Tadi si berengsek ini mengatakan apa? Ingin membunuh dia bilang? What the hell! Pria sialan ini belum pernah di tendang pada bagian zakar sepertinya. Dan itu membuat Elen yakin bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat untuk datang ke tempat ini.
‘’Kau bercanda.’’ Elen berdecih, merendahkan.
‘’Apa aku terlihat seperti seseorang yang sedang bercanda?’’
‘’Memangnya kau siapa sampai ingin membunuhnya, hm? Kau hanyalah orang asing yang kebetulan berada di kelas yang sama denganku. Dan keberadaanmu di sini membuatku seperti seseorang yang tidak bisa menepati janji. Bukankah kau yang mengatakan untuk tidak muncul di hadapanmu lagi? Sekarang lepaskan agar aku bisa segera pergi dari sini.’’ Elen memberontak namun sayangnya Alp semakin mengeratkan pelukannya. Kedua tangannya berada di pinggang gadis itu kini.
Seperti mendapat jawaban atas rasa penasarannya, Alp berasumsi bahwa Rafe adalah penyumbang dana terbesar pada gadis yang tak memiliki pekerjaan namun memiliki super car dan dapat berpindah-pindah universitas sesuka hati ini. Well… pikiran itu sama sekali tidak salah. Hanya saja Alp mendefinisikannya dengan cara yang tidak benar. Ia tak dapat membayangkan bahwa tua bangka seperti Rafe Ortega telah menyentuh gadis yang incar.
‘’Aku membatalkan permintaan dan tidak menerima janji sialan yang kau ucapkan. Jadi mulai detik ini jual beli perkataan antara aku dan kau semuanya sudah tidak berlaku lagi.’’ tegasnya.
Untuk sesaat ia terperangah. Dan sepersekian detik kemudian Elen bergidik ngeri saat Alp mulai menyentuh pipinya yang mulus hingga turun ke bahu. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Elen. ‘’I will kill anyone who tries to take mine.’’ kata Alp.
Ucapan Alp kali ini membuat Elen tertawa. Tawa geram maksudnya. Mine katanya? Hh, yang benar saja. Sejak kapan dia menjadi milik laki-laki sialan ini? Itu tidak akan pernah terjadi. Tidak akan pernah.
Namun tawa itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba atensi mereka teralih pada suara langkah kaki mendekat. Elen memasang telinga cukup lebar untuk mencari tau dari arah mana seseorang akan datang. Itu perlu ia lakukan berharap Alp segera melepaskannya karena akan ada orang yang melihat. Meski dia tidak yakin karena Alp bahkan melabrakanya di depan umum kemarin. Beberapa detik kemudian, netra Elen membesar menyadari Alp mulai melemahkan pelukannya dan menyusupkan jari pada tengkuk dan rambutnya sebelum melumat bibir merahnya yang ranum.
WHAT THE HELL?!
Eugene berdehem canggung. Memasang ekspresi yang sama terkejutnya seperti Elen. ‘’Nona.’’
Bahkan setelah kehadiran orang yang Elen kenal, Alp masih belum juga melepaskan dan malah memperdalam ciuman mereka. s**t. Pria ini gila. Eugene menahan diri untuk tidak shock dan tersenyum, namun lain cerita jika sudah mata yang berbicara. Berbagai ekspresi tertangkap jelas dalam satu tatapan sekilas. Karena selanjutnya Eugene hanya menunduk dan tidak menyadari isyarat mata dari Elen yang meminta pertolongan. Jika Alp bukanlah seseorang yang ia ketahui betul identitasnya, mungkin Eugene akan menghajar laki-laki itu saat ini juga. Namun, ada satu hal yang membuatnya jadi bertanya-tanya, apakah selama ini Elen memiliki hubungan dengan Alp?
‘’Ada apa?’’ tanya Alp ketika ciuman mereka terlepas namun tidak dengan tangan yang melingkar di pinggang Elen. Laki-laki itu seperti baru saja memamerkan bahwa Elen adalah kepunyaannya.
Seriously? Ada apa?
