Langkah Arkha perlahan terus saja maju ke depan dengan tatapan tajam lurus ke arahnya. Sejak datang ia berwajah dingin penuh curiga. “Mau sampai kapan kamu terus bohong, hem?” desaknya. Derap kakinya begitu mendominasi antara ruangan itu. Amara mengerutkan dahi bingung, sedangkan Mbak Sani juga turut berada di sana berdirir di samping pintu sambil tertunduk kedua tangan salibg bertaut di bawah perut. Seolah tau apa yang dimaksud oleh Arkha, Amara pun menatap bingung ke arah asisten rumah tangga tersebut. “Sudah berapa lama kamu begini, Amara?” Amara sama sekali tidak mengerti kebohongan apa yang dimaksud oleh Arkha? Ia hanya membulatkan mayta dengan rasa bingung menerpa. tidak mengerti hanya menggeleng sambil duduk bersandar pada headboard seiring kedua tangannya memegang ponsel.

