Mataku terbuka di tengah malam yang sunyi. Asing pikirku kala aku melihat seluruh ruangan ini. "Putih" kata yang terucap di dalam hatiku. Karna tenggorokanku kering, sakit dan tidak bisa untuk mengucapkan kata-kata. Aku berusaha untuk terus mengeluarkan suara ku. Tapi anehnya tidak ada yang keluar. Kala itu aku masih lemas, tanganku tak dapat ku gerakan. Tapi entah kenapa ada 4 anak seumuran ku menatap ku penuh rasa kwartir dan mata yang memancarkan cahaya harapan. Aku tau Meraka ingin menolong ku.
Tapi Meraka seakan tak dapat bergerak. Hingga tiba-tiba pintu ruangan aneh ini terbuka lebar menampilkan seorang wanita paru baya yang berpenampilan kusut tapi tetap terlihat cantik dengan baju yang lumayan berantakan serta dengan pancaran mata terkejut dan gerakan tubuh membeku di tempat. Ya dia Ibuku, dia mulai mendekat dengan tangisan meraung berucap syukur serta terus berteriak nama papaku dan seluruh keluarga ku.
" Kau bangun nak?" tanyanya dengan lembut dan penuh rasa rindu yang terama terasa hingga tubuhku.
"Ya Ibu disini sayang, kau mau minum, mau makan atau mau apa sayang?" tanyanya tak terjeda sama sekali.
dan aku hanya mengangguk kepalaku bertanda aku mau apapun yang di bilangnya.
Hingga sebuah tangan menyodorkan gelas berisi air minum ke mulutku yang telah di buka dari alat yang sangat tak ku mengerti dari tadi.
Rasanya sepeti kau meminum air pengunungan yang segar di pagi hari. Lega segar dan amat aku rindukan rasanya. Entah kenapa aku merasa aku telah terlalu lama tertidur.
"Suci kau ingat Abang?" dengan raut muka kwartir dan waspada dia bertanya pertanyaan aneh menurutku.
aku kembali menjawabnya dengan anggukan kepala.
Tak lama dari pertanyaan Abang ku, seorang pria tampan tapi telah berumur memakai pakaian berwarna putih mulai mendekatiku dengan raut muka lega dan terharu. Dia dokter keluarga ku kalau tak salah.
"Suci, kau sudah bisa bicara?" tanya dokter itu sambil terus mengamati ku.
" Ya." kata ku singkat tapi dapat kulihat semua mata mengatakan kata lega setelah mendengarkan ucapanku.
" Apa ada yang ingin kau katakan pada kami, atau apakah kau ingin bertanya apa saja kepada kami?" tanya dokter itu lagi.
"Aku.... apakah aku tertidur lama?" pertanyaan ku dengan susah payah ku keluar kan dari pikiran ku.
Ibu tak tahan lagi, Beliau berjalan cepat dan langsung memeluk ku hangat dan berkali-kali berkata "kau sadar sayang" "kau kembali" terus seperti itu hingga aku kembali melihat 4 anak itu berusaha ingin mendekat kepadaku.
"Ibu apa mereka teman ku"? aku menunjuk tempat 4 anak itu tepat di samping pintu ruangan ku.
semua orang lantas refleks menoleh pada pintu
Dan betapa binggung nya mereka karna disana tak ada apapun.
" Sayang lihat Ibu, mereka siapa yang kau maksud?" ucapan Ibuku setelah aku melihat wajah ibuku.
" Mereka Bu, Mereka ingin kesini tapi tak bisa, tolong bantu mereka, kasihan mereka teman ku. " aku terus berkata seperti itu hingga beberapa kali.
" Baik lah " itu kata suster yang sejak tadi diam saja.
" Kalian mendekatlah, jangan sakiti dia apa lagi mengganggu nya, INGAT." kata suster itu lagi.
hingga aku melihat mereka mendekat dengan raut wajah bahagia.
Hingga tak di sangka ada salah satu dari mereka yang memiliki muka jahat ingin melukai hingga aku pingsan kembali.
suara Ibu ku yang histeris yang terakhir ku dengar dan terasa ada yang terjatuh diatas badanku hingga aku tak bisa bernafas dan tak sadarkan diri.