"Lho.. tumben udah nyampe sini? Kenapa nggak ngabarin dulu." Emily terkejut ketika pagi hari sudah melihat Ervan berdiri di depan pintu rumahnya di Singapura. Yang ditanya hanya diam sembari melemparkan senyum tipis. Mata pria itu sayu terlihat sangat lelah, rambutnya tak terlalu rapih dengan potongan lebih panjang daripada sebelumnya. Dengan langkah pelan Ervan mulai memasuki hunian minimalis milik kedua orang tuanya yang mulai ditinggali sejak tiga tahun terakhir di Distrik 10. Setelah menutup pintu, Emily kembali mendekati sang putra yang nampak kusut untuk menanyakan tujuan kedatangannya ke negeri singa itu. "Ada kerjaan di Singapura?" selidik Emily masih penasaran akan kedatangan putranya yang mendadak. Hal yang tak pernah dilakukan Ervan sebelum-sebelumnya. Ervan menggeleng pelan.

