Mengetahui ayah yang selama ini seperti ayah yang terbaik bagimu, namun ternyata ia bukan ayah kandungmu adalah sebuah mimpi buruk dari serangkaian mimpi buruk lain yang berserakan di lantai.
Seperti itulah yang dirasakan Mentari saat ayahnya berkata bahwa pria itu bukan ayah kandungnya, sekalipun pria itu mengatakan bahwa ia menyayanginya seperti anak sendiri, tapi tetap saja ayahnya bukan ayah yang memberi gen yang sama kepadanya. Ayah yang tidak memiliki darah yang sama dengannya. Ayah yang tidak membuat ibunya melahirkannya ke dunia.
Duduk di sebuah tempat makan, masih di dalam mall. Mentari bahkan tidak tahu apa yang kini harus ia lakukan selain kaget dan meneteskan air mata. Semua kenangan indah selama ia bangun dari tidur panjangnya setelah kecelakaan maut membuatnya terkapar di rumah sakit. Ia baru menyadari satu hal, tidak ada hidup yang sesempurna enam bulan kehidupannya.
“Lalu Kakek? Apakah dia….” Mentari terisak, ia tidak mampu melanjutkan pertanyaannya.
“Kakekmu … dia bos Ayah. Tari, Ayah mohon. Tetaplah menjadi Mentari kami, anakku! Tidak peduli kandung atau bukan. Bagi kami, kamu adalah Mentari kami. Anakku dan cucu kakekmu.” Yanto tidak mampu menahan kesedihan. Sejatinya pil pahit ini tidak ingin disuapkan kepada anaknya, tetapi ia pikir lebih baik Mentari menelannya sekarang, daripada ditunda-tunda dan masalah menjadi lebih sulit diselesaikan daripada sekarang.
Mentari mengusap air mata, tetapi air mata itu tetap saja meluncur. Tiba-tiba saja ia merasa sendirian, tidak ada keluarga yang benar-benar sedarah dengannya, ini lebih dari sekedar mimpi buruk. “Bagaimana dengan kakakku? Aku yakin, aku mempunyai kakak.” Anak laki-laki itu adalah sebuah harapan. Mentari ingin bersama keluarganya sendiri, bukan bersama ayah dan kakek yang bukan sedarah dengannya, sekalipun mereka baik, tetapi tetap saja.
Yanto menggeleng, ia benar-benar tidak tahu soal kakak Mentari. Satu-satunya orang yang mengetahuinya adalah Sardi, tetapi butuh waktu untuk menemukan pria itu, terutama setelah … ia memaksa Bowo membuang pria itu atau ia akan menghancurkan Bowo. Buah dari emosi yang tidak terkontrol, kini ia menyesal mengapa ia tidak membuat Sardi tetap di bawah kendalinya.
“Maafkan Ayah, Tari. Maafkan Ayah.” Yanto tidak tahu bahwa ide untuk merubah jati dirinya dan juga Mentari merupakan ide buruk. Tetapi apakah ia perlu membuat Mentari mengetahui siapa dirinya? Yanto belum sanggup. Yanto belum sanggup.
Mentari tidak tahu lagi apa yang sekarang harus ia lakukan. Satu hal yang pasti, perasaannya terhadap Yanto, tidak lagi sama. Sebaik apapun Yanto kepadanya, pria itu bukan ayah kandungnya. Tetapi siapa ayah kandungnya? Dimana ibunya? Dimana kakaknya?
Kakak … aku membutuhkanmu. Saat ini, hanya kamu yang ingin kutemui. Kakak … dimana kamu?
Air mata Mentari kian meleleh seperti aliran anak sungai yang mengalir tiada henti. Bayangan-bayangan tentang sosok anak lelaki yang sering muncul, kini semakin jelas. Namanya Hardy, tubuhnya tinggi, kurus, berkulit kuning sepertinya dan tampan.
“Ayah, aku….”
“Tari, Ayah mengerti ini berat untukmu. Ayah tunggu diluar! Kamu boleh memakai waktumu, selama yang kamu mau.” Yanto tahu Mentari membutuhkan waktunya sendirian dan Yanto memberikan keleluasaan itu. Ia pun bangkit, membelai rambut anaknya dengan penuh cinta. “Ayah sangat berharap. Kemarin, sekarang dan besok. Tidak ada yang berubah, Tari. Ayah dan Kakek menyayangimu. Maafkan Ayah.” Yanto menepuk pelan pundak Mentari sebelum ia keluar dari restoran dan menunggu perempuan itu diluar, untuk waktu yang Yanto sendiri tidak tahu berapa lama.
Hardy sejatinya hanya ingin ke kamar kecil, tetapi melihat kebekuan diantara Yanto dan Mentari. Ia tahu, saat ini kedua orang itu membutuhkan privasi sehingga ia memilih menunggu mereka di luar restoran dengan sangat sabar. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan saat melihat Yanto keluar, namun melihat kesedihan yang begitu tampak, senyum Hardy pudar seketika.
“Anda kenapa, Pak Yanto?” Hardy memandang Yanto. Pria itu terlihat gusar sekalipun berusaha untuk ditutupi.
Yanto menarik napas panjang, ia berjalan mondar mandir lalu mengacak-acak rambutnya. Hardy hanya memerhatikan tingkah Yanto tanpa mengorek informasi apapun dari pria itu. Toh itu bukan urusannya.
“Hardy, tolong aku!” Yanto berharap Hardy bisa membantunya menenangkan Mentari. Sudah pasti sekarang ia tidak bisa melakukannya lebih baik dari Hardy. Saat ini hanya Hardy yang dikenal baik dirinya maupun Mentari. Setidaknya, ia tahu Hardy pria baik, tetapi apakah Hardy bisa dipercaya?
“Memangnya apa yang bisa saya bantu? Jika saya bisa, pasti saya bantu.” Hardy menawarkan bantuannya dengan ketulusan. Tentu saja itu yang harus ia lakukan, ia paham akan ada imbal balik jika ia berbuat baik. Bukan dari dia yang ia tolong, tetapi Tuhan yang akan menggantikannya dengan jauh yang lebih besar lagi.
Sesaat Yanto gamang, tetapi melihat Hardy, sepertinya pria itu bisa dipercaya. Ia menarik napas dalam, “aku baru saja mengatakannya.” Sebuah kalimat yang membuat satu alis Hardy terangkat.
“Mentari, bukan anak kandungku. Ia hilang ingatan setelah mengalami kecelakaan. Kupikir, lebih baik jika kami memulai hidup baru dengan identitas baru. Tetapi sekarang, ingatannya mulai kembali. Aku takut … ia salah paham. Jadi, sebelum ia mengingat siapa aku. Aku memberitahunya.” Sepasang mata Yanto kembali berkaca-kaca. Yang paling ia takutkan adalah jika Mentari tidak bisa menerima kenyataan ini. Ini situasi yang sulit, ingatan-ingatan Mentari adalah mimpi buruk bagi Mentari dan bagi dirinya. Ia ingin selalu ada selama proses ingatan itu kembali. Menggenggam erat tangannya, berkata bahwa sekarang hidupnya sudah baik-baik saja.
“Mentari, sudah mengalami banyak hal yang buruk. Aku hanya ingin … ia bahagia. Hardy, sekarang apa yang harus aku lakukan?” Yanto mendesah, ia mendongak untuk menahan air mata yang kembali meleleh.
Hardy takjub, ia berharap ada orang sebaik Yanto yang akan membantu adiknya diluar sana. Yanto dan Bimo adalah bukti bahwa masih ada orang baik di dunia ini. Mentari dan dirinya, adalah orang yang paling beruntung di dunia ini.
“Apakah Mentari masih di dalam?” Hardy melongok restoran, ia melihat Mentari sedang mengusap kedua matanya dengan menggunakan tisu. Sudah jelas, Mentari pun sama terpukulnya dengan Yanto, ia ingin menghibur perempuan itu, sekalipun belum tahu caranya.
“Ya, dia masih disana. Kupikir, ada baiknya aku memberinya waktu sendiri,” ucap Yanto.
Hardy menepuk pundak Yanto pelan, “jika boleh, saya ingin menjaga Mentari, setidaknya sampai ia siap untuk pulang.” Hardy berharap Yanto mau membiarkannya berdua bersama Mentari, akan lebih mudah jika ia menghibur Mentari tanpa intervensi dari Yanto.
Sesaat Yanto berpikir, namun kemudian ia berpikir bahwa Hardy benar. “Pulangkan dia sebelum jam sepuluh malam! Kuberi alamat rumah kami.” Yanto mengirimkan alamatnya melalui pesan singkat.
Hardy membuka layar ponselnya, ia tersenyum sambil memandang alamat tempat tinggal Rudi, Yanto dan Mentari. “Anda jangan khawatir! Akan kujaga dia, seperti saya menjaga adik saya.” Janji itu tentu saja akan ditepati Hardy, Mentari sudah seperti adiknya sendiri.
“Terima kasih. Kumohon jaga Mentari! terutama kepalanya. Jangan sampai ia terbentur sesuatu. Sebagian otaknya belum tertutup tulang. Kamu tahu, sejak operasi itu, dokter belum mengembalikan tengkorak ke tempatnya. Gara-gara ingatan sialan itu … sudahlah. Kumohon jagalah dia! Mentari sangat berharga bagiku.” Yanto sebenarnya terlalu berat melepas Mentari, akan tetapi ia harus melakukannya, demi Mentari.
“Tentu saja. Sekarang sebaiknya anda pulang! Saya akan menjaga putri anda dengan baik.” Yanto cukup lega setelah mendengarkan ucapan Hardy, namun ia masih belum bisa melepas Mentari begitu saja. Tetapi sialnya ia harus melakukannya. Sial. Sial. Sial.
Hardy tahu Yanto tidak akan bergerak kecuali ia masuk ke restoran, lelaki itu segera melangkah mendekati meja Mentari. Perempuan itu terlalu hanyut dalam perasaannya hingga tidak menyadari kehadiran Hardy.
Mentari menangis tersedu-sedu, di saat ia merasa kesepian, ingatan akan Hardy justru muncul begitu saja. Ia ingat akan saudara lelakinya dan ia benar-benar merindukannya. Perempuan yang malang, entah cobaan apalagi yang harus kembali ia hadapi sekarang.
“Kak Hardy … Kakak….” Tangis Mentari kembali pecah, ia sangat ingin bertemu dengan kakaknya seperti seorang musafir kehausan di tengah padang pasir.
Hardy trenyuh, ia duduk tanpa berkata apapun, hanya membiarkan Mentari menghabiskan tangisnya lalu menjadi tenang dengan sendirinya. Namun, ia menyangka bahwa Mentari sudah mengetahui keberadaannya bahkan tanpa melihatnya.
Cukup lama Mentari menangis, hingga air mata benar-benar habis. Ia mengusap air mata, saat melihat Hardy duduk di hadapannya, ia terkejut hingga mata sayunya membulat. “Kakak … Ayah mana?” Mentari menyapu seluruh ruangan dengan pandangannya.
“Ayahmu sudah pulang. Ehm, Tari. Apa kamu mau jalan-jalan denganku?” tanya Hardy.
Mata Mentari melebar, apakah sekarang ayahnya sudah mulai cuek padanya? Yanto tidak semudah itu membebaskannya pergi. Apakah karena sekarang ia sudah tahu kenyataannya?
“Tari, aku tidak tahu apa masalah kalian. Tapi aku yakin, Ayahmu sangat menyayangimu. Sebenarnya, aku yang memaksanya membiarkanmu pergi denganku.” Hardy berbohong, demi kebaikan Yanto dan Mentari. Saat ini keduanya sedang sangat sensitif.
“Oh begitu. Apakah, Ayah mengatakan sesuatu?” Ada sedikit perasaan kecewa setelah ayahnya membiarkan Hardy menjaganya. Hardy, sedekat apapun dia, ia tidak lebih dari tetangganya bukan?
“Selain harus berkata, jaga Mentari baik-baik sebanyak lima kali. Ia hanya berkata, pulangkan dia sebelum jam sepuluh malam!” Hardy mengulang kata-kata Yanto dan sedikit hiperbola namun melihat ekspresi cerah Mentari, ia sadar Mentari percaya kepadanya.
Syukurlah, Mentari pasti sangat sedih jika Yanto mengendurkan aturan yang ia buat sendiri. Mentari memandang Hardy dengan saksama. Ia membandingkan Hardy yang ada di depannya dengan Hardy, kakak lelaki yang kini sudah diingatnya. Mentari berpikir mungkin wajah tampannya tidak jauh beda dengan artis-artis yang ia lihat di layar kaca. Satu hal yang pasti, kakaknya pasti tidak seperti Hardy di depannya. Hardy yang ada di depannya, hanyalah seorang pria awut-awutan yang tidak menjaga penampilannya. Ditambah brewok tipis yang memenuhi rahang kokohnya, sudah jelas sangat jauh beda dengan kakaknya.
“Tari, apa ingatanmu sudah mulai kembali?” tanya Hardy. Ia tidak tahu cara bertanya yang lebih baik dari ini.
Mentari terkejut namun kemudian ia mengangguk pelan. Entah apa saja yang telah ayahnya ceritakan kepada Hardy, akan tetapi entah mengapa ia merasa lebih baik ia menceritakan masalah ini kepada Hardy. Ia butuh seseorang untuk mendengarkan kisahnya dan ia berpikir Hardy adalah orang yang tepat.
#Apakah keduanya akhirnya sadar jika mereka adalah dua kakak adik yang terpisah lama? Besok ya….