NANO NANO

1243 Words

Aku luruh seketika setelah mendengar Abi menyebutkan nama lelaki yang mengkhitbahku. Diam menjadi jawabku saat ditelpon abi. “Kak, kamu masih disana?” “Inggih Abi, kakak masih disini. Tadi A..Abi bilang, Ka...Kak Azril yang khitbah Kakak Bi?” Tanyaku memastikan dengan suara bergetar. “Iya nduk, Nak Azril yang khitbah kamu. Kamu kenapa nduk kok suaramu bergetar gitu. Kenapa sayang?” “Eh, em endak Abi. Kakak endak papa kok. Em Kakak tutup dulu ya Bi, teman-teman manggil soalnya. Assalamu’alaikum.” “Iya nduk, Ya udah salamin abi buat temen-temen. Waalaikumussalam.” Setelah itu kututup telpon. Air mataku kembali menetes. Campur-campur rasanya. Buktinya air mataku. Setiap titiknya membuktikan apa yang kurasakan saat ini. Bahagia, siapa yang tidak bahagia mendengar bahwa dirinya telah dik

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD