Pernikahan Rahasia

1684 Words
Teringat akan pesan Bu Navisa, aku mencoba menghafalkan semuanya sebaik mungkin. Awalnya terasa sulit bagiku karena nama-nama tersebut cukup asing. Namun aku yakin dapat mengingatnya beberapa hari ke depan. Sesekali kutolehkan kepalaku ke arah pintu ruang operasi. Lampu di atas pintu masih menyala, menandakan jika tindakan operasi masih berlangsung sampai sekarang. Keselamatan mama masih berada dalam bahaya. Kembali kuarahkan fokus pada tugas utamaku. Di bawah daftar obat, tertera juga jadwal makan Tuan Raisen. Tak kusangka ada banyak hal yang mesti aku perhatikan dengan seksama. Sambil mengusap keningku, aku mengeluh di dalam hati. Dalam keadaan begini, sulit bagiku untuk bisa menghafalkan jadwal makan dan minum obat secara bersamaan. Apalagi ada banyak pantangan makan yang tidak boleh dikonsumsi Tuan Raisen. Aku masih bertanya-tanya gangguan mental apa yang sebenarnya diderita oleh Tuan Raisen sampai harus meminum obat sebanyak ini. Pola makannya juga diatur sedemikian ketat. Tuan Raisen tidak diperbolehkan memakan makanan yang mengandung MSG dan kadar lemak tinggi, terlalu asam, terlalu asin maupun manis. "Mama...." gumamku setengah terkejut kala mendengar suara pintu terbuka. Lampu ruang operasi perlahan meredup. Kulihat seorang dokter berjas putih berjalan keluar dari ruangan itu. Aku buru-buru menghampiri sang dokter, berharap operasi yang dijalani mamaku berjalan dengan lancar. "Dok .. bagaimana operasi mama saya?" tanyaku gagap. Tanganku sampai bergetar karena terlalu mencemaskan keselamatan mamaku. "Operasi ibu Anda berjalan lancar, Bu Cahaya. Setelah ini pasien akan kami pindahkan ke ruang transisi untuk memantau kondisinya pasca operasi. Jika tidak ada masalah atau keluhan, pasien akan dibawa ke ruang rawat," ucap dokter itu. Mendengar penjelasan tersebut, perasaan cemas yang sedari tadi hinggap di hatiku sirna begitu saja. Tak lama suara roda berjalan terdengar dari dalam ruang operasi. Kulihat mama terbaring lelap di atas kasur roda dengan didorong oleh dua perawat. "Permisi sebentar, Bu," ucap salah satu perawat. "Maaf, Suster, apa mama saya akan dibawa ke ruang transisi?" tanyaku menghentikan langkah kedua perawat tersebut. "Iya, Bu." "Saya boleh ikut?" tanyaku memastikan. "Silahkan, Bu. Salah satu anggota keluarga memang harus menunggu pasien." Setelah mendapat izin, aku mengikuti keduanya menuju ruang transisi. Melihat beberapa peralatan medis yang masih terpasang di tubuh mama membuatku tidak tega. Kini aku hanya berharap mama segera sadar. Daripada melamun, aku lanjut membaca catatan dari Bu Navisa. Cukup lama aku mempelajarinya hingga kudengar suara lirih yang memanggil namaku. "A-Aya?" Hatiku bergetar bahagia. Kulihat tangan mama mulai bergerak. Secara refleks aku mengelus punggung tangan mama, berusaha membuatnya tersadar sepenuhnya dari pengaruh obat bius. "Aya disini, Ma," bisikku di telinganya. Aku bergegas menekan tombol panggilan untuk memanggil perawat. Aku sangat bahagia karena sebentar lagi Mama akan dipindahkan ke ruang operasi. *** Aku duduk melamun seraya menunggui mama yang masih lelap dalam tidurnya. Ketika pikiranku sedang melayang, terdengar derit pintu yang terbuka. Aku menoleh ke arah pintu dan melihat seorang wanita berkulit kuning langsat masuk ke dalam. Ya, wanita itu adalah Tante Hani, adik kandung ibuku yang datang dari Bandung. Kemarin aku menyempatkan diri untuk mengabarinya soal operasi yang dijalani mama di rumah sakit. "Aya, bagaimana keadaan Kak Rena?" tanya Tante Hani sembari mengelus pundakku pelan. "Baik, Tante, operasi mama berjalan lancar. Hanya saja kaki dan tangannya tidak dapat digerakkan sementara waktu," jelasku pada Tante Hani. "Syukurlah, aku senang mendengarnya. Berarti kita tinggal menunggu mamamu sadar ya?" Aku mengangguk kecil sebagai jawaban. Saat ini aku tidak punya tenaga untuk bicara panjang lebar. "Ini makanan untukmu. Kamu pasti belum makan kan?" Tante Hani