"Aku juga sedang memikirkan hal yang sama, tapi aku nggak yakin dia bisa dipercaya." "Betul, Don. Tapi, untuk saat ini sebaiknya kita jangan gegabah dulu. Pindahkan senjata yang tersisa ke lokasi baru sambil pantau pergerakan mereka. Jika mereka menyerang kembali, baru kita bertindak." "Kau benar." Alex meluruskan tubuhnya, tegap, matanya menatap lurus ke depan tajam seperti belati. Setelah mengobrol dengan penasihat hukumnya, ia memerintahkan Anton dan yang lainnya untuk berkumpul di ruang privasi. Beberapa menit kemudian, ruang privasi itu sudah terisi penuh. Anton berdiri di sisi pintu, memastikan tak ada satu pun orang luar yang bisa mendengar pembicaraan di dalam. Alex duduk di kursi utama, tangannya bertaut di atas meja panjang berlapis kaca hitam. Suara dentingan jam dinding me

