Isabella berusaha menarik paksa tangannya namun Luke menahannya kuat. "Lepaskan aku!"
"Aku perlu bicara dengan kau."
Isabella menggeram keras. "Tidak. Aku tidak mau bicara dengan kau! Kalau kau tidak mau melepaskanku, aku akan teriak."
Dengan terpaksa Luke melepaskan cengkramannya. Isabella tampak menghela napas panjang seraya merapikan cardigan rajut yang ia kenakan lusuh akibat adegan tarik menarik barusan.
Isabella melirik Luke sinis. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau mengikutiku?" tanyanya dengan mata memicing.
"Tidak. Bukankah aku pernah bilang kalau aku pernah tinggal di California. Jadi apa salah kalau aku pulang ke tempat tinggal lamaku?"
"Jadi, kau tidak berbohong soal itu?"
"Aku tidak berbohong."
"Okay, terserah. Tidak ada urusannya denganku. Dan sekarang kau mau apa setelah tahu aku ada di sini? Apa kau akan melaporkannya pada papa kau agar anak buahnya bisa menangkapku? Begitu?"
"Aku tidak berniat seperti itu."
"Ya sudah, selama tinggal." Isabella berbalik, hendak meninggalkan Luke.
"Ini soal Ayah kau dan Lancaster." Perkataan Luke sukses membuat langkah Isabella terhenti namun dia tidak berbalik. "Kalau kau penasaran, kau bisa hubungi aku. Aku masih menggunakan nomor yang sama," sambung Luke lalu kembali ke mejanya meninggalkan Isabella yang diam mematung.
Isabella kembali setelah beberapa menit. Dari tempat duduknya, ia bisa melihat meja Luke. 'Sedang bersama siapa dia? apa dia benar punya keluarga di California?' pikirnya namun sedetik kemudian ia mengalihkan pandangan ketika tertangkap basah oleh Luke. Ia langsung pura-pura minum.
'Apa itu pacarnya?' batinnya ketika melihat seorang wanita menyuapi Luke. Matanya memicing selidik sampai tak sadar tangannya menyenggol seorang pelayan yang datang sampai.
Prang!
Terdengar suara nyaring ketika gelas di tangan pelayan terlepas, pecah berserakan di lantai marmer restoran. Semua kepala sontak menoleh ke arah Isabella. Sang pelayan membungkuk, meminta maaf berkali-kali dengan wajah pucat. Air berwarna oranye itu menggenang di lantai, mengalir pelan ke kaki kursi.
Sementara itu di satu sisi, suara kursi digeser terdengar jelas. Nicole sontak menyentuh punggung tangan Luke yang hendak berdiri. Luke menatap mata hazel itu, kemudian mengurungkan niatnya untuk berdiri.
Isabella kaget, pipinya memerah. “Maaf … aku tak sengaja,” katanya pelan, membungkuk, berniat untuk membantu.
"Tidak apa-apa Mbak. Saya bisa bersihkan sendiri."
Seorang pria berpakaian setelan jas rapi hitam putih datang mendekati meja Isabella. "Maaf atas kekacauan yang telah terjadi. Izinkan saya mencarikan meja baru untuk anda, silakan ikuti saya," pria itu mengarahkan Isabella ke meja baru.
Isabella mengigit bibir pelan. Ada rasa bersalah menyelinap di dadanya. Meski ia tahu kekacauan barusan tak sepenuhnya salah si pelayan, hatinya tetap terasa berat. Dengan kepala sedikit tertunduk, ia mengikuti pria berjas yang tampaknya adalah manajer di restoran tersebut.
Nicole memicingkan mata menatap Luke yang tak berkedip menatap gerak-gerik Isabella.
"Luke!"
"Huh?" Luke tersentak, ia memasang wajah bingung seakan baru sadar sedang diawasi.
"Apa kau mengenalnya?"
Luke menggeleng. "Tidak. Aku cuma kaget." Nicole merasa tidak puas dengan jawaban Luke. Ia masih memandangi Luke dengan sorot penuh curiga, Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Luke.
"Cepat habiskan makanannya, habis itu kita pulang," celetuk Clara tiba-tiba, memecah ketegangan sambil menatap keduanya dengan mata lelah.
Luke dan Nicole hanya mengangguk pelan, namun masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.
***
Sementara itu di Palermo tepatnya di sebuah pelabuhan yang jaraknya lumayan jauh dari ibu kota.
Zrsss zrsss...
Hujan mengguyur deras kawasan pelabuhan malam itu, menimbulkan suara gemerisik di atas atap seng dan kontainer besi yang berjejer di sepanjang dermaga. Lampu-lampu kuning temaram berkelip redup, memantul di genangan air yang berkilau.
Anton berdiri setengah tersembunyi di balik sebuah kontainer, sedari tadi matanya tak berkedip, mengawasi dua sosok yang berada tak jauh darinya.
Lucas dan Louis, dua orang anak buah Alonzo tampak sedang bernegosiasi dengan seorang pria asing bertubuh kurus. Suara mereka tak jelas teredam hujan, namun bahasa tubuh mereka penuh ketegangan. Beberapa lembar uang tampak berpindah tangan. Anton mengepalkan tangannya, dadanya berdegup kencang sambil menyentuh pisau yang dingin di saku jaket kulitnya.
'Kalian tidak bisa lolos begitu saja setelah membunuh Zidane,' desisnya dalam hati. Gambar wajah Zidane yang pucat, rekan sejawatnya yang dibunuh oleh orang-orang Alonzo masih terlintas jelas di benaknya. Luka itu masih menganga, menyimpan dendam yang teramat dalam.
Tiba-tiba Lucas memberi isyarat singkat pada Louis, lalu berbalik dan berjalan cepat menghilang di lorong gelap antara kontainer. Anton mengerjap. Napasnya memburu. Ia harus segera selesaikan semuanya secepat mungkin.
Kini Louis berdiri sendirian, sibuk menghitung uang sambil sesekali melirik sekeliling. Ia tampak tak sadar ada mata elang mengintainya dari kejauhan.
Anton menelan ludah sebelum bergerak, langkahnya cepat dan pasti. Saat tiba di belakang Louis, dengan sigap Anton meraih Louis dari belakang, menekankan lengannya ke leher pria itu, mencekiknya. Louis meronta, berusaha berteriak, tapi hujan menggempur deras, menenggelamkan suara apa pun.
“Kau harus membayar kematian Zidane, pergi lah ke neraka,” bisik Anton dingin di telinga Louis.
Cepp!
Pisau tipis yang Anton sembunyikan di saku celananya sejak tadi menghujam tepat ke bagian jantung Louis. Darah memancar membasahi kaos putih yang ia kenakan.
Anton bahkan sampai tidak membiarkan Louis teriak sekecil apapun, tenggorokannya tercekat, lidahnya keluar seperti anjing, Matanya membelalak sebelum akhirnya melemah, tubuhnya limbung. Anton menahannya agar tidak jatuh menimbulkan suara keras, kemudian menyeretnya pelan ke balik tumpukan karung goni.
Anton menatap tubuh Louis yang kini terdiam kemudian melirik sekitar. Hujan deras menghapus bercak darah dari tangannya. Ia menarik napas cepat, menahan gejolak amarah yang belum sepenuhnya padam.
Tanpa menoleh lagi, Anton berbalik, melangkah cepat menjauh menyelinap di antara kontainer-kontainer besar. Ia menghilang di kegelapan malam, meninggalkan Louis tergeletak tak bernyawa.
Anton sampai di rumah menjelang subuh dengan keadaan basah, air menetes dari ujung rambut hingga ke jaket hitam yang melekat pada kulitnya. Ia memasuki ruangan dengan napas memburu seolah habis dikejar hewan buas. Saat melewati ruang utama, ia mendapati Alex masih belum terjaga lantas ia menghentikan langkah.
"Kau sudah kembali. Kenapa lama sekali?" suara Alex terdengar berat dan penuh intimidasi.
Anton bergerak mendekat, berdiri tegap menyembunyikan tangan di belakang punggungnya. "Aku sudah terima uangnya, Don." Anton meletakkan amplop coklat tebal yang sedikit basah di beberapa sisi ke atas meja.
"Ok, kerja bagus." Alex menerima amplop tersebut lalu menyimpannya ke balik jas hitamnya. Niat awal Anton ke pelabuhan adalah untuk urusan bisnis, ia tidak menyangka akan bertemu dengan anak buah Alonzo di sana. "Lalu kenapa kau sampai basah kuyup begini? dan kenapa kau bisa lama sekali?"
Anton mengangkat kepalanya, menatap sang Don dengan sorot mata menyala seperti bara, sedetik kemudian ia menyunggingkan senyum miring. "Aku telah berhasil membunuh anak buah Alonzo, Don."
Mata Alex mendadak membesar. Kilatan kaget, kekaguman, sekaligus kekhawatiran berkelebat cepat di wajahnya.