Beberapa warga dan pengguna jalan yang melintas akhirnya menyadari keberadaan pria berpakaian rapi namun kacau yang terbaring lemas di tepi trotoar itu. Suara-suara samar mulai terdengar di sekelilingnya, bisikan cemas, langkah kaki bergegas, hingga seseorang yang menepuk pelan bahunya mencoba membangunkan. "Mas? Mas, nggak apa-apa? Bisa dengar suara saya?" Kenzo tidak sanggup menjawab. Tenggorokannya terkunci, dan matanya terlalu berat untuk sekadar terbuka penuh. Ia merasakan beberapa orang membantunya duduk, menyandarkan tubuhnya yang lunglai pada tiang lampu jalan, lalu menyodorkan sebotol air mineral ke bibirnya yang pecah-pecah. "Minum dulu, Mas. Wajah Mas pucat sekali," ujar seorang pria paruh baya dengan raut khawatir. Kenzo menelan air itu secara perlahan, merasakan sensasi di

