“Maaf menganggu waktumu dengan Pak Alga,Dira.” Aku sekilas menatap Alga yang duduk tak jauh dari mejaku dan Angkasa,di belakang sana, dia tersenyum otomatis membuatku tersenyum juga. Ya,aku dan Angkasa hanyalah sebuah masa lalu,sedangkan Aku dan Alga sedang berusaha berjalan menuju masa depan. “Tidak masalah,tolong panggil saya dengan nama Anin bukan Dira.” Peringatku di akhir kata,menurutku nama Dira hanyalah nama yang harus dikenang sebagai sosok pernah salah pilih di masa lalu. “Maafkan saya,Anindira.” Jika dulunya setiap mendengar Angkasa menyebutkan namaku dengan lengkap,aku akan tersenyum malu-malu bahkan merasakan pipiku memerah. Lalu sekarang? Aku tak merasakan apapun,serasa di panggil oleh teman lama yang kebetulan bertemu. “Kamu tau,masa lalu memang sulit untuk dimengerti ta

