimu?” tanya Shinta penuh frustasi. “Aku tidak peduli, siapa pun yang berusaha menyentuh Atha dan menjelek-jelekkan nya di depan ku akan berakhir sama” ucap Arga tegas, ia berjalan kembali menuju ke kursinya. “Sebagai gantinya kalian boleh menyentuh Naya, buatlah rencana semau kalian untuk melenyapkan nya dan merebut hartanya” pungkas Arga sembari kembali duduk di kursi kerjanya, tak ada yang menyahut hendak menjawab semua terdiam kecuali Adam. Ia bergerak bangkit berusaha menatap ayahnya, Abi yang melihatnya memapah mencoba membantu. “Tidak Ayah, jangan sentuh Naya” ucap Adam lemah, membuat Shinta tertawa meremehkan. “Haah, lucu sekali. Yang satu tak ingin ada yang menyentuh Atha. Sedangkan yang satu tak ingin ada yang menyentuh Naya. Kalau begitu sia sia semua yang kita lakukan sampai sekarang” ucap Shinta. Adam hendak kembali berbicara menanggapi ucapan Shinta meski dengan suara lemah, Abi berusaha mencegah agar keadaan Adam tidak lebih parah. “Jangan banyak bicara dulu kak, kita harus ke rumah sakit sekarang” ucap Abi. Adam menggeleng menghiraukan ucapan Abi. “Kalian ingin merebut perusahaan kan? Aku punya rencana untuk membangkitkan perusahaan agar tidak bangkrut dan aku juga punya rencana untuk merebutnya” “Jangan banyak omong kosong, aku tidak percaya lagi dengan mu” sergah Arga. “Ulang tahun perusahaan bulan depan nanti, aku yakin ayah tak akan menyesal” potong Adam. Arga terdiam memikirkan tawaran Adam, perusahaannya kini tengah kacau seluruh proyek besar terancam di batalkan akibat para client yang memutuskan menarik investasinya karena rumor buruk tentang Atha yang berkaitan dengan keluarganya beredar di tengah-tengah masyarakat. Ia bimbang untuk menerima tawaran Adam, namun jika di tolak ia juga tak menemukan cara lain untuk menghadapi kekacauan perusahaannya. “Baiklah Ayah pegang ucapanmu, jangan sampai gagal lagi” ucap Arga terjeda. “Kau paham?” tanya Arga tajam. “Ya Ayah” jawab Adam yakin meskipun lemah, Arga hanya tersenyum miring menanggapi, ia berharap dalam hati agar Adam tidak gagal dalam rencananya kali ini. Sedangkan dua orang lain hanya bisa terdiam, setidaknya ayahnya sudah lebih tenang dari amarahnya. Setelah mendengar semua hal itu Naya menutup pintu perlahan, ia berbalik pergi menuruni tangga tanpa menimbulkan suara. Ketika ia berpapasan dengan salah satu asisten rumah tangganya, ia berpesan memberi peringatan. “Jangan sampai Ayah, Ibu, dan Kakak ku tahu, kalau aku ada di rumah di jam segini, mengerti?” pesan Naya, yang diberi pesan hanya mengangguk menanggapi. “Beritahu juga yang lain, jika sampai ada yang memberitahu akan aku pecat” ucap Naya terjeda. “Kau mengerti?” tanya Naya lagi. “Baik non” Setelah jawaban terakhir yang ia terima, Naya melangkah keluar dari rumah, ia bergegas ingin pergi ke suatu tempat. Sesampai di depan gerbang ia menghentikan sebuah taksi, setelah ia masuk ke dalam dan memberikan instruksi pada sopir untuk jalan terlebih dahulu. Ia segera mengetikan sebuah pesan kenomor seseorang. -- Naya Dimana -- Beberapa detik kemudian pesan balasan muncul. -- My lovely Tidak kemana-mana Kenapa? Naya Berikan alamatmu Aku ingin ketempat mu My lovely Ada apa? Apa kau dalam masalah? Naya Berikan saja! My lovely Baiklah My lovely Jalan Duren gang Semangka rt 4 Naya Oke My lovely Tunggu ada apa menanyakan alamat ku Kau benar baik-baik saja kan? Naya Iya aku tidak apa -- Naya lalu memberikan alamat yang di beri Atha kepada sopir sehingga sopir itu bisa mengantarnya ke tempat Atha. Setelah semua yang ia dengar saat menguping pembicaraan keluarga Dharmendra tadi, ia merasa harus pergi ke tempat Atha secepat mungkin. Naya shock dengan kenyataan yang ia terima, kenyataan bahwa semua yang di ucapkan Atha benar, sekarang hanya pemuda itu yang mampu ia percayai. Naya berharap kali ini ia tak salah mempercayai seseorang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD