Bab 8

1050 Words
Setelah seminggu di rawat di rumah sakit, akhirnya Jenie pulang dan mulai menapakan kakinya di dalam rumah. Dia terlihat cukup senang karena dapat kembali ke rumah yang telah lama ditinggalkannya. Senyuman dari para pelayan mengembang menyambut nona rumahnya yang baru pulih. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka mempertanyakan keadaan Jenie. Tidak, bukan karena mereka tak tahu apa yang telah terjadi pada Jenie, tapi karena Ibu Sofia sudah mewanti-wanti mereka untuk tidak membicarakan hal itu di hadapan Jenie. Ibu Sofia tak ingin Jenie kembali tertekan dengan semua kejadian yang sudah mengguncang jiwanya. Jenie melangkahkan kakinya memasuki kamar yang sebelumnya selalu gelap sejak kematian Jane. Langkah lemahnya mulai menyusuri setiap sudut yang ada di kamarnya. Tangannya yang sedikit lemah mengelus lembut setiap photo yang ada di dalam kamarnya dengan penuh derita. “Aku kembali untuk kalian,” kata Jenie sambil tersenyum simpul menampakkan barisan gigi putih bersihnya. Langkah Jenie berlanjut menuju tempat tidurnya. Direbahkannya tubuh pucatnya yang mulai kurus ke atas tempat tidur. Matanya mulai terpejam mencoba tertidur dan menghapuskan semua rasa sakit d hidupnya. Saat Jenie telah terlelap dalam tidurnya, Ibu Sofia masuk ke dalam kamar Jenie. Dia duduk di sebelah Jenie dan membelai tambut putrinya dengan penuh rasa sayang. Setitik bulir bening membasahi pipi Ibu Sofia. Masih ada rasa sakit dan kosong di relung hati Ibu Sofia atas kepergian Jane yang bagitu mendadak dan dengan kondisi yang mengenaskan, belum lagi dengan arwah Jane yang dilihatnya selama beberapa hari terakhir ini. “Kamu penyemangat Mama, Jen, semoga kamu baik-baik saja,” kata Ibu Sofia kemudian mencium kening Jenie lembut. Ibu Sofia menyelimuti Jenie yang sedang terlelap dalam tidurnya. Dan sekali lagi dia membelai rambut Jenie lembut sebelum akhirnya meninggalkan Jenie terlelap dalam buaian mimpi indahnya. Sepeninggal Ibu Sofia, Jenie membuka matanya dan menghapus setitik air mata yang membasahi ujung matanya. Ada rasa sedih dan sakit di dalam hatinya saat melihat ibu yang selama ini selalu ada untuknya menitikkan air mata atas apa yang menimpa padanya dan Jane, kembarannya. “Aku akan baik-baik saja, Ma,” kata Jenie. Manik hitamnya kembali menitikkan sebutir mutiara bening yang kini benar-benar memabasahi pipinya. Jenie bangun dari tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang menghubungkannya dengan balkon yang ada di kamarnya. *** Seorang pria tinggi berbadan kekar dan berwajah tampan tengah berdiri menatap indahnya sang mentari yang mulai kembali ke peraduannya. Semburat jingga menghiasi langit ufuk barat yang begitu tenang dan damai. “Rocky... Rocky...,” teriak seseorang memanggil nama pria yang tengah menatap indahnya semburat jingga di ufuk barat. Rocky mendengus kesal tat kala mendengar suara seseorang memanggilnya. Dia sangat tak menyukai jika ada yang mengganggu ketenangannya saat menikmati alam yang begitu tenang dan damai. Rocky menutup telinganya agar tak mendengar suara orang yang sedari tadi memanggilnya. Semenit lagi, dia hanya butuh waktu semenit lagi untuk menatap langit yang begitu indah dan tenang. “Rocky...,” kembali suara orang itu terdengar menggema memenuhi relung telinga Rocky. “Shit... tak adakah ketenangan yang bisa gue nikmati walau hanya sesaat?” teriak Rocky kesal saat melihat pria yang sedari tadi memanggil namanya. Pria yang memanggil Rocky sedikit terperangah saat melihat kemarahan yang terpancar di mata Rocky. Dia tak pernah menyangka jika panggilannya akan membuat Rocky marah seperti itu. “Woi, santai Bro gak perlu marah gue cuma manggil loe doang,” katanya sambil menepuk pundak Rocky berusaha meredakan amarahnya. Rocky menghempaskan tangan pria itu dengan kasar. Sepertinya Rocky benar-benar marah hanya karena me time-nya terganggu dengan panggilan dari pria itu. “Loe mau apa datang kemari, San?” tanya Rocky dengan tatapan mata yang masih tetap marah. Ya, pria yang sedari tadi memanggil Rocky adalah Sandy, sahabat sekaligus rekan kerja Rocky. Sandy tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Rocky, dia berlali kemudian duduk di kursi taman sambil menyalakan sebatang rokok yang sedari tadi menghuni kantong celananya. “Santai, Bro, kenapa loe terburu-buru gitu?” kata Sandy sambil menyesap rokoknya dalam. “Loe tahu gue gak suka kalau me time gue di ganggu!” hardik Rocky dengan tegas. “Loe masih kehilangan atas kematian cewek loe?” “Jangan sebut nama cewek gue dengan mulut kotor loe itu, dia terlalu suci untuk mulut kotor loe.” “Terlalu suci loe bilang? Cewe seperti apa yang ditemukan dalam keadaan telanjang dengan isi perut terurai?” “Loe diam!” “Buka mata loe, Bro, loe pikir dia ngapain malam-malam keluar lalu ditemukan dalam kondisi mengenaskan seperti itu? Bisa jadi dia memang wanita panggilan seperti gosip yang beredar dan dia di bunuh oleh salah satu pelanggannya.” Bruk... sebuah bogem mentah mendarat dengan sempurna di pipi Sandy yang memiliki rahang tegas dan kuat. Dia meringis kesakitan dan tak menyangka jika Rocky akan berbuat seperti ini kepadanya. Setitik darah segar keluar dari sisi bibir Sandy. Bogem mentah dari Rocky sepertinya cukup keras hingga bukan hanya meninggalkan luka memar, tapi juga membuat dia kehilangan sedikit darahnya. “Santai, Bro gak perlu main kasar seperti ini!” kata Sandy sambil menghapus setitik noda darah dari ujung bibirnya. “Sekali lagi loe hina cewe gue, loe mati sekarang di sini!” ancam Rocky sambil menarik kerah baju Sandy. “Ok sorry bro gue gak maksud hina cewek loe tapi ini kenyataannya. Loe juga tahu gosip itu.” “Tapi gue gak peduli sama gosip itu, paham loe!” Sandy terdiam, dia sangat tahu bagaimana sifat Rocky. Akan sangat percuma jika dia terus berusaha melanjutkan perkataannya dan membuat Rocky semakin marah. Sandy beranjak dari duduknya dan menepuk pundak Rocky dengan sangat perlahan. Berulang kali dia menekan ujung bibirnya seperti menekan rasa sakit di bibirnya. “Loe mau ke mana?” tanya Rocky saat Sandy sudah beberapa lama darinya. “Balik, gue gak mau jadi sasaran kemarahan loe,” kata Sandy sambil melambaikan tangannya kepada Rocky. Sepeninggal Sandy, Rocky kembali menatap langit yang secara perlahan sudah berubah warna menjadi gelap. Tak ada semburat jingga yang dapat membuat dirinya tenang, yang ada hanya bulan sabit yang mulai bersinar dan menghiasi langit malam. “Sebentar lagi bintang akan bertaburan menghiasi langit malam yang hitam,” kata Rocky pelan sambil terus menatap ke arah langit. Rocky menghembus napasnya dalam memenuhi setiap relung paru-parunya dengan udara malam yang dingin. Dia membiarkan angin malam yang begitu lembut membelai tubuhnya yang masih terbalut kemeja kerjanya. “I love you, Jen,” gumama Rocky dengan sangat perlahan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD