Setelah Luke pergi, Isabella langsung tancap gas meninggalkan tempat itu tapi ia tidak langsung kembali ke rumah melainkan ke sebuah restoran yang buka 24 jam. Ia sangat lapar sampai ia tidak sanggup untuk mengemudi jauh, ia harus mengisi energinya dulu.
Ia memasuki sebuah restoran yang cukup sepi, hanya ada beberapa orang di dalam. Maklum, hari sudah larut. Ia memesan makanan dan menghabiskannya secepat mungkin. Ia juga memesan makanan untuk take away untuk makan di jalan.
30 menit kemudian, ia keluar dari restoran tersebut.
Saat di luar, ia tak sengaja bertemu dengan seorang perempuan dewasa dan seorang anak kecil yang berpenampilan cemong dan baju koyak-koyak duduk di trotoar.
“Ma, aku masih lapar huhuuu.” Anak perempuan itu menangis sambil memegangi perutnya. Sementara perempuan dewasa yang sepertinya adalah ibunya, mengusap-usap punggung anaknya.
“Tapi kita udah nggak punya makanan lagi nak, roti tadi udah habis. Nanti kita cari lagi ya.”
“Huhuhuu ... Aku lapar.” Anak itu terus merengek.
Isabella terenyuh mendengarnya lantas ia mengambil duduk di samping mereka. “Adek, adek jangan nangis ya. Katanya adek lapar ya?” ia berbicara dengan anak kecil itu dengan nada suara seperti anak kecil sambil memasang senyum ceria.
“I-iya hiks ... A-aku lapar Kak.”
Isabella mengusap rambut anak itu sambil tersenyum. “Adek namanya siapa?”
“Aku Queensly.”
“Wah cantik sekali namanya, secantik orangnya.” Adik itu mulai berhenti nangis walaupun masih sesenggukan, menatap ke Isabella dengan mata besar polosnya, membuat Isabella tak tahan untuk mengusap pipinya, menghapus bekas air mata.
“Queensly ‘kan katanya lapar. Kakak punya makanan nih. Queensly mau nggak?” Isabella hendak memberikan makanan miliknya.
Queensly menatap ke kantong makanan berwarna coklat yang dipegang Isabella dengan mata berbinar. “Mau!”
“Boleh, tapi jangan nangis lagi ya. Anak pintar nggak boleh cengeng.” Anak itu mengangguk cepat.
“Pintar, ini buat Queensly.”
“Yeeaayyy!” Queensly menerima pemberian Isabella dan langsung memeluk erat kantong yang berisi makanan tersebut.
“Heh, bilang apa dulu sama kakaknya?” celetuk mamanya.
“Makasih Kak.”
“Sama-sama.” Isabella tidak tahan dengan kegemasan Queensly, reflek ia mencubit pipi chubby yang naik ketika tersenyum itu. “Makan yang banyak ya.” Isabella menyunggingkan senyum ketika melihat Queensly makan dengan lahap.
“Nak, terima kasih banyak ya untuk makanannya. Queensly jadi nggak lapar lagi.”
“Iya sama-sama Bu. Ngomong-ngomong ibu sama adek kenapa masih di luar jam segini?” Isabella bertanya. Ia penasaran dengan latar belakang kehidupan sepasang ibu dan anak ini.
Wajah ibu itu tiba-tiba murung. “6 tahun yang lalu saya hamil diluar nikah dengan pacar saya namun pacar saya nggak mau tanggungjawab. Saya sangat menyesal. Dia menyuruh saya untuk menggugurkannya padahal dia sudah janji akan bertanggungjawab. Pada awalnya saya sangat frustasi, ada terbesit untuk mengugurkannya namun setelah berpikir lagi saya tidak sanggup untuk melakukannya. Bagaimanapun juga anak ini adalah darah daging saya jadi saya tetap mempertahankannya dan melahirkannya dan anak itu adalah Queensly.”
Dia terdiam sejenak, matanya mulai berkaca-kaca.” Tapi sayangnya tak lama setelah saya melahirkan Queensly, rumah saya disita karena tak sanggup membayar hutang. Saya hanya tinggal sebatang kara dan tidak punya siapa-siapa lagi tapi saya nggak mau menelantarkan anak saya,” jelas ibu muda itu panjang lebar. Tatapannya kosong dan matanya berkaca-kaca saat bercerita menandakan masih ada luka yang terpendam di hatinya. Ceritanya sangat pilu dan miris.
“Saya sangat menyesal telah berhubungan dengan mantan saya yang tidak bertanggungjawab itu tapi saya tidak sanggup untuk mengugurkan anak yang tidak bersalah ini.”
“Jadi ibu dan Queensly tinggal di mana sekarang?”
“Kami tidak tinggal di mana-mana. Kami tidur di jalanan. Saya pernah kontrak rumah tapi karena tidak sanggup dengan tagihannya, kami diusir. Sehari-hari saya hanya berjualan koran, uangnya hanya cukup untuk beli makanan sehari-hari.”
“Hm, saya turut sedih mendengarnya.” Isabella jadi teringat dengan janin di dalam perutnya yang akan berkembang menjadi seorang anak yang tidak bersalah.
Isabella mengeluarkan dompetnya lalu memberikan beberapa lembar uang pada ibu itu. “Ambil lah ini, buat modal usaha kecil-kecilan.”
“Hah, apa ini? Tidak. Saya tidak bisa menerimanya secara cuma-cuma.”
“Tidak apa-apa, saya hanya ingin membantu. Terima lah.”
“Saya tidak enak mbak. Saya tidak bisa menerimanya secara cuma-cuma.”
“Kalau begitu, saya borong semua koran-koran ibu.” Isabella melirik tumpukan koran dagangan ibu itu yang masih banyak.
“Tapi ini pun masih banyak kembaliannya Mbak.”
“Tidak apa-apa Bu, kembaliannya diambil saja. Tolong terima ya, ini buat queensly juga. Tolong beli makanan enak untuk Queensly.”
Ibu itu kemudian melirik Queensly, tatapan matanya turun seraya menghela napas berat. Ia pun menerima uang dari Isabella. “Makasih banyak Mbak. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa.” Ia menciumi tangan Isabella.
“Hiduplah dengan baik bersama anakmu. Jadilah kuat dan tidak bergantung pada orang lain.” Isabella lalu berdiri. “Kalau begitu saya pamit, saya harus melanjutkan perjalanan.”
“Sekali lagi terima kasih Mbak?”
“Bella,” jawab Isabella ketika Ibu itu kelihatan kebingungan.
“Mbak Bella, terima kasih dan hati-hati di jalan.”
Isabella mengangguk lalu membungkuk menatap Queensly. “Queensly, kakak pergi dulu ya. Tumbuh lah jadi anak yang baik dan sehat. Semoga kamu bisa membanggakan ibumu kelak.”
Queensly tiba-tiba memeluk kaki Isabella. “Makasih ya kak.” Isabella berjongkok, merapikan rambut anak kecil itu lalu memeluknya sejenak.
“Sama-sama.”
Mereka tak lupa saling melempar senyum dan melambaikan tangan sebelum pergi. Isabella juga membawa koran yang sudah dibelinya bersamanya, ia mungkin akan meletakkannya di rumah. Orang rumahnya terutama ayahnya dan Anton cukup gemar membaca koran walaupun koran itu terlalu banyak bila untuk sekedar dibaca saja.
***
Saat fajar tiba, Isabella baru sampai di rumahnya. Alex sudah berdiri di depan rumah, membuat Isabella kaget pasalnya Ayahnya sedang berada di luar negeri dan seharusnya pulang lusa namun pagi ini dia sudah di rumah. Apa Ayahnya sudah tahu masalah ini?
“Dari mana saja kau? di mana Luke?” suara berat ayahnya terdengar dingin dan tak bersahabat.
Isabella tak menjawab, ia langsung menghambur ke dalam pelukan Ayahnya, terisak.
“Ayah, maafkan aku hiks.”
Tubuh Alex mematung, dahinya berkerut dan tangannya mengambang di udara, ragu mendekap putrinya yang tiba-tiba menangis.
“Ada apa dengan kau?” Alex mencengkram bahu Isabella, menatapnya dalam.
Air mata Isabella terus mengalir, hidung dan matanya merah. Isakan terus keluar dari bibirnya, tak sanggup bicara.
“Kau kenapa Isabella?” Alex mengguncang tubuh anaknya, memaksanya untuk bicara.
Isabella pun akhirnya berani menatap Ayahnya. Dengan satu tarikan napas, akhirnya ia berkata. “Ayah maafkan aku, a-aku ... Aku mengandung anak Luke Alonzo, keluarga mafia musuh bebuyutan Ayah.”
“Apa?!”