“Sama-sama, Sayang.” Darryl dan membalas pelukan Anastasha.
Anastasha melepas pelukannya dan kembali menggenggam tangan Darryl, membawa Darryl ke mana pun ia mau. Anastasha berhenti di game basketball, ia sangat takjub melihat seorang laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Darryl. Laki-laki itu dengan lihainya memasukkan bola ke dalam ring, tak ada yang meleset satu pun.
Darryl yang melihat tatapan kagum Anastasha untuk lelaki yang sedang bermain basketball, tangannya langsung mengepal tak suka. “Jaga mata, Anastasha,” ucap Darryl penuh penekanan, kini tangannya sudah bertengger di pinggang Anastasha.
“Mau main basket?”
“Mauu!” seru Anastasha senang.
Darryl memasukkan koin, dan mulai melempar bola-bola basket itu ke dalam ring. Lemparan pertama tepat sasaran, begitu pun yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Anastasha menatap Darryl takjub, sungguh luar biasa.
Anastasha mendekat. “Darryl mainnya hebat banget.”
Darryl tersenyum menanggapi, senyum yang membuat perempuan yang ada di sana terpesona. Anastasha pun begitu, saat ini dia sedang terpesona.
“Manis!” celetuk Anastasha tanpa sadar.
Darryl tertawa dibuatnya, sungguh, Anastasha benar-benar lucu dengan wajah polosnya itu.
“Apa yang manis?” tanya Darryl saat tawanya mereda, tetapi senyumnya masih terpasang. Tangannya masih terus melempar bola.
“Darryl. Darryl manis!”
Tawa Darryl kembali pecah. See? Anastasha benar-benar menggemaskan. Ingin Darryl gigit rasanya.
Setelah selesai, tiket keluar dari dalam mesin dalam jumlah yang banyak. Anastasha mengumpulkannya dengan riang. Lalu Anastasha kembali mengajak Darryl bermain di mesin yang lainnya.
Sekitar satu jam Anastasha mengelilingi zona permainan, sekarang dia ingin menukarkan tiket yang didapatkannya. Lumayan, tiket yang dia dan Darryl dapat dalam satu jam berjumlah 2760 tiket.
“Mau tukar apa, Kak?” kata pegawai perempuan menunjuk barang apa saja yang bisa ditukarkan oleh Anastasha.
Anastasha berpikir sejenak sambil memperhatikan semua, lalu matanya berbinar menemukan barang yang pas. Sebuah boneka kecoak yang sangat besar.
“Mau ituuu!” kata Anastasha menunjuk boneka kecoak itu, Darryl terperangah dibuatnya. Kecoak lagi? Darryl saja ngeri melihatnya.
***
“Tasya, kenapa milihnya boneka kecoak?”
“Mau aja,” jawab Anastasