S E B E L A S
Keadaan Nathan masih sama. Nathan masih enggan untuk membuka kedua matanya. Masih enggan untuk kembali menatap dunia. Kembali berjuang untuk Melissa.
Meskipun keadaan Nathan selalu stabil. Dan kini Nathan sudah dipindahkan ke rumah sakit Varmiga.
Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit sebelumnya, Julia memindahkan Nathan ke rumah sakit Varmiga yang lumayan dekat dengan rumahnya.
Keadaan Melissa pun masih sama. Masih berantakan. Masih enggan untuk beranjak dari dekat Nathan. Kecuali saat pagi dan sore. Dia hanya akan pulang sebentar untuk membersihkan diri. Kembali lagi ke rumah sakit dan menunggui Nathan hingga malam berganti pagi. Tak jarang Melissa sama sekali tidak tidur.
Seperti kemarin. Terhitung sudah 12 hari sejak kecelakaan itu, kemarin adalah ketujuh kalinya Melissa tidak tidur.
Tidak beranjak dari kursi dekat brankar. Bahkan saat Julia, Dylan, dan Lexa mengunjungi Nathan. Melissa masih disana. Masih menggenggam erat tangan Nathan. Masih menyuarakan doa-doa untuk Nathan, meskipun dalam hati.
Awalnya, Julia dan Lexa keberatan dengan sikap Melissa. Bukan karena apa-apa, tapi Melissa juga butuh menjaga kesehatannya. Namun pada hari keempat setelah Nathan dipindahkan, mereka menyerah.
Julia dan Lexa menyerah. Enggan membujuk Melissa yang benar-benar keras kepala.
Melissa baru saja merasakan kantuk luar biasa yang menderanya. Saat pintu ruang rawat Nathan terbuka. Menampilkan sosok Lexa yang masih mengenakan baby doll lengan panjang keropi.
Melissa berdecak sinis. Nih cewek udah jadi istri boss, bukannya kalo tidur pake lingerie. Malah pake baby doll.
"Gue masih ngantuk Mel," keluh Lexa. Menutup pintu ruang rawat Nathan kemudian melemparkan tubuhnya ke sofa belakang Melissa.
"Kalo lo ngantuk, tidur di rumah, malah ke rumah sakit," kata Melissa pelan.
"Gue habis nganter Dylan ke bandara. Dia ada jadwal meeting ke luar kota," Lexa menjelaskan. "Mau balik ke rumah, tapi Mama masih belum pulang dari rumah Tante Arumi."
"Lexa ini jam 4 pagi, kenapa Tante Julia di rumah tante Arumi?" Kini Melissa memutar badannya menghadap Lexa. Sambil tangannya masih menggenggam tangan Nathan.
"Gue belum cerita ya?" Lexa mendudukkan badannya. "Sebastian, dia menghilang seminggu setelah kecelakaan itu. Tante Arumi seperti depresi. Jadi Mama kesana semalem. Dan gak tau kenapa belum balik."
Melissa mengangguk. Ah, pria itu. Melissa bahkan melupakan pria itu sejak Sebastian mengatakan akan menghukum Melissa.
Sebastian yang pagi buta itu dengan marahnya menyumpahi Melissa. Tunggu, Sebastian menghilang?
Sejenak Melissa teringat sesuatu saat kemaren sore dia pulang ke rumahnya. Ada seorang pria yang mengenakan kemeja maroon seperti kemeja yang dulu diberikan Melissa pada Sebastian. Dia berdiri dengan mencurigakan di depan rumah Melissa.
"Mel?" tanya Lexa. Membuyarkan lamunan Melissa.
"Yaa?"
"Lo gak laper?"
"Gue gak laper."
"Tapi tadi gue udah terlanjur beliin lo paket lengkap McD kesukaan lo pas perjalanan kesini," kata Lexa dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil yang dilarang jajan tapi tetep jajan. Dan Melissa jelas membenci nada suara Lexa barusan. Lebih benci lagi jika harus menolak makanan kesukaannya. Mana gratis.
"Yaudah sini."
Senyum Lexa mengembang begitu saja. Dengan cepat Lexa bangkit dari duduknya.
"Gue ambil dulu ya, ketinggalan di mobil." Lexa buru-buru keluar dari ruangan.
--The Only Exception--
Aku sudah membujuk Tuhan Mel, aku sudah berusaha meyakinkanNya. Tapi Tuhan memintaku untuk menunggu lebih lama untuk bangun.
Bukan karena Tuhan ingin lebih lama melihatmu menderita.
Tuhan hanya ingin aku melihat seberapa besar kamu berjuang untuk selalu berada di sisiku saat aku terbaring disini.
Tuhan ingin kamu juga tau, bahwa aku disini, tidak sedang tidur. Tapi aku juga sedang berjuang. Berjuang mengendalikan segala gejolak di hatiku agar tidak berhamburan mencumbumu segera setelah aku bangun. Karena aku terlalu senang, selama 12 hari ini kamu selalu disisiku. Selalu menggenggam erat tanganku. Bahkan aku merasakan hangatnya tanganmu yang biasanya dingin seperti es yang selalu beku.
Kamu harus tau, doa-doa darimu-lah yang selalu menjadi penerangku disini. Di sebuah tempat gelap nan sunyi bernama ketidakpastian.
--The Only Exception--
Lexa menyuapkan suapan terakhir makanan Melissa. Pada mulut Melissa lah. Masak iya mulut Nala. Dia mah gak doyan pedes.
"Lo itu bisa makan sendiri Melissa," Lexa kembali mengeluh. Meletakkan kotak makan diatas nakas. Melissa tersenyum singkat sebelum meneguk tehnya.
"Gue gak mau ngelepasin tangan Nathan," kata Melissa sembari mengulurkan tehnya pada Lexa. Lexa terkekeh. Menerima teh itu dan meletakkannya di atas nakas.
"Berasa kayak bayi aja minta disuapin," gumam Lexa pelan. Mulai menyendok sarapannya.
"HEH. Inget pas lo dulu sakit, gue yang nyuapin lo. GUE!! Bahkan gue yang ngelapin keringet dan ingus lo saat lo nangis." Melissa sedikit emosi.
"Ya ampun, iya Mel. Gue inget," Lexa berdecak kesal. "Gue inget banget gimana lo selalu ada di sisi gue bahkan saat orang tua gue gak peduli kalo anaknya lagi berduka."
"Yaudah. Gih makan. Abis itu beliin gue pembalut ya?" suruh Melissa, mengulurkan tasnya pada Lexa. "Ambil aja duitnya disitu."
"Suami gue bos. Duitnya banyak, beliin lo pembalut 10 pack pun gue gak akan jatuh miskin." Lexa melempar tas Melissa ke atas sofa, "Buat apa pembalut ?"
"Buat membalut luka di hati gue," kata Melissa asal. Membuat Lexa melongo. Buru-buru meneguk air mineral. "Gue lagi dapet. Pembalut gue ketinggalan di rumah."
"Iya Melissa. Gue sekalian pulang mandi ya." Kini Lexa menyudahi sarapannya. Memasukkan kotak makanan pada kresek.
"Lexa.." panggil Melissa lirih.
"Kenapa?"
"Sorry."
"Buat apa Mel?"
"Hari ini kan seharusnya lo terbang ke London buat honeymoon. Tapi lo malah terdampar disini sama gu--"
"It's okay Mel. Please berhenti nyalahin diri lo okay?"
"Tapi Lex--"
"Mel, London udah ada di tempatnya sana sejak ribuan tahun yang lalu. London gak akan kemana-mana. It can wait." Lexa mengulas senyum.
"Still, gue minta maaf."
"Accepted. Sekarang gue minta satu hal sama lo. Jadilah Melissa yang dulu. Yang seperti biasanya. Lo harus balik kerja Mel. Ada gue dan Mama yang bisa gantian jagain Nathan. Lo ngajar gak sampe 12 jam, Mel. Please.." bujuk Lexa. Melissa menatap Lexa untuk beberapa detik, "Nathan akan baik-baik aja. Okay ?"
"I can try," kata Melissa singkat. "Tapi kalo pas gue gak ada, Nathan bangun gimana?"
"Gue akan langsung kasih tau lo. Kalo perlu gue akan langsung jemput lo ke kampus."
"Okay." Senyum Melissa mengembang.
"Jadi, mulai hari ini, setelah gue balik lagi kesini, gue minta lo pulang, trus ke kampus dan mulai kerja lagi. Mencerdaskan kehidupan bangsa oke?"
Melissa hanya mengangguk. Kembali menatap Nathan. Tangannya kian erat menggenggam tangan Nathan.
Lo pokoknya harus bangun Nath. Lo harus kasih tau gue, siapa cewek berambut pirang itu. Kenapa dia bisa sedeket itu sama tante Julia. Sama Dylan juga.
--The Only Exception--
Lexa kembali ke rumah sakit satu jam kemudian. Bersama Julia yang sudah pulang dari rumah Arumi.
Julia segera saja berjalan mendekati Melissa. Mengusap punggung Melissa sejenak. Membangunkan Melissa yang saat itu tengah terlelap dengan kepala berbantal tangan Nathan.
"Melissa." panggil Julia lirih. Melissa langsung saja membuka matanya. Menegakkan duduknya.
"Tante.." Melissa terlihat panik. "Maaf Mel--"
"Gak apa, ini udah hampir jam 7. Kamu gak pulang dulu?" kata Julia lembut.
"Iya tante." Melissa terlihat enggan melepas genggaman tangannya. Seperti hari-hari sebelumnya.
"Inget Mel, lo harus mulai mengajar hari ini," Lexa mengingatkan.
"Iya," jawab Melissa singkat. Beranjak dari duduknya menuju tasnya di sofa. "Kalo Nathan ken--"
"Kita pasti ngehubungin kamu, Melissa," potong Julia cepat. Mengulas senyum pada Melissa.
"Iya Tante, terima kasih."
"Tante yang berterima kasih." Julia berhamburan merengkuh Melissa, "Tetaplah disisi Nathan ya."
Melissa mengangguk sebelum melepas rengkuhan Julia. Dengan langkah berat meninggalkan ruang perawatan Nathan.
--The Only Exception--