Tubuh Manda membeku saat melihat kepala Saiman memuncratkan darah segar. Darah itu merembas ke wajah dan tubuhnya yang sudah ambruk ke tanah. Gadis itu membekap mulutnya kuat-kuat sambil menangis. Ben mendekat ke mobil, sedikit terhuyung efek rasa sakit akibat hantaman kaki Saiman. Dilihatnya Saiman sudah tak bergerak. Dilangkahinya mayat jawara itu sambil menyimpan kembali pistol di dalam sepatunya. “Keluar,” perintah Ben pada Manda, “kita pulang, tapi tidak menggunakan mobil ini.” Manda menuruti perintah Ben. Tubuhnya masih gemetaran, dan ia berkali-kali mengusap air matanya. “Jangan cengeng, kau harus terbiasa melihat hal semacam ini.” Ben mengingatkan, ia membuka jaketnya dan menyampirkannya di tubuh Manda. “Pakai ini, udara malam ini cukup dingin.” Manda menatap wajah Ben yan