menyerahkan sebuah bungkusan plastik besar padaku. Aku menerima dengan senang hati disertai senyuman. "Terima kasih, Tante. Maaf, Aya jadi merepotkan Tante. Padahal Tante harusnya beristirahat sehabis menempuh perjalanan dari Bandung ke Jakarta," ujarku tak enak hati. "Ah, nggak apa-apa, demi kamu Tante rela kok." Percakapanku dengan Tante Hani terhenti karena mendengar pergerakan dari tempat tidur. "Mama?!" panggilku lembut. Spontan rasa kantukku hilang melihat mama membuka matanya. "A-Aya ...." lirih mamaku. Bicaranya memang gagap namun aku dapat mengerti maksud ucapannya. "Iya, Ma, ini Aya. Mama perlu sesuatu?" tanyaku menggenggam tangannya. "Te...mani Ma...ma, Aya. Jangan ting...gal...kan Ma...ma," ujar mamaku susah payah. Aku menggigit bibir bawah karena bingung harus menjawab apa. Besok aku akan menjalani akad nikah dengan Tuan Raisen dan harus tinggal bersamanya. Lalu apa yang harus aku katakan kepada mama? Melihat kegelisahanku, Tante Hani tergerak untuk membantu. "Kak, mulai besok aku yang akan menjaga Kak Rena. Aya harus berangkat ke luar kota karena dia mendapatkan pekerjaan baru. Gajinya lumayan besar," ucap Tante Hani memberikan penjelasan. Mama menatapku dengan sendu. Aku hanya berharap dia tidak terlalu bersedih karena harus berpisah denganku dalam jangka waktu lama. *** "Tante, ini sarapan untuk Tante." Kusodorkan bungkusan plastik pada Tante Hani untuk sarapan paginya hari ini. "Tante, sebentar lagi aku harus pergi," ucapku dengan nada pelan. Tante Hani menatapku bingung. Manik matanya membesar seolah ingin mencari kebenaran dari dalam netraku. "Tunggu, Aya. Tante tahu kamu mau pergi. Tapi sebenarnya kamu mau pergi kemana? Kamu jadi bekerja di luar kota?" Aku menghela napas kasar sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan Tante Hani. "Selama ini aku bekerja di butik, Tante. Supaya mama bisa menjalani tindakan operasi, aku meminjam sejumlah uang pada bos butik tempatku bekerja. Sebagai gantinya, aku harus bekerja di rumahnya untuk sementara waktu," ucapku setengah menunduk. Hatiku bergemuruh hebat karena mengarang skenario kebohongan ini. Sungguh aku terpaksa menyembunyikan kebenaran dari keluargaku agar mereka tidak mendapat malu. Jika sampai Tante Hani tahu bahwa aku bersedia menjadi istri kedua, entah bagaimana tanggapannya. Mungkin dia akan mencoret namaku dari daftar keluarga. Tante Hani mengangguk paham sambil menyentuh bahuku. "Pasti bebanmu sangat berat, Aya. Kamu sampai harus meminjam uang kepada bosmu," gumam Tante Hani terdengar prihatin. "Kalau butuh bantuan keuangan, kamu bisa menghubungi Tante. Tabungan Tante memang tidak banyak, tapi Tante bisa membantumu walaupun hanya sedikit," lanjut Tante Hani menepuk punggungku. Aku hanya tersenyum kecut. Tidak mungkin bagiku menyusahkan Tante Hani. Aku tahu kondisinya sebagai seorang janda tanpa anak. Sehari-hari Tante Hani hanya membuat kue sambil menerima pesanan nasi kotak. Dia sendiri membutuhkan uang untuk bisa menghidupi diri sendiri sekaligus menjamin hari tuanya. Untuk sesaat kami sama-sama terdiam hingga terdengar suara ketukan di pintu. Dokter yang menangani Ibu melangkah masuk disertai seorang perawat di sampingnya. "Permisi Bu, saya periksa dulu keadaan Bu Renata," ucap dokter itu. Aku pun menepi untuk memberinya jalan. Dalam harap-harap cemas, aku menunggu sampai mama selesai diperiksa. Tepat pada saat itu ponselku berbunyi nyaring. Segera saja aku mengambil benda pipih itu dari saku. Tertera dengan jelas nama Bu Navisa di layar ponselku. "Halo, Bu Navisa, selamat pagi," ucapku berjalan keluar ruangan agar percakapan kami tidak didengar Tante Hani. "Aya, cepat bersiap! Sebentar lagi supir pribadiku datang ke rumah sakit untuk mengantar kamu ke salon," titah Bu Navisa membuatku gelisah. Tak bisa dihindari lagi, hari akad nikahku dengan Tuan Raisen telah tiba. "Baik, Bu," jawabku singkat "Bagus, aku tunggu secepatnya. Jangan sampai kamu terlambat." Usai mengatakan kalimat tersebut, panggilan terputus secara sepihak. Ini pertanda Bu Navisa tidak ingin membuang waktunya denganku. Dengan tergesa-gesa, aku pun kembali ke ruang perawatan mama. "Tante," panggilku lirih. "Kenapa Aya?" “Aku harus pergi sekarang. Aku titip mama ke Tante ya. Nanti aku akan mentransfer uang untuk biaya obat dan makan mama setiap bulannya," jelasku tak memberi jeda untuk Tante Hani berbicara. "Ini hanya untuk sementara. Nanti aku akan mencari perawat untuk mengurus mama supaya Tante bisa pulang ke Bandung," ucapku dengan hati yang pilu. Tante Hani menghela napas kemudian memegang tanganku. "Tenang aja, Aya. Tante juga nggak punya banyak kesibukan. Bagi Tante nggak masalah jika harus menjaga mamamu." Melihat dokter dan perawat selesai memeriksa mama, aku langsung mendekat ke tempat tidur. Berat sekali rasanya ketika menatap kondisi mama yang masih tak berdaya. Aku benar-benar tidak tega meninggalkan mama dalam kondisi seperti ini. Namun bila aku tidak segera pergi, Bu Navisa akan menuntutku secara hukum. "Mama, Aya pamit dulu. Aya harus berangkat sekarang," ucapku mengecup punggung tangan mama. Tanpa sadar air mataku berderai. Suaraku bergetar dan rongga dadaku terasa begitu sesak. "Aya, sabar," ujar Tante Hani sekali lagi mengelus rambutku. "Aku pergi dulu, Tante. Tolong kabari aku tentang perkembangan kesehatan mama." Sekali lagi kutatap wajah mama sebelum aku berlalu meninggalkan ruangan itu. *** Ketika sampai di area parkir rumah sakit, kulihat mobil putih mendekat ke arahku. Plat mobil itu sama persis dengan yang diinfokan oleh Bu Navisa. Sepertinya aku datang tepat waktu. Seorang pria berusia empat puluhan, membuka kaca jendela mobil. Ia menatapku sekilas kemudian menyapa dengan ramah. "Apa Anda Bu Cahaya?" "Iya, Pak." "Silakan naik, Bu." Segera aku menuruti perintah pria itu untuk masuk ke dalam mobil. Kendaraan roda empat tersebut melaju untuk membelah jalanan ibu kota. Sementara aku hanya duduk tak bergeming di atas kursi. Telapak tanganku terasa sedingin es. Entah karena pengaruh pendingin mobil atau memang kegelisahan yang membuatku seperti ini. Dengan tatapan nanar, aku melihat supir yang mengantarku berhenti di sebuah salon berpintu kaca. Supir itu menoleh kepadaku lalu menyuruhku turun. "Silakan turun, Bu Cahaya. Langsung saja masuk ke dalam. Saya akan menunggu disini." "Baik, Pak," jawabku patuh. Aku membuka pintu mobil lalu berjalan ke salon itu. Seorang wanita muda dengan setelan blazer menyambutku di depan pintu. "Selamat pagi. Apa Anda Mbak Cahaya, karyawannya Bu Navisa?" tanya wanita itu. Aku terkejut karena wanita itu mengetahui namaku terlebih dulu sebelum aku sempat memperkenalkan diri. "I...iya, Mbak." "Kalau begitu mari ikut saya." Seperti robot, aku menurut saja saat wanita itu membawaku ke sebuah ruangan besar. Di sana telah menanti dua orang perempuan yang bertugas sebagai periasku. Mereka langsung mendudukkan aku di kursi dan mengeluarkan semua peralatan make up. Aku dirias sedemikian rupa bak boneka patung. Rambut panjangku juga ditata dengan rapi lalu disanggul ke atas. Sementara aku hanya diam seraya memandang perubahan diriku sendiri dari cermin. Wajahku terlihat begitu segar dengan riasan yang natural. Tidak terlalu tipis namun juga tidak terlalu tebal. Kini aku nampak sudah siap menjadi seorang pengantin. Usai dirias, aku dibawa ke ruangan lain untuk mengenakan setelan kebaya berwarna putih. Sebagai sentuhan akhir, mereka menempelkan rangkaian bunga berwarna putih di rambutku. "Semoga acara pernikahannya lancar, Mbak," ucap salah seorang periasku. Kemudian ia mengantarkan aku sampai ke mobil. Melihatku datang, supir pribadi Bu Navisa bergegas membukakan pintu mobil. "Kita langsung ke lokasi pernikahan, Bu," ucap supir itu sebelum melesatkan mobilnya. Jantungku bertalu dengan kencang. Yah, tidak lama lagi aku akan melangsungkan pernikahan dengan Tuan Raisen Tirtakusuma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD