Hari ini Ajeng tak bisa live, karna mama mertuanya itu masih ada di rumah ini, sebenarnya kalaupun dia ingin live dan mertuanya mengetahui. Mungkin malah mendukung karna anaknya tak akan memberi nafkah untuknya, dan dia akan bisa menguasai semua uang dari Alfa.
Tapi Ajeng tak ingin ambil resiko, dia akan menghubungi Diro untuk izin tidak jualan dulu hari ini.
Mama Tia selalu berada di depan TV, membuatnya lebih nyaman berada di kamarnya.
"Kerjaan kok main HP terus, nggak berguna banget jadi istri!"
Ajeng langsung menoleh saat mendengar suara itu, memang mertuanya itu tadi sempat melintas di depan kamarnya. Naasnya kamarnya memang tadi tak dia tutup dengan pas hingga menimbulkan celah.
Ajeng menghiraukan ucapan sang mama mertuanya, dia padahal baru saja berbaring setelah membereskan sarapan, membersihkan debu, menyapu hingga mengepel. Dia juga selesai mencuci baju dan menyiram bunga di luar. Apa mertuanya itu buta?
Baru saja Ajeng akan kembali menikmati menonton drama Korea yang cukup menarik menurutnya tiba tiba saja dia kembali mendengar suara sang mama mertua di tambah pintu kamar yang di buka.
"Kamu nggak bosan apa di rumah aja, kerja kerja kenapa sih Jeng? Daripada cuma rebahan aja, nyusahin Alfa aja!"
Ajeng langsung menoleh, dan melihat mama Tia yang bersender di kusen pintu sembari bersedekah d**a.
Ajeng langsung mengubah posisi dari rebagannya menjadi duduk dan menatap sang mama mertua.
"Coba ijinin sama mas Alfa kalau mama mau, aku juga sebenarnya boring ma, tapi mas Alfa yang nggak ijinin."
"Yallah itu cuma akal akalan kamu biar bisa malas malasan kan?" Mama Tia mendengus sembari memutar bola matanya malas, seolah ucapan Ajeng adalah bualan semata.
"Emang kalau aku kerja, mama nggak akan kasih tau mas Alfa?" Ajeng mencoba memancing, mertuanya itu mampu menyimpan rahasia.
"Tentu saja, biar suami kamu berkurang bebannya. Kamu juga nggak enak enak an aja. Minta uang terus ke suami kamu. Kamu tau kan, Alfa harus nafkahin anaknya, saya. Sama adiknya,"
Mendengarnya dalam hati Ajeng merasa kesal, bukanya dia tak memperbolehkan Alfa memberikan uang pada mamanya, hanya saja setidaknya mamanya juga mau mengerti, jika anaknya itu sudah beristri dan harusnya mama Tia tak terus terusan boros. Terlebih Aca, wanita yang berstatus adiknya itu harusnya juga bisa mandiri, mengurangi gengsi juga.
"Iya, nanti aku kerja ma," Ajeng menjawab dengan mantap, dan dia bisa melihat wajah sumringah dari mertuanya itu.
"Gitu dong, saya janji deh nggak bilang sama suami kamu,"
"Oiya, mama nggak pulang?"
Mama Tia langsung menatap Ajeng dengan kesal,"kenapa tanya gitu? Kamu nggak suka liat saya ada disini? Inget! Ini rumah anak saya, kapanpun saya bisa tinggal disini,"
"Ajeng cuma nanya ma," Ajeng menghela nafas malas.
Tanpa menjawab, mama Tia langsung berlalu meninggalkan Ajeng yang termangu di tempat.
-----
"Mas Alfa,"
Alfa yang akan bangkit untuk pulang, menolah dan menatap Karin, teman satu divisi nya yang tergopoh gopoh berlari dari arah belakang.
"Kenapa Rin?" Tanya Alfa begitu Karin telah ada lebih dekat dengannya.
"Aku mau nebeng boleh? Mobilku lagi Aku servis tadi, tadi pagi Aku juga nebeng sama Nia, tapi Nia kayaknya udah pulang. Aku lupa kalau bilang mau nebeng lagi,"
"Oh, boleh. Ayo!"
Karin dan Alfa pun berjalan beriringan, dan setelah keduanya turun, tak sengaja berpapasan dengan teman satu divisi Aca, adiknya.
"Mas Alfa tadi Aca kenapa nggak masuk?"
Alfa yang mendengar sontak saja langsung menghentikan langkahnya, dan menolah teman adiknya itu dengan heran. "Aca nggak masuk?" Tanyanya ulang. Orang itu mengangguk.
"Dia nggak kasih ijin apapun?"
"Nggak kayaknya deh mas,"
"Yaudah, nanti aku coba cari tau di rumahnya,"
"Oke mas," setelahnya, teman Aca itu langsung berlalu meninggalkan Alfa yang masih memikirkan kenapa Aca tak masuk, padahal mama Tia kemaren malam bilang Aca hanya bermalam bersama temannya, dan itu cewek.
"Ayo mas, pulang!" Ajak Karin saat melihat Alfa malah melamun.
"Eh iya, ayo!"
Keduanya pun masuk kedalam mobil, Karin yang tipikal wanita yang ramah dan cukup luwes jika berbicara dengan temannya tak hentinya mengajak Alfa mengobrol.
"Mas Alfa nikahnya udah hampir setahun tapi belum hamil hamil yah istri mas?"
"Belum Rin, mungkin emang belum rejeki aja! Lagipula aku kan udah punya anak dari Diana. Itu udah cukup kok!"
"Iya sih!"
Tak lama kemudian, Karin terlihat mengibaskan rambutnya, dan membuka kancing atas dua.
"Kok gerah banget yah mas, ac mobil mas nggak mas nyalain yah?" Karin sesekali mendesis karna merasa gerah, bahkan dia membuka kemejanya yang kancingnya sudah dia lepas dia.
Alfa sempat meliriknya sekilas, lalu berdehem karna salah fokus dengan gundukan Karin yang menyembul di balik bra hitam miliknya.
"Udah aku nyalain kok Rin," balas Alfa sembari berusaha fokus pada jalannya.
Memang selama ini Karin cukup dekat dengannya bahkan dia mempunyai nomer temannya itu, namun biasanya Karin tak seberani ini, atau emang sifat asli Karin begini. Namun dia saja yang tidak menyadarinya karna memang dia tak pernah hanya berdua saja dengannya.
"Tapi kok gerah banget yah, mas nggak kegerahan kah?"
"Nggak kok, kalau kamu masih gerah buka aja pintunya Rin," Alfa mencoba memberi saran.
"Ah nggak deh mas, oh iya mas ini leher aku merah merah nggak sih mas? Kok kayaknya perih!" Karin mendekatkan leher beserta tubuhnya lebih mendekat pada Alfa, membuat mau tak mau, Alfa menoleh untuk melihat.
Bukanya leher yang dia lihat, dia malah fokus pada belahan p******a Karin yang seolah di sengaja menyembul lebih besar lagi, padahal tadi seingatnya hanya terlihat sedikit.
"Eh mas lampu merah," hampir saja Alfa melewati lampu merah, kalau Karin tak mengingatkan, untungnya Alfa langsung sigap mengerem.
"Kamu sih, suruh lihatin kan aku jadi nggak fokus ke jalanan," dumel Alfa dengan agak kesal, namun Karin malah terkekeh seolah itu menurutnya itu lucu.
"Mas aja yang matanya jelalatan, kan aku suruh lihatin leher aku, tapi mas matanya malah kemana mana,"
Alfa menjadi kikuk saat Karin ternyata menyadari jika dia melihat ke arah yang bukan seharusnya dia lihat.
"Habisnya kamu juga yang mancing, kamu buka sendiri kan,"
Karin tersenyum menanggapi ucapan Alfa, "mas Alfa kalau lagi merangsang begitu tambah gemesin ternyata, apalagi kalau udah.. " Karin menjeda kalimatnya sembari menggigit bibirnya seolah menggoda Alfa, membuat Alfa yang melihat itu semakin panas dingin, terlebih Karin begitu sembari meraba are payudaranya.
"Mas, kapan kapan main yuk!"
-----