“Ini bukan bercinta. Ini adalah penyiksaan! Tolong, hentikan. Ini sangat sakit, Xavier!” lirih Kayla yang tengah menerima hujaman gila dari suaminya.
“Never, Kayla! Aku belum selesai,” ucap Xavier dengan suara beratnya. Napasnya memburu, menikmati sentuhan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Tidak pernah mendapatkan gadis yang masih perawan, dan akhirnya ia bisa menikmati ini. bahkan wanita yang kini berada di bawah kuasanya adalah istrinya sendiri.
“Aku bisa mati jika kau melakukannya seperti ini, Xavier! Ah! Tolong hentikan!” teriak Kayla sudah tidak tahan lagi dengan gerakan liar yang dilakukan suaminya itu.
Namun, hanya seringai seram yang Xavier perlihatkan padanya. Kayla hanya bisa meringis, menangis dan berteriak karena ulah suami gilanya itu.
“Dasar pria gila...” gumamnya penuh getir, suara lemah dan nyaris patah.
Tak lama, suara langkah kaki mendekat. Xavier berdiri di dekat ranjang dengan ekspresi datar, lalu melempar sebuah amplop ke arah Kayla. Kertas itu jatuh di atas selimutnya.
“Baca dan tanda tangani surat perjanjian ini.”
Kayla perlahan membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Matanya menyapu setiap baris dengan cepat, lalu kembali membaca dari awal, memastikan ia tidak salah paham.
Isi perjanjian itu membuatnya terhenyak—sebuah kontrak sebagai istri Xavier, penuh dengan batasan yang tidak masuk akal.
Tidak boleh menolak kapan pun Xavier menginginkannya, harus tampak bahagia dan harmonis di hadapan keluarga mereka, tidak boleh membicarakan masalah pribadi mereka kepada siapa pun, dan yang paling mengerikan—tidak ada hak untuk menggugat cerai dalam waktu yang tidak ditentukan.
Tangannya mengepal. Surat itu bergetar di genggamannya. Hatinya hancur. Ia merasa seperti barang, bukan manusia.
Tapi pada saat yang sama, pikirannya berusaha keras untuk tetap tenang—untuk menemukan celah, ruang napas, dan kekuatan untuk tidak hancur.
“Ini benar-benar gila. Bahkan kau tidak mencintaiku. Bagaimana mungkin aku bisa terlihat bahagia di depan keluargamu, Xavier?” lirih Kayla.
Xavier hanya memutar badannya perlahan, menatap Kayla yang kini duduk dengan selimut membalut tubuhnya.
“Itu urusanmu. Semakin pandai berakting, semakin sedikit hukuman yang akan kau terima,” ucapnya dingin, nyaris tanpa ekspresi. Tidak ada empati di wajahnya, hanya kontrol dan kepastian mutlak.
“Hu—hukuman?” Kayla tersentak mendengarnya.
“Apa maksudmu, Xavier? Bukankah tugasku hanya melahirkan anak laki-laki untukmu?” tanyanya bingung, kedua alisnya bertaut, matanya berkaca-kaca penuh ketidakpahaman dan kengerian yang semakin menumpuk.
Xavier melangkah mendekat, langkahnya tenang namun penuh ancaman tak kasat mata. Ia berdiri di hadapan Kayla dan menunduk sedikit, menatap matanya tajam.
“Yang jelas,” desisnya pelan, “aku akan menciptakan neraka di hidupmu jika kau berani menentang semua perintahku.”
Kayla memejamkan matanya sejenak, mencoba menahan guncangan di dalam dadanya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak menangis lagi.
Jika bisa, ia ingin menghilang saat itu juga—melarikan diri sejauh mungkin dari pria ini. Tapi ia tahu, semua itu mustahil.
Xavier memiliki kuasa terlalu besar. Lelaki itu bukan hanya kaya dan berpengaruh, tapi juga berbahaya. Dan sekarang, dia adalah suaminya.
“Kau tahu ke mana kakakmu pergi?” tanya Xavier tiba-tiba, dengan tatapan tajam menusuk ke wajah Kayla.
Kayla menggeleng pelan. “Tidak tahu,” jawabnya jujur, dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Ia menatap wajah pria itu dengan pandangan sayu, kecewa, sekaligus marah. “Dan ini yang akan dia dapatkan jika dia menikah denganmu? Perjanjian ini, kebrutalan yang kau lakukan saat menyentuhku, aturan-aturan tak manusiawi yang kau sebut sebagai syarat pernikahan?”
“Ini bukan perjanjian,” lanjutnya dengan suara lirihnya, “melainkan peraturan yang harus aku lakukan. Peraturan yang kau buat untuk memastikan aku tak pernah bisa bernapas bebas.”
Xavier tidak membantah. Ia hanya menatapnya tanpa rasa bersalah. “Ya. Aturan yang harus kau patuhi selama menjadi istriku,” jawabnya datar, seolah itu hal biasa, seolah kehidupan yang dipaksa dan ketundukan total adalah bagian dari definisi pernikahan menurutnya.
Kayla menghela napas panjang. “Kalau kau hanya ingin seorang anak,” ucapnya akhirnya, dengan suara berat, “kenapa tidak cari ibu pengganti saja? Kenapa harus aku yang menjadi korbannya?” Kalimat terakhirnya meluncur dengan nada getir dan pedih.
Xavier mendekat sedikit, ekspresinya berubah. Kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya—bukan kelembutan, tapi sebuah pengakuan yang selama ini ia simpan rapat.
"Berhenti bertanya atau aku akan membuatmu menyesal, Kayla!" bentak Xavier membuat wanita itu terkejut bukan main.