PART 12. MULAI TERTARIK

1613 Words
Setelah melihat Jarvis yang berjalan meninggalkan ruangan tersebut, Deehan pun juga mengakhiri percakapannya dengan Nino. Deehan yang di ikuti Theo kembali menuju ruangannya. Lalu langkahnya tercekat saat hampir mendekati lift, di mana beberapa staff sedang bercengkrama membahas kejadian pagi tadi antara Mikha dan juga Noah. Deehan semakin penasaran dan mendekat. Di mana ia dapat mendengar secara jelas isi percakapan dari beberapa staff wanita tersebut. “Aku tidak percaya kalau Tn. Noah bisa tersenyum di hadapan mahasiswi magang itu!” “Aku bahkan tidak menyangka kalau dia membiarkan mahasiswi magang itu satu lift dengannya setelah sebelumnya ia meminta semuanya untuk keluar dari dalam lift itu!” “Apa kamu yakin dengan yang kamu lihat? Tn. Noah tidak meminta mahasiswi itu keluar?” “Bahkan Aku sangat yakin! Tn. Noah bahkan membalas sapaan dari mahasiswi itu dengan tersenyum!” Melihat Deehan yang semakin mendekat membuat para staff itu saling memberikan kode dengan mengakhiri percakapannya, lalu menyapa Deehan dengan serentak. Deehan hanya memberikan senyuman tipis sebelum para staff itu mempersilahkan Deehan untuk menaiki lift terlebih dahulu bersama Theo. Pintu lift menutup. “Apa benar yang di katakan mereka tadi?” tanya Deehan penasaran. “Memangnya apa yang terjadi antara Mikha dan Noah?” lanjut Deehan. “Aku juga kurang tau mengenai hal itu, tuan. Seharian ini Aku mengikuti Tn. Deehan” balas Theo. Pintu lift kembali terbuka. Deehan dan Theo tiba di ruangan. Deehan meminta Theo untuk memberitahunya secara detail mengenai dirinya yang tak sengaja mendapati Mikha malam itu bersama Jarvis. Setelah mendengar penjelasan Theo, Deehan mulai menyimpulkan segala kemungkinan yang ada. “Sepertinya Aku mulai tau kenapa Jarvis mendekati kakak Mikha..” ucap Deehan. “Karena dia anak dari Tn. Nino?” balas Theo. “Ya! Tn. Nino juga memiliki image yang cukup menakutkan di perusahaan---bukannya hal itu sangat menguntungkan Jarvis kalau saja ia mendapat dukungan dari Tn. Nino, kan?” jelas Deehan. “Jadi menurut Tn. Deehan, Jarvis tidak benar-benar menyukai Dr. Nana?” tanya Theo memperjelas. “Mungkin saja! Aku hanya menerka kemungkinan yang ada” balas Deehan. “Lalu nona Mikha?” lanjut Theo. “Yah.. mungkin Mikha mengetahui keburukan Jarvis dan ingin mencari bukti untuk memberitahu kakaknya kalau Jarvis bukanlah lelaki yang pantas untuknya” jelas Deehan dengan pemikirannya. Theo mengangguk dan menyetujui perkataan Deehan. Lalu Deehan meminta Theo kembali menyelidiki riwayat aktifitas Jarvis tiga minggu lalu dengan tangal yang di berikan Deehan. “Aku ingin tau apa saja yang ia lakukan di tanggal itu---Aku rasa ada sesuatu yang janggal dengan aktifitasnya saat dia berada di Malaysia” pinta Deehan. Theo kembali mengangguk sebelum meninggalkan ruangan Deehan. Kepergian Theo membuat Deehan kembali menguruas isi kepalanya. Dia bertekad akan membuat Jarvis menyesali segala yang ia perbuat di Capitaland. Lalu pikiran itu tiba-tiba saja terganti dengan sikap berani Mikha mendatangi club malam seorang diri hanya untuk mengikuti kemana Jarvis berada dan apa yang ia lakukan. Deehan tak menyangka kalau sosok seperti Mikha memiliki keberanian yang tinggi, lagi dan lagi Deehan di buat kagum dengan karakter seorang Mikha. Deehan beranjak dari kursinya dan beralih menuju ruangan Mikha yang berada di lantai berbeda darinya. Kedatangan Deehan membuat mata kembali tersorok kepadanya. Earlene terkejut melihat pintu terbuka dan memperlihatkan Deehan yang baru saja masuk. “Tn. Deehan?” sapa Earlene yang membuat Mikha juga ikut menoleh. Deehan menjatuhkan pandangannya ke arah Mikha. “Ada apa?” tanya Mikha santai. “Ikut dengan ku ada yang harus kamu kerjakan!” balas Deehan. “Pekerjaan ap---” “Ikut saja, cepat!” sela Deehan yang kembali keluar meninggalkan ruangan tersebut. Earlene meminta Mikha untuk segera menyusul Deehan. Mikha mengekor di belakang Deehan dan terus saja mempertanyakan pekerjaan apa yang di maksudkan Deehan untuknya. Berhasil masuk ke dalam lift, Deehan memberitahu Mikha kalau Tn. Edward selaku investor yang seminggu lalu di temui Mikha dan juga Earlene di Capital Art Galery selalu membicarakannya. “Apa kita ingin pergi menemuinya?” terka Mikha. “Ya!” balas Deehan membenarkan pertanyaan Mikha. Suara dentingan lift mengalihkan perhatian keduanya. Di saat yang bersamaan ketika Mikha dan Deehan ingin keluar dari lift, Noah dan juga Sein baru saja muncul berniat ingin masuk ke dalam lift. “Mikha?” tegur Noah. “Mau kemana kalian?” lanjut Noah menatap ke arah Deehan. “Aku dan Mikha ada urus---” “Kata Tn. Deehan, Tn. Edward ingin bertemu siang ini dan meminta ku ikut dengannya” sela Mikha mendahului. Baru saja bibir Noah membuka ingin menyanggah perkataan Mikha, namun Deehan lebih dulu menarik tangan Mikha untuk berjalan meninggalkan Noah serta Sein di depan pintu lift tersebut. “Ayo, cepat!” ucap Deehan. Noah menatap kepergian Mikha serta Deehan dengan wajah menahan kesal. Di mana dalam lubuk hati Noah, ia sangat tidak suka kalau Deehan bersama Mikha. Tanpa mengetahui kebenarannya, Mikha mempercayai ucapan Deehan yang mengatakan kalau Tn. Edward ingin bertemu dan mengajaknya makan siang bersama mengingat pertemuannya seminggu yang lalu. Di mana secara terbuka Tn. Edward mengangumi kecerdasan Mikha dalam menjelaskan karya seni tersebut. Deehan melajukan mobilnya, Mikha duduk di samping kursi pemudinya sembari memasang sitbelt miliknya. Mobil itu melaju pelan meninggalkan Capitaland. Sesekali Deehan melirik ke arah Mikha yang patuh dan percaya dengan perkataannya. Lirikan itu di sadari oleh Mikha lalu menegurnya. “Kenapa kamu sejak tadi melirik terus ke arah ku?” tanya Mikha. “Siapa yang melirik ke arah mu? Aku hanya melihat kondisi jalan di sebelah mu saja..” elak Deehan mencari alasan. Tampaknya alasan berhasil di terima oleh logika Mikha dan tak lagi memperpanjang masalah tersebut. Sepanjang perjalanan itu Deehan kembali berpikir atas tindakannya siang ini yang berbohong pada Mikha hanya demi ingin makan siang bersama. Tampaknya sikap tak kenal takut dari Mikha membuat Deehan jatuh hati serta tertarik padanya, namun belum di sadari olehnya. “Apa di sini tempatnya?” tanya Mikha saat menyadari bahwa mobil Deehan telah menepi di salah satu restoran yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Deehan hanya mengangguk dan meminta Mikha turun dari mobilnya. Mikha mengikuti langkah jenjang Deehan masuk ke dalam restoran tersebut. Di mana salah satu pelayannya sudah menyapa lebih dulu. Seorang pelayan itu menuntun Deehan serta Mikha menuju salah satu meja yang masih kosong di sisi kanan restoran tersebut. Mikha melihat sekelilingnya dan tak mendapati Tn. Edward seperti apa yang di katakana Deehan padanya. “Di mana Tn. Edward?” tanya Mikha sambil mendudukkan dirinya. “Mungkin sebentar lagi..” balas Deehan yang masih saja berbohong. Pelayan itu lagi memberikan buku menu pada Mikha serta Deehan. Tak seperti pada umumnya saat ingin bertemu dengan seseorang, Deehan malah meminta Mikha untuk memesan menu makan siangnya tanpa menunggu kedatangan Tn. Edward. Tapi Mikha tetap tidak merasa aneh dan menuruti perkataan Deehan. Mikha memesan menu makan siangnya begitupun dengan Deehan. Pelayan itu meninggalkan meja Deehan dan juga Mikha setelah mendapat pesanan dari keduanya. Mikha kembali menyisiri seisi restoran tersebut dan masih belum melihat kedatangan Tn. Edward. “Bagaimana penelitian mu?” tanya Deehan tiba-tiba. “Hm.. berjalan lancar seperti biasanya” balas Mikha apa adanya. “Oh iya---Aku lihat kamu dan Noah sangat akrab..” ungkap Deehan. “Memangnya kenapa?” tanya Mikha balik. Pertanyaan itu membuat bibir Deehan tercekat. “Tidak apa. Karena para staff lain tidak ada yang akrab dengan Noah” balas Deehan. “Padahal Noah---hm, maksud ku Tn. Noah orangnya sangat baik dan juga ramah pada ku” jelas Mikha jujur. Deengan mengangguk mengerti namun siapa yang sangka dalam pikirannya ia sedang bergelut mempertanyakan sikap Noah yang hanya ramah pada Mikha saja. “Mungkin hanya kamu saja yang tidak merasa segan dengannya---staff lain merasa segan pada Noah” ungkap Deehan. “Kenapa harus segan kalau hanya sesama staff juga?---ah mungkin saja! Setiap orang kan memang memiliki karakter yang berbeda-beda” jelas Mikha. Deehan kembali terdiam dan mencerna perkataan Mikha. Pikirannya terpusat pada pekataan Mikha yang menyebutkan sesama staff. “Apa dia tidak tau jabatan Noah di kantor?” batin Deehan menerka. Namun Deehan tak ingin terlalu dalam membahas hal tersebut yang nantinya akan membuat Mikha curiga ataupun risih dengannya. Setelah tak ada lagi percakapan, Mikha kembali menyadari kalau Tn. Edward belum kunjung datang di restoran tersebut. “Di mana Tn. Edward?” tanya Mikha kembali. Lalu Deehan mengambil ponselnya, mengirimkan pesan pada Theo untuk segera menghubungi dan mengatakan kalau Tn. Edward tidak bisa datang siang ini. Untung saja pesan tersebut langsung juga di terima oleh Theo. Tanpa banyak bertanya, Theo melakukan permintaan Deehan. Theo menghubungi Deehan sesuai dengan permintaannya. Dalam panggilannya tersebut, Theo mengatakan kalau Tn. Edward tidak bisa datang siang ini karena memiliki urusan yang lebih penting. Deehan mengulas senyum tipis saat semuanya berjalan dengan sesuai rencananya. Perkataan Theo dalam panggilan itu pun juga dapat terdengar oleh Mikha. Panggilan itu berakhir bersamaan dengan menu makan siang yang telah di pesan olehnya telah tiba. Pelayan itu meletakan makan tersebut di atas meja Mikha dan juga Deehan. “Tn. Edward tidak bisa datang?” tanya Mikha memperjelas. “Yang di katakan Theo dalam panggilan tadi seperti itu” balas Deehan santai sembari mengidikkan bahunya. Mikha menghela napas kasar menatap ke arah Deehan yang sudah mencicipi makan siangnya terlebih dahulu. “Apa yang kamu pikirkan?” tanya Deehan. “Tidak ada!” balas Mikha berbohong. “Jangan berpikir Aku hanya menjebak mu untuk makan siang dengan ku lalu membawa nama Tn. Edward!” sela Deehan. “Tidak! Aku tidak berpikir seperti itu” balas Mikha yang kembali berbohong. Namun dalam hati ia membenarkan perkataan Deehan. “Sudah makan saja!” pinta Deehan. Mikha mencicipi makan siangnya dan sesekali mencuri pandang ke arah Deehan, begitupun sebaliknya. Tak di pungkiri makan siang bersama dengan Mikha membuat suasana hati Deehan menjadi lebih baik. Ia tak menyangka kalau dirinya sendiri akan melakukan hal seperti ini kepada Mikha. Berhasil menyelesaikan makan siangnya, Deehan kembali membawa Mikha ke kantor. ***** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD