Bolos

951 Words

Gama berjalan dengan gontai menelusuri kota Surabaya yang ramai sore itu. Di kepalanya di terus terdengar suara Aya yang menangis di telepon tadi. "Sudah berhari-hari Abah tidak bekerja. panen kemarin juga gagal. Di rumah sama sekali tidak ada uang, Mas. Untuk makan saja Aya terus berhutang ke rumah Mak Pah setiap hari. Adik-adik sekarang juga tidak ada yang bisa sekolah karena tunggakan SPP. Sebenarnya Aya tidak boleh cerita hal ini pada Mas, Aya hanya disuruh telepon bilang kalau belum bisa kirim uang, tapi Aya tidak bisa bohong pada Mas...." Gama duduk di salah satu bangku taman sambil menangis. Dia teringat wajah Abah dan adik-adiknya saat mengantar kepergiannya di stasiun. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sakit. Abah dan adik-adiknya sedang menderita di Blitar. Tapi dia malah b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD