Arbel terkikik, kakinya di tendang-tendangkan ke meja didepannya. Pikirannya masih teringat-ingat kejadian di jembatan penyebrangan dua hari yang lalu. Sudah dua hari berlalu sejak saat itu, Ares memang masih menjadi Ares yang seperti biasanya, dingin dan galak. Tapi Ares tidak lagi mencak-mencak tentang pertunangan mereka.
Ah Arbel senang sekali, pipinya sudah sakit karena terlalu sering senyum-senyum sendiri dua hari ini.
"Aaaaah, hmmmm.." Gumam Arbel masih dengan tampang yang Ares sebut tampang b**o.
Pokoknya saat ini Arbel merasa seperti ABG yang baru pertama kali jatuh cinta!
"Bel, Arbel!" Sebuah bisikan terdengar di telinga Arbel, membuatnya menatap orang itu dengan pandangan yang sangat tajam.
"Apa sih?!" Bentak Arbel padanya.
"Barbela Manda." Arbel menengok ke arah suara lain yang memanggilnya dari depan.
Ups, ternyata Pak Dosen sudah menatapnya dengan pandangan yang sangat mematikan. Arbel lupa saat ini dia sedang berada di kelas. Karena menghayal tentang Ares, Arbel jadi orang gila seperti ini.
"Maaf, Pak.." Ucap Arbel sambil menunduk bersalah.
"Pfft!"
Arbel kembali menengok ke arah orang yang berbisik memanggilnya tadi, mengepalkan tangan seolah akan menonjok orang itu dan kembali menatap Dosen yang sedang menjelaskan materi di depan.
~
Arbel membereskan bukunya dengan asal, tangannya dengan buru-buru memasukan barang-barangnya di meja ke dalam tasnya. Ingin buru-buru pulang dan menyiapkan makan malam kesukaan Ares
"Arbel!"
Arbel menengok kearah suara yang memanggilnya. Seorang pria dengan tampang ugal-ugalan, jaket bomber merah, jeans sobek-sobek, rambut dengan jambul dan senyum yang menyebalkan. Ah pokoknya di mata Arbel pria ini tidak ada bagus-bagusnya deh!
"Apa, Yusa?" Tanya Arbel sambil cemberut.
"Yaampun, Bel. Masih kesel sama yang tadi?" Tanya Yusa sambil tersenyum meledek.
Arbel diam, ogah membalas perkataan Yusa. Iya, Yusa ini adalah pria yang tadi berbisik-bisik memanggil Arbel dan membuatnya berteriak di tengah-tengah kelas tadi.
Yusa, adalah satu-satunya teman yang berhasil Arbel dapatkan setelah seminggu kuliah di Adiwarna. Yusa pertama kali mendekati Arbel karena penasaran dengan gadis yang kelihatan nervous setengah mati ini di hari pertamanya masuk. Di tambah desas-desus dia berhasil pindah ke kampus ini dengan jalur orang dalam membuat orang-orang enggan bercengkrama dengannya. Saat itu lah Yusa datang menawarkan s**u pisang kesukaannya kepada Arbel.
Yusa adalah pria yang ugal-ugalan, sembarangan, seenaknya dan menyebalkan. Untung Arbel adalah orang yang baik hati, kalau setingkat Ares saja dia kuat, orang macam Yusa ini sudah dianggap tidak apa-apanya bagi Arbel.
"Anter gue, yuk." Yusan menekan kepala Arbel, sudah jadi kebiasaannya selama seminggu ini untuk meledek Arbel tentang perbedaan tinggi mereka yang kontras ini.
"Apa sih, Yusa? Berantakan tau rambutnya." Arbel menepis tangan Yusa, kemudian merapihkan rambutnya yang baru saja di tekan oleh tangan Yusa.
"Yaelah, nanti gue traktir s**u pisang deh."
Arbel melirik Yusa sebentar. "Kemana? Aku sibuk lho." Arbel berjalan ke arah pintu, kelas sudah sepi dan tinggal mereka berdua saja tadi. Yusa mengikuti langkah Arbel yang ada di depannya, meskipun tidak perlu bersusah payah mengikutinya, karena kaki Arbel yang pendek dan Yusa yang tinggi, mengejar Arbel itu cuma perlu 3 langkah, itu yang selalu Yusa katakan.
Yusa tersenyum senang. "Ke gedung kedokteran, mau minta duit ke Kakak." Ucapnya sambil menyengir.
Arbel berhenti berjalan kemudian menatap ke arah Yusa dengan senang. "Gedung kedokteran?"
Yusa yang melihat perubahan mendadak Arbel mengernyit bingung, tapi kemudian mengangguk dengan ragu.
Arbel menggandeng tangan Yusa, kalau dia ke gedung kedokteran bersama Yusa, dia bisa bertemu Ares tanpa dimarahi saat pulang karena Arbel punya alasan. "Ayo!" Ucapnya sambil menarik Yusa yang masih kebingungan.
~
Barbela menatap sekeliling dengan pandangan takjub.
"Waaaaah..." Mulutnya membulat saat melihat interior gedung fakultas kesehatan, dinding-dinding dari kaca, furnitur-furnitur tentang kesehatan dan kemegahan fakultas ini. Sangat tidak adil rasanya, kalau dilihat dari gedung fakultas Arbel, tentu saja tempat ini bak istana mewah.
Yusa yang melihat Arbel melongo melihat isi gedung fakultas kesehatan ini hanya terkikik geli. "Kenapa? Ngiri ya gedung kita gak sebagus ini?"
Arbel mengangguk dengan semangat. "Iya! Kok bisa ya?"
Yusa lagi-lagi menepuk kepala Arbel sebelum berjalan ke tengah loby, tempat dimana terdapat batu ukir beserta penjelasannya. "Ini batu ukir dengan nama pendiri fakultas kesehatan ini." Ujar Yusa.
Arbel membaca satu persatu nama yang ada di atas batu tersebut "....Algibran. Eh?! Algibran?!" Tanya Arbel dengan tampang kagetnya, membuat Ares yang mendengarnya juga ikut kaget.
"Kenapa? Lo kenal?"
Arbel tersentak, buru-buru menggeleng dengan kencang, lupa kalau Ares menyuruhnya untuk berpura-pura tidak mengenali keluarga Algibran. "Eng-enggak, cuma pernah denger aja, terkenal soalnya kan, hehehe." Ucapnya sambil menyengir canggung.
Yusa mengendikan bahunya pertanda tidak mau peduli. "Jadi, keluarga Algibran dari generasi ke generasi selalu kuliah di sini. Dan jadi penyuntik dana paling besar buat fakultas kesehatan ini, makanya fakultas kedokteran keliatan lebih mewah dari fakultas lain."
Arbel membulatkan mulutnya dan mengangguk mengerti.
"Oiya, karena saham mereka besar banget, bisa di bilang juga mereka bisa nguasain kampus ini."
"Eeeeeh?" Arbel membulatkan matanya."Hebat!"
Arbel tau keluarga Algibran adalah keluarga ternama dan terpandang, berisi orang-orang dengan otak pintar dan cerdas. Dan kini Arbel baru tau kalau mereka juga memiliki kuasa seperti ini.
Kalau begini terus, bisa insecure Arbel jadinya.
"Yah, makanya anak-anak kedokteran di sini bisa dengan gampangnya praktek di Rumah Sakit Algibran. Kalo pernah denger Ares Algibran, nah dia itu keturunan keluarga Algibran. Si jenius, yang katanya sih ganteng, tapi menurut gue masih gantengan gue."
Arbel mencebik ucapan terakhir Yusa sebelum akhirnya mengangguk mengerti. Sempurna sekali keluarga Algibran di matanya, turun-temurun keluarga dokter, pintar, kaya dan berkuasa. Apa jadinya kalau Arbel harus bertemu dengan keluarga besar Algibran jika menikah nanti? Baru kali ini Arbel tidak merasa berbunga-bunga saat membayangkan masa depan bersama Ares, yang ada malah perasaan takut dan panik dalam dirinya.
"Yusa!"
Arbel dan Yusa berbalik ke arah sumber suara, di sana sudah ada seorang wanita cantik yang memanggil Yusa dengan riangnya, di sebelahnya ada seorang pria yang menatap dingin dengan aura mematikan yang dikeluarkan di sekitarnya.
'Mampus, Ares!' Gumam Arbel dalam hatinya.
"Mau minta duit ya, lo?" Wanita tadi berkacak pinggang di depan Yusa.
Wanita yang Arbel yakini adalah Kakak yang sering di sebut-sebut oleh Yusa. Tinggi, langsing, rambut panjang lurus kecoklatan dan wajah yang bersinar.
Arbel melirik ke arah Ares, wajahnya terlihat masam seolah-olah tidak suka dengan keberadaan Arbel di sini. Ares nampak keren dengan jas putih ala dokter yang terpasang di tubuhnya. Tiba-tiba wajah Arbel memerah, membayangkan betapa keren dan seksinya Ares jika menjadi dokter sungguhan nanti.
"Iya, Kak. Hehe.." Yusa menggaruk kepalanya dan membuat simbol peace dengan jarinya.
"Eh, ini siapa?" Menyadari keberadaan Arbel, wanita itu bertanya dengan nada ramahnya.
"Kenalin, Kak. Ini Arbel, mahasiswi baru." Tiba-tiba Arbel merasakan sebuah tangan menepuk pucuk kepalanya. Tangan Yusa sudah bertengger dengan nyaman di pucuk kepala Arbel, tanpa menyadari tatapan mematikan dari seorang pria di depannya.
"Nama saya Barbela kak, panggil aja Arbel." Ucap Arbel sambil menjulurkan tangannya.
"Aku Rasya, Kakaknya Yusa." Rasya menerima uluran tangan Arbel, menyalaminya dan kemudian tersenyum nakal. "Pacaran ya?"
Arbel salah tingkah, bukan karena dia malu atau karena apa. Masalahnya di depannya ada Ares, dan tidak sangat etis kalau membicarakan hubungan dengan pria lain saat ada tunanganmu di depan mata kan? "Eh bukan Kak, bukan. Kita cuma temen." Ujar Arbel dengan cepat.
Ares di depannya mendengus geli, entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi dia terlihat tidak senang dengan yang ada di depannya ini.
"Oh iya, kenalin ini Ares Algibran." Kini giliran Arbel yang merasa panas, Rasya dengan santainya menautkan lengannya dengan lengan Ares, dan lebih parahnya lagi Ares tidak menepisnya sama sekali. Bukannya Arbel ini tunangannya? Kenapa Ares tidak menghargainya sama sekali.
"Ares."
"Yusa."
Ares tidak bereaksi, tidak tahu apa dia mendengar jawaban Yusa atau tidak.
Arbel diam, masih belum bisa menerima adegan yang ada di depan matanya ini.
"Bel?" Kini Yusa sudah meletakan telapak tangannya di kening Arbel, khawatir karena temannya itu suka melamun tidak jelas sejak dua hari yang lalu.
Arbel tersadar dari lamunannya, saat dilihatnya tangan Rasya dan Ares masih menyatu. Kemudian darah di dalam tubuhnya terasa seperti mendidih.
"Yusa, aku capek, ayok balik." Kini giliran Arbel yang menautkan lengannya dengan lengan Yusa. Kemudian menarik tangannya agar bisa buru-buru pergi dari tempat ini. Meninggalkan Rasya yang menatap mereka bingung dan Ares yang menatap dengan.... sangat tajam.
~
Arbel menggosok kepalanya yang basah sehabis keramas dengan handuk. Dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan piyama di dalam kamar mandi. Di kenakannya sandal dalam rumah yang dia gantungkan di gantungan baju dan membuka pintu kamar mandi.
"ASTAGA!"
Arbela terlonjak kaget, di depannya sudah ada Ares yang sedang bersandar di dinding tepat di depan pintu kamar mandi sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Memandang Arbel dengan congkak dan mengehmbuskan nafas berat.
"Lama." Ucapnya.
Arbel menatap Ares dengan sengit, "Siapa suruh pulang telat gara-gara pacaran."
Ares yang hendak melangkah terdiam, menatap Arbel dengan tatapan yang bingung. "Pacaran?" Tanyanya.
Arbel mengangguk dengan semangat. "Iya! Sama Kakaknya Yusa itu kan? Rasya. Tadi saya liat dia naik mobil kamu."
Ares semakin bingung dibuatnya, dia berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berdiri tepat di depan wajah Arbel. Di lingkarkannya handuk kecil di lehernya, tangannya dia sandarkan pada dinding, mengurung diri Arbel yang kini sedang membeku dengan perilaku Ares.
Ares mendekatkan wajahnya pada telinga Arbel, menghembuskan nafas tepat di daun telinganya, membuat Arbel bergidik ngeri karenanya. Kemudian bibirnya mendekat, sebelum mengatakan. "Kalau saya pacaran, emang kenapa?"
Arbel membelalak, pandangannya berubah kesal dan di dorongnya d**a Ares agar menjauh dari dirinya. "Kamu gak merasa keterlaluan?" Tanyanya pada Ares yang kini sudah memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, menunggu perkataan yang akan di lontarkan Arbel selanjutny.
"Saya tahu pertunangan kita bukan berdasarkan cinta, seenggaknya menurut kamu begitu. Tapi bukannya paling enggak kamu hargai saya sebagai tunangan kamu? Dan ternyata kamu pacaran sama orang lain?" Arbel berbicara dengan menggebu-gebu, wajahnya memerah padam, merasa sudah terhina dengan sikap Ares.
"Pfft" Ares menutup mulutnya, menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya. Membuat Arbel mengernyitkan keningnya.
"Kamu pantes ngomong kaya gitu setelah pacaran sama adiknya Rasya?"
Arbel menatap Ares dengan tidak percaya. "Tapi saya gak pacaran sama Yusa!"
"Oh jadi namanya Yusa." Arbel terdiam akan perkataan Ares.
"Saya gak pacaran sama dia." Tegas Arbel sekali lagi.
"Keliatannya gak kaya gitu untuk saya." Ares kembali mengambil selangkah menuju Arbel. "Kalo kamu gak pacaran sama dia, berarti kamu tipe perempuan yang mau mau aja di sentuh cowok lain ya?" Lanjut Ares dengan tatapan meremehkannya.
Sentuhan? Arbel tiba-tiba mengingat kebiasaan Yusa menyentuh pucuk kepalanya, dan kadang Arbel menggandeng tangannya saat hendak menariknya. Apa sentuhan seperti itu yang Ares maksud? Tapi bukankah itu sentuhan sentuhan kecil dari seorang teman?
Kini bayangan Rasya yang menggandeng Ares muncul di pikirannya. Arbel tidak suka melihat Ares di gandeng atau menggandeng orang, tapi Arbel sendiri sering menggandeng Yusa kemana-mana.
Ares tersenyum miring melihat reaksi Arbel yang hanya bisa diam.
"Gak bisa ngelak? Udah lah saya mau mandi." Ares melewati Arbel, menubruk pundaknya pelan dan memegang gagang pintu kamar mandi untuk masuk, sebelum perkataan Arbel kembali terdengar.
"Tapi kamu juga gandengan sama Rasya, berarti kamu cowok yang gampang di sentuh ya?" Arbel menatap Ares dengan pandangan menantangnya.
Ares terdiam, pandangannya berubah tajam, dan saat itu juga tubuh Ares dengan cepat menubruk tubuh Arbel, menghimpitnya ke dinding dan mengunci kedua tangan Arbel di atas kepalanya.
"Kamu mau cari tahu sendiri?"
Arbel masih membeku, tidak menyangka dengan tindakan tiba-tiba Ares ini.
"Cari tahu apa saya gampang di sentuh atau engga?" Ares mendekatkan wajahnya ke wajah Arbel, membuat Arbel membuang wajahnya ke samping, tidak mau melihat wajah Ares yang sedang seperti ini.
"Saya tahu sebenarnya kamu masih sedikit takut sama saya kan? Kamu belum percaya sepenuhnya kalau saya gak ngapa-ngapain kamu kan?"
Ares menurunkan tangan kirinya, membuat tangan kanannya yang cukup besar itu mengunci kedua pergelangan tangan Arbela sekaligus.
"Mau buktikan itu juga?"
Tangan kiri Ares meraba punggung Arbel, membuat gerakan melingkar di antara ujung piyamanya yang hampir terangkat. Wajah Arbel memerah, begitu juga dengan telinganya, membuat Ares yang melihat reaksi itu tersenyum senang.
Kemudian Ares melepaskan semua genggamannya. Dan menjauh satu langkah dari Arbel yang sudah lemas akibat sentuhannya.
"Kalau kamu mau respect dari saya, kamu harus respect ke saya terlebih dulu." Ucap Ares sambil memandang Arbel dengan malas, sebelum akhirnya memasuk kamar mandi.
Sedangkan Arbel jatuh terduduk dilantai, wajahnya memanas dan tubuhnya bergetar, sentuhan Ares di punggungnya masih terasa, dan entah kenapa, saat Ares melepas semua itu, Arbel merasa....
....kosong.
Arbel yang memiliki trauma akan sentuhan lawan jenis, merasa kosong saat sentuhan dari Ares menjahi tubuhnya.