Sementara Elen, dia masih dalam keadaan terkejut hingga tidak tau apa yang harus ia perbuat. Apakah dirinya harus segera memberi pukulan mematikan atau membalas sapaan Eugene? Ahhh, ini seperti mimpi. Bagaimana bisa seorang Alp Riegel mencium bibirnya?
‘’Tuan mencari keberadaanmu, Nona. Sepertinya aku harus mengawal langsung dan tidak membiarkan anda menuju ballroom seorang diri. Aku sempat berpikir bahwa anda tersesat,’’ kata Eugene sopan. ‘’Dan tadi aku sempat melihat Alex berada di sekitar sini, Sir. Sepertinya aku tau apa yang sedang ia cari.’’ Kini ia berbicara pada Alp. Alih-alih mencari putri dari tuannya, tapi ia malah menemukan keduanya.
Elen segera mendorong tubuh Alp secara paksa. Lalu memberi tamparan keras ke wajah pria itu hingga tertoreh ke samping. ‘’Kau tidak akan pernah mencium, memeluk atau melakukan hal-hal kurang ajar seperti itu lagi padaku.’’
Jantung Elen seperti terbakar. Karena organ terpenting dalam sistem peredaran darah itu tidak memompa cairan merah ke seluruh tubuh. Melainkan bara yang berasal dari neraka. Membuat kepala, hati dan sekujur tubuhnya terasa panas.
Sebelum berlalu meninggalkan Alp, Elen berjalan mendekat untuk bicara lebih pelan agar orang yang sedang menunggunya tidak mendengar. Karena apa yang ingin ia sampaikan adalah kata-kata menusuk yang cukup menyakitkan. ‘’Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh apalagi sampai membunuh Tuan Rafe. Dia adalah seseorang yang sangat berarti di hidupku. Aku dan dia bahkan tinggal di rumah yang sama. Kau paham makna dari kata tinggal serumah bukan, berengsek?’’ Nada dingin Elen membuat Alp terdiam.
Saat gadis bergaun slate berjalan melewatinya, Eugene mengangkat dagu dan mengarahkan tangannya ke samping untuk mempersilakan Elen berjalan lebih dulu. Lalu ia membungkuk pada Alp sebelum ikut meninggalkan pria itu.
Sementara Alp, ia mengamati punggung Elen yang semakin lama semakin menjauh. Mengerang pelan, Alp mengusap pipi bagian kanan yang terasa sedikit perih. Memerah. Namun ia tak memperdulikan hal itu karena rasa sakitnya tak sebanding dengan rasa sakit ketika mengetahui Elen tinggal seatap bersama Rafe. Sial. Otaknya tak berhenti memikirikan hal m***m apa yang telah dilakukan Rafe pada Elen.
‘’Finally. Tuan Theo mencari anda.’’ Alex bernapas lega karena akhirnya berhasil menemukan Alp. Namun beberapa detik kemudian ia kembali berkata. ‘’Ada apa dengan wajah anda, Sir?’’
Tak menjawab, Alp malah meninggalkan Alex begitu saja. Dan karena tak ingin mendebat, ia segera mengikuti Alp dari belakang.
Rafe Ethriel Ortega. Jika tidak bisa merebut Elen darimu, maka aku akan menjadi alasan dibalik kematianmu.
Alp tidak mengibarkan bendera perang secara terang-terangan. Melainkan berkamuflase di balik bayang-bayang malam karena ia sangat menghormati sumpah dan hukum organisasi. Sekarang Alp percaya pada salah satu dari tiga hal yang dulunya ia anggap sebagai kata-kata sampah. Harta, tahta dan wanita adalah relikiui kematian bagi seorang pria maupun penguasa. Dan ia sedang berada di fase terakhir karena dua diantaranya sudah berhasil ia lewati.
Tidak pernah terjadi dalam sejarah bahwa sesama anggota Five Erland berselisih hanya karena seorang wanita. Dan ini akan jadi yang pertama kalinya jika terjadi ketegangan antara The Underboss dan The Boss. Biasanya, Consigliere akan memberi saran untuk menghabisi akar dari permasalahan. Dan dalam kasus ini, demi kondusifnya suasana, maka Elen harus dibinasakan.
Setelah melewati beberapa koridor serupa yang ia lalui sebelumnya, akhirnya Alp sampai di ballroom dan netranya langsung tertuju pada Elen yang sedang mengobrol dengan Rafe bersama sang ayah seraya menikmati champagne. Bagus sekali. Jadi dia tidak perlu repot-repot mengadakan pertemuan untuk membahas keinginanannya perihal Elen.
Tak menunggu nanti, Alp segera berjalan mendekati Elen untuk yang kesekian kali sebelum gadis itu mencium pipi Rafe di depan mata kepalanya sendiri. Alp mengepalkan tangan geram. Sial. Elen masih berakting layaknya p*****r kelas tinggi.
‘’Alex berhasil menemukanmu rupanya.’’ ujar Theo saat melihat kedatangan putranya. ‘’Perkenalkan. Ini adalah…’’
‘’I know who she is.’’ jawabnya cepat. Lalu mengulurkan tangannya pada Elen dan gadis itu menyambutnya. ‘’Aku Alp.’’
Dan semua orang terkejut atas reaksi perkenalan yang sebenarnya sangat biasa. Namun seorang Alp yang tiba-tiba mencium pipi seorang gadis saat pertama kali bertemu adalah hal yang tak terduga. Rasanya Elen ingin menambah tamparan di sisi lain lagi karena Alp menggunakan kesempatan dalam kesempitan.
‘’Elen.’’ balasnya. Berpura-pura bahwa mereka tidak saling mengenal. Ia bingung, kenapa Alp berani bersikap seperti itu? Tidakkah dia tau siapa dua orang yang sedang berada di sisi kirinya ini?
Ini adalah tempat di mana kau tidak bisa memperlakukanku seperti tadi. Elen membatin.
Meraih minuman yang sama dari pelayan yang berlalu-lalang, Alp memasukkan satu tangannya ke saku dan mulai menyesap cairan itu perlahan. ‘’Aku tidak tau bahwa anda menyembunyikan gadis secantik dia selama ini, Tuan Rafe. Seharusnya anda mengajaknya lebih sering.’’ Alp menatap Elen dengan netranya yang sarat akan permusuhan.
Apakah itu pujian? Atau sindiran?
Rafe tertawa pelan. ‘’Keputusan itu ada padanya. Sebagai seorang…’’
Ia tidak ingin mendengar bahwa Rafe adalah kekasih dari Elen. Jadi ia memutuskan untuk memotongnya sebelum kalimat itu terungkap semua. ‘’Tidakkah dia cukup kelelahan dengan kegiatannya di dalam dan di luar rumah?’’
Mengambil napas, Elen tidak tau kenapa sindiran itu jadi terdengar seperti lelucon bodoh. Suasana hatinya kian membaik. Kekesalannya pada pria yang sedang berdiri di hadapannya saat ini pun ikut mereda. Sesungguhnya ia sangat ingin menginterupsi. Tapi ia lebih memilih bungkam sampai ocehan Alp selesai.
‘’Bukankah kegiatan melelahkan adalah suatu hal yang sangat menyenangkan?’’ Elen mengangkat kedua alisnya. Mempermainkan Alp yang dengan refleksnya kembali marah.
Sementara Theo dan Rafe lebih memilih untuk diam dan terus memperhatikan anak-anak mereka beradu argumen.
‘’Itu tergantung seberapa besar kau menyukainya.’’ kata Alp dengan nada pelan yang sedikit ditekankan. ‘’Tuan Rafe pasti senang mengurungmu dalam penjara mewahnya, bukan?’’
‘’Wait a minute.’’ potong Theo. ‘’Sebenarnya apa yang sedang kalian coba perdebatkan?’’
‘’Seperti yang kau dengar, Dad.’’ Alp menghambiskan minumannya bersama emosi memuncak.
‘’Untuk apa Rafe menyembunyikan dan mengurung putrinya sendiri?’’
Alp merasakan betapa panas dan memerahnya wajah tampannya saat ini. Ia bersumpah bahwa sempat melihat Elen menyemburkan sedikit minumannya lantaran tersedak akibat menahan tawa.
FUCK!