Dekapan erat Kenzo di malam kedua menyisakan kehangatan yang asing bagi mereka berdua. Ketika pagi di hari ketiga tiba, suasana di dalam rumah terasa berbeda. Ketegangan yang biasa menyelimuti kini berganti dengan kecanggungan yang pekat.
Kenzo terbangun di kamar tamu dengan perasaan gelisah. Bayangan Freya yang menangis tersedu-sedu di dadanya semalam terus berputar di kepalanya. Pria itu mengusap wajahnya kasar, mencoba meyakinkan diri bahwa rasa iba yang ia rasakan hanyalah bentuk kemanusiaan biasa, bukan karena hatinya mulai goyah.
Saat turun ke lantai bawah, Kenzo tidak mendapati aroma masakan yang biasanya menyambut indra penciumannya. Dapur bersih dan rapi, tetapi kosong.
Kenzo melangkah ke ruang tengah dan menemukan Freya sedang duduk di dekat jendela, tempat yang sama seperti kemarin sore. Namun kali ini, wanita itu sudah berpakaian rapi dengan terusan kasual berwarna krem. Wajahnya tidak lagi sepucat kemarin, meski binar matanya masih menyiratkan kelelahan yang dalam.
"Kamu tidak masak?" tanya Kenzo pelan, memecah kesunyian.
Freya menoleh, lalu mengulas senyum tipis, senyum yang kini terasa begitu berjarak di mata Kenzo. "Aku pikir, hari ini kita bisa sarapan di luar, Mas. Sebagai sepasang suami istri yang sedang berkencan."
Kenzo tertegun. Berkencan? Kata itu terdengar tabu dalam pernikahan mereka yang hambar selama setahun ini. Namun, mengingat ini adalah hari ketiga dari sisa waktu mereka, Kenzo akhirnya mengangguk. "Baiklah. Ganti bajumu, aku akan bersiap."
"Aku sudah siap, Mas. Aku tunggu di mobil," ujar Freya lembut, melangkah melewati Kenzo tanpa menuntut kecupan kening seperti dua hari sebelumnya.
Sikap Freya yang tiba-tiba melonggarkan tuntutannya justru membuat Kenzo merasa ada sesuatu yang hilang. Pria itu menatap punggung Freya yang berjalan mendahuluinya ke pekarangan rumah dengan perasaan ganjil yang tidak bisa ia jelaskan.
Mereka berakhir di sebuah kafe bergaya klasik di sudut kota yang tidak terlalu ramai. Sepanjang perjalanan, Freya hanya diam menatap jalanan, sementara Kenzo fokus menyetir. Namun sesampainya di kafe, Freya kembali menjalankan perannya dengan apik.
Ia duduk di hadapan Kenzo, memesan menu sarapan untuk mereka berdua tanpa perlu bertanya, menunjukkan betapa ia hapal luar kepala semua hal yang disukai dan tidak disukai oleh suaminya.
"Mas masih ingat kafe ini?" tanya Freya membuka percakapan, matanya menatap interior kayu di sekeliling mereka.
Kenzo mengedarkan pandangannya, lalu menggeleng kaku. "Tidak terlalu. Memangnya kita pernah ke sini?"
Freya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar jernih namun menyayat hati. "Bukan kita, Mas. Tapi kamu dan Heidi. Dua tahun lalu, sebelum kita dijodohkan, aku gak sengaja melihat kamu menjemput Heidi di kampus dan membawanya ke sini. Kalian berdua terlihat sangat serasi dari kejauhan."
Tangan Kenzo yang sedang memegang cangkir kopi seketika menegang. Ia menatap Freya dengan tatapan bersalah. "Freya, aku..."
"Aku nggak sedang menuduhmu, Mas," potong Freya cepat, matanya menatap Kenzo dengan ketulusan yang teramat sangat. "Aku hanya sedang mengingat masa lalu. Dulu, aku selalu berpikir, andai aja aku yang lahir dari rahim Ibu, andai aja aku bukan anak pancingan... apakah orang yang duduk di depanmu sambil tertawa lepas hari itu adalah aku?"
Kenzo bungkam. Kalimat Freya menampar egonya dengan keras. Selama ini, ia hanya melihat Freya sebagai wanita yang merebut posisinya untuk bersama Heidi. Ia menutup mata dari kenyataan bahwa Freya adalah korban terbesar dari ambisi dan rasa bersalah kedua keluarga mereka.
Sebelum Kenzo sempat membalas, sebuah panggilan masuk di ponselnya memecah ketegangan di antara mereka. Nama 'Heidi' berkedip di layar.
Kenzo melirik Freya dengan bimbang. Biasanya, ia akan langsung mengangkat telepon itu tanpa memedulikan perasaan istrinya. Namun kali ini, jemarinya ragu.
"Angkat aja, Mas. Siapa tahu penting," ujar Freya tenang, meski matanya perlahan meredup.
Kenzo menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Ya, Heidi?"
"Kak Kenzo..." Suara Heidi di seberang sana terdengar terisak, membuat Kenzo refleks menegakkan punggungnya. "Ibu... Ibu tiba-tiba pingsan di rumah. Aku bingung harus bagaimana. Kak Kenzo bisa ke sini sekarang? Aku takut banget, Kak..."
"Apa? Ibu pingsan?" Kenzo mendadak panik. Ia langsung berdiri dari kursinya, melupakan sarapannya yang baru tersentuh setengah. "Baik, Heidi. Tenanglah, aku akan ke sana sekarang juga."
Begitu panggilan terputus, Kenzo menatap Freya dengan tatapan penuh sesal sekaligus kepanikan. "Freya, Ibu..."
"Aku dengar, Mas," potong Freya. Ia ikut bangkit berdiri, merapikan tas kecilnya dengan gerakan yang luar biasa tenang, ketenangan yang justru terlihat menakutkan di mata Kenzo. "Ayo kita ke sana. Bagaimanapun juga, beliau adalah ibuku."
Suasana di rumah sakit swasta kota itu tampak tegang. Fransisca sudah dipindahkan ke ruang perawatan setelah sempat mendapat penanganan di IGD karena tekanan darahnya yang melonjak drastis.
Begitu Kenzo dan Freya melangkah masuk ke dalam bangsal, Heidi yang sedang duduk di samping ranjang ibunya langsung bangkit berdiri. Tanpa memedulikan keberadaan Freya, Heidi langsung menghambur ke pelukan Kenzo, menangis sesenggukan di d**a pria itu.
"Kak Kenzo... aku takut banget kalau terjadi apa-apa sama Ibu," isak Heidi manja.
Kenzo membeku. Biasanya, pelukan Heidi adalah tempat yang paling ia inginkan dan sangat ia idam-idamkan. Namun entah mengapa, saat ini, dengan keberadaan Freya yang berdiri tepat di belakangnya, pelukan Heidi terasa begitu mencekik hingga ia kesulitan bernapas.