Sementara Lea tetap fokus pada setir dan lalu lintas
yang cukup padat pagi itu, Audrey sibuk menceritakan se-
jarah baju keren yang warnanya mengejutkan itu. Rupa
nya, itu hasil shopping online-kegemaran Audrey kalau
sedang tidak bisa bepergian atau sibuk dengan pekerjaan
kantor. Katanya, website tersebut sedang mengadakan
promosi besar-besaran. Semacam big sale yang bisa dijumpai di Metro.
Lea hanya bisa mengangguk, tersenyum, lalu ber
dehem, lalu mengangguk lagi, lalu tersenyum lagi... tanpa
tahu harus berkomentar apa. Jelas saja, Lea kan bukan ratu
belanja seperti sahabat kantornya itu, yang dalam moto
hidupnya menyertakan slogan: Fashion is my soul. Tapi, Lea
beruntung punya sahabat seperti Audrey. Berkat campur
tangan Audrey yang sukarela menjadi fashion stylist-nya,
penampilan Lea sama sekali jauh dari kesan nerd, apalagi
sampai saltum (salah kostum).
"Le, nyalon, yuk," ajak Audrey tiba-tiba ketika pembi-
caraan mulai menyerempet ke arah hair style yang lagi in.
"Gue gerah ngeliat rambut lo, kayak Dora."
"Sialan lo."
"Gue kasih tahu demi penampilan lo juga kali, Say..."
"lya, tahu." Lea melirik Audrey sekilas. "Tapi, gue
bener-bener nggak bisa." Mendadak, Lea tampak malu
malu. "Hari first anniversary gue sama Noah..."
ini, first anniversary gue
"Ya ampun! Kok, lo baru bilang?" Audrey tampak lebih
berbinar ketimbang Lea yang merayakan hari bahagia itu.
Lea tersenyum simpul. "Oke, oke. Kalo gitu, rencana lo
apa?"
"Ngng, like the other couple do. Dinner di resto."
"Sound's good" Audrey mengerling jenaka. "Tapi, kalo
lo nggak dandan, percuma Le. Gue pengen lo tampil beda
di hari penting ini. Makanya, lo ikut gue aja ke salon. L
harus tampil super duper cantik"
"lya, tapi kalo ke salon, gue nggak bisa."
"Ihh, Lea. Lo sih bukannya nggak bisa, tapi nggak
mau."
Lea cuma bisa nyengir. Lea emang paling malas ke
salon. Sebisa mungkin, dia lebih memilih Audrey yang
mendandaninya. "Pokoknya, just do what l've told you.
Okay, Hunny"
Kali ini, Lea pasrah. "Yeah, you win."
Ini benar-benar masalah!
Layout print advertisement produk permen peng-
hilang rasa kantuk yang ditangani Lea dan beberapa
rekannya, ternyata baru saja ditolak klien. Mereka ku
rang sreg dengan desain yang menurut mereka tidak
begitu 'nendang' ke pasaran. Tapi, untungnya tidak sam
harus merombak total konsep iklan kecil-
rang sreg dengan yang
begitu 'nendang' ke pasaran. Tapi, untungnya tidak sam-
pai harus merombak total konsep iklan itu. Revisi kecil-
kecilan saja bisa dikerjakan hanya dalam beberapa jam.
Lea baru saja mengarahkan kursor pada tulisan
forward, ketika suara-suara itu mengganggu telinganya.
Dia mengangkat wajah dan melihat Ana, salah satu
rekan kerjanya, sedang sibuk membagi-bagikan undangan.
Amplopnya berwarna merah marun, ada hiasan seperti
ukiran di salah satu sudutnya.
Di depan Lea, Ana mengedipkan sebelah matanya.
"Pesta tunangan gue sama Randra. Dateng. ya, Bu."
1
Lea ingin sekali memarahi Ana yang benar-benar meng-
ganggu di tengah-tengah situasi full stres ini, tapi melihat
wajah sumringahnya dia jadi tak tega. Lea mendekatkan
diri ke Ana, memberi selamat disertai satu pelukan plus
cipika-cipiki.
"Kapan lo nyusul, Le?" goda Ana. "Lo masih sama
cowok lo itu kan?"
Nyusul?
Lea jadi berpikir sesaat. Apa iya, dia bisa seperti Ana
dalam waktu dekat? Menyebar undangan dengan inisial
namanya dan Noah digrafir indah di atas amplop.
Tiba-tiba, kesedihan menyusup perlahan di dadanya.
"lya, masih dong" Suara itu muncul mendadak. Audrey
nyengir. "Hari ini kan, first anniversary Lea sama Noah."
"Wow! Congrats ya, Dear." Kini, ganti Ana yang mem-
"Kapan lo nyusul, Le?" goda Ana. "Lo masih sama
cowok lo itu kan?"
Nyusul?
Lea jadi berpikir sesaat. Apa iya, dia bisa seperti Ana
dalam waktu dekat? Menyebar undangan dengan inisial
namanya dan Noah digrafir indah di atas amplop.
Tiba-tiba, kesedihan menyusup perlahan di dadanya.
"lya, masih dong" Suara itu muncul mendadak. Audrey
nyengir. "Hari ini kan, first anniversary Lea sama Noah."
"Wow! Congrats ya, Dear." Kini, ganti Ana yang mem-
beri pelukan hangat.
"Thanks, An."
"Cepet nyusul, ya." Setelah Lea menjawab dengan
anggukan pelan dan agak ragu, Ana kembali sibuk mem-
bagikan undangan kepada yang lain.
"Inget klien kita yang perusahaan permen?" tanya Lea
sambil menggandeng Audrey keluar ruangan. Rasa penat
membuat Lea ingin hengkang sebentar dari kubikelnya
yang penuh dengan berkas. "Mereka nggak terlalu suka
dengan layout kita."
"Uh...jadi revisi?"
"Yap. Ill send the e-mail later. Langsung revisi, oke?
Gue mau ke toilet dulu."
"Kalo gitu, gue ke ruangan lo dulu, ah." Audrey ter
senyum centil. "Mau flirting sama Fadi."
Cowok blasteran Prancis itu memang sudah cukup
lama jadi inceran Audrey. Kalau dibilang akrab, sebenar-
nya mereka cukup akrab. Dengan catatan, keakraban
kurang