Sepanjang perjalanan pulang, Rara hanya diam dan menatap luar jendela.
Dia benar-benar merasa tak enak pada Rangga.
"Ra, kamu marah?" tanya Firman dengan hati-hati.
"Enggak kok, Rara nggak marah. Rara cuma nggak enak aja sama kak Rangga,"
"Oh, jadi namanya Rangga? tapi, mukanya kaya nggak asing deh,"
Rara pun mengangguk,
"Dia kan pengusaha sukses keturunan keluarga Abraham, kak." jelas Rara membuat Firman terhenyak.
"Hm, tapi kamu harus ingat, Ra. Kamu itu calon istriku, nggak sepantasnya kamu seperti itu."
Mata Rara menyipit dan menatap Firman dengan tatapan tak percaya.
"Kak, maaf… tapi, Rara belum menyetujui perjodohan kita" lirih Rara membuat Firman terkejut.
"Apa? kenapa? kamu nggak mau sama aku?"
"B-bukan, bukan begitu, kak. Tapi, Rara belum siap aja," cicitnya lagi.
"Tapi, Ra.. kita memang harus menikah, aku mohon jangan batalkan perjodohan kita," ucap Firman dengan nada penuh permohonan.
Rara menautkan kedua alisnya. Menatap heran pada Firman.
"Maksudnya?"
"I-itu, m-maksudnya.. aku udah jatuh cinta sama kamu, Ra."
Mata Rara terbelalak mendengar ucapan Firman.
"J-jatuh cinta sama aku?" Firman pun mengangguk yakin, berbeda dengan Rara, dia hanya diam tak tahu akan menjawab apa.
"Aku mohon, jangan batalkan. A-aku sayang kamu, Ra.." Rara pun menunduk dan memainkan jarinya.
Firman menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Lalu meraih tangan Rara, membuat Rara terkejut.
Firman menggenggamnya erat,
"Aku sayang kamu, Ra.. aku cinta sama kamu, jangan batalkan perjodohan kita," Firman mengecup lembut punggung telapak tangan Rara.
Lalu mendekatkan wajahnya di wajah Rara, memegang tengkuknya dan mencium lembut bibir Rara.
Rara terbelalak lebar dan terkejut saat tangan Firman dengan beraninya meraba bagian dadanya.
Rara tersadar dan segera mendorong tubuh Firman.
Firman pun terkejut dan menatap Rara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"R-rara, a-aku…"
"Antarkan aku pulang,"
"Ra, aku minta maaf,"
"Aku pastikan kita tidak akan menikah," ucap Rara dengan penuh keyakinan.
Brakk
Rara keluar dari dalam mobil Firman dan menutup pintunya dengan kencang.
Firman pun keluar dari dalam mobil dan berlari menyusul Rara,
"Rara," teriak Firman, namun terlambat, Rara sudah lebih dulu naik ke dalam taksi.
"Sial, sial, sial… argh," Firman mengacak rambutnya frustasi.
"Harusnya gue nggak boleh gegabah," lanjutnya.
Dia pun kembali berlari menuju mobilnya.
***
Sedangkan Rara masih menangis dengan sesenggukan di dalam taksi.
"Neng, kita mau kemana ya?"
"Ke alamat ini aja, pak" Rara menunjukkan alamat di ponselnya ke supir, dan supir itu pun mengangguk.
Lima belas menit kemudian taksi yang ia tumpangi berhenti, tak lupa merogoh sakunya, ia membayar pada sang supir.
Lalu melanjutkan langkah kakinya, hingga berhenti di depan gedung rumah mewah.
Entah dorongan dari mana, Rara bisa memberikan alamat rumah itu.
Rara pun kembali melangkahkan kakinya maju, dia memasuki gerbang yang memang belum terkunci, seperti baru saja dibuka.
Hingga Rara sampai di depan pintu utama, seseorang memanggilnya dari arah belakang.
"Rara?"
Rara pun menolehkan kepalanya dan langsung menghambur peluk pada orang itu.
Menangis sejadi-jadinya di d**a bidangnya.
"Ssst… kenapa nangis, hm?"
"K-kak Rangga, hiks.. hiks.." ya, orang itu adalah Rangga.
Rara mengikuti instingnya yang menyuruh untuk pergi ke rumah Rangga.
"Kenapa, hm?"tanya Rangga dengan lembut dan mengusap punggung Rara yang bergetar karena tangisan.
"Maafin Rara, kak. Rara ninggalin kakak tadi." Rangga menautkan kedua alisnya. Dia sangat tahu jika Rara sedang berbohong, namun ia tidak ingin bertanya lebih. Karena, mungkin saja Rara belum siap untuk mengatakannya.
"Mau masuk?"
Rara pun mengangguk,
"Ya udah, lepas dulu dong. Seneng banget di pelukan orang ganteng,"
"Ish," Rara mencebikkan bibirnya dan memukul pelan d**a Rangga membuatnya terkekeh.
Rangga menarik tangan Rara untuk masuk ke dalam rumah mewahnya.
"Kamu kok tau kalau kak Rangga bakal pulang kesini?"
Rara menggidikkan kedua bahunya,
"Rara nggak tau, kak."
Rangga tersenyum manis dan mencubit gemas pipi Rara.
"Aduh, sakit ihh," Rara mengaduh.
Rangga pun terkekeh,
"Gemes, liat tuh pipinya kaya odading mang oleh, rasanya seperti menjadi iron-man,"
"Receh," ejek Rara ketus.
"Kenapa bisa?"
"Rara kan cewek, kak. Iih,"
"Cewek ya? tapi, kok…?"
Rara menatap bingung pada Rangga yang mulai menatap intens tubuhnya dari atas hingga bawah.
"Apa? kurus gitu?" cibir Rara membuat Rangga terkekeh,
"Bukan aku yang ngomong loh, ya?"
"Hm, kak… Rara haus,"
"Hm, kamu duduk di sini dulu ya? kamu mau minum apa?"
"Air putih dingin aja, kak."
"Ya udah, tunggu bentar ya?"
Rara pun mengangguk, sesaat setelah kepergian Rangga ke dapur, listrik pun padam membuat Rara panik.
"Aaaaaaa, kak Rangga… monster!!!!" teriak Rara membuat Rangga ikut panik dan dengan cepat menyalakan center ponsel, lalu menghampiri Rara.
"Kak Rangga, Rara takut…" teriaknya lagi, dan dia tersentak saat merasakan hembusan napas di dekat telinganya.
"Ya Allah, a-apa i-itu monster? j-jangan ganggu a-aku," ucap Rara terbata dengan tubuh bergetar.
"Ra, buka matamu, ini kak Rangga."
Rara pun membuka matanya dan langsung sesenggukan di pelukan Rangga.
Rangga benar-benar tak mengerti, kenapa Rara bisa setakut ini dengan kondisi listrik padam?
"Ssst, jangan takut. Di sini ada aku,"
"R-rara takut gelap, kak. Kata bunda ada monster kalau lagi gelap begini,"
Rangga hampir menyemburkan tawanya, namun melihat kondisi Rara yang begitu ketakutan membuatnya menjadi tak tega.
"Hm, udah ya.. itu cuma dongeng, nggak usah takut."
"Tapi, takut.." rengeknya manja.
"Ra, kamu pulang ya?"
"Kak Rangga usir Rara?"
"Astaga, bukan… bukan, jangan salah paham. Tapi, ini udah malam, Ra. Nggak enak sama keluarga kamu, nanti dikira kita ngapa-ngapain lagi,"
Rara pun mengangguk mengerti,
"Ya udah, ayo… antar Rara pulang,"
"Kamu bisa jalannya kalau gelap gini?"
Rara pun mengangguk,
"Bisa, asal kak Rangga pegangi Rara,"
"Ya udah, ayo…" Rangga pun membawa Rara berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu utama.
Hingga sampai di parkiran rumah, Rangga membukakan pintu mobil untuk Rara.
Setelah Rara masuk, Rangga pun berjalan memutar dan masuk ke dalam kursi kemudi.
Perlahan mobil itu melaju meninggalkan area rumah mewah Rangga.
"Kak, kok rumah kakak sepi?"
"Hm, iya… kak Rangga kasih waktu libur buat para asisten sama penjaga selama tiga hari,"
"Oh, gitu. Baik juga ya, kak Rangga."
Rangga tersenyum,
"Udah sewajarnya begitu, mereka juga punya keluarga yang harus mereka temui, pasti mereka juga rindu waktu bersama keluarga,"
Rara pun mengangguk
"Benar, mereka juga manusia,"
"Ya masa monster,"
"Iish,"
Rara pun memukul lengan kiri Rangga membuatnya mengaduh.
"Kenapa di pukul?"
"Kak Rangga nakutin, sebel,"
"Aduh, salah ngomong kayanya." gumam pelan Rangga.
Tak terasa mereka pun telah sampai di rumah Rangga, di teras rumah pun terlihat Anton sedang duduk dengan ponsel ditangannya.
"Kak Anton," Rara berjalan menghampiri sang kakak dan langsung memeluknya.
"Rara, astaga… kakak dari tadi hubungi kamu sudah banget,"
Rara pun hanya nyengir memamerkan gigi putihnya,
"Loh, Rangga?"
"Iya, Ton.. tadi Rara pergi sama aku,"
"Bukannya Firman bilang sama dia?"
Rangga mengetatkan rahangnya, menahan gejolak amarah mendengar nama saingannya.
"Nggak usah bahas dia deh, Rara nggak suka." ucap Rara membuat dua orang di dekatnya menatapnya heran.
"Kenapa?" sahut Anton.
"Rara nggak suka, kak."
Rangga mengulum senyum, dia benar-benar merasa memiliki kesempatan, hatinya bersorak kegirangan mendengar ucapan Rara.
"Tapi, Ra… dia tadi kesini sama om Arman, katanya mau pernikahan kalian dipercepat,"
Raut wajah Rangga dan Rara berubah drastis.
Rangga menatap Rara yang kini mulai menegang.
Lalu…
.
Bersambung…