Ali menatap layar ponselnya, memastikan penerbangannya ke Kuala Lumpur malam ini tidak mengalami perubahan. Rombongan keluarga besarnya sudah lebih dulu berangkat kemarin, namun ia sengaja menunda keberangkatannya sehari. Alasannya sederhana, ia ingin berbuka puasa bersama seseorang yang semakin lama semakin memenuhi pikirannya—Senja. Setelah perjalanan malam itu, keliling Jakarta di bawah rintik hujan dan gemerlap lampu kota, Senja memang tak lagi menghindarinya. Tak ada lagi alasan-alasan mengada-ada untuk tidak menjawab pesannya. Tak ada lagi bayangan Senja yang buru-buru pergi ketika ia mendekat. Itu kemajuan besar bagi Ali. Ia tak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja. Hampir satu jam berlalu sejak ia duduk di dalam mobil, menunggu Senja yang berjanji akan datang. Ia sudah mem

