Perpisahan

1627 Words
Pada akhirnya, apa yang awalnya merupakan kebahagiaan berubah menjadi sebuah kemalangan dan kesedihan. Dua anak manusia, berjalan tertatih menuju singgasananya. Sebuah istana rapuh tempat keduanya mendapat kebahagiaan yang tak berarti. Hidup terkadang tidak semudah membalikkan tangan, tetapi toh tetap harus dijalani. Setiap kesedihan akan berjalan diiringi kebahagiaan di belakangnya. Hanya saja tidak semua orang menyadari akan hal itu. Termasuk anak lelaki ringkih bernama Hardy. Kesulitan demi kesulitan telah dilewati bersamaan dengan kebahagiaan yang hilang satu persatu. Apakah kebahagiaan itu ada? Hardy mulai tidak percaya dengan kata itu seperti ia tidak percaya kehidupannya benar-benar sesulit ini. Oh Tuhan, kesalahan apa yang ia lakukan hingga harus menjalani semua ini? Hardy memejamkan kedua matanya. Ia menghirup udara dalam-dalam bersamaan dengan derai air mata yang jatuh begitu saja. Setelah kehilangan ibunya, ia pikir kehidupan paling sulit telah dilewatinya. Tapi ternyata salah besar, kehilangan ibu adalah babak awal dari kehidupan tersulitnya. Entah kesulitan apalagi yang harus ia lewati? Hardy terlalu takut untuk memikirkannya. Bening memapah kakaknya dengan sabar. Hardy terlalu lemah untuk berjalan sendiri, luka-luka yang ia dapatkan tadi meninggalkan bekas luka yang cukup banyak. Mukanya membiru disana-sini, lengannya pun membiru dan perutnya terasa perih, ia yakin kondisi seluruh tubuhnya sama babak belurnya. Perlahan Bening membuka pintu rumah kosnya. Rumah itu gelap padahal hari masih sore saat mereka pulang. Istana yang mereka sewa itu terasa begitu senyap, sesenyap hati Hardy. Tidak ada lagi senyum ibu yang menyambut kedatangan mereka. Tidak ada lagi makanan yang tersaji saat mereka tiba. Semua harus mereka siapkan sendiri karena memang mereka hanya berdiri. Tidak! Mereka berdua, saling memiliki. “Kakak tidur dulu ya! Aku beliin obat di warung sana.” Bening membantu Hardy untuk duduk di ranjang reot mereka. Gadis itu melayani sang kakak seperti seorang ibu yang merawat anaknya. Bening sedih melihat kakaknya terluka, air mata menetes begitu saja. “Besok kita tidak usah mengamen di bis ya, Kak. Aku tidak mau Kakak terluka lagi.” Ia terisak lalu menangis keras. Dengan susah payah Hardy berusaha bangkit, ia menepuk pundak adiknya. “Aku tidak apa-apa, kamu jangan nangis lagi,” katanya. “Mereka jahat sekali. Aku benci mereka.” Bening mengusap air mata dengan punggung tangan. Ia benar-benar membenci anak-anak berandalan yang sudah mengeroyok kakaknya. “Mereka pengecut. Beraninya main keroyok. Mereka pasti kalah kalo lawan Kakak satu-satu,” ucapnya. Hardy tersenyum, ia membenarkan ucapan Bening. Andai mereka melawannya satu-persatu maka keadaannya tidak seburuk sekarang. Tapi pengecut-pengecut itu tidak akan berani berhadapan dengannya, tinggi mereka saja hanya sepundak Hardy. “Mereka pasti babak belur kalau lawan aku satu-satu.” Hardy membayangkan dirinya sedang menghajar anak-anak itu satu persatu sampai mereka minta ampun kepadanya. Hardy menggeleng, percuma membayangkan sesuatu yang sudah terjadi. Tidak ada gunanya. “Bening, kamu beli makan untuk kita berdua! Aku lapar.” Daripada memikirkan hal yang tidak penting, lebih baik mengisi perut dengan nasi yang banyak. “Iya, Kakak tidur dulu! Aku sebentar kok.” Bening mengambil uang dari kantong plastik lalu segera keluar. Hardy meringis, luka-luka itu membuat seluruh badannya terasa nyeri dan pegal. Ia berbaring, memandang sarang laba-laba dengan saksama. Ia berpikir akan lebih baik jika ia mengakhiri semua ini sekarang. Ah, pikiran itu lagi-lagi terlintas. Tunggu sebentar lagi! Ia masih penasaran dengan kelanjutan hidupnya. *** Tiga puluh ribu rupiah yang tadi didapat Hardy dengan mengamen dalam sekali rute itu akhirnya habis. Bening menggunakan uang itu untuk membeli obat merah, cotton bud, plester, minyak tawon serta untuk membeli sebungkus nasi rawon untuk Hardy. Hardy marah saat mengetahui uangnya telah habis, bagaimana bisa uang sebanyak itu habis hanya untuk beli obat yang tidak penting. Bening sudah membuang-buang uang. Hardy melotot, ingin rasanya menjewer telinga Bening. Sementara Bening justru lebih memikirkan kesehatan Hardy. Lebih baik kehabisan uang daripada melihat kakaknya terluka parah tanpa diobati. Bening jadi marah saat Hardy mengeluh soal kehabisan uang padahal yang seharusnya dikhawatirkan adalah luka-luka Hardy. “Kakak ini sakit tapi tidak mau diobati. Kalau tidak sembuh-sembuh, aku yang susah.” Mulut Bening mengerucut, dua alisnya bertaut namun kedua tangannya sibuk mengobati luka memar kakaknya dengan minyak tawon. Gadis itu ingat obat yang selalu digunakan ibunya untuk mengobati luka memar. “Aku tidak apa-apa, Bening. Luka seperti ini sudah sering kudapat kan.” Hardy meringis saat Bening menyapu luka lebam di pelipisnya dengan menggunakan cotton bud yang diberi minyak tawon. Melihat Hardy meringis, Bening mencibir. Dasar anak kepala batu, sudah jelas sakit tapi masih bilang tidak apa-apa, kata Bening dalam hati. Bening telah mengobati Hardy, gadis itu memindahkan minyak tawon ke atas meja. Ia mengambil piring dan sendok kemudian memasukkan nasi serta rawon ke dalamnya. Meski ia ingin ikut menikmati rawon tersebut tetapi saat ini Hardy lebih membutuhkan makan daripadanya. Andai uangnya tadi cukup, ia pasti beli dua porsi. Tapi sayangnya … ah, Bening membuang pikirannya. Ia harus cepat-cepat menyerahkan sepiring rawon tersebut kepada Hardy sebelum air liur menggenang lalu ia menghabiskannya sendiri. Sekali lagi Hardy melotot, pantas saja uangnya tadi habis. Ternyata Bening membeli nasi rawon dengan beberapa potong daging pula. Hardy menggeleng-geleng, benar-benar menyayangkan hal ini. “Bening-Bening, kenapa nasi rawon sih,” gumamnya. “Kakak kan sukanya rawon.” Bening tersenyum, ia merasa menjadi anak baik karena membelikan Hardy makanan yang disukainya. “Kamu ini.” Hardy melahap rawon dan mengunyah potongan daging sambil meresapi kelezatannya. Hardy jadi teringat terakhir kali makan rawon saat idul adha tahun kemarin, ia ingat bagaimana ia, Bening dan ibunya makan dengan lahap. Rasanya ingin kembali ke masa itu, masa-masa indah saat ia bersama ibunya. Seandainya waktu bisa diputar, Hardy akan menyerahkan segalanya demi bisa merasakan kebahagiaannya saat itu. “Enak kan? Kakak, aku incip dong.” Bening merusak kenangan yang sedang direkam ulang di kepala Hardy. Membuat anak lelaki itu memandang Bening sebelum kemudian menyerahkan sendoknya. Bening menyendok nasi dan segera melahapnya. Rasanya enak sekali hingga Bening ingin mencicipinya sekali lagi, lagi, lagi dan lagi. Hardy tersenyum melihat ulah adiknya. Dasar Bening, katanya beli rawon untuknya tetapi ternyata justru Bening yang menghabiskannya. Saat Bening sadar, ia terkejut melihat piring telah kosong. Pada awalnya, Bening hanya berniat untuk menyicipi sesendok, mungkin dua sendok, tiga sendok dan tanpa sadar justru menghabiskannya. Ia hanya bisa cengar-cengir di depan Hardy dan berharap Hardy tidak marah kepadanya. “Aku masih lapar.” Hardy menautkan kedua alisnya, tadi ia terlalu senang melihat wajah adiknya selama proses mengunyah hingga tidak sadar jika gadis itu sudah menghabiskan rawon yang seharusnya untuknya. Bening kelabakan, uangnya sudah habis jadi tidak akan bisa beli makanan. Mau berhutang pun rasanya tidak mungkin. Aduh, bagaimana ini? Bening benar-benar kebingungan. “Sudahlah. Aku mau sholat dulu.” Adzan maghrib baru saja menggema, meski sakit sekali namun Hardy berusaha bangkit. “Aku ikut ya.” Bening tidak tega jika membiarkan Hardy berangkat ke mushola sendiri. Ia yakin kakaknya tetap pergi ke mushola meskipun sedang sakit seperti ini. “Aku sholat di rumah. Kamu cepat wudhu! Kita sholat jamaah.” Hardy akan menjadi imam untuk Bening. Bening tersenyum, senang karena Hardy tidak marah kepadanya. Tanpa membuang waktu ia segera berlari ke belakang untuk mengambil air wudhu. *** Hardy menutup pintu lalu menguncinya. Hari ini ia harus kembali mencari uang. Tidak ada alasan baginya untuk bersantai-santai karena perutnya butuh makan dan makanan tidak akan datang sendiri. Mentari bersinar cukup terik, mungkin hari ini tidak akan turun hujan seperti dua hari kemarin. Mungkin musim hujan sudah berlalu. Hardy bersyukur jika musim hujan sudah berlalu, ia tidak suka hujan seperti hari-hari sebelumnya. Hujan selalu saja membuat geraknya terhambat. Air yang turun deras hanya akan membuat orang-orang menutup pintu rumah mereka.                 Tubuh Hardy masih terasa berat, langkahnya pelan seperti seorang kakek-kakek tetapi ia menepis lengan Bening yang hendak memapahnya. “Aku bisa jalan sendiri,” katanya. Bening tersenyum, ia tahu kakaknya pasti tidak mau ia bantu. Dasar kepala udang yang sok kuat, kata Bening dalam hati. Hari ini Hardy ingin mengamen di bis lagi, uang yang didapat cukup besar jadi ia nekat melakukannya sekali lagi. Tapi kali ini ia akan meninggalkan Bening, ia tidak ingin gadis itu terlibat masalah jika ikut bersamanya. Biarkan Bening di rumah dan menunggunya pulang. Tetapi Hardy meralat pikirannya, sebaiknya ia mencari uang sedikit untuk bekal Bening. Setidaknya ia harus memberi Bening uang untuk membeli makan siang. Hardy memutuskan mengamen dari rumah ke rumah hingga di tengah hari, ia sudah mengumpulkan uang lima belas ribu. Uang itu ia serahkan kepada Bening dan gadis itu menerima tanpa banyak bicara. Bening mengikuti langkah Hardy, kemanapun kakaknya pergi. Bening tidak pernah lagi mempertanyakan kemana kakaknya pergi kecuali ... “Kakak, kenapa kita ke terminal?” Kali ini Bening merasa tidak enak hati. Baru kemarin kakaknya dihajar habis-habisan, tapi mengapa sekarang malah kembali lagi. “Bening, kamu pulang saja! Tunggu aku di rumah ya! Aku mau mencari uang yang banyak untuk kita.” Bening memandang kakaknya lekat, hatinya jadi tidak enak karena Hardy memilih bekerja sendiri tanpanya. “Tapi Kak...” “Kamu harus menurut padaku. Pakai uangnya untuk beli makan siang! Nanti sore aku kembali.” Hardy tidak membuang waktu, ia mengacak-acak rambut Bening sebelum ia berlari ke arah bis yang hendak berangkat ke Surabaya. Bening ingin mengejar Hardy namun bis sudah terlanjur berjalan. Bening kesal karena Hardy menipunya. Ia menghentakkan kaki kiri dengan dua tangan terkepal. Dasar Kak Hardy, nanti kubalas ya! Bening tidak pulang ke rumah, ia memutuskan untuk menunggu Hardy tak peduli jika harus berada di terminal beberapa jam lamanya. Untuk membunuh waktu, Bening memutuskan untuk mengamen sendirian. Ia menggunakan suara emasnya tanpa diiringi alat musik apapun, namun toh ia tetap mendapatkan beberapa ribu uang. Sore telah melahap sinar matahari, meredupkan suasana secara perlahan hingga benar-benar menjadi gelap. Bening mulai resah, kakaknya belum pulang padahal hari sudah malam. Hujan turun dengan lebat, suara guntur bersahutan bersama petir yang menyilaukan mata. Tiba-tiba seseorang mencekal lengan Bening, gadis itu memandang orang itu. Mata gadis itu melotot dan tubuhnya segera menggigil ketakutan. Kakak ... Kakak. “KAKAK!!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD