-----
Sudah terhitung 5 hari Ajeng melakukan rutinitas kerjanya live menjual barang barang yang Diro kirimkan padanya.
Barang barang untuk jualan, Ajeng simpan di gudang. Karna suaminya pun jarang ke sana, jadi setiap selesai live, dia langsung menyimpan barang barangnya disana.
Untung saja, Alfa tak pernah membuka aplikasi berwarna kuning itu, jangankan membuka, mempunyai aplikasinya saja tidak. Jadi ini adalah kesempatan emas buatnya.
Semuanya berjalan lancar, hingga tanpa di duga. salah satu keponakannya melihatnya live dan langsung mengomen saat itu juga.
"Loh ini mbak Ajeng kan? Kok jadi jualan barang barang gini?"
Ajeng yang melihat komen itu terdiam sesaat, namun kemudian mencoba mengabaikan Karna akan semakin runyam nantinya jika ditanggapi. Untung pula penonton ramai hingga komentar keponakannya itu dengan cepat tenggelam dengan komenan orang orang lainnya.
Selesai live, Ajeng terdiam sejenak. Dia mengingat jelas komenan Eka, sang ponakan yang cukup julit itu, dia takut jika Eka mengatakan semuanya pada mama dan papanya di rumah.
Tiba tiba saja sering ponselnya berbunyi, dia melihat Diro menelfonnya. Ajengpun Segera mengangkatnya.
"Kenapa Ro?"
"Kamu hebat Jeng, dalam sekejap penjualan melonjak naik. Aku lihat live mu juga. Kamu pandai menarik pembeli. Pasti omset perusahaan bertambah pesat nantinya," Diro terdengar memuji begitu senang, membuat Ajeng ikut merasakan bahagia mendengarnya.
"Alhamdulillah kalau gitu Ro,"
"Iya, oiya besok aku ke rumah kamu. Mau di bawain apa?"
Mendengar itu Ajeng langsung terdiam, Alfa suaminya saja tak pernah menanyakan dia ingin apa atau sekedar ingin di bawakan apa saat pulang. Tapi ini orang lain malah yang lebih perduli.
"Jeng? Masih disana kan?" Diro kembali bersuara saat tak mendengar balasan apapun dari Ajeng.
"Hah? Eh nggak usah Ro, emang ke rumahku mau apa? Ada tugas tambahan lagi? Atau mau kirim barang yang mau dipromosiin lagi?"
"Eh iya yeng, ada barang tambahan lagi, dan sekalian mampir sih!"
Ajeng sedikit merasa bersalah pada suaminya, dia merasa seperti sedang selingkuh. Karna diam diam membawa masuk pria meskipun itu hanya di teras depan.
"Kalau bisa besok nggak udah mampir deh Ro, nggak enak sama tetangga. Kan kemaren baru kesini. Takutnya nanti timbul fitnah!"
"Tapi kan nggak pernah di dalam jeng, kita ngobrol juga cuma di luar."
"Iya tetap aja Ro, jangan! Kapan kapan aja lagi ya!"
"Yaudah deh, kapan kapan aja deh kalau gitu barangnya. Sekalian mampir aja!"
"Hah kok gitu? Bukanya barangnya harus cepet di promosiin ya?" Ajeng bertanya dengan heran, kenapa Diro malah menunggu.
"Nggak terlalu terburu buru sih, jadi kapan kapan aja nggak papa!"
"Oh yaudah deh kalau gitu, udah dulu ya Ro. Kayaknya suami aku bentar lagi mau pulang!" Beritahu Ajeng saat tak sengaja melihat kearah jam dinding yang menggantung di ruang tengah.
"Oh iya Jeng, yaudah Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Setelah panggilan terputus Ajeng bergegas membereskan semua alat dan barang barang jualannya, setelahnya Ajeng menyapu lantai rumah Karna dia belum sempat menyapu rumah, dan setengah jam lagi suaminya itu akan pulang.
Dan benar saja, tak lama kemudian dia mendengar suara mobil suaminya itu yang baru saja pulang. Untung saja Ajeng juga baru saja selesai.
"Udah pulang mas?" Ajeng membantu Al untuk membawa tas kerjanya.
Ngomong ngomong, Alfa bekerja di kantor perusahaan tekstil, dan bagian divisi keuangan.
"Iya, kamu tumben belum mandi?" Alfa menatap istrinya heran, biasanya saat dia pulang bekerja istrinya itu sudah mandi dan rapi, karna mengingat dia tak punya kesibukan apapun di rumahnya.
"Hah? Eh tadi kan suasana nya begitu sumuk banget mas, jadi aku belum mandi nunggu keringat kering." Ajeng dengan tenang mencoba mengatur alibi, untung saja suaminya itu langsung percaya.
"Yaudah, aku mandi dulu ya, habis itu kamu!"
"Iya!"
Setelahnya, Alfa berlalu menuju kamar meninggalkan Ajeng yang merasa lega karna kali ini dia bisa berhasil membuat suami nya itu percaya dengan kebohongannya. Mungkin memang tak baik, namun jika tak begitu, mau bilang bagaimana lagi.
Setelah Alfa selesai mandi, ajengpun menyusul, dan mandi setelahnya. Dan kemudian mereka pun makan malam bersama.
Keduanya duduk di ruang TV, memang itu kebiasaan mereka saat menghabiskan waktu bersama sampai salah satu di antaranya mengantuk dan nanti langsung tidur di kamar. Memang di kamar merekapun ada TV, namun entah mengapa lebih enak di ruang TV saja. Memang sudah kebiasaan.
Baru saja menikmati momen berdua, tiba tiba saja pintu rumah di ketuk, Rachel dan Alfa saling lirik dan menatap ke arah pintu bersamaan.
"Siapa sih bertamu malam malam begini," gerutu Alfa, namun tetap saja bangkit untuk membukakan pintu.
Tak lama setelahnya, Alfa terdengar memutar kunci pintu, dan membukanya.
"Mama! Mama ngapain kesini malam malam?" Alfa celingukan melihat dengan siapa mamanya itu datang. "Dan mama kesini sama siapa? Kok berani banget kesini sendirian?" Cercanya kembali saat tak melihat siapapun yang dia lihat.
"Ck, kamu ini mama baru saja datang udah di berondong sama pertanyaan pertanyaan nggak penting, suruh mama masuk dulu kek." Mama Tia balas menggerutu dan menepis tubuh Alfa dan langsung masuk.
"Siapa mas kok lam.. " baru saja Ajeng menoleh, dia langsung bertatapan dengan mertuanya yang memasang wajah malas.
"Kenapa? Kaget?" Dengua mama Tia yang terdengar begitu sinis, tatapannya pun sama. Tersirat ketidak sukaan yang begitu kentara.
Tanpa sungkan, mama Tia duduk di samping Ajeng, membuat Ajeng langsung menggeser duduk nya memberikan ruangan yang lebih lebar pada mertuanya itu.
"Mama kenapa malam malam begini kesini?" Tanya Rachel begitu keduanya telah duduk dengan nyaman, tak lama kemudian Alfa ikut duduk di samping mamanya karna memang ada sofa mandiri yang muat satu orang saja.
"Kenapa? Nggak boleh saya ke rumah anak saya sendiri? Mau pagi mau siang malam pun terserah saya lah,"
"Ma," Alfa mencoba menegur sikap tak menyenangkan mamanya pada istrinya itu.
"Apa? Mau belain istri kamu lagi? Ingat ya Al, doa mama dan perjuangan mama yang buat kamu bisa sesukses sekarang,"
Mulut Ajeng rasanya gatal itu tak mengucapkan "setelah menikah, doa istrilah yang paling mujarab mama!!!" Namun kata kata itu hanya tersangkut ditenggorakannya seolah tak ada niatan untuk naik dan mengeluarkan suara itu.
"Kamu juga, mertua datang bukanya di sambut dengan baik, di bawain minuman. Ini malah di tanya tanya yang nggak penting sama sekali,"
Mendengar kata kata seolah sindiran itu, Ajeng lantas bangkit untuk membuatkan jahe anget kesukaan mertuanya itu.
Saat di dapur, samar samar Alex bertanya pada mamanya, dan mamanya menjawab jika tadi dia kesini di antar oleh Aca, namun hanya di gang depan. setelahnya dia berjalan kaki, niatnya juga akan menghubungi Alfa, namun ponsel nya lupa tidak di cas.
"La terus mama kenapa kesini malam malam?"
"Mama nggak mau sendirian di rumah, Aca katanya ada keperluan sampai dia harus mengingat di rumah temennya!"
------
Jangan lupa Vote sama komennya?