"Kalau nggak kuat enggak usah cerita, Ra. Tenangin diri dulu, aku di sini,” ucap Arkha bagai sihir bagi Amara. Sesaat setelah lelaki itu memeluk ia merasa tenang. Intensitas air mata Amara yang keluar dari pelupuk mereda. Perempuan itu memejamkan mata dalam pelukan sang suami. Ia sebenarnya malu amat sangat. Sebab dua orang tadi telah melecehkannya. “Kamu pasti jijik banget kan, sama aku? Pasti kamu malu gandengan sama aku, kamu nggak mau lagi tidur deket-deket.” Tiba-tiba bayangan dua orang berengsek itu melintas di depan Amara. Seketika rasa takut bercampur khawatir pun menerpa dirinya. Bagaimana mereka tertawa terbahak-bahak, memegang buah sensitifnya, bahkan mereka hampir saja melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Amara. “Nggak usah punya pikiran begitu, Ra. Apa pun kamu mau

