"Pokoknya, kamu harus mau!"
Tante Yoan mendorong tubuh Iris Livansha hingga kekuatannya mampu merangsek masukkan Iris begitu saja ke dalam salah satu kamar apartemen elit milik Runner Company tersebut.
Sebetulnya, gadis berusia 21 tahun itu, sudah meronta semenjak diseret kemari. Tapi, sayang. Tantenya itu memang tebal telinga. Semua rintihannya bahkan tak tembus untuk diindahkan.
"Tante, aku malu banget harus pakai pakaian minim seperti ini. Apa harus sekali untuk melunasi hutang Mama Berlin, aku harus melakukan hal penuh noda begini, Tante?" Iris berusaha mengais sisa-sisa hati Tantenya.
For your info, Berlin adalah Mama tirinya.
Sungguh, Iris tidak mau melayani laki-laki yang nanti akan mengambil hal yang selama ini dijaganya tersebut.
Tak bisa dibayangkan, sungguh!
"Hustt, diam kamu!" Tante malah mengentaknya. "Kamu harus nurut sama Mama Tirimu! Ini demi kebaikan keluarga juga, Iris!"
"Tapi, Tante ..."
"Sudah, sebentar lagi kita sampai."
Namun, sebenarnya, Iris tetap saja sama sekali tak mengerti.
Bagaimana mungkin, Mama Tirinya yang berhutang, lantas, untuk membayarnya, Iris harus dikorbankan untuk jadi transaksi pelunasan?
Ini sungguh membuat Iris tak percaya.
Tak ada yang lebih mencengangkan dari kejamnya Ibu tiri.
Pahit.
Alhasil, sepanjang perjalanan pun Iris hanya mampu menundukkan kepala saja, 'Apa tidak lebih baik aku mati saja? Bunuh diri setelah ini selesai?' batinnya.
Iris bahkan tak bisa mengenyahkan imajinasi kalau laki-laki yang nanti jadi tuannya itu, pasti seorang hiperseks yang gila dipuaskan wanita.
Itu sangat masuk akal dan tak terbantahkan, tapi ... gila, kalau sampai Iris berurusan dengannya!
"Tante, aku mau pulang saja."
Telat.
Mereka ternyata sudah berada di dalam kamar tersebut yang dijaga beberapa bodyguard bertubuh kekar.
"Tante ..."
Bisikkan Iris, seperti sebelum-sebelumnya, tak ada efeknya, dan nggak pulang pada jawabnya
Justru sang Tante malah memanajemen dirinya dengan mengungkapan identitas diri dengan intonasi yang ramah sekali.
"Tasya," ujar Tantenya. Baiklah, itu adalah namanya.
Dan, memang, sudah jadi tradisi, barangsiapa yang hendak masuk bertemu Yang Mulia Besar, Kenneth Eldo Veransyah, dia harus memberitahukan namanya.
"Oh, kalau begitu, silakan, Nyonya Tasya."
Tante tersenyum, "Terimakasih."
Iris kini makin menggingil.
Dia pun nekat pergi yang namun sungguh amat disayangkan, ketika ia baru berlari beberapa jarak, tubuhnya dicengkram seorang laki-laki bermata hitam legam. Menariknya tanpa ampun hingga membuat keduanya kini tak ada jarak sedikitpun.
Pinggang gadis itu bahkan ditawan kedua tangan besar nan gagahnya yang selanjutnya, ia pun menciuminya dengan penuh posesif. Tanpa perduli di luar kamar megah nan mewah bak balkon modern berlorong victoria tersebut, terdapat pula para bodyguard dan sang Tante dari pihak si perempuan yang nampak berbeda-beda menyajikan ekspresi saat menyaksikan mereka.
"Euhm, euhm!!!" Iris terus memberontak.
Tangan yang tak dicekal ia gunakan untuk menghantamkan pukulan ke d**a laki-laki b******n itu yang selanjutnya ia menghajar kepalanya.
Namun, smirk dari Kenneth justru kian-kian levelnya.
Dia merasa semakin manis ketika tertolak.
Yang mungkin, itu jugalah yang membuat laki-laki ini, begitu pandai menguatkan benteng hingga pertahanan kekuatannya tak tertembus. Dalam kata lain, semua usaha Iris sungguh sia-sia. Kepada predator yang tengah menikmati menjamahmu dengan beringas, kamu hanya semakin membuat gairah serta gejolak laki-laki itu meninggi ke satu hal yang sebenarnya menjadi inti pertemuan kali itu.
Hingga, saat Iris menginjak kaki laki-laki tersebut, Kenneth kontan saja melepaskan ciumannya yang begitu dihitung memang memiliki durasi plus perlakuan ‘tidak ada akhlak’.
Setelahnya, Iris pun langsung menyetakkan tanda kekesalannya dengan menampar telak ke pipi laki-laki berengsek itu berkat Tuan Muda gila itu, membuatnya nyeri, baik secara jasmani maupun rohani.
Sungguh, kejam!
Yang saat ia melakukannya, Iris tanpa sadar menumpah seketikakan bulir-bulir air mata, "Dasar b*****h!"
Namun, yeaahhh, berkat ini such some fun, respon Kenneth pun hanya memegangi pipinya yang meski terasa perih berkat tamparan kasar gadis itu, ia juga sedemikian setelahnya merasakan juga sensasi melted.
Bagaimana, ya, menyebutnya?
Ah, ya, kayak madu yang di atas pancake.
Sebegitu lembut, manis, dan menggodanya.
Dan, laki-laki itu pun tersenyum.
"Iya, kah? Tapi ... bukannya kamu suka juga?" Dia terkekeh. "Dan, lagipula ...” Mata dan tangannya kini jelalatan touch and screen ke sana dan ke sini. Membuat geli. Meminta dilepaskan sama sekali tak diindahkan oleh lelaki setan ini. “Gaunmu ini, sangat mengajakku untuk berfantasi lebih."
"Astaga ..." Iris makin menangis. Dia mengendikkan bahu berusaha menghindari bibir laki-laki itu yang lagi dan lagi ingin menjamahnya. Gadis itu bergetar takut. Beringsut hanya semakin membuat laki-laki itu menginginkannya. "Kenapa kamu berubah?"
Karena, Iris baru mengetahui fakta baru bahwa ... ternyata laki-laki yang mencium paksa tadi adalah Kenneth Eldo Veransyah. Laki-laki yang dulu tergila-gila semasa ia kuliah sampai mereka kerja bersama.
Tapi, sayangnya, ketika waktu itu pula, Iris dijatuh cintai laki-laki lain yang lebih agresif dalam konotasi positif baik untuk urusan menyatakan perasaan pun juga kepermudahan Iris dalam membalasnya. Semua, sungguh, dalam kondisi yang amat use well.
Itulah sebabnya, mungki karena perhatian Iris bersama laki-laki itu, Iris pikir, Kenneth tidak sebenar-benar itu jatuh cinta dengannya.
"Kenapa? Aku jadi kasar? Begitu maksudmu?"
Lihat.
Nada bicaranya pun, kini dingin. Iris pun semakin tak percaya akan apa yang disaksikannya sekarang.
"Lihat aku, Ken! Tidakkah kamu lihat betapa aku tidak pernah ada niatan menyakitimu? Lantas kenapa kamu justru jadi begini? Ada apa? Apa aku telah melukai hati kamu, Ken? Kalau iya, di bagian mana? Di relung terdalam apa?"
Iris pun melanjutkan, "Aku tidak tahu kalau kamu akan balas dendam padaku dengan menyakitiku di tempat semacam ini. Aku minta maaf atas semuanya kalau aku pernah membuatmu terluka dan tercekat. Sungguh, Kenneth. Jangan begini. Jangan lukai dirimu dengan salah bertindak seperti sekarang ini."
"Dan, apa aku perlu melepasmu? Agar kamu bisa bersama si Tuan Sialan Laksa tersebut? Oh, iya, dia, kan, mau bertunangan denganmu, ya? Kalau begitu, mari kita tuntaskan malam panas tersebut dengan mengukir sejarahnya sejak sekarang!"
DEG.
Hati Iris pun serasa melompat dari tempatnya.
Otomatis, ia menyerukan jika ini, tanda bahaya.
"Tidak, Kenneth, tidak!!!"
Tubuh Iris diangkat ala bridal style menuju kamar tersebut. Dari intonasi, bisa Iris lihat kalau itu bukan cuma sekedar mandat. Tapi sebuah keharusan yang mewajikan siapapun yang ada di sampingnya, untuk mau tidak mau menunaikannya.
Lagi, Iris percuma menolak.
Malam itu, akan menjadi malam paling menyiksa di mana ia harus memuaskan Kenneth yang penuh kilat amarah, kebencian, kepemilikan, ego, dan cinta.
Iris berteriak, "TOLONG! TOLONG! HENTIKAN!"
Iris pun dijatuhkan di kasur king size dalam keadaan kusut menyugar kain-kain baju yang dikenakan gadis itu.
Sungguh, di mata Kenneth, gadis ini menggoda sekali. Dia sampai tersenyum mengatakan, "You look so yummy, babe."
"Pergi!" Tapi, Iris terus beringsut menuju kepala kasur.
Sungguh.
Dia sangat tak ingin melakukan hal tersebut apalagi dengan penuh hina seperti sekarang ini.
"Percuma kamu teriak, Iris sayang. Ruangan ini kedap suara. Kamu ketakutan begitu justru menambah intensitas 'tertantangku' untuk memangsamu. Kamu sangat menggiurkan malam ini."
"k*****t!" Iris memukulnya. Kenneth tersungkur ke sisi kiri ranjang.