Puncak Penyesalan

818 Words
Dengan tatapan kabur yang dibasahi air mata, Kenzo memacu mobilnya membelah kemacetan menuju stasiun kereta api yang ditunjuk oleh pengamen tadi. Hanya itu satu-satunya petunjuk. Satu-satunya benang tipis harapan yang tersisa di tengah keputusasaan yang meremukkan dadanya. Ia memarkirkan mobilnya secara sembarangan di bahu jalan depan stasiun, bahkan dia sama sekali tidak memedulikan tiang larangan parkir atau klakson nyaring dari kendaraan lain yang terganggu. Kenzo melompat keluar dari dalam mobilnya dan berlari menerobos kerumunan calon penumpang yang memadati area pintu masuk. Di tengah riuh lalu lalang manusia, Kenzo berdiri bagaikan pria linglung. Pakaiannya kusut, rambutnya berantakan, dan matanya merah menyala. Tanpa foto di genggaman, tanpa petunjuk arah, ia hanya memiliki ingatan tentang sosok Freya yang kini terasa begitu berharga. Kenzo menghampiri seorang petugas keamanan stasiun yang sedang berdiri di dekat pintu boarding. "Pak! Pak, tolong saya, Pak!" seru Kenzo panik, mencengkeram lengan petugas itu dengan erat. Petugas itu tersentak, menatap Kenzo dari atas ke bawah dengan dahi berkerut curiga. "Ada apa, Mas? Tenang dulu." "Istri saya, Pak... istri saya pergi pagi ini," racau Kenzo, nafasnya memburu dan terputus-putus. "Tolong diingat-ingat, Pak. Apakah Bapak melihat wanita dengan tinggi sebahu saya? Kulitnya bersih, matanya teduh... dia punya aroma mawar yang sangat lembut kalau dia lewat dekat Bapak. Dia membawa koper, Pak! Rambutnya panjang gelombang hitam sepinggang... Tolong, Pak, apa Bapak melihatnya?!" Petugas security itu menghela napas panjang, menatap Kenzo dengan raut wajah prihatin sekaligus bingung. "Mas, yang Mas sebutkan itu ciri-ciri fisik sangat umum. Setiap hari ada ratusan, bahkan ribuan penumpang wanita yang lewat sini dengan koper. Soal aroma mawar... di sini ramai sekali, Mas, aroma parfum berbaur jadi satu. Ada foto fotonya tidak, Mas? Biar saya bantu tanyakan ke tim yang jaga pos depan." Kata 'foto' itu kembali menghantam d**a Kenzo bagai pukulan benda tumpul. Kenzo menggeleng pelan, lidahnya terasa kelu dan benar-benar mati rasa. "Nggak ada, Pak... Saya... saya nggak punya fotonya." Petugas itu menatapnya keheranan. Seolah menyiratkan kata, bagaimana mungkin seorang suami sama sekali tidak memiliki foto Istrinya sendiri? Ya, itulah dia. Si bodoh yang sibuk mengejar wanita lain hingga tidak peduli dengan wanita yang tinggal satu atap hampir selama setahun dan ia kenal selama dua puluh tahun hidupnya. Bahkan lebih dari setengah hidupnya ia mengenal Freya tapi tak satupun ia menyimpan foto wanita itu. "Waduh, kalau tidak ada foto, susah sekali, Mas. Kami tidak bisa menebak-nebak hanya dari ciri-ciri seperti itu." "Tolonglah, Pak! Tolong bayangkan wanita yang saya sebutkan ciri-cirinya tadi!" Kenzo memohon, suaranya pecah di tengah hiruk-pikuk stasiun. Namun, petugas itu hanya menggeleng pelan, meminta Kenzo untuk tidak mengganggu jalur antrean penumpang. Tidak menyerah, Kenzo berlari menuju loket tiket. Ia menyela antrean tanpa peduli pada seruan marah dari orang-orang di belakangnya. "Mbak! Mbak, tolong saya!" Kenzo menempelkan kedua telapak tangannya di kaca tebal loket. "Atas nama Freya Anindita! Apakah ada penumpang bernama Freya Anindita yang membeli tiket kereta pagi ini? Ke mana saja! Ke Surabaya, Jogja, Bandung, ke mana saja?!" Petugas loket wanita di balik kaca tertegun sejenak melihat kerapuhan pria berdasi melar di depannya. "Maaf, Pak. Demi privasi dan keamanan penumpang, kami tidak bisa memberikan informasi data diri penumpang secara sembarangan." "Ini darurat, Mbak! Dia istri saya!" teriak Kenzo, air matanya menetes lagi, jatuh menimpa lantai marmer stasiun yang dingin. "Tolong... saya cuma mau tahu dia pergi ke mana..." "Maaf sekali, Pak, tidak bisa. Lagi pula kalaupun saya cek, tanpa nomor identitas atau kode pemesanan, prosesnya tidak bisa dilakukan semudah itu," sahut petugas loket itu tegas namun penuh penyesalan. Kenzo berbalik, memegang kepalanya yang terasa mau pecah. Ia berjalan menyeret kakinya ke tengah aula stasiun yang megah. Ia menghampiri pedagang roti, petugas kebersihan, hingga penumpang yang sedang duduk menunggu jadwal keberangkatan. "Permisi, Ibu melihat wanita tinggi sebahu saya? Aromanya mawar..." "Mas, melihat wanita dengan mata yang tampak sangat sedih memegang koper?" "Pak, tolong... apa ada wanita bernama Freya yang lewat sini?" Setiap orang yang ia hampiri memberikan respons yang sama, yaitu hanya dengan gelengan kepala, tatapan bingung, atau pandangan kasihan pada seorang pria terpandang yang tampak telah kehilangan akal sehatnya. Tak satu pun orang paham. Tak satu pun orang mengenali sosok yang digambarkan Kenzo. Freya telah menjadi asing bagi dunia, sama seperti bagaimana Kenzo mengasingkannya selama setahun ini di dalam rumah mereka sendiri. Kenzo akhirnya ambruk di salah satu kursi besi stasiun. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, ia menangis tanpa suara di antara lalu lalang ratusan asing yang tak peduli pada kehancuran dirinya. Di sinilah puncak penyesalannya. Di tempat di mana ribuan perjalanan dimulai, Kenzo sadar ia tidak akan pernah tahu ke mana "rumah" yang sebenarnya bagi Freya. Wanita itu telah lenyap. Dia telah pergi membawa serta seluruh kepedihannya, dan meninggalkan Kenzo dalam penjara rasa bersalah yang tidak akan pernah menemukan jalan keluar. Tapi mau disesali bagaimana pun, keadaan tidak bisa diubah semudah membalikkan telapak tangan. Freya pergi. Freya meninggalkannya beserta rasa sesak yang semakin menghimpit dadanya setiap kali ia menarik napas dan mengingat tentang wanita yang telah ia sia-siakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD