5. Tidur

1173 Words
Abi melirik lagi gadis itu. Sepertinya Yasmin bingung harus bagaimana. "Yasmin ... dengarkan aku." Ia merapikan posisi tidurnya dengan memeluk Enri. "Aku 'kan sudah janji padamu, aku akan membantu. Aku pasti tak akan menyentuhmu. Percayalah. Atau apa perlu aku ambilkan pisau di dapur untuk kamu jaga-jaga, agar kalau aku melanggar janjiku kau bisa melakukan sesuatu?" Ia hendak beranjak duduk ketika Yasmin mengangkat kedua tangan untuk menghentikannya. "Eh, tidak-tidak-tidak. Bukan begitu maksudku ...." Padahal apa yang di pikirkan Abi sesuai dengan apa yang dipikirannya. Hanya saja, saat ini ia begitu takut karena baru saja mengalami kejadian buruk. "Eh, baiklah. Aku tidur di sini." Ia menaiki ranjang. Sedikit segan ia tidur berdampingan dengan seseorang karena sebelumnya ia tidur sendirian. "Aku janji, kalau tak ada Enri, aku akan tidur di sofa." Sambil berbicara begitu, Abi tengah menikmati sebuah keindahan di depan mata. Gadis itu telah melepas kerudungnya. Tentu saja, karena Abi telah menjadi mahramnya, gadis itu kini memperlihatkan wajah aslinya tanpa kerudung. Sungguh, ciptaan Tuhan paling indah yang pernah dilihat Abi. Bahkan dibanding kakak perempuannya, Lily, Yasmin jauh lebih cantik. Apalagi saat Yasmin mengibas rambut panjang hitamnya yang sedikit berombak, ke samping. "Mas, aku boleh tanya, gak?" Seketika Abi bangun dari khayalan sesaatnya. "Eh, apa?" 'Astaga, kenapa aku jadi begini?' "Kenapa istri pertama Mas bilang, Mas dibeli dengan harga 90 milyar? Bukannya wanita yang diberi mas kawin, ya?" "Oh, itu." Sempat merasakan debar di dadda ketika berada terlalu dekat dengan sang istri, Abi kembali merapikan posisi tidurnya. "Itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Mereka membayar hutang-hutangku." Ia memutar kepalanya lurus ke depan dengan sedikit menunduk karena malu. "Hutang? Kenapa mereka baik padamu?" Pertanyaan ini membuat Abi bingung. Bagaimana ia harus menerangkannya pada istri barunya ini. Sangat rumit. Yasmin terdiam sejenak dan berpikir. "Harusnya 'kan ada timbal balik ya." Ia bergumam. "Untuk apa?" Abi menunduk melirik Enri. Ia mengusap kepala bocah itu dengan lembut. "Demi agar Enri punya ayah." Kedua bola mata cantik gadis itu membulat sempurna. "Apa? Jadi dia bukan ...." Abi tengah menarik perlahan botol sussu yang dotnya masih menempel di mulut si kecil. Sempat Enri bergerak tapi akhirnya dot itu terlepas. Abi meletakkan botol itu di atas meja nakas dengan tangan kokohnya yang panjang. 'Pantas, wajah mereka tidak mirip walau Enri sedikit bule. Eh, berarti ayah Enri juga bule karena ibunya orang Indonesia.' Yasmin memperhatikan wajah si kecil. "Ada lagi pertanyaan? Kau tak ingin tidur?" Abi kini merapikan posisi tubuh Enri yang menyandarkan kepala pada lengannya. "Mmh, kenapa Mas berhutang? Banyak sekali. Apa itu hutang perusahaan? Berarti Mas punya perusahaan dong ya?" "Benar sekali, kau pintar." Abi menunjuk wajah gadis itu sambil tersenyum. Namun kemudian ia memperhatikan wajah gadis itu. "Tapi untuk seorang yang baru kehilangan kesuciannya, kau terlihat cukup kuat." Tiba-tiba gadis itu merengut dan mengalihkan pandangan. Abi seketika merasa bersalah. "Eh, maaf. Aku tidak bermaksud, aduuhh!" Ternyata Yasmin mencubit lengan suaminya yang membuat Enri sempat terusik mendengar teriakan Abi. Namun hanya sebentar. Abi mengusap lengan yang baru dicubit dengan wajah meringis. Lengannya sedikit memerah. "Sakit sekali cubitanmu," keluhnya. Gadis itu masih merengut dan tak mau melihatnya. Ia ngambek. "Maaf ya." Abi masih meringis. "Tapi bener, di banding orang lain yang mengalami ini, kamu tampak lebih kuat. Eh, mungkin karena aku tak mengalaminya, tapi kurasa bila orang lain yang mengalami ini, mungkin sudah gilla." Yasmin melirik dengan mulut masih mengerucut. Dalam hati ia mengakui ucapan Abi. Namun memang kejadiannya berbeda. Ia dibius, jadi tidak tahu apa yang terjadi dan tahu-tahu ... Mata gadis itu berkaca-kaca. "Kamu memang tidak tahu apa yang kurasakan ...." "Yasmin, maafkan aku. Aku ...." Belum selesai Abi bicara, gadis itu merebahkan diri dengan tergesa dan memunggunginya. Pria itu tak tahu harus berkata apa. Kalau gadis itu memunggunginya berarti ia tak mau mendengarkan. Lebih baik ia menunggu hingga esok hari saat emosi Yasmin mereda. Dengan pelan Abi merapikan selimut untuk Enri, kemudian pergi tidur. Berbeda dengan Yasmin, ia menunggu. Ia ingin dibujuk, tapi dengan catatan ia akan tetap ngambek dulu, tak mau mendengar. Namun sekian lama menunggu, pria itu tak kunjung bersuara. Dengan pelan, gadis itu memutar kepalanya. Ia menemukan suaminya telah tertidur berdua dengan Enri. Ia sempat kesal tapi melihat wajah Abi tertidur dengan tenang sambil memeluk Enri, ia pun iba. Pria ini pasti tak bahagia. Pernikahan macam apa yang melibatkan negosiasi untuk pembayaran hutang dan menghilangkan aib? Pernikahan bisniskah? Yang pasti perlu kerelaan di dalamnya seperti yang ia alami. Ia menikah dengan Abi ... Ah, beda. Ia dalam keadaan terjepit dan Abi datang, sedang Abi dan istri pertamanya? Bagaimana kalau keduanya sama-sama tidak menginginkan tapi terpaksa? Berarti, pria ini belum menemukan kebahagiaannya. Tangan Yasmin bergerak ke depan. Ia ingin menyentuh kepala suaminya tapi ia kemudian ingat apa yang suaminya lakukan terakhir padanya. 'Bukankah dia tadi berkomentar tanpa perasaan?' Kembali mulut gadis itu merengut. Ia melirik Enri yang tertidur pulas. 'Tapi, kalau aku benar-benar hamil ....' Kembali matanya berkaca-kaca. Ia menatap ke bawah dan melihat perutnya. Diusapnya perut yang masih rata itu dan mulai menangis. Namun ia berusaha agar suaranya tak terdengar, dan itu mengganggu tidurnya hingga pagi. **** Pagi itu di meja makan, Abi melirik mata Yasmin yang bengkak dan sedikit menghitam. Ia merasa yakin bahwa itu pasti ulahnya, membuat gadis itu ngambek mengingat kejadian yang membuatnya trauma, tapi ia tak berani bertanya. Sebab sejak di kamar tadi, gadis itu terus mengerucutkan mulutnya. "Papi, mau itu." Enri menunjuk sosis yang ada di piring saji. Abi mengambilkan, bahkan memotong sosis itu sesuai dengan ukuran mulut si kecil. Enri tinggal mengambil yang sudah dipotong sang ayah dengan garpu. "Sudah, jangan dimanja. Dia sudah mulai besar. Kamu gak perlu lagi memotong makanannya untuknya," pinta Seno pada menantunya. "Dia masih dua tahun, Yah." "Iya, tapi itu bukan urusanmu ...." Seno menoleh pada anaknya. "Rissa, anakmu diurus. Jangan pergi-pergi terus tiap hari. Itu mana sussunya buat Enrico?" Seketika, Clarissa yang ikut duduk di samping Enri, merengut karena mendapat tugas ketika ia sedang sarapan. Ia langsung berteriak. "Pelayan!" "Clarissa, jangan berisik pagi-pagi di meja makan. Coba kamu ke dapur dan bilang baik-baik pada mereka." Seno tak tahan melihat kemalasan anaknya, tapi mau bilang apa, Clarissa adalah anak satu-satunya. Sudah salah ia membesarkan anaknya dengan kemanjaan yang berlebihan. Setelah kepergian istrinya, ia kini kerepotan dengan ketidakmampuan sang anak dalam segala hal. Clarissa menyentakkan kursinya dan berdiri. Dengan gegas ia ke dapur dan menumpahkan kekesalannya di sana. Yasmin hanya berani melihat saja. Ia tak berani berbicara. "Aku ke kantor dulu ya, Sayang," sahut Abi pada Yasmin. "Nanti agak siangan aku pulang dan kita pergi ke rumah kakakku." "Mmh." "Papi mau ke mana? Ikuut ...," sahut si kecil ketika mendengar percakapan sang ayah dengan istri barunya. "Eh, gak boleh ya. Ini urusan orang dewasa," tolak Abi dengan lembut. "Ikuut ...," rengek Enri lagi. Mulut kecil dan tebal itu makin mengerucut mendengar penolakan dari sang ayah. "Mau pergi ke mana?" Tiba-tiba Clarissa sudah kembali. Abi sedikit heran ketika Clarissa seketika penasaran dengan apa yang terjadi. Biasanya ia tidak peduli. "Tolong sekali-sekali temani anakmu di rumah. Abi mau pergi dengan istri barunya ke rumah kakaknya." Seno kembali menasehati. "Oh ... aku ikut!" Senyum Clarissa terukir di wajah. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD