Bab 4. Sebatas Mantan

1134 Words
Amanda tidak mungkin bisa membayarnya, tapi ia tidak mau menerima bantuan Pandu karena tidak ingin identitas anaknya terbongkar. Ia akan terus menyembunyikan identitas Alana dan Alan sampai ia siap untuk mengungkapkan pada anaknya nanti. Pandu bukan pria yang mudah dibohongi, melihat gelagat Amanda sudah membuat pria itu curiga seolah ada yang disembunyikan oleh perempuan itu. “Kenapa kamu terus mengikutiku? Aku sudah bilang kan kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Sekarang terserah kamu mau percaya atau tidak.” Amanda terlihat frustasi ketika sang mantan masih saja mengikutinya. “Aku hanya ingin bertanggung jawab, tapi kamu menghalanginya.” Pandu benar-benar kerasa kepala, ia tidak memedulikan larangan Amanda. “Baiklah, kalau kamu mau tanggung jawab, sekarang jaga Alana di kamarnya. Aku akan pulang sebentar untuk mengambil keperluan Alana,” ucap Amanda sedikit mendorong tubuh Pandu agar tidak terlalu dekat dengannya. “Biar aku antar kamu mengambil barang Alana,” ucap Pandu. “Aku akan mengambilnya sendiri!” tegas Amanda. “Amanda, izinkan aku membantumu. Kamu pernah menjadi bagian dari hidupku, kamu bukan orang asing bagiku.” "Ya, dulu memang aku pernah menjadi bagian dari hidupmu, tapi itu dulu sebelum kamu menceraikanku dengan alasan yang ...." Hampir saja Amanda mengatakan kalau ia tidak berselingkuh, jika itu terjadi mantan suaminya pasti akan terus mencurigai kalau Alana adalah anak kandungnya. "Sudahlah jangan dibahas lagi, kita hanya sebatas mantan, tidak lebih dari itu," lanjut Amanda. Meski Pandu adalah orang yang pernah mengisi hidupnya, tapi perpisahan sudah membuat semua berubah. Amanda merasa hidupnya sudah sangat damai tanpa mantan suaminya, tapi takdir malah membawanya kembali bertemu. "Ya kita memang hanya sebatas mantan. Anggap saja aku ini sebagai penanggung jawab atas Alana karena sudah menyebabkannya seperti itu." “Aku harus menjaga perasaan suamiku. Jadi, kamu tunggu di sini saja,” ucap Amanda pelan, "aku tidak ingin suamiku cemburu dan menilaiku yang tidak-tidak,” tambah perempuan itu. “Kamu yakin sudah mempunyai suami?” Pertanyaan Pandu membuat Amanda mengelus d**a. “Apa kamu pikir, wanita miskin sepertiku tidak layak mendapatkan yang lebih baik dari kamu?" Amanda tidak bisa lagi menahan amarahnya. "Maafkan aku Amanda, aku tidak bermaksud seperti itu." Lagi-lagi Pandu menyinggung hati mantan istrinya. "Kali ini aku mohon padamu, biarkan aku hidup damai bersama keluarga kecilku, walau suamiku tidak sukses sepertimu, tapi dia laki-laki yang bisa menghargai dan memercayai istrinya. Jadi, aku tidak mau menyakitinya." Amanda mengatupkan kedua telapak tangannya memohon kepada sang mantan supaya tidak terus-menerus mengganggunya. Amanda bergegas pergi meninggalkan Pandu. Sedangkan pria itu ingin mencegah Amanda, tetapi Tama segera datang untuk menahannya. Pandu masih menatap kepergian mantan istrinya yang sesekali menatap ke arahnya. Amanda menoleh ke belakang untuk memastikan kalau Pandu tidak mengikutinya. Ia tidak ingin pria itu mengantarnya bukan karena ingin menjaga perasaan suaminya, melainkan karena Amanda tidak ingin Pandu bertemu Alan, kembaran dari Alana. Amanda tidak ingin Pandu mengetahui hal yang sebenarnya, tentang Alan dan Alana. Kalau laki-laki itu sampai melihat Alan, sudah pasti ia semakin yakin kalau Alan dan Alana adalah anaknya karena wajah Alan sangat mirip dengannya. “Bos, biarkan dia pergi. Jika suami Nyonya Amanda melihat kedekatan kalian, dia akan salah paham." Tama mengajak bosnya kembali ke ruang rawat Alana. "Apa ucapannya benar? Apa dia sudah mempunyai suami lagi? Begitu cepatnya dia melupakanku, padahal dulu dia mengelak kalau dia tidak pernah berselingkuh, tapi kenyataannya dia menikah dengan selingkuhannya itu." "Saya mengerti perasaan Anda, Bos, tapi sekarang Anda sudah mempunyai tunangan." "Aku tidak mencintainya," ucap Pandu datar, "aku masih sangat mencintai Amanda." Tama tidak bisa berkata-kata lagi. Ia akan terus bungkam untuk keselamatan orang-orang yang dicintai bosnya. Kini Pandu tengah menunggu gadis kecil yang bahkan lebih pantas disebut putri tidur. Sudah sekian lama ia memejamkan matanya, tetapi Alana tidak kunjung bangun. Pandu mengelus tangan Alana, pria itu senang melihat wajah Alana yang sangat teduh dan membuatnya senang. Menatap Alana membuat Pandu merasa damai. “Bos,” panggil Tama sambil mendekati Pandu. “Ya, ada apa?” Pandu menoleh pada asistennya. “Izinkan saya yang mengurus administrasi rumah sakit Alana,” ucap Tama, "mungkin Nyonya Amanda hanya ingin menjaga perasaan suaminya." "Amanda mengatakan kalau suaminya yang akan membayar pengobatan Alana," sahut Pandu, “aku tidak diizinkan untuk membantunya.“ “Saya yakin Nyonya Amanda belum membayar semua administrasinya. Biaya rumah sakit ini tidak sedikit, sedangkan mereka sangat sederhana. Biarkan saya yang mengurusnya,” ujar Tama yang bersiap pergi. “Tunggu!” Pandu menghentikan langkah asistennya. Tama pun kembali menghadap bosnya. “Ya, Bos. Ada apa?” “Kenapa malah kamu yang mengurus? Aku mantan suaminya bukan kamu.” Tidak dipungkiri kalau Pandelu merasa cemburu. “Kalau Anda yang mengurus, nanti suami Nyonya Amanda akan tersinggung dan dia pasti curiga kalau kalian dekat lagi.” Tama akan melakukan apa pun untuk mencegah Pandu mendekati Amanda, demi keselamatan anak dan mantan istri bosnya itu. “Mungkin Nyonya Amanda ingin menjaga perasaan suaminya,” kata Tama lagi, “saya ini orang lain, suaminya tidak akan curiga. Anggap saja saya yang menabrak Alana dan akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah saya lakukan,” jelas Tama. Pandu menatap asistennya dengan lekat. Ia tidak suka saat Tama seperti ingin menjadi pahlawan hingga menyelesaikan seluruh administrasi Alana, tapi Pandu tetap menghargai usul asistennya, dengan begitu ia tidak akan terlalu merasa bersalah. “Tidak ada yang ingin Anda katakan lagi, Bos?” tanya Tama memastikan. “Ya sudah pergilah!” Pandu mengibaskan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sedang memegangi dagu. Tama mengangguk, pria itu segera pergi dari ruang rawat Alana untuk membayar administrasi gadis kecil itu. Pandu kembali menatap Alana. Mata Pandu menangkap pergerakan tangan mungil anak itu. Jari jemari Alana bergerak sedikit demi sedikit. “Alana, kamu sudah bangun, Nak?” tanya Pandu sembari berdiri. Pria itu berdiri tepat di samping Alana, ia turut mengelus pipi anak mantan istrinya. Dadanya terasa bergetar hebat saat ia memanggil Alana dengan panggilan Nak. Seumur-umur ia tidak pernah memanggil anak kecil dengan sebutan itu. Kini untuk pertama kalinya, Alana lah yang berhasil menyentuh hati Pandu. Sayup-sayup Alana membuka matanya, pandangan bocah itu penuh dengan langit-langit berwarna putih. Karena merasa sakit di kepalanya, Alana menangis dengan kencang seraya memanggil ibunya. “Ibu!” Alana menangis sambil mengedarkan pandangannya mencari sang ibu. Anak itu bergerak gelisah saat tidak menemukan orang yang dicari. Tangisan anak itu semakin lama semakin kencang. Pandu kalang kabut saat melihat Alana menangis, pria itu menepuk-nepuk pipi Alana, “Hei, tenanglah, ada Paman di sini,” ucap Pandu mencoba menenangkan Alana. “Ibu, di mana Ibu?” teriak Alana sembari menangis. “Ibu kamu pulang dulu, sebentar lagi ibumu akan datang,” ujar Pandu. "Aku mau Ibu sekarang, pokoknya sekarang!” ucap Alana sambil menangis ketakutan. "Kamu sama Paman dulu ya, ibumu sedang di jalan menuju ke sini." Pandu berusaha menenangkan anak kecil itu, tapi Alana terlihat takut kepada Pandu. “Kamu siapa. Kenapa dekat-dekat aku? Pergi dari sini!” Alana meringis sambil memegangi kepalanya. "Alana ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD