Kiriman Misterius

992 Words
Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah gorden kamar apartemen Shinta. Ia menggeliat pelan di atas kasur sebelum meraih ponsel yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Pukul delapan lewat sepuluh menit. "Huft... biasanya jam segini aku sudah duduk di meja kantor," gumamnya pelan. Belum sempat beranjak, tiba-tiba hidungnya terasa gatal. "Hacii..." Flunya memang sudah agak mereda, tapi napasnya masih terasa sedikit tersumbat. Shinta pun bangkit dan berjalan menuju dapur kecil. Ia membuka pintu kulkas—dan mendapati isinya kosong melompong. "Hah?" Ia menghela napas panjang. "Lupa belanja kemarin." Ia mengambil sebotol air mineral dari rak. "Ya sudah, nanti pesan bubur lewat aplikasi saja." Belum sempat ia membuka aplikasi pesan antar, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Ting tong... Shinta mengernyitkan dahi. "Siapa ya pagi-pagi begini?" Ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Seorang kurir berdiri di sana sambil memegang beberapa kantong besar. "Selamat pagi, Mbak Shinta?" "Iya, betul. Ada apa ya?" "Ini ada kiriman untuk Ibu." "Kiriman?" "Iya, tolong tanda tangani dulu ya." Shinta menerima kantong-kantong itu satu per satu. Satu, dua, tiga, empat. Matanya makin membelalak kaget. "Lho... banyak sekali isinya?" Kurir itu tersenyum ramah. "Semoga lekas sembuh ya, Mbak." "Eh... terima kasih banyak." Setelah pintu tertutup, Shinta membawa semua kantong itu ke meja makan. Ia membukanya satu per satu dengan rasa penasaran. "Bubur ayam hangat..." bisiknya melihat kantong pertama. Kedua: "Buah-buahan segar?" Ketiga: "Vitamin dan obat penurun panas?" Keempat: "Bunga?" Shinta benar-benar bengong melihatnya. "Siapa yang mengirim ya?" Ia mencari kartu ucapan di antara rangkaian bunga. Tertulis hanya satu kalimat singkat: Jangan bandel. Istirahat yang cukup. Tidak ada nama pengirim. Namun Shinta langsung tersenyum lebar. Ia sudah tahu siapa pelakunya. "Pak Naka..." Tanpa berpikir panjang, ia segera menekan nomor atasannya. Tak lama telepon tersambung. "Halo," suara Naka terdengar tenang dan rendah seperti biasa. "Selamat pagi, Pak." "Pagi, Shinta. Kamu sudah bangun?" "Iya. Bapak sekarang sudah di kantor?" "Sudah. Belum mulai rapat." "Oh." Ada jeda beberapa detik, lalu suara Naka terdengar lagi. "Kamu sudah makan?" Shinta malah tertawa kecil. "Pak..." "Hm?" "Ini kiriman-kiriman di depan saya sekarang... Bapak yang mengirim ya?" "Iya." "Bapak serius?" "Iya, kenapa?" Shinta menatap tumpukan makanan di mejanya. "Pak... saya cuma flu biasa kok." "Makanya biar cepat sembuh." "Tapi ini kebanyakan sekali, Pak." "Memangnya ada yang tidak kamu suka?" "Bukan begitu maksud saya." "Lalu kenapa?" "Bapak ini berlebihan sekali." Naka terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada santai. "Saya belum mulai berlebihan kok." Shinta langsung tertawa sampai terbatuk-batuk. "Hahaha... uhuk... uhuk..." "Nah, tuh kan batuk lagi," tegur Naka lembut. "Makanya jangan kebanyakan ketawa." "Itu gara-gara Bapak lho." "Sudah minum air dulu." "Iya, sebentar." Shinta mengambil segelas air, lalu melanjutkan pembicaraan setelah batuknya reda. "Pak..." "Apa?" "Terus kenapa harus dikirim bunga segala?" "Biar kamarmu tidak terlihat seperti ruang isolasi rumah sakit." Shinta menatap rangkaian bunga putih dan kuning yang segar itu. Entah kenapa senyumnya tak kunjung hilang. "Pak, kalau begini nanti tetangga saya malah salah paham." "Kenapa salah paham?" "Dikira saya punya pacar yang sangat perhatian." "Lalu?" "Ya..." Shinta menggigit bibir bawahnya malu. "Malu jadinya." Terdengar tawa kecil dari seberang telepon. "Itu urusan tetanggamu." "Pak..." "Tapi bunganya cantik kan?" "Iya, cantik sekali." "Buburnya masih hangat?" "Masih, Pak." "Buahnya segar?" "Segar." "Berarti kurirnya cepat kerjanya." Shinta kembali tertawa. Ia baru sadar, setiap berbicara dengan Naka, suasana hatinya langsung membaik. Padahal tadi pagi ia merasa sepi dan bosan sendirian di apartemen, kini ia malah sibuk tersenyum sendiri. "Pak..." "Hm?" "Bapak dari tadi kok nanya soal makanan terus?" "Soalnya saya tahu kamu sering lupa makan kalau sedang sakit." Shinta terdiam sejenak kaget. "Lho? Kok Bapak tahu begitu?" "Kamu pernah dua kali masuk kantor sambil bilang belum sarapan," jelas Naka tenang. "Terus waktu lembur besar bulan lalu, kamu cuma makan biskuit saja dari pagi sampai sore." Shinta mencoba mengingat kejadian itu. "Itu Bapak masih ingat?" "Ingat." "Kan itu sudah lama sekali." "Memangnya kenapa?" "Tapi perhatian Bapak kok sampai sedetail itu ya?" Di ujung telepon, Naka tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu, baru kemudian terdengar suaranya yang lembut namun tegas. "Karena saya memperhatikan sekretaris saya." Jantung Shinta berdetak sedikit lebih cepat. Ia memeluk lututnya sambil menunduk. "Pak..." "Hm?" "Apakah semua sekretaris Bapak diperlakukan seperti ini?" "Tidak." "Lho?" "Kamu satu-satunya sekretaris yang saya miliki." Shinta spontan menepuk pelan dahinya sendiri. "Aduh..." "Kenapa?" "Jawaban Bapak itu bikin saya jadi tidak bisa marah atau ngomel." "Itu justru bagus." "Pak..." "Apa lagi?" "Kalau misalnya hari ini saya sudah sembuh..." "Besok tetap istirahat di rumah." "Hah?" "Saya sudah bilang, jangan memaksakan diri." "Tapi saya bosan sendirian di sini." "Bosan lebih baik daripada sakit makin parah." Shinta mengembuskan napas panjang. "Pak Naka." "Iya?" "Bapak kalau nanti punya anak pasti anaknya kasihan." "Kenapa lagi?" "Pasti setiap lima menit ditanya: 'Sudah makan? Sudah minum obat? Sudah tidur?'" Naka tertawa pelan. "Bisa jadi begitu." "Bisa-bisa anak Bapak nanti kabur dari rumah." "Kalau begitu saya cari lagi saja," jawabnya santai. "Hah?" "Kan saya sudah terbiasa menjaga orang yang agak bandel." Shinta tertawa lepas. "Pak, saya ini bukan anak kecil lagi lho." "Tapi masih sering lupa makan kalau sedang sibuk atau sakit." "Itu kan..." Shinta kehabisan alasan untuk membantah. "Ketahuan kan?" "Iya deh, saya kalah." "Nah, sekarang habiskan dulu buburnya selagi hangat." "Pak..." "Apa lagi?" "Bapak yakin tidak terganggu pekerjaannya? Soalnya perhatian Bapak kok penuh ke saya dari tadi." Di ruang kerjanya, Naka tersenyum tipis menatap tumpukan berkas di mejanya. "Pekerjaan tetap akan selesai dengan baik. Tapi kamu... tetap harus saya perhatikan." Kalimat itu membuat Shinta terdiam cukup lama, pipinya perlahan mulai merona merah. Sementara itu, di ruangan kantornya yang tenang, Naka melirik jam tangan di pergelangan tangannya sebelum kembali membuka laptop. Ia bergumam pelan pada dirinya sendiri dengan senyum yang tak terhapuskan: "Kalau begini saja dia sudah bilang aku berlebihan... bagaimana nanti kalau dia tahu aku sudah menyuruh bagian kepegawaian mengosongkan jadwal kerjanya selama dua hari penuh, supaya dia bisa benar-benar istirahat tanpa terganggu apa pun?" Tanpa disadari Shinta, perhatian Naka ternyata jauh lebih dalam dan lebih besar daripada yang bisa ia lihat saat ini. Dan bagi Naka, semua kebaikan itu baru permulaan saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD