"Eh, Yasmin. Apa tidak terburu-buru?" Ramdan takut ketika Abi melihat perjanjian itu, pria itu malah mundur. Ia sangat menyukai calon menantunya ini.
"Tidak apa-apa, Pak." Abi langsung mengambil kertas dan pulpen dari tangan Yasmin dan langsung menandatanganinya.
"Eh? Apa tidak lihat dulu, apa isinya?" Yasmin bola mata gadis itu membola.
"Apa pun kondisinya, aku akan terima." Abi langsung menyerahkan kertas itu pada sang gadis. Ia sempat melihat banyaknya hal yang ditulis gadis itu, tapi ia tak ingin meributkannya karena saat ini ia hanya ingin melihat gadis itu bisa tersenyum. Tulus dari dalam hati ia ingin gadis itu bahagia. Walau suatu saat nanti Yasmin meminta cerai darinya karena tahu bagaimana sulitnya kehidupan dengan sang istri pertama, ia tak masalah. Bukankah ia sudah berjanji hanya berniat menolong gadis ini?
Terdengar suara deru mobil dari arah luar. Dari pintu depan yang masih terbuka, terlihat dua buah mobil sedan tengah menghampiri pintu. Beberapa orang turun dan memasuki rumah itu.
Seketika Yasmin tercekat. Matanya terbelalak dan kemudian bersembunyi di belakang punggung Abi.
"Ada apa?" Abi bingung dengan reaksi gadis itu.
"Itu, dia ...." Yasmin menunjuk ke arah rombongan dengan mata menyipit ketakutan.
Abi melihat ke arah rombongan.
Ada seorang pria muda yang wajahnya tampak menyebalkan, diiringi beberapa orang datang bersama beberapa bawaan yang sepertinya adalah seserahan untuk menikah. Ia sepertinya bingung dengan kehadiran orang asing seperti Abi, di mana Yasmin bersembunyi di belakang punggungnya. "Hei, siapa kamu? Kenapa calon istriku ada bersamamu?!" Ia menunjuk Abi dengan berani.
Ramdan maju untuk menengahi. "Eh, maaf ya, tapi sepertinya kami memutuskan untuk menikahkan Yasmin dengan orang lain. Yasmin juga menolak untuk menikah denganmu, jadi maaf saja, Saya sebagai kepala keluarga harus mengatakan ini padamu."
"Enak saja! Bapak sekarang membuang Saya? Apa karena bule gak jelas ini? Ingat, Pak. Yasmin sudah tidur dengan Saya! Apa Bapak ingin memberikan barang bekas Saya kepada orang lain? Sudah bagus Saya nikahi dia ...."
Sebelum kalimat itu selesai, sebuah tamparan keras menyasar di wajah pria itu. Sang pria terkejut. Ia menyentuh pipinya yang masih terasa panas. Sudut bibirnya luka. Bukan ia saja yang terkejut, tapi semua orang yang ada di sana, termasuk Abi dan Yasmin. Keduanya melongo melihat reaksi Ramdan yang tiba-tiba ini.
"Jangan sembarangan kamu bicara! Dia anakku, bukan barang! Aku bersyukur menolakmu jadi menantuku karena ternyata kamu bajjingan. Anakku tidak perlu menikah dengan manusia menjjijikan seperti dirimu!!" Tak ada yang menyangka, Ramdan berani menamppar pria yang hampir menjadi calon menantunya itu. Bahkan menghinanya.
"Pak, a ...."
Seorang pria paruh baya langsung menghentikan Tio bicara. Ia menggantikan anaknya bicara. "Pak Ramdan, bukankah Bapak sendiri yang datang kepada kami agar anak Anda bisa dinikahi Tio, anak kami? Kami sudah bersedia melakukannya, kenapa kini Bapak membatalkan? Ingat, Pak, jangan buat malu kami. Saya sudah membawa keluarga dekat Saya agar pernikahan ini terjadi."
"Itu 'kan niat anakmu dari dulu ingin mempersunting Yasmin, tapi aku selalu menolaknya dan yang terjadi, anakmulah yang melakukan hal kriminal dengan menodainya sehingga aku terpaksa menerima pernikahan ini, tapi ternyata ... tidak seharusnya aku melakukan hal itu. Itu sama saja aku memasukkan anakku sendiri ke dalam kandang singa. Sekarang, aku hanya mendengarkan apa yang diinginkan anak Saya, Yasmin dan Saya mendukungnya."
"Lalu bagaimana kalau ternyata nanti anakmu hamil?"
Seketika wajah Ramdan syok. Ia tidak memikirkan sampai sejauh itu sedang Ayah Tio tampak tersenyum licik. Begitu pula Tio. Ia terlihat puas.
"Kalau begitu dia akan jadi anakku!" Abi berucap lantang.
Semua orang menoleh pada Abi.
Ayah Tio geram. "Oh, orang bule suka yang bekas ya," ejeknya.
Yasmin yang sedari tadi ketakutan, juga merasa geram. Mereka menyebut dirinya seperti barang tak berharga. Selain Tio telah melecehkannya, ia merasa dirinya sampah yang pantas dibuang. Ia marah tapi tak berdaya. Ketakutannya lebih menguasai dirinya dibanding rasa ingin balas dendam. Ia ingin kedamaian dan rasa aman saat ini sehingga ingin rasanya ia kabur dari tempat itu secepatnya. Rasa malu telah membuat harga dirinya hancur berkeping-keping.
Abi kesal. Ia bergerak maju, tapi sebelum tinjjunya melayang, tangan Ramdan lebih dulu melakukannya. Semua terkesiap. Lagi-lagi pria itu melakukannya.
Aswan, ayah Tio memegang pipinya yang terlihat sedikit membiru kemerahan. "Kurang ajjar! Harusnya kalian bersyukur ...."
Tiba-tiba datang lagi seseorang yang langsung menghajjar wajah Tio. Ia adalah kakak Yasmin, Raffan. "Aku sudah lama ingin melakukan ini!" Kembali ia menghujani Tio dengan pukkul-pukkulan yang membuat pria itu mundur dan menghindar.
Aswan seketika maju pasang badan untuk anaknya. Rombongannya yang terdiri dari sebagian besar laki-laki juga turun membantu melindungi Tio, sedang yang perempuan berteriak ketakutan. Apalagi Ramdan ikut membantu anaknya. Beberapa penjaga rumah kemudian datang dan makin membuat riuh suasana. Perkelahian tak terelakkan lagi, hingga Ramdan sadar dan menyuruh penjaga rumahnya itu untuk mengusir mereka. "Usir mereka keluar! Jangan biarkan satu pun dari mereka bisa masuk ke dalam rumah mulai detik ini!"
Aswan geram diusir bak pengacau. "Ramdan!! Kau akan menyesal mengusirku, lihat saja nanti!" Ia yang didorong keluar oleh penjaga rumah itu dengan kasar, memaki.
Ramdan tak peduli. Napasnya terengah-engah bersama dengan anaknya, Raffan. Keduanya merapikan pakaian mereka yang mulai kacau. Ramdan menoleh pada Abi. "Maaf kalau sampai harus melihat hal seperti ini terjadi di rumah kami," katanya, berharap Abi bisa memaklumi.
"Eh, tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti."
"Kalau memang Yasmin harus tinggal di rumahmu, aku tak masalah."
"Ayah, kenapa aku harus tinggal di rumahnya?" Yasmin hampir tak percaya melihat sang ayah ternyata berjuang demi keinginannya, tapi ia masih ragu untuk tinggal dengan Abi karena ia tak mengenalnya.
"Apa kamu mau ambil resiko bertemu lagi dengannya? Dia masih tetangga kita, Yasmin."
Yasmin terdiam. Ia benar-benar bingung. Keputusan untuk menikah dengan pria ini juga dirasa terburu-buru, tapi bisakah pria ini dipercaya?
"Yasmin, bila kau tak ingin pergi denganku, tak apa. Yang penting statusmu sudah menikah. Tidak akan ada orang yang berani mengusikmu. Aku bisa mengirim seorang bodyguard untuk menjagamu di sini."
Yasmin menatap wajah pria itu. Abi sungguh berniat sangat baik padanya, perlukah ia meragukan kebaikannya?
"Sebetulnya, kita bisa mengajukannya ke pengadilan bila perlu, agar dia masuk penjara, tapi masalahnya apa kamu nanti berani berhadapan muka lagi dengan Tio?" Kini Raffan bertanya pada adiknya karena ia lulusan sekolah hukum.
Yasmin menggeleng pelan dan menunduk. Ia tak punya keberanian bertemu pria itu lagi saat ini, dan mungkin juga nanti. Ia terlalu takut untuk menghadapi.
"Karena itu kakak sarankan kamu untuk ikut Pak Abi ke rumahnya setelah menikah nanti. Oya, aku sudah membawa penghulu ke sini, Ayah." Raffan menoleh pada ayahnya. Ia menunjuk seorang pria yang dibawanya, yang tengah meringkuk di sudut ruangan karena ketakutan.
"Oh, baguslah." Ramdan kembali merapikan pakaian dan rambutnya. "Sekarang kita tinggal tunggu saksi dari pihak Abi."
****
"Sah!"
Gio melirik adiknya yang nampak bahagia. Ia bisa melihatnya walau berusaha ditutupi sang adik.
Sejak menikahi Clarissa, Abi jarang tersenyum. Padahal walau tak banyak bicara, ia termasuk orang yang banyak tersenyum walau pembawaannya tenang. Ya, pembawaannya yang tenang itu membuat Abi tampak lebih dewasa dari umurnya.
Gadis itu kemudian turun dari lantai atas. Wajahnya sangat cantik. Gio melirik adiknya dan melihat bagaimana Abi terpesona melihat gadis itu. 'Abi, biar bagaimanapun kamu mengelak dan hanya mengatakan ingin membantu gadis ini, aku bisa melihat bagaimana kamu menyukainya. Aku berharap kau menemukan kebahagiaan di dalam pernikahanmu ini.' Ia menghela napas pelan.
Bersambung ....