BAB 5 BOLEH KUBAWA PULANG?

1543 Words
Albin .... “Mau pesan minum lagi?” Aku bertanya pada sekumpulan lelaki di depanku. “Udahlah cukup, Non. Ntar susah.” seorang lelaki berseloroh padaku. “Susah kenapa?” Kedua alisku berkerut. Mereka berempat sering kali datang ke Havana Club. Sepertinya mereka berempat anak orang kaya. Wajah mereka masih muda, tapi mereka tak pernah absen datang ke sini saat weekend, apalagi saat ada artis datang, mereka sering kali memesan meja VIP. Susah, Al. Nanti habis duit nggak bisa kawinin kamu. Kamu mau mas kawin kamu bill doang?” Noval berseloroh padaku. “Boleh, kok. Tapi, mempelainya wanitanya botol minuman. Mau?” ucapku. “Ya, mana bisa. Kencing di botol aja aku nggak bisa apa lagi ngawinin botol, Al. Yang ada botolnya yang pecah.” Noval tertawa lepas. “Kasih liat dia, kasih liat.” Alex mendorong tubuh Noval. “Bener, Al? Mau liat?” Noval menatapku dengan tatapan mata yang sulit kuartikan. “Apaan, sih? Ya enggaklah. Mataku masih suci, eh tapi ... boleh deh.” Aku tersenyum licik. “Beneran?” Novan menyapu bibirnya menggunakan lengan, “Jangan salahkan aku, kalau sampai khilaf, ya, Al?” Novan sangat bersemangat. “Iya. Dia pasti suka banget, kok.” Aku memalingkan wajah, menyembunyikan senyuman. “Dia? Dia siapa?” Novan mulai curiga. “Itu,” tunjukku pada seorang pengunjung, mereka serentak melihat ke arahnya. “Apa?! Banci itu? Gila lo, ya. Ogah gue. Amit-amit tujuh turunan. Astaga, kena cipok dia sekali auto kejang-kejang.” Novan bergidik ngeri. Aku tertawa lepas saat mendengar celotehannya. Bekerja di tempat ini sering kali memberikanku rasa bahagia. Di tempat ini aku tidak terlihat aneh. Aku justru terlihat modis dengan tampilanku. Aku juga tidak perlu merasakan sakit saat kulitku yang super sensitif terkena matahari. Mama dan bapakku tidak tahu aku bekerja di kelab malam. “Maafkan Albin, Ma, Pa. Yang penting Albin sekarang nggak merepotkan Mama sama Bapak. Nggak jadi beban.” Aku berkata di dalam hati. Gina pun menyentuh lenganku dan aku memalingkan wajah ke arahnya. “Al, ada yang nyariin lo,” bisiknya di telingaku. “Siapa?” tanyaku pada Gina. “Nggak tahu.” Gina mengangkat kedua pundaknya. “Loh? Dia customer lo, kan?” Aku melihat ke arah meja yang dimaksud Gina. “Udah, nggak papa. Dia maunya sama lo. Gue udah pesanin minum tadi.” Gina tersenyum manis padaku. “Eh, bentar, ya? Aku ke sana dulu,” ucapku pada Noval dan teman-temannya. Aku beranjak pergi menuju seseorang yang katanya sedang mencariku. Sementara Gina, dia memilih duduk di depan meja bartender. “Hai, halo. Saya Albin,” ucapku sambil tersenyum ramah, “Ya, Lord! Dia ganteng banget!” Aku berteriak di dalam hati. Tentu saja senyumanku menjadi semakin lebar. “Hai, Jovan.” Dia menyambut uluran tanganku. Eh, tunggu. Ini kenapa kok tanganku jadi dingin gini, ya? “Mas, ada yang bisa saya bantu? Kata teman saya, Mas cari saya,” tanyaku padanya yang hanya terdiam membisu, bahkan masih menggenggam erat tanganku. Dia memperhatikanku sangat dalam. Pipiku terasa panas. Argh aku malu sekaligus senang. “Mas, saya nggak bertelinga runcing kok. Jadi tenang aja, ya? Saya bukan peri dari negeri dongeng, and I don’t have any magic at all (Aku tak punya sihir sama sekali),” ucapku sambil tertawa. Dia tertawa mendengar perkataanku. Saat dia tertawa kedua matanya hilang. “Duduk, Albin!” Jovan pun tersenyum lebar padaku dan aku mengangguk pelan sambil memperhatikannya dalam keremangan cahaya. Dia memiliki kontur wajah yang tegas, seakan menyiratkan dia seorang pekerja keras. Rambut style terbaru, dengan potongan klimis di bagian bawahnya, mengesplor tengkuk dan lehernya dengan sempurna. Hidung yang mancung dan lancip di ujungnya membuat ketampanannya semakin terlihat sempurna. Alisnya cukup tebal dan melengkung, dia juga memiliki bibir yang indah, terlihat hangat dan bersahabat saat dia tersenyum. Pandanganku turun dari leher ke bagian dadanya. Kemeja biru pucat yang dia kenakan terlihat ketat dilapisi jas rompi slim fit berwarna abu-abu membentuk d**a bidangnya dengan indah, celana dengan warna senada, sangat pas dan terlihat bagus di tubuhnya. Aroma woody bercampur citrus menguar lembut dari tubuh Jovan, ikut menyapa indra penciumanku. Menggodaku untuk menghirup napas panjang lagi dan lagi, membuatku merasakan sesuatu yang tidak biasa. Dadaku berdebar cepat tak beraturan. “Ada yang aneh sama saya?” Dia mengangkat kedua alis saat mendapatiku memperhatikannya terlalu dalam sambil menyesap minuman yang tersedia di meja. “Oh, nggak kok.” Aku tersenyum malu, “Saya lupa. Siapa tadi namanya, Mas?” Aku bertanya ulang. “Jovan,” jawabnya pendek. “Oke, Mas Jovan. Ada apa Mas manggil saya?” tanyaku sopan. “Santai aja, nggak usah terlalu kaku. Nggak usah panggil Mas juga, Jovan aja.” “Oke, Mas Jo.” “Nggak usah pakai Mas,” ucapnya mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Oke, Jo. Ada yang bisa kubantu?” “Albin, apa minuman terenak di sini?” Jovan memandangku dengan lekat, “Kamu sukanya apa?” “Banyak. Bartender kami menciptakan banyak menu cocktail terbaru.” Aku bicara sambil tersenyum manis lalu menarik napas panjang. Siap-siap menyebutkan rentetan menu minuman yang tersedia “Apa yang kamu suka?” Aku yakin kamu sudah mencoba banyak minuman, kan? Tolong pesankan untukku juga,” ucapnya membuatku terkejut. “Well, aku suka minuman triple sec,” sahutku. “Kamu suka yang manis dan ada rasa rasa jeruknya, ya?” tanya Jovan. “Ya.” Aku mengangguk. Jovan menaikkan tangannya tinggi-tinggi dan menyalakan pemantik. Beberapa saat kemudian seorang waiter datang. Aku memesan minuman. Jovan juga memesan minumannya, tapi dia lebih memilih whiskey. Tak lama kemudian minuman kami datang, aku meminumnya perlahan sambil berbincang bersamanya. Saat habis, dia kembali memesannya lagi dan lagi. Aku lupa sudah berapa banyak yang kuminum. Tiap gelas minuman yang dibeli oleh Jovan adalah penghasilan tambahan untukku, sepuluh persen dari harga minuman adalah milikku, jadi ... kenapa tidak? Jovan terus menawariku minum meski aku berkata sudah tak sanggup lagi. Dia hanya tersenyum sambil menuangkan minuman ke dalam gelas, hingga berbuat sesuatu yang menarik minatku. *** Jovan .... Albin terlihat memperhatikanku sangat dalam. “Ada yang aneh sama saya?” tanyaku. Aku tahu saat ini dia mengagumiku. Setidaknya dia terlihat begitu dan aku tersenyum sambil menyesap minumanku. “Oh, nggak kok, Mas,” ucapnya tersipu malu. Aku melihatnya tersipu hingga membuatku tak bisa menahan senyuman. Dia ... manis. Albin kembali menanyakan namaku. Wajar saja jika dia lupa. Setiap hari dia bertemu banyak orang baru. Berbeda denganku yang bisa membaca namanya kapan saja. Apalagi dia punya nama yang unik, jadi gampang diingat. Aku melihat ke sekeliling, teman-temannya duduk di meja lain dan minum bersama pelanggan mereka masing-masing. “Oke, berarti aku bisa mengajaknya minum bersamaku.” Aku menanyakan minuman kesukaannya. Kami minum dengan ceria, gelas kami berdenting beberapa kali. “Albin, sudah berapa lama kamu kerja di sini?” tanyaku di telinganya. “Sudah setahun,” ucapnya merogoh saku lalu menyalakan rokok dan menyesapnya dalam-dalam. Aku menyentuh ujung rambutnya yang berwarna putih. Tentu saja dia tidak melihatnya. Aku yakin warna rambutnya asli saat aku melihat kulitnya seputih salju. “Albin, kamu boleh dibawa pulang?” tanyaku padanya. Aku memperhatikan matanya yang berwarna biru mengerjap beberapa kali saat mendengar pertanyaanku. “Gila dia cantik banget!” Aku menikmati tiap inci wajahnya. Siapa pun yang melihat Albin pasti mengakui betapa cantiknya dia, tapi selain itu ada sesuatu yang menarik dari dalam dirinya. “Aku bukan boneka,” sahut Albin tertawa gelak, “Aku nggak boleh dibawa pulang,” ucapnya dengan nada ceria. Saat melihat Albin, sejenak aku bisa melupakan semua masalahku. Keceriaannya menular. Aku tahu dia sudah mulai mabuk. Itulah sebabnya dia jadi lebih sering tertawa gelak. Aku suka sekali melihatnya tertawa. “Albin, mari main,” aku kembali menyalakan pemantik memanggil waiter. “Main apa?” tanya Albin sambil tersenyum. Aku kembali menyentuh rambutnya yang putih dan ikal. Dia unik dan lucu. “Jankenpon.” “Apa itu?” “Gunting, batu, kertas,” ucapku. Seorang waiter datang, aku meminta minuman lagi satu botol beserta kentang goreng dan keripik kentang. “Yang kalah minum, gimana?” “Oke!” Albin mengangguk dengan cepat. Permainan itu pun dimulai. Dia kalah beberapa kali, tapi Albin meminumnya dengan senang hati sambil tertawa. Setelah beberapa lama, dia meletakkan kepalanya di bahuku. Sepertinya dia mulai mabuk berat, tapi minuman kami masih tersisa. Aku tidak bisa menghabiskannya karena aku harus menyetir. “Albin,” panggilku sambil melepas tanganku dari lingkaran tangannya. Albin mengangangkat wajah melihat ke arahku. Aku menuangkan minuman ke dalam gelas. “Ayo minum sedikit lagi.” “Nggak bisa. Aku sudah nggak sanggup lagi,” ucap Albin menggelengkan kepala. “Albin, coba kamu lihat ini.” Aku mengambil uang US$ 100 lalu meletakkan di atas bibir gelas, “Kalau kamu minum, kamu boleh ambil uang ini.” Mata Albin terbuka lebar saat melihatnya dan aku tersenyum. “Oke,” sahut Albin cepat. Dia menarik napas panjang lalu mereguk isinya hingga habis. Sayang uang US$ 100? Jika dihitung tentu saja uang itu lebih banyak nilainya daripada minuman sisa kami, tapi tidak masalah. Aku ingin membawa Albin pulang. Aku melakukannya lagi dan lagi hingga USD $ 500 berada di dalam genggaman Albin. Saat gelas yang terakhir dia habiskan isinya, Albin tersedak. Beberapa detik setelahnya, dia hampir jatuh ke belakang. Beruntung aku menahannya, menariknya ke dalam pelukanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD