Halo, kenalin aku Shinta. Sekretaris nya CEO Naka Pradipta yang paling berpengaruh. karena kalau aku gak ada CEO Naka bisa pingsan tapi bercanda deng.
Pagi itu suasana kantor terasa jauh lebih riuh dari biasanya, padahal jam baru menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Grup obrolan internal perusahaan sudah ramai bagaikan pasar malam.
Shinta baru saja meletakkan tas di atas mejanya, namun ponselnya terus berdering tak henti. Ia mengernyit dan membuka pesan masuk.
Grup Divisi Operasional
Kevin: Guys, ada kabar terbaru.
Maya: Apalagi nih?
Kevin: Yang berangkat tugas ke Bali cuma Pak Naka dan Shinta saja.
Rani: HAH?!
Dimas: Serius itu?
Kevin: Serius.
Maya: Ini perjalanan bisnis atau bulan madu sih?
Dalam hitungan detik, grup itu langsung meledak dengan berbagai balasan. Shinta memijat pelipisnya sambil menghela napas panjang. “Aduh…”
Belum sempat ia membalas, Maya sudah muncul berdiri di samping mejanya.
“Shin…”
“Tolong jangan mulai dulu.”
“Jadi benar ya?”
“Apa yang benar?”
“Kamu ke Bali berdua sama Pak Naka?”
Shinta menghela napas lagi. “Iya.”
Maya langsung berteriak pelan sambil menutup mulutnya. “Astaga!”
“Ini urusan kerja, lho.”
“Katanya kerja, tapi yang berangkat cuma kalian berdua saja.”
“Karena proyeknya tidak terlalu besar.”
“Tapi di Bali!”
“Ya memang kliennya ada di situ.”
Maya menahan senyum nakal. “Terus soal pesawat dan hotelnya?”
“Aku mana tahu, belum dapat informasi lengkap.”
Maya menepuk pundaknya dengan lembut. “Yang kuat ya, Shin.”
Shinta langsung melotot. “Kenapa harus kuat?”
“Siapa tahu pas pulang nanti sudah bawa cincin.”
“MAYA!”
Maya langsung tertawa lepas lalu berlari menjauh.
Sementara itu, di lantai paling atas gedung.
Naka sedang duduk di balik meja kerjanya sambil membaca laporan proyek. Terdengar ketukan pelan di pintu ruangannya.
“Masuk.”
Pintu terbuka, Shinta masuk membawa beberapa map dokumen. “Pak, berkas untuk presentasi di Bali sudah selesai saya siapkan.”
Naka mengangguk singkat. “Taruh saja di meja.”
Setelah meletakkan dokumen, Shinta bersiap keluar, namun Naka meliriknya sekilas dan bertanya.
“Kamu sudah siap berangkat besok?”
“Sudah, Pak.”
“Sudah bawa obat-obatan?”
Shinta mengerjap bingung. “Hah? Obat apa?”
“Obat untuk pusing atau sakit kepala. Kamu kan sering mengeluh pusing kalau kurang tidur.”
Shinta tertegun sesaat. “Kok Bapak tahu hal itu?”
Naka langsung memalingkan wajah dan pura-pura sibuk menatap layar laptop. “Kebetulan saja melihatnya.”
Shinta semakin penasaran. Kebetulan apa yang bisa sampai tahu kebiasaan itu?
Keesokan harinya.
Suasana di bandara sangat ramai dengan lalu lalang penumpang. Shinta berdiri di dekat pintu keberangkatan sambil menggenggam tiketnya erat-erat. Jujur saja, ada satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun di kantor: ia sangat takut naik pesawat.
Tangannya mulai terasa dingin, dan detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
“Shinta.”
Suara itu membuatnya menoleh. Naka berjalan mendekat mengenakan kemeja hitam sederhana dan membawa koper kecil, tetap terlihat rapi dan berwibawa.
“Selamat pagi, Pak.”
“Kamu terlihat pucat sekali.”
“Tidak kok, cuma sedikit lelah saja.”
“Jangan bohong.”
Shinta memaksakan senyum tipis. “Aku baik-baik saja, sungguh.”
Naka menatap wajahnya lekat-lekat selama beberapa detik. “Kamu takut terbang, ya?”
Shinta langsung membeku di tempat. “Eh… itu…”
“Kamu takut?”
“Sedikit saja.”
“Sedikit atau sangat?”
“Sedikit banget.”
Naka hanya mengangguk pelan, padahal jelas sekali bahwa wajah Shinta sudah terlihat seperti orang yang akan menghadapi sidang skripsi tiga kali berturut-turut.
Saat proses masuk ke pesawat dimulai.
Shinta berjalan mengikuti antrean dengan langkah yang terasa sedikit kaku. Begitu masuk ke dalam kabin, ia mencari nomor tempat duduknya: 21A.
Dekat jendela.
Wajahnya langsung berubah cemas. Aduh, kenapa harus dapat kursi di dekat jendela?
Ia duduk perlahan, lalu seseorang tiba-tiba duduk di kursi sebelahnya. Shinta menoleh dan matanya langsung membelalak kaget.
“Pak Naka?”
“Hm?”
“Kursi Bapak ada di sini?”
“Iya.”
“Bukannya Bapak memesan kelas bisnis?”
Naka memasang wajah biasa saja. “Saya tukar tempat duduknya.”
“Hah? Kenapa?”
Shinta semakin bingung. Apa alasan seorang pemimpin perusahaan mau menukar kursi yang jauh lebih nyaman?
Naka hanya mengangkat bahu santai. “Tidak ada masalah.”
Padahal semalam, ia sengaja menghubungi pihak maskapai hanya agar bisa duduk tepat di samping Shinta.
Pesawat mulai bergerak perlahan menuju landasan pacu.
Shinta menggenggam gagang sandaran kursi dengan sangat erat, sampai buku-buku jarinya terlihat memutih. Naka meliriknya sebentar, lalu tanpa berkata apa-apa menyodorkan sebotol air mineral.
“Minumlah sedikit.”
Shinta menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. “Terima kasih, Pak.”
Beberapa menit kemudian, pesawat mulai miring dan lepas landas. Shinta langsung memejamkan matanya rapat sekali, seolah menahan sesuatu yang sangat berat.
Naka menahan senyum melihatnya. “Kalau takut, tidak apa-apa kok membuka matanya.”
“Lebih takut lagi kalau membuka mata.”
“Logika yang menarik.”
Shinta hanya mendengus kesal.
Naka tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, hati Shinta terasa sedikit lebih tenang.
Dua jam perjalanan pun berlalu.
Mereka akhirnya tiba dengan selamat di Bandara Bali. Begitu melangkah keluar dari ruang kedatangan, Shinta langsung menarik napas panjang dalam-dalam.
“Selamat ya.”
Shinta menoleh bingung. “Apa maksudnya?”
“Kamu berhasil melewati penerbangan dengan selamat.”
Shinta memukul lengan Naka dengan pelan. “Pak, jangan menggoda dong.”
Naka hanya tertawa lepas. Dan entah mengapa, melihat sosok yang biasanya terlihat dingin dan tegas itu tertawa membuat hati Shinta terasa hangat dan nyaman.
Siang harinya, mereka langsung menuju kantor klien.
Rapat berjalan sangat lancar, presentasi yang disampaikan Shinta pun diterima dengan baik, bahkan klien terlihat sangat puas dengan penjelasan yang diberikan.
Begitu keluar dari ruang rapat, Shinta menghembuskan napas panjang lega. “Akhirnya selesai juga.”
“Kamu melakukannya dengan sangat baik tadi.”
Shinta tersenyum lebar. “Terima kasih, Pak.”
Naka menatap wajahnya selama beberapa saat, lalu tersenyum tipis. Senyum itu membuat Shinta buru-buru memalingkan pandangannya. Entah kenapa, senyum yang jarang ditunjukkan itu terasa sangat mengganggu jantungnya.
Menjelang malam hari.
Mereka tiba di sebuah hotel bintang lima yang sangat mewah. Lampu-lampu kristal berkilauan menerangi lobi, membuat Shinta tak bisa menahan kekagumannya. “Wah, bagus sekali tempatnya.”
Naka berjalan menuju meja resepsionis. “Selamat malam, saya atas nama Naka Pradipta.”
Resepsionis tersenyum ramah. “Baik, Pak. Sebentar saya periksa.”
Ia mengetik sesuatu di layar komputernya, lalu mengangguk mantap. “Sudah kami siapkan sesuai pesanan.”
“Kartu kuncinya?”
“Tentu saja.”
Resepsionis menyerahkan satu lembar kartu akses kamar. Naka menerimanya, lalu mengernyit bingung.
“Ini cuma satu?”
“Iya, Pak.”
“Cuma satu?”
“Benar.”
Shinta mulai merasa ada yang tidak beres. Naka kembali bertanya dengan nada tegas.
“Maaf, saya memesan dua kamar terpisah.”
Resepsionis memeriksa lagi, lalu wajahnya berubah senyum semakin lebar. “Oh, begitu.”
“Kenapa?”
“Sudah kami tingkatkan kelasnya menjadi kamar yang lebih baik.”
“Ditingkatkan menjadi apa?”
Resepsionis menjawab dengan nada antusias. “Menjadi Suite Pasangan.”
Suasana seketika menjadi sunyi senyap.
Shinta membeku di tempat. Naka juga tidak berbicara apa-apa. Sementara resepsionis masih tersenyum lebar.
“Selamat menikmati kamar Anda, Pak dan Bu.”
Seluruh dunia seolah berhenti berputar selama tiga detik.
“HAH?!”
Shinta hampir tersedak napasnya. “Kami bukan pasangan suami istri!”
Resepsionis langsung panik. “Ya ampun, maafkan saya.”
Ia buru-buru memeriksa kembali data pemesanan, lalu wajahnya berubah pucat. “Oh tidak…”
“Ada apa lagi?”
“Ternyata ada kesalahan sistem. Pesanan Bapak masuk ke dalam paket bulan madu.”
Shinta merasa ingin menghilang saja dari tempat itu saat itu juga.
Naka memijat pangkal hidungnya, berusaha menahan kesal. Sementara resepsionis semakin gugup dan berkeringat dingin.
“Maaf sekali, Pak. Jadi untuk kamar lain…”
“Masih ada yang kosong?”
Resepsionis mengetik lagi dengan cepat. Beberapa saat kemudian ia menggeleng lesu. “Untuk malam ini, seluruh kamar sudah terisi penuh.”
Shinta langsung menoleh. “Penuh semua?”
“Iya, Bu.”
“Tidak ada satu pun yang tersisa?”
“Benar, Bu.”
Suasana kembali hening. Naka menatap ke langit-langit ruangan, seolah sedang mengumpulkan sisa kesabarannya. Sementara Shinta merasa ingin menangis.
Perjalanan dinas yang baru saja dimulai, dan hari pertama saja sudah berubah menjadi seperti ini.
Resepsionis tersenyum canggung. “Jadi untuk malam ini…”
Shinta menelan ludah dengan susah payah. Naka menghela napas panjang.
Dan resepsionis berkata pelan, “Sepertinya Bapak dan Ibu harus menggunakan kamar itu dulu saja.”
Shinta langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sementara Naka menatapnya dan berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa melihat reaksi gadis itu.
Malam itu, ternyata perjalanan tugas mereka yang tak terduga baru saja benar-benar dimulai.