Mira merekahkan senyuman hingga deretan giginya terlihat, tapi kemudian meringis saat lipstik merah menyala yang ia oleskan dibibir ternyata ada yang sampai tercoret di gigi atas bagian depan. Menggunakan lidah, ia coba hapus agar senyuman cantiknya tak terganggu. Tapi sialnya tak juga hilang. Malas meraih tisu, Mira memilih menghapus coretan lipstik digiginya dengan jari kelingking kiri.
Senyumnya kembali tersungging lebar saat tak ada lagi coretan lipstik di gigi. Membenahi rambut bagian atasnya yang baru saja ia sasak. Mira bangkit dari tempat duduk. Perutnya sudah mulai ribut karena sedari tadi belum di isi. Jadi sudah saatnya untuk keluar kamar menikmati sarapan di pagi yang cerah dan hari yang indah.
Sejak membuka mata, Mira sudah bergegas melarikan diri ke kamar mandi. Tak ingin sampai kesiangan untuk bersiap-siap, karena hari ini akan pindah ke rumah besar yang nantinya menjadi tempat tinggalnya yang baru.
Mengenakan pakaian terbaik yang ada di lemari, Mira ingin tampil memukau karena akan kembali menjadi orang kaya.
Tinggal menunggu waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan susahnya yang sekarang. Tapi Mira sudah benar-benar tak sabar. Dengan riang, ia berjalan keluar kamar, mengayunkan langkah menuju dapur untuk menyantap sarapan yang biasanya sudah Ranu siapkan. Saat melewati ruang tengah, wanita paruh baya itu sempat mencuri pandang ke arah penunjuk waktu yang tergantung di dinding. Berdecak karena waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi.
Astaga ... Kenapa lama sekali? Bahkan semalam dirinya terjaga beberapa kali. Melihat jam Terus menerus, sampai mengintip dari jendela. Mencari tau, apa matahari sudah mulai terbit malu-malu?
Nyatanya? Keadaan di luar rumah masih terlihat gelap dan sepi. Tentu saja, karena masih pukul dua dini hari. Padahal Mira sudah merasa jika telah terlelap begitu lama. Kenapa tidak seperti biasanya? Saat ia membuka mata, keadaan sudah terang benderang.
Menurut informasi dari suaminya, orang suruhan si bandot tua baru akan datang menjemput mereka pukul sepuluh nanti. Membuat Mira terpaksa harus mempertebal kesabaran sekali lagi.
Mengedarkan pandangan, wanita paruh baya itu mendengkus kesal, saat tak menemukan Indra yang biasanya tengah mendengkur di atas sofa panjang yang telah usang. Tempat biasa ia menonton tv. Sudah tak aneh jika pulang dari markas saat menjelang pagi, Indra yang dalam keadaan mabuk akan merebahkan diri di sana. Karena Mira tak suka tidurnya diusik. Jadi tak pernah lupa mengunci pintu kamar. Tak peduli pada suaminya yang mau tidur di mana.
Awas saja, jika hampir jam sepuluh dan belum pulang. Akan Mira datangi markas suaminya yang biasa menjadi tempat minum dan berjudi. Ia tak akan segan mengobrak-abrik tempat itu jika gara-gara suaminya, mereka semua terlambat untuk pindah ke rumah mewah yang sudah di siapkan si bandot tua.
Apalagi, barang-barang miliknya juga belum dikemas. Nanti sajalah, setelah sarapan, ia akan menyuruh Ranu mengemas semuanya. Dia sudah dandanan cantik, nanti bisa lusuh lagi. Kalau sampai keringetan, bisa ambyar makeup-nya.
Mendudukkan diri di depan meja makan, Mira sudah tak sabar menyantap makanannya. Kira-kira, apa yang Ranu masak hari ini? Jika sedang terburu-buru, gadis itu biasanya memasakkan nasi goreng, atau sekadar tiga tangkup roti yang sudah terolesi selai berbagai rasa. Sayangnya, antusias Mira sedari tadi meredup, senyumnya meluruh dengan cepat, saat mengangkat tudung saji dan tak menemukan makanan yang biasanya sudah Ranu siapkan. Benar-benar tak ada apapun di atas meja. Kosong melompong yang membuat Mira terbengong.
Apa-apaan ini?!
Membanting tudung saji dengan kesal, Mira berderap menuju kamar Ranu sembari meregangkan otot-otot jemarinya. Tak sabar memberi pelajaran pada gadis itu. Rasanya sudah lama tak memberi satu atau dua pukulan padanya. Ranu harus kembali ia disiplinkan agar tak lagi lalai pada tugasnya.
Apa karena akan menjadi wanita kaya, putrinya itu sudah tak mau lagi memasak untuknya?
Awas saja jika itu benar!
"Ranu!" Teriak Mira sembari menggedor-gedor pintu dengan keras. Sayangnya, pintu di depannya itu tetap tertutup rapat. Kian menyulut amarahnya, "heh! Buka sialan! Mulai berani ya kamu malas-malasan? Mana sarapan gue?! Ranu! Buka pintunya cepat!" Menggeram kesal, Mira bersiap mendobrak karena sosok di dalam tak juga menyahutinya.
Berani sekali gadis itu menantangnya?!
Seorang Mira tak pernah bermain-main dengan ancamnya. Ia tak akan segan mendobrak pintu sialan yang bergeming di depannya ini. Lagipula, sebentar lagi akan pergi dari rumah reyot yang ia tinggali sekarang. Jadi merusak pintu tak akan jadi masalah.
Menggenggam erat handle pintu, Mira meregangkan otot-otot dengan menggerak-gerakkan bahu dan lehernya. Bersiap untuk mendobrak. Menghitung mundur dalam hati, wanita paruh baya itu memulai aksinya.
Satu ....
Dua ....
Ti ....
Ga!
Brak!
Buk!
"Aduh!" Mira terjerembab cukup keras dengan wajah yang mencium lantai, "Semua gara-gara lo ya Ranu!" Racaunya yang terus mengomel dan menyalahkan Ranu.
Sialan!
Pintunya ternyata tidak terkunci. Padahal Mira sudah mendorongnya dengan sangat keras sampai tubuhnya terhempas jatuh karena kehilangan keseimbangan.
Mengusap kasar bibirnya yang sempat menempel dilantai. Mira kemudian terbelalak tak percaya, ketika berhasil mengingat sesuatu.
"Astaga! Lipstik gue?!" Pekiknya histeris! Sebelum tergesa-gesa berdiri dan berderap mendekati meja rias yang ada di kamar Ranu. Menjerit saat dari pantulan cermin, ia mendapati dandanan cantiknya telah rusak.
Dengan emosi yang membuncah, Mira segera membalikkan tubuh dan mulai mengayunkan langkah mendekati tempat tidur dengan tatapan nyalang. Bersiap mengamuk pada Ranu, "bangun sialan! Gara-gara lo dandanan gue rusak!"
Berkacak pinggang, Mira menatap marah pada sosok yang tertutup selimut, hingga tubuhnya tak terlihat olehnya. Dengan gerakan kasar, wanita paruh baya itu menyingkap selimut dan bersiap memuntahkan amarahnya kembali. Sebelum kemudian, bibirnya yang telah cemong lipstik karena tak sengaja ia usap serampangan, hanya bisa menganga. Ketika tak mendapati tubuh Ranu yang ia pikir masih bergelung di balik selimut. Tapi ternyata, hanya sebuah bantal guling.
Bantal guling?
Lalu, kemana perginya bocah itu?
"RANUUUUU!" Teriak Mira dengan suara menggelegar.
"Astaga, Mira! Berisik! Suara lo kedengaran sampai teras rumah!" Omel Indra yang tiba-tiba saja sudah di ambang pintu, menatap kesal pada istrinya yang pagi-pagi membuat keributan.
Bagaimana kalau sampai tetangga rumahnya berdatangan, karena mengira dia melakukan tindakan kekerasan?
"Kenapa belum siap-siap? Itu juga, muka lo kenapa cemong begitu? Lo makan diraupin ke muka?"
"Liat!" Tunjuk Mira ke atas tempat tidur, "Ranu nggak ada!"
Indra mengikuti arah pandang yang Mira tunjuk, wajahnya masih belum berubah, tetap santai. Pria itu bahkan menyandarkan tubuhnya ke kosen pintu, "kali aja di kamar mandi. Udah cek belum?"
Dengan wajah sebal, Mira menggelengkan kepala. Membuat Indra berdecak meremehkan, "nah, kan! Cari dulu makanya. Jangan langsung teriak-teriak."
"Yaudah, cari sendiri sana!" Sewot Mira yang memalingkan muka, tak ingin melihat wajah menyebalkan suaminya.
Menegakkan tubuh, Indra mengedikkan bahu tak acuh, sebelum kemudian berlalu pergi. Mencari keberadaan Ranu yang mungkin tengah berada di kamar mandi. Tapi ketenangannya meluruh, ketika baru saja sampai, di lihatnya pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Memperlihatkan tak ada siapapun di sana.
"Kan! Apa gue bilang! Itu anak nggak ada di mana-mana! Memangnya rumah kita sebesar apa sih?" Omel Mira yang tiba-tiba sudah berdiri di samping suaminya, kesal sekaligus puas karena sudah mematahkan keyakinan Indra tentang keberadaan Ranu.
"Kemana anak itu? Sial! Sebentar lagi orang suruhan Bos datang. Bisa habis kita, jika tidak menyerahkan Ranu sama dia."
"Itu anak kabur," ucap Mira yang membuat suaminya terbelalak.
"Jangan sembarangan bicara! Mana berani dia pergi dari rumah? Memangnya dia punya siapa lagi selain kita yang sudi menampungnya? Lagipula, jika mau, mungkin sudah dari dulu anak itu pergi. Tapi buktinya, saat kita sering mengayunkan pukulan tanpa ragu, Ranu tetap bertahan tinggal di sini."
"Nggak percaya lagi sama gue?" Mira berkacak pinggang, menatap suaminya dengan kesal karena lagi-lagi tak dipercaya, "sana liat kamarnya. Baju-bajunya di dalam lemari udah raib! Lagian lo lupa kalau dia bukan lagi bocah? Ranu udah dewasa, udah pasti berani lah buat kabur!"
Mendengar ucapan istrinya yang sangat yakin dan tak lagi bisa dibantahnya, Indra meremas rambutnya dengan frustasi. Dia harus segera menyeret Ranu kembali, apa pun caranya!
Jika tidak, bisa habis dia ditangan si bandot tua!
"Kita harus segera mencari Ranu, sebelum orang suruhan si Bos datang menjemput."
"Mau cari di mana? Yang namanya kabur, dia pasti pergi sejauh mungkin. Apalagi, ada kemungkinan Ranu pergi dari semalam. Jadi pasti sudah jauh dan entah pergi kemana?" Tanya Mira yang tak habis pikir dengan pemikiran suaminya. Lagipula, dia juga terlalu malas untuk mencari-cari keberadaan Ranu dengan keadaan tak pasti seperti sekarang. Belum lagi, hari sudah semakin panas. Dia paling malas jika harus berkeliaran di cuaca yang terik.
"Ya makanya, kita cari dulu! Usaha dikitlah! Belum apa-apa udah malas-malasan. Ayo berangkat sekarang, jangan membuang waktu!"
Mira menghentak-hentakkan kaki sebal, "mau cari kemana?" Bentaknya, mengulang pertanyaan yang sama.
"Kita coba ke tempat kerjanya dulu. Siapa tau dia di sana. Mungkin aja Ranu lupa dan berangkat kerja seperti biasa."
"Mana ada orang yang berangkat kerja sambil bawa baju satu lemari?"
Berdeham sembari menggaruk belakang kepalanya untuk menyamarkan rasa malu, Indra memasang wajah tak acuh, "ya kan siapa tau dia melindur?" Ucapnya asal dan mendapat dengkusan sinis istrinya.