19: Masa Lalu

2295 Words

19: Masa Lalu   Gemercik suara hujan mengalun lembut membeblai telinga Li Hua, akan tetapi pening di kepalanya sungguh tidak tertahankan hingga membuatnya harus mengerang karena rasa nyeri di belakang kepalanya. Suasana di kamar ini terasa berbeda saat Li Hua berhasil menangani rasa peningnya, dia mengamati sekitarnya. Ini bukanlah kamarnya yang ada di Istana, juga bukan kamarnya yang ada di paviliun Rumah Bunga, tapi rasanya kamar ini cukup familiar dengannya. Li Hua memperhatikan sekelilingnya, sampai sebuah ingatan berkelebat di benaknya.   “Bagaimana aku bisa ada di sini?” gumamnya, sembari menyibakkan selimutnya. Li Hua berjalan menuju ke arah jendela yang terletak tak jauh dari ranjang tempatnya berbaring tadi. Dia membuka tirai yang menutupi jendela, kemudian membuka penutup jen

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD