FARAH
Perjalanan ke Dufan ditemani dengan drama-drama pertengkaran antara aku dan Jojo di jalan. Tadi niatnya saat macet berkepanjangan itu, aku dan Jojo hanya ingin mengisi waktu luang agar tidak bosan. Ternyata tebak-tebakan yang kami lontarkan itu malah berakhir malapetaka seperti ini.
“Masih marah?” Tanyanya padaku. Harusnya aku yang Tanya begitu ke dia. Aku masih ingat tadi dia debat denganku sampai urat-urat lehernya muncul. Heran banget sama cewek nggak mau ngalah mentang-mentang aku bukan pacarnya.
“Bukannya tadi lo yang ngegas?” Sinisku sambil melipat tanganku di d**a. Ia hanya menggaruk kepalanya bingung, “Emangnya gue tadi begitu? Gue santuy aja dah perasaan.” Jawabnya.
Biar ku ceritakan sedikit tentang perdebatan bodoh kami. Keadaan macet parah diiringi klakson dari berbagai arah membuat mood siapapun menjadi turun. Aku sudah memasang muka bete sepanjang jalan karena mobil Jojo yang tak kunjung maju dari tadi. Ditambah lagi ada laka antara truk dan mini bus membuat kemacetan semakin parah. Apalagi rambutku yang udah acak adul membuatku semakin tak pantas untuk sekedar pergi ke Dufan.
“Gue punya tebak-tebakkan.”Ujar Jojo dengan keras sedikit mengagetkanku. Aku hanya meliriknya dengan tersirat bertanya ‘apa?’ saking malasnya untuk berbicara.
“Kota-kota apa yang nggak pernah mujur?”
“Malang.” Ujarku malas.
“Kok lo tau sih?” Tanyanya. Aku hanya mengibas-ngibaskan rambutku bermaksud sombong membuatnya semakin sinis.
“Pisang goreng kalau panas jadi apa?”
Aku bersiap untuk memasang mimik muka kepanasan dengan mulut berbentuk O dan mata terpejam, seperti orang gagu, “Hihang holeng.” Jojo seketika ngakak parah sampai memukul dashboard, bahkan tak sengaja memencet klakson yang dibalas klakson oleh mobil didepan.
“Wah ngajak ribut nih orang.” Jojo kemudian bersiap untuk membunyikan klakson kembali. Malah jadi perang klakson.
“Udah-udah, jangan nyari musuh.” Tahanku sembari memegang jari-jarinya.
“Yaudah main tebak-tebakan lagi.” Ujarnya, “Lo lagi yang nanya.”
“Ah nggak kreatif gue orangnya.” Jawabku.
“Tapi tadi semua tebakan gue bisa lo jawab. Lo pake cheat ya? Pasti ada Chip kan di leher lo supaya bisa baca pikiran orang, mana sini-sini.” Aku memukul Jojo bertubi-tubi saat dia ingin memegang leherku. Sedangkan Jojo hanya mengaduh pelan sembari tertawa puas.
“Tebak-tebakan lo tuh pasaran tau nggak. Dari kecil gue udah dikerjain Kak Angga pakai tebak-tebakan begituan jadi udah nggak mempan di gue. Wlee.” Ejekku padanya. Dia hanya bersungut-sungut sembari mencibir. Pasti dari mulutnya sekarang berlafalkan kata-k********r, “Nah, kalau gajah mati yang paling sedih siapa?” Lanjutku yang akhirnya memberikan pertanyaan padanya.
“Keluarganya.”
“Salah.” Kataku dan tersenyum penuh kemenangan.
“Temen-temen arisan.” Aku tertawa mendengar omongannya, “Iya bener, kan?” Tanyanya polos.
“Yaudah karena gue baik hati, jawabannya penggali kubur, soalnya gajah gede, lubangnya harus gede, kasihan penggalinya. Hahaha.” Aku tertawa ngakak sedangkan Jojo hanya memasang wajah datar.
“Jelek banget humor lo.” Balasnya, “Gue mau mengajukan protes!” Aku menghentikan tawaku dan menatap Jojo bertanya. Memangnya aku gedung DPR mau protes-protes segala.
“Dimana-mana tuh kalau orang meninggal yang paling sedih keluarganya. Jadi jawaban lo kurang tepat.” Protesnya.
“Idih, emangnya lo pikir abang gali kuburan nggak sedih? Lo bayangin harus gali lubang segede itu buat ngubur gajah.” Balasku tak terima.
“Emangnya lo pernah lihat orang gali kuburan nangis-nangis?” Sewotnya. Kalau begini jadinya aku siap berperang nih.
“Lo nggak tahu aja isi hatinya gimana? Menjerit tau.” Aku mengikat kembali rambutku agar lebih leluasa untuk adu bacot sama Jojo.
“Lebay lo, itu kan emang kerjaannya dia. Sini gue bantu sumbangin IQ gue ke lo supaya pinter dikit.”
“Lo ngatain gue b**o?!” Sinisku.
“Terus lo pikir keluarganya nggak sedih gitu? Apalagi anaknya nggak bisa minta duit jajan lagi. Kurang pinter lo.” Jawab Jojo tak kalah sinis, persis ibu-ibu tetanggaku yang lagi julid ke orang.
“Elo tuh kurang pinter.” Balasku.
“Apaan? Jelas-jelas gue lebih masuk logika.”
“Ya lo mikir dong, mana ada gajah dikubur kalau mati. Mau aja kemakan tebak-tebakan lo!” Ujarku
“Iya juga ya? Gue b**o ternyata. Hehe.”
Begitulah kira-kira akhir dari tebak-tebakan tak masuk akal yang terjadi. Aku bingung sama cewek-ceweknya Jojo kok mau sih naksir dia. Kalau aku sih amit-amit lah punya cowok kayak gini, mending menjomblo seumur hidup aja sekalian.
“Yaudah deh ini mau dicancel aja Dufannya?” Tanyanya polos.
“Gila lo, perjuangan 4 jam buat sampai kesini dan kita udah ngantre buat masuk masih nanya?” Sewotku.
“Ampun suhu.” Jawabnya mengangkup kedua tangan, “Udah dong ngambeknya. Lo mau minta apa aja gue kasih deh. Gue kasih sayang juga boleh.” Idih cheesy banget ya dia.
“Beneran ya? Lo yang bayarin semua?” Tanyaku tak lupa memberikan mata berbinar andalanku. Wajahnya seketika memerah semerah tomat. Dia nggak malu dengan kelakuanku, kan?
“Ah giliran ginian aja semangat lo. Mata duitan banget.” Ketusnya namun tak urung juga bersiap mengeluarkan dompet yang tipis tapi berisikan banyak kartu-kartu harta karun itu.
“Sekalian bayar hutang, Jo.” Dia terkejut dengan penuturanku. Cih! Dia pikir aku nggak ingat sama hutangnya apa? Dasar orang kaya tapi suka menyusahkan rakyat menengah.
“Lo inget?” Tanyanya.
“Elah 10 ribu doang, Jo. Masa nggak bisa bayar?” Jawabku sambil menadah tangan.
“Gue mau beli PS4 gimana dong?” Ujarnya memelas.
“Njir lo bisa beli PS4 tapi nggak mau bayar hutang ke gue?!” Aku berteriak, bukan maksud buat marah sih, cuman nggak habis pikir aja.
“Ya kalau duit gue kurang 10 ribu nggak bisa ke beli dong PS4 nya.”
“Lo kan orang kaya, Jo. Jangan nyusahin gue dong, bapak gue cuman PNS.”
“Hehe iya deh iya. Galak banget sih.” Jojo menyerahkan selembar 10 ribuan kepadaku. Padahal tadi aku sedikit berharap bakalan dilebihin mengingat Jojo udah nunggak lama banget. Tapi gengsi juga masa morotin sahabat sendiri.
Aku dan Jojo pun memasuki Dufan yang tampak depan pun sudah terlihat berbagai wahana yang menggiurkan untuk dinaiki. Ada Kora-kora, Histerya, Kicir-kicir, Tornado—wahana itu terdengar seperti mau menyiksa diri, tapi sensasi adrenalinku yang terpacu nggak membuatku urung untuk menaikinya. “Tornado dulu gimana?” Tanyaku tanpa menunggu persetujuan Jojo. Bahkan aku nggak sadar tangannya mendingin dalam genggamanku tadi. Wajahnya ternyata sudah pucat pasi dan membuatku khawatir. “Jo? Lo nggak apa-apa? Lo pucat banget.” Tanyaku padanya. Aku pun membawanya duduk di salah satu bangku kemudian mengelus bahunya pelan.
“Nggak apa-apa. Cuman mual aja.”
“Lo punya trauma sampai setakut ini?” Tanyaku khawatir. Merasa bersalah juga karena udah ngajak dia ke Dufan.
“Iya gue trauma ketinggian. Tapi nggak apa-apa kita udah sampai sini masa nggak main.” Suara Jojo terdengar lemas.
“Tapi—“
“Farah?” Panggil seseorang yang kukenali suaranya. Ternyata itu adalah Regi anak OSIS yang ku temui di perpustakaan beberapa hari lalu. Sekaligus seseorang yang untuk pertama kalinya membuat jantungku berdegup kencang, “Ngapain kesini?”
“Maling bebek, ya mau main lah. Pake nanya lo.” Ketus Jojo sembari memutar kedua bola matanya. Aku menyikut sikut Jojo agar berhenti bersikap tidak sopan. Ketara sekali kalau Jojo tidak terlalu menyukai kehadiran Regi.
“Iya nih kebetulan kita mau main wahana tapi Jojonya tiba-tiba sakit. Lo sama siapa kesini?” Kataku lembut dan menyelipkan anak rambutku ke telinga. Sedangkan Jojo hanya menatap jijik padaku yang tiba-tiba bersikap cewek banget.
“Sama sepupu. Tapi gue malah ditinggal pacaran. Tadi niatnya gue mau langsung balik aja.” Ujarnya membalas senyum pepsodentku, “Jojo sakit apa?”
“Trauma ketinggian, jadi nggak bisa naik yang ektrem-ekstrem.” Kataku pelan. Jojo melotot padaku, aku hanya memandangnya dengan tatapan bertanya, “Lo jangan bongkar aib gue dong. Terhina jiwa laki gua.” Bisiknya padaku. Aku hanya menyikutnya pelan bermaksud protes. Masih sakit sempat-sempatnya mengagungkan gengsi.
Regi tertawa pelan melihat tingkah kami berdua, “Oh, bareng gue aja kalau gitu. Sayang duitnya kan udah kebuang-buang buat kesini malah nggak ngapa-ngapain.” Tawar Regi yang membuat mataku berbinar. Tapi, bagaimana dengan Jojo?
“Eh, mau banget sih. Tapi Jojo—“
“Gue ikut!” Seru Jojo.
***
“Huekkk, huekkk” Saat ini kami berada di toilet laki-laki. Mau nggak mau aku juga harus ikut masuk bertiga bersama dengan Regi karena Jojo datang denganku otomatis dia menjadi tanggung jawabku. Di sisi lain aku sebal juga dengan tingkahnya yang keras kepala. Dia sudah ku larang untuk mengikuti aku dan Regi bermain wahana ekstrem tapi dia bersikeras ingin ikut karena duitnya akan terpakai sia-sia. Terbukti dia tidak tahan di wahana ketiga yaitu Histerya yang membuatnya jadi kayak kurang gizi begini.
Aku masih setia mengusap-usap leher Jojo sementara Regi menjaga pintu toilet agar tidak ada yang masuk. Untungnya aku membawa persediaan minyak kayu putih di tas kecilku. Ku usap-usapkan ke leher, kepala, dan punggung Jojo agar dia merasa lebih enakan. Aku pun membawa Jojo ke restoran terdekat untuk mengisi perutnya. Setidaknya itu akan membuat keadaannya sedikit membaik.
“Kayaknya pulang aja deh, Jo.” Kataku dengan masih memijat-mijat lehernya. Kami sudah duduk di salah satu restoran untuk makan. Mengingat Jojo yang telah mengeluarkan banyak isi perutnya pasti membuat dia lapar. Jojo masih duduk bersandar dengan mata terpejam.
“Iya nanti kita pulang. Gue menenangkan diri dulu. Masih terguncang mental gue.” Jawab Jojo lemas.
“Lo pulang aja sendiri. Biar Farah sama gue. Kasihan dia belum banyak main wahana yang lain.” Sela Regi. Aku memang pengen banget sih main wahana tapi aku juga nggak se frustrated itu sampai ngebiarin Jojo pulang sendiri. Namun aku tetap diam membiarkan respon Jojo.
“Gue masih sehat kok, masih sanggup.”
“Jangan maksain diri, Jo. Kalau lo pingsan juga orang lain yang repot.” Balas Regi tegas.
“Bacot lo. Mendingan lo aja yang pergi. Dasar tamu tak diundang.” Sinis Jojo. Tak lama kemudian makanan kami pun datang. Jojo hanya memesan soto karena dia tidak nafsu untuk sekedar makan nasi. Karena itu, aku memesan piring kosong dan ku sisihkan sedikit nasiku untuknya agar dia bisa makan karbohidrat. Berhubung aku juga bukan tipe orang yang banyak makan, nggak apa-apa lah sedekah sedikit ke sahabat sendiri.
“Nggak tau terimakasih lo. Udah gue tolongin juga tadi.” Balas Regi tak kalah sinis. Aku hanya menghela napas lelah. Ini kenapa jadi ribut sih.
“Udah-udah, daripada debat mendingan makan. Iya lo nggak usah pulang, entar nggak usah naik yang ekstrem-ekstrem lagi, masih banyak kok area permainan disini.” Finalku menenangkan keduanya.
Setelah kami menyelesaikan makan, kami pun melanjutkan acara senang-senang kami. Namun, kali ini ku biarkan Jojo yang memilih apa yang ingin dimainkannya. Bagaimana pun aku masih sadar diri karena uang yang ku pakai adalah uang Jojo.
“Happy Feet mau nggak?” Tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk karena aku penasaran juga mengenai teater simulatornya.
“Bosan, mending Halilintar aja gimana?” Tawar Regi yang sebenarnya menggiurkan juga sih.
“Nggak bisa kan gue duluan yang nawarin.” Sewot Jojo.
“Yaudah lo aja yang ke Happy Feet sendirian, gue sama Farah main Halilintar.” Balas Regi tak mau kalah dan lagi-lagi membuatku pusing.
“Udah-udah. Gue mau kok ke Happy Feet.” Ujarku yang membuat Regi mendapat ledekan dari Jojo, “Gue juga mau main Halilintar tapi habis ini ya, Reg?” Tanyaku dan Regi mengangguk. Jojo kemudian mencibir pelan dan berjalan mendahului kami.
***
“Ayo, Far.” Tarik Regi pada tanganku selepas kami selesai di Happy Feet. Aku menolehkan kepala ke belakang mengawasi presensi Jojo dan dia lagi-lagi mencibir dengan mulut bebeknya itu. Dia kemudian duduk di salah satu bangku menunggu kami. Aku dan Regi akhirnya menaiki wahana bersama, alih-alih berteriak takut, kami malah tertawa lebar. Wahananya benar-benar memacu adrenalinku dan aku merasa bebas. Angin menerpa rambut-rambutku yang sengaja tidak aku ikat lagi.
“Lucu banget muka lo, Far.” Regi tertawa terbahak-bahak melihat fotoku yang muncul di layar monitor. Terpampanglah wajahku yang menganga lebar disertai lipatan-lipatan pipiku akibat terpaan angin. Aku pun ikut tertawa lebar bersamanya. Wajah Regi tak kalah lucu karena ia sengaja memeletkan lidahnya tadi membuat wajah konyolnya sangat lucu. Kami kemudian berjalan mendatangi Jojo yang masih sibuk memainkan Hpnya sendiri. Sejak tadi tatapan memuja dari beberapa kaum hawa membuatku sadar betapa tampannya Jojo hari ini. Beberapa perempuan bahkan sudah mendekat ke Jojo dengan tatapan menggoda. Cih! Dasar murahan! Mana Jojonya ngelayanin aja lagi godaan cewek-cewek itu dasar buaya darat.
“Hey, ngelamunin apa sih? Dari tadi nggak nyahut.” Sentak Regi membuatku terdasar. Aduh Farah ngapain juga sih mesti ngurusin Jojo. Itu anak bahkan dengan santainya meletakkan kedua lengannya di bahur cewek-cewek tadi. Pasti nggak lama kemudian udah jadian aja nih, berani taruhan aku, nggak sampai 5 menit itu dua cewek udah jadi istri ke 1 dan ke 2 Jojo.
“Mau es krim?” Tawar Regi tiba-tiba yang kembali menyentakku.
“MAU-MAU!” Balasku histeris dan antusias sampai membuat Jojo akhirnya tersadar dan menolehkan wajahnya padaku. Mungkin dia merasa terganggu dengan teriakanku. Bahkan sampai membuat rangkulannya pada cabe-cabean itu terlepas.
Regi pun kembali menarik tanganku, “Ayo, Jo. Beli es krim!” Ajakku padanya.
“Enggak deh gue disini aja.” Jawabnya. Sudah kuduga, pasti dia lebih memilih melayangkan jurus gombal gembelnya daripada belie s krim bersamaku dan Regi.
Aku pun buru-buru berbalik berjalan dan menarik tangan Regi menuju kedai es krim. Aku memesan rasa strawberry dan Regi memesan coklat. Kami memutuskan untuk makan di tempat agar tidak mencair. Apalagi kedai es krim dari tempat duduk yang Jojo duduki lumayan jauh.
“Suka es krimnya? Favorit lo strawberry ya?” Tanya Regi padaku.
Aku mengangguk dan kembali menikmati es krimku, “Iya rasanya asam manis gitu enak.” Regi hanya terkekeh dan mengusap sudut bibirku pelan, “Eh?” Sentakku. Jujur saja aku sedikit kaget dengan perlakuannya.
“Itu ada bekas es krim. Maaf, lo nggak nyaman ya?” Tanyanya padaku. Aduh, seandainya aja dia tau aku tadi kaget bukan karena merasa nggak nyaman, tapi karena tindakannya tadi membuatku gugup.
“E-eh enggak kok. Cuman kaget aja hehe.” Selaku cepat.
“Kalau lo sebegitu sukanya sama es krim. Kapan-kapan mau jalan? Gue tau kedai es krim yang enak banget.” Ajak Regi. Aku menimbang berpikir, aku nggak pernah jalan sama cowok mana pun selain keluarga dan sahabatku. Rasanya aneh jalan dengan cowok lain yang baru ku kenal. Tapi tidak ada salahnya juga menerima tawaran Regi. Aku percaya padanya bahwa ia adalah orang yang baik.
“Boleh deh tapi jangan pulang kemaleman ya?” Kataku dan menyendok es krimku lagi.
“Yaiyalah, kita perginya pas weekend aja biar perginya bisa sorean. Gue juga nggak boleh pulang malam kok.”
“Loh serius? Bukannya cowok kebanyak anak malam ya?” Katau sedikit memasang tampang curiga.
Regi tertawa melihat mimikku dan mengusap kepalaku pelan, “Aduh, kebanyakan nonton sinetron nih si gadis. Nggak semua begitu kali. Bokap nyokap gue tuh super duper protektif. Palingan buat keperluan OSIS aja gue pulang telat.” Jawab Regi. Wah, menambah poin plus nih dimataku. Kebetulan tipe cowokku memang bukan cowok urakan, bad boy, ala ala cerita teenager gitu sih. Lebih suka yang nggak neko-neko, lurus aja gitu hidupnya. Cowok baik-baik, lemah lembut, dan pengertian, perfect banget deh pokoknya. Ganteng sih itu bonus ya, haha.
“Okedeh kabarin aja ya nanti.” Ujarku.
“Pfft! Ngabarin kemana? Pakai surat maksudnya?” Tanyanya jenaka yang membuatku tepuk jidat. Oh iya aku kan nggak tahu nomornya, apalagi Pin BB nya.
“Yaudah ini Pin BB gue. Invite ya!” Katanya dan aku mengiyakan.
***
“Cih, giliran udah ada cemewew, temen sendirian dilupain. Nasib jomblo.” Sindir Jojo padaku. Aku hanya memasang wajah garang padanya agar berhenti bermain-main.
“Kaya lo jomblo aja. Pacar lo noh setiap tikungan ada. Tadi aja rangkul-rangkulan sama cewek lain.” Balasku menyindir.
“Oh, jadi cemburu nih?” Tanya Jojo sambil menoel-noelkan pipiku. Aku memutar bola mataku malas, “Cemburu sama buaya darat itu haram.” Balasku.
Dia hanya mencibir kesal, “Cih, emangnya gue babi.”
“Lah ngaku lo.” Aku tertawa dan Regi pun ikut terkikik geli. Muka Jojo sudah memerah sampai ke leher. Aku mencolek pipinya agar ia tidak marah, “Jangan ngambek dong ganteng.”
“Yaudah mau kemana lagi nih?” Tanya Jojo sambil mengusap-usap pipinya yang ku pegang tadi. Udah kaya bakteri jahat aja di gosok-gosok.
“Hm, ke istana boneka gimana?” Tawarku. Regi dan Jojo pun mengangguk. Jojo segera bangkit dari tempat duduknya dan merangkulku.
“Eh masih ngikut aje lo tuyul? Kaya anak ilang dari tadi ngintilin kita mulu perasaan.” Aku mencubit pinggang Jojo agar berhenti bicara aneh-aneh. Kebiasaan Jojo yang jelek adalah kalau ngomong tanpa filter bisa bikin anak orang sakit hati. Mudah-mudahan nggak ada yang niat balas dendam. Nggak lucu kalau besokkannya Jojo ditemukan ngambang di Kali Ciliwung, “Jojo, mulut lo kayak nggak disekolahin.” Kataku.
“Udah nggak apa-apa. Gue emang mau pulang kok. Kayaknya gue ganggu kencan kalian berdua ya?”
“E-eh! Amit-amit kencan sama Jojo.” Kataku dengan nada jijik dan melepas rangkulannya.
Jojo lagi-lagi mencebik, “Selera gue bukan lo juga kali. Gue suka yang kayak gitar spanyol, nggak kayak triplek gini. Kalau sampai gue kencan sama dia, terjung payung gue sambil goyang itik.”
“Halah! Omdo aja lo. Kalau sampai beneran awas aja lo gue tagih.” Balasku tak terima. Enak aja kayak papan triplek. Meskipun emang rata sih, tapi kan aku masih punya daging, coba aja cubit. Lemaknya masih ada kok walaupun kinyis-kinyis.
“Hati-hati lho kalian benci jadi cinta. Udah deh gue udah dicariin nyokap. Nanti malem gue telepon ya.” Ucap Regi dan melambaikan tangannya padaku. Sepertinya Ia terburu-buru sekali untuk pulang hingga tak sempat melihatku balik melambaikan tangan. Aku pun kembali duduk di bangku panjang dan merenggangkan tangan kakiku. Jojo masih bergeming dan menatapku bengis, drama apalagi ini.
“Wah, baru kenal beberapa hari, udah punya nomor telepon aja. Gue dulu hampir setengah tahun baru lo kasih Pin BB.” Sinisnya padaku. Aku hanya membuang muka bodo amat.
“Jadi…lo serius sama dia?” Tanyanya serius.
“Belum tau sih, baru kenal juga soalnya.” Kataku pelan. Jujur saja aku mulai lelah karena menaiki banyak wahana tadi. Jojo kemudian merangkulku membawa tubuhku bersandar padanya. Aku menurut dan memejamkan mataku menikmati semilir angin disekitar kami.
“Lo tau kan kenapa gue se protektif ini?” Tanyanya lagi.
“Hm, iya tau kak.” Aku mengubah panggilanku padanya. Kalau sudah berdua begini dan Jojo terlihat serius aku diharuskan untuk memanggilnya kakak. Kami berdua membuat kesepakatan itu karena Jojo yang memerlukan sosok adik dan aku yang sudah kehilangan sosok kakak dari Kak Angga. Membuat kami saling mengerti dan memahami perasaan satu sama lain.
“De, gue sayang sama lo. Sebagai seorang kakak, gue nggak akan membiarkan siapapun nyakitin lo.” Katanya lembut sembari mengusap rambutku pelan.
“Gue tau.” Balasku singkat.
“Termasuk Regi.”
“Iya-iya lo sensi banget sih sama Regi. Kita nggak ada apa-apa juga orang baru kenal. Dasar posesif.” Balasku tertawa.
“Yee, entar aja kalau disakitin nangis-nangis bombay lo ke gue.” Aku hanya terkikik dan kembali menyandarkan kepalaku.
“Pokoknya gue akan terus awasin Regi dan cowok-cowok lainnya yang mau ambil adek gue. Biar gue yang seleksi pasangan lo.”
“Kalau insting lo salah gimana?” Tantangku padanya. Dia hanya menyeringai dan menyugar rambutnya sombong, “Lo lupa gue siapa? Fakboi Cenderawasih yang ceweknya se Indonesia, dari Papua sampai Aceh juga ada, kalau mau Zimbabwe sekalian tapi gue nggak sanggup mengejar cinta sampai kesana.” Aku kembali tertawa karena celotehannya yang nggak beresensi itu. Ku akui Jojo emang punya banyak cewek nggak cuman offline yang online pun juga ada, makanya jangan heran kalau Hpnya Jojo udah kayak asrama wanita, “Gue b******k jadi gue tau mana yang satu spesies sama gue.”
“Lo nggak takut kena azab? Kalau gue kena karma dapat cowok b******k karena kakak gue sendiri gimana?” Tanyaku.
“Ya enggaklah, lo tenang aja entar gue bakalan rajin beribadah supaya karmanya mental ke Jeje semua. Biar mampus dah tuh anak.” Jojo tertawa jahat seperti penyihir. Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Heran kok ada orang menistakan adek sendiri.