Kepergian Untuk Selamanya

1620 Words
Hardy berlari ke meja perawat, ia tidak ingin melakukannya tetapi ibunya sangat memaksa. Meski tidak tahu kenapa, tetapi ibunya benar-benar menginginkan bulpen dan kertas seolah tidak ada hari esok untuknya. Sayangnya Hardy terlalu kecil untuk menyadari sehingga ia hanya berpikir jika ibunya ingin menulis surat. Tidak sulit untuk mendapatkan kertas dan bulpen. Perawat yang bertugas segera memberinya sebuah kertas yang disobek dari buku yang ada di hadapannya dan meminjamkannya sebuah bulpen. Begitu kembali kepada ibunya, Bening sedang meringkuk di pinggir ibunya. Gadis itu menangis sesenggukan, sementara Indah berusaha menenangkan gadis itu. “Bening, Turun! Ibu tidak bisa bergerak karena kamu.” Perintah itu keluar dengan sungguh-sungguh tetapi Bening malah melotot kepadanya. “Sudahlah Hardy. Ibu yang ingin Bening tidur dengan Ibu.” Ada keheningan sejenak saat Indah menatap Hardy seolah sedang memahat wajah putranya di dalam hati. “Hardy, apapun yang terjadi kepada Ibu. Berjanjilah, Nak! Kamu tidak akan membuat masalah dengan Ayahmu.” Amarah Hardy secara cepat melonjak, ia meremas bulpen hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Apakah Ibu sudah gila? Pria itu sudah hampir membunuhnya tapi tetap saja tidak ingin memberinya hukuman. Penjara masih terlalu mudah untuk pria itu tetapi untuk sekarang, itu sudah cukup. Hardy ingin berteriak, ingin memberitahu ibunya tentang apa yang sangat ia inginkan. Tetapi alih-alih berteriak, Hardy hanya bisa mengembuskan napas berat. “Hardy, apa kamu dengar Ibu?” Indah ingin sebuah jawaban. Ia tahu anaknya tidak akan mengingkari janji, maka yang harus ia lakukan hanya membuat mulut anaknya berkata ia berjanji. Hardy bergeming, ia masih kukuh pada pendiriannya. Sejuta kalipun dipikirkan, ia belum bisa mengerti mengapa ibunya bersikeras untuk terus bertahan dari ayahnya. Memikirkan hal ini hanya membuat rahang Hardy mengeras dan gigi-giginya bergemelutuk. Ibu wanita lemah dan bodoh, hardik Hardy di dalam hati. Ia tidak peduli bahwa baru saja ia mengumpat ibunya sendiri, bagi Hardy ini sudah sangat keterlaluan. “Hardy, jangan sekali-kali bermasalah dengan Ayahmu atau Ibu akan sangat marah sekali.” Indah berpikir permohonan saja tidak cukup jadi ia mengancam Hardy. “Berjanjilah kepada Ibu, kamu tidak akan macam-macam dengan ayahmu, apalagi melaporkan ayahmu sendiri ke polisi. Jika itu kamu lakukan, kamu sudah durhaka pada ayahmu dan ibumu.” Hardy tersentak, ia sama sekali tidak pernah berpikir soal durhaka. Mungkin terhadap ayahnya tetapi tidak kepada ibunya. Hardy menunduk, air matanya menetes. Ia tidak mau menjadi anak durhaka bagi ibunya tapi ia tidak sanggup menanggung rasa marah tanpa melampiaskannya. “Hardy....” Suara Indah semakin tegas, menegaskan bahwa ia tidak sedang main-main. “Iya, Bu. Aku janji.” Kalimat itu bak godam memukul kepalanya. Janji yang baru saja terlontar dari mulutnya adalah belati yang siap menyayat hatinya, mengirisnya tipis-tipis sebelum menghancurkannya. Hardy berusaha menahan perasaannya, kertas di genggamannya menjadi pelampiasan sempurna. Ia mengepalkan kedua tangan, kertas menjadi sangat lecek dan bulpen bisa patah sewaktu-waktu. Indah tersenyum, ia mengulurkan tangan dan meminta Hardy mendekatinya. Ia mencium puncak kepala sang putra, anak yang sangat berbakti kepadanya. Tuhan tahu sebaik apa Hardy bertindak sebagai anak, seperti Dia tahu seburuk apa ia sebagai ibu. Tuhan, ampunilah dosa-dosaku. Hardy hanya bisa memandang sang ibu yang kini sibuk menulis surat. Napasnya berat, dadanya bergerak seirama tarikan napasnya. Detak jantungnya berdetak keras, sekeras hatinya saat memendam rasa ingin membalas setiap luka yang dibuat oleh ayahnya. Penderitaan ibu, penderitaan Bening dan penderitaannya sendiri harus dibayar mahal dengan sebuah janji untuk tidak berbuat apapun kepada pria yang ingin sekali ia pukul, ia tendang, ia maki dan bisa saja ia membunuhnya saat pria itu terlalu mabuk. Hardy mendongak, ia tidak ingin air mata jatuh di pipinya. Betapa ia sangat menyadari jika sekarang ini ia sangat lemah namun sesaat kemudian rasanya ia ingin tertawa. Usianya baru tiga belas tahun sekarang, tuntutan menjadi dewasa membuatnya sangat lelah. “Terserah Ibu saja.” Dengan kata lain, Hardy ingin menjadi anak penurut bagi ibunya, terserah apapun yang diinginkan ibunya, ia akan menurutinya. Malam sudah semakin larut saat Indah menyelesaikan suratnya. Dua lembar surat telah ia tulis untuk ibunya serta Bimo, pria yang menolong keluarganya. Indah melipatnya dengan rapi, menyerahkannya kepada Hardy agar anak itu menyerahkannya kepada Bimo setelah ia ... Indah sudah merasa waktunya sudah sangat dekat. Rasa kesemutan yang teramat sangat mulai terasa di ujung kakinya, menjalar perlahan dan sangat-sangat menyakitkan. Jadi begini rasanya? Indah tidak kuasa menyembunyikan perasaannya. “Hardy, tidurlah di bawah! Biarkan Bening tidur disini.” Bening semakin merapat, ia meresapi aroma tubuh ibunya yang sangat menenangkan. Tidak perlu waktu lama baginya untuk kembali terlelap. “Hardy, berikan surat ini ke Pak Bimo dan ini ke nenekmu nanti!” Indah menyerahkan dua surat yang terlipat kepada Hardy. Bocah itu segera menerima dan segera memasukkannya ke dalam saku celana. Hardy bersiap merebahkan tubuh saat tangan Indah mencekal lengan Hardy, membuat anak itu menghentikan gerakan untuk menatap ibunya. “Maafkan Ibu ya, Har! Ibu sangat menyayangi kalian berdua, anak-anak Ibu. Ibu hanya tidak ingin kalian berdua terlibat masalah terutama ... ayahmu.” Kata terakhir Indah hanya berbuah dengusan panjang, Hardy tidak menggubrisnya. “Har. Tolong jangan marah sama ayahmu, demi Ibu.” Indah bukan tidak mengerti, entah bagaimana caranya menjelaskan kepada Hardy bahwa ia ingin keluarganya tidak terlibat permasalahan pelik. Ayah mereka memang keras dan ... ‘tersesat’, tetapi bukan berarti pria itu selamanya ‘tersesat’. Indah berharap kepergiannya akan membuka mata hati Sardi dan persoalan ini ditutup bersama dirinya di liang lahat. Tetapi apakah menyelesaikan sebuah masalah semudah membalikkan telapak tangan? Indah mungkin wanita naif dan terlalu berharap sebuah keajaiban bisa terjadi. Tapi tidak ada bim salabim di dunia ini, tidak ada hal yang tidak mustahil memang jika Tuhan berkehendak tetapi tidak banyak orang bisa menyelesaikan masalah seperti memenangkan sebuah lotre. Sayangnya, Indah ada pada ujung tanduk kehidupannya, jadi ia hanya bisa berharap keajaiban benar-benar akan terjadi untuk anak-anaknya. Hardy sudah terlalu lelah untuk mendengarkan ucapan ibunya, ia hanya ingin tidur dan berharap besok menjadi hari baru. Ibunya sudah keluar dari ruang ICCU yang ia tahu merupakan tempat bagi pasien yang kondisinya sangat buruk. Hanya ada dua pilihan bagi para pasien yang masuk ke ruangan itu. Hidup lalu dipindahkan ke ruang inap atau mati lalu dimasukkan ke dalam ruang jenazah. Hardy bersyukur ibunya keluar dalam keadaan hidup dan sekarang tidur di kamar inap. Indah menatap putranya hingga tubuh kurus namun tinggi itu tidak lagi tertangkap lapang pandangnya. Hatinya bergetar, tangannya membelai lengan putrinya yang sedang memeluk lengannya yang lain. Tuhan, jika ini waktu untuk hamba maka tidak ada yang bisa hamba lakukan selain menerimanya. Tetapi jika diperbolehkan, berikan kesabaran dan ketabahan bagi kedua anak hamba. Mereka masih terlalu kecil untuk hamba tinggalkan. Tuhan, jika takdir hamba di dunia ini telah selesai. Tidak ada yang melindungi anak-anak hamba sebaik Engkau. Hamba ikhlas menerima segala ketentuan yang telah Engkau gariskan kepada Hamba. Tetapi meski demikian, hamba tetap memohon kepada-Mu untuk menjaga kedua anak hamba dari segala mara bahaya. Hamba tetap meminta agar memberi kebahagiaan bagi kedua anak hamba. Hardy dan Bening, adalah Rahmat yang sulit hamba tinggalkan. Tuhan, Engkau tahu apa yang ada dalam hati hamba. Mudah bagi hamba untuk berkata walau sebenarnya hamba tidak ingin meninggalkan keduanya. Jika boleh, hamba ingin tetap hidup di samping anak-anak hamba. Tetapi.... Tetapi.... Rasa kesemutan itu terus menjalar naik, perlahan dan sangat menyakitkan. Kedua kaki Indah sudah dingin dan telah kehilangan kemampuannya. Indah tahu waktunya telah sangat dekat hingga akhirnya Indah menarik napas panjangnya yang terakhir. Di penghujung hidupnya, ia hanya mengingat anak-anaknya hingga pada akhirnya ruhnya benar-benar telah lepas dari tubuhnya. Wanita itu hanya bisa menatap kedua anaknya yang telah tidur sangat lelah bersama air mata yang tidak bisa berhenti menetes. *** Hardy terkejut saat mengetahui ibunya tidak bergerak sama sekali. Wajah wanita itu tenang namun terlihat sangat pucat. Hardy membangunkan Bening, ia takut Bening membuat ibunya kelelahan karena harus tidur berhimpitan dengannya. Bening mencium kening ibunya, rasanya dingin dan kaku, seperti mencium kayu yang baru terkena hujan. “Ibu, sudah pagi!” Bening turun dari brankar, ia kembali mengamati ibunya yang masih saja tertidur. “Sudah, biarkan Ibu tidur!” Hardy menggulung tikar dan menyandarkannya di sudut ruangan. Ia ikut berdiri di sebelah Bening, memandang ibunya yang tertidur dengan sangat nyenyak. Ia mengamati infus, memandang cairan yang tidak lagi menetes. “Aku panggil perawat.” Tanpa membuang waktu, Hardy berlari menuju ruang perawat. Bening membelai rambut ibunya, sesekali ia memanggilnya namun tetap saja ibunya tidak bergerak. Bening meraih tangan Indah, tangan itu juga sedingin dan sekaku sebuah kayu. Tetapi Bening terlalu kecil untuk mengetahui bahwa ibunya telah pergi. Gadis itu memainkan jemari ibunya yang kaku. “Bu, kalau sudah pulang nanti. Ibu boncengin aku jalan-jalan pakai sepeda ya! Aku dan Kak Hardy sudah punya sepeda lo.” Bening berceloteh, seolah ibunya masih ada bersamanya. Tidak berselang lama, perawat datang untuk memeriksa selang infus. Setidaknya itu alasannya untuk datang. Namun saat tahu kondisi pasiennya, ia segera bertindak. Perawat yang memakai seragam berwarna merah muda itu mencari napas Indah, menyentuh leher wanita itu untuk mencari tanda-tanda kehidupan. Saat tahu tanda-tanda itu tidak ada, ia segera berlari keluar. Saat itulah perasaan Hardy tidak enak, ia pernah melihat adegan ini di televisi. Ia tahu bahwa hal ini bukan pertanda baik. Ia menyontoh tindakan perawat, mencari aliran udara dari hidung ibunya. Hardy tercekat, ibunya tidak bernapas. Tubuhnya menegang, kaku. Tubuhnya gemetar hebat, ia bukan anak bodoh yang tidak tahu bahwa tanda-tanda ini adalah tanda-tanda kematian. “Ibu ... Ibu!” Hardy mengguncang tubuh ibunya. Ia ingin ibunya terbangun. Suasana semakin suram saat tiga orang perawat datang untuk memeriksa kondisi Indah. Ketiganya memeriksa tanda-tanda kehidupan Indah, mencarinya beberapa kali sebelum akhirnya selimut putih yang menutupi tubuh Indah sampai ke d**a akhirnya ditarik ke atas dan menutupi seluruh tubuh wanita itu. Hardy menjerit histeris, ia memeluk tubuh ibunya erat sambil memanggil-manggilnya. Bening yang pada awalnya tidak tahu-menahu pun kini ikut berteriak histeris. Kedua anak itu menangis meraung-raung, dengan suara yang begitu putus asa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD