REVISI
"Beneran nggak mau ditemenin? Atau anterin sampai kantor, Reen."
Maureen tetap menggeleng. Memakai blazer berwarna putih lalu menjepit setengah rambutnya. Berdiri di depan cermin full body berputar-putar memastikan penampilannya tidak norak. "Nggak usah, Mas. Lagipula aku sama Inez."
"Jadi Mas di apartemen sendirian, nih?" tanyanya berwajah murung.
"Sifia sama Vanny kan ada. Mereka masih di sini kali. Jadi, nggak sendiri-sendiri banget loh," ujarnya. "Udah ah! Lagian Mas belum mandi, masih bau iler. Nggak usah sok nganterin, yang ada malah aku harus nungguin Mas mandi dulu. Aku pergi, ya," pamitnya mendekat mengulurkan tangan bersalaman yang disambut hangat oleh suaminya. Namun, saat tangan itu ditarik membuat Maureen mencebik kesal.
"Lepasin, Mas! Aku buru-buru nih," katanya memelas.
"Jangan lama-lama, ya. Nanti Mas kangen," katanya dengan senyum menggoda yang tak dibalas sama sekali oleh istrinya. Maureen tidak akan jatuh pada laki-laki penebar pesona. Ingatkan Maureen kalau suaminya berhubungan baik dengan mantan pacarnya.
"Huh? Lo pikir gue gampang luluh? Sebelum gue tahu motif Chesa tiba-tiba muncul waktu kita nikah nggak akan gue persilakan masuk dengan begitu mudahnya." Monolog Maureen mengibarkan rambut. Chester mainnya sama janda sudah pasti banyak pengalaman dari laki-laki itu sedangkan dirinya saat ini ibarat kata anak bau kencur. Sejujurnya Maureen nggak mau mengorek privasi suaminya terlalu jauh, tapi rasa penasaran itu bikin Maureen bertindak lebih.
“Udah?” Seseorang muncul saat Maureen menutup pintu dan balik badan hadap depan.
“Ngagetin aja, sih!” gerutu perempuan itu. “Beneran dia datang, ‘kan?!”
“Lo tenang saja karena,” jawab Inez. “Gue yang nyetir.”
Maureen menyerahkan kunci mobil. Mereka berjalan beriringan ke depan. Berpapasan dengan Sifia yang duduk di sofa living room.
“Kalian kalau mau main pergi aja,” kata Maureen. “Vanny mana?”
“Mandi,” jawab Sifia singkat. “Good luck, ya!”
“Thank you, Sif. Serius kalau mau main pesan taksi. Jangan mau kesasar bareng Vanny.”
Inez tertawa keras karena dia tahu sekali Vanny buta maps. Jalanan di Jakarta susah dia kenali dan Inez sudah pernah kesasar bareng padahal mereka sama-sama pakai maps. “Dia yang bawa mobil, gue tidur karena yakin sudah ada maps pastinya aman.”
“Tetap nyasar?” sambar Sifia. Sifia ini lagi duduk-duduk santai memangku Anabul yang kelihatan sekali agak manja dengan tuannya.
“Iya HA-HA,” jawab Inez tertawa keras lantas menggandeng pergelangan tangan Maureen supaya tidak tertahan terlalu lama menanggapi Sifia. Mereka sedang diburu waktu kalau lupa.
“Gue nggak yakin diamnya Sifia bukan karena kepribadian kalemnya. Kelihatan dari sikapnya itu kayak mendem sesuatu. Lo nggak pernah tanya-tanya? Kalian kan temenan sudah bertahun-tahun,” ucap Inez saat mereka sudah masuk mobil.
Maureen menjawab santai seraya mengaitkan sabuk pengaman. “Gue nggak mau ngusik karena bisa aja kita jadi canggung. Dia bakalan cerewet kalau udah kenal dekat. Bondingnya kan emang kalem, suaranya aja lembut.”
***
"Dia nggak omong kosong doang kan, Kak?" tanya Maureen memastikan. Menatap Seto yang juga sama seperti dirinya; menunggu kehadiran Bizzi.
“Tungguin aja, Reen. Kalau dia ingkar janji samperin aja ke rumahnya!” kata Inez. “Kawasan PIK coy!”
Maureen mendesah. Dia menelungkup ke atas meja dengan kepala goleran membiarkan Inez dan Seto serta tim penerbit ngobrol.
“Kalau sampai kasusnya maju sepertinya kamu dalam masalah, Maureen. Saya melihat potensi dia tipe-tipe nggak mau kalah. Kemungkinan saat ini juga. Dia fans kamu padahal.”
“Alah Kak Seto nggak usah khawatir, Maureen juga punya bekingan, kok,” sahut Nina yang baru datang dari pantry. Dia suguhkan teh tanpa gula untuk Maureen yang diterima dengan senang hati oleh perempuan itu. “Maureen kan juga cewek-cewek PIK.” Nina melanjutkan dengan nada pongah dan menyombongkan Maureen.
“Hadeuh!” Maureen mengeluh. Tidak jadi minum teh malahan kembali mendelosor. Identitasnya sengaja disembunyikan karena Maureen tidak mau membawa nama besar Adiyaksa kalau benar-benar tidak urgent, tapi sepertinya kali ini Maureen harus membawa nama Adiyaksa.
Tiba seseorang masuk ke ruangan dan membisikan sesuatu pada Seto yang duduk di hadapan Maureen. Seto beranjak mengikuti staf-nya lalu tidak lama kemudian Seto kembali masuk ruangan bersama dua orang sekaligus.
Satu di antaranya sangat Maureen hafal. Dia menebak yang satu adalah Bizzi. Maureen baru tahu sosok Bizzi karena di akun sosial media gadis muda itu tidak pernah menunjukkan rupa, hanya foto-foto estetik saja. Sedangkan orang yang sangat Maureen kenal juga sama seperti dirinya; terkejut.
"Bizzi dan kakaknya," ujar Seto memperkenalkan tamunya.
Maureen duduk dengan tegak. Wajahnya tak memberi kesan ramah sama sekali. "Hai," sapanya datar. Di bawah meja Inez menyenggol kaki Maureen akan tetapi, Maureen tidak menggubrisnya.
"Perkenalkan saya Chesa, kakak sepupunya Bizzi. Saya datang mendampingi Bizzi karena orangtuanya berhalangan hadir."
Maureen menyeringai tanpa diketahui karena bibirnya tersenyum sangat tipis. Dia mendengar dengan seksama saat Seto mengawali meeting. Tentu Seto bertanggung jawab karena laki-laki itu CEO yang menerbitkan buku-buku Maureen karena Maureen hanya bekerjasama dengan Seto.
"Aku sudah izin sama kak Maureen, kok!" bantah Bizzi yang langsung ditenangkan Chesa.
Maureen masih tenang mendengarkan diskusi yang berisi belaan Bizzi. Dia tidak menyela, justru menikmati raut khawatir Chesa karena terlihat Bizzi beberapa kali hilang kontrol.
"Sorry bisakah interogasi tanpa mengintimidasi?" sela Chesa dengan pandangan memohon. "Saya dipercaya keluarga Bizzi sebagai wali di kasus ini, jadi saya menegaskan sekali lagi mediasi ini apa bisa dilakukan dengan tenang?"
"Kita memakai SOP yang berlaku, Kak. Respon Bizzi yang berlebihan, dia gembar-gembor sendiri kenapa kita yang disalahkan? Lihatlah sendiri!" Bungkam Nina karena sejak awal tidak suka. Chesa terlihat sekali melindungi Bizzi seolah Bizzi ini kaca yang mudah pecah saat tidak sengaja tersenggol padahal pihak mereka hanya bertanya santai. "Jika merasa terintimidasi itu artinya Bizzi kewalahan, dong?"
Nina dengan mulut pedasnya tidak bisa dipisahkan.
***
"Apakah alasan kehadiran Chesa untuk mengurus kasus Bizzi? Tapi, jarak waktunya lumayan jauh, 'kan? Ah bisa dibilang nggak jauh nggak dekat. Bizzi udah jadi bualan media masa karena jadi second lo, Reen. Bahkan sebelum lo married, 'kan?"
"Hem."
"Menurut lo gimana?"
"Nggak tahu, pusing," jawab Maureen sekenanya.
"Dia datang tiba-tiba tuh ke acara nikahan lo. Terus sekarang jadi walinya Bizzi yang notabennya kan tersandung kasus sama lo," papar Inez. "Lo bakalan bilang sama mas Ester, nggak?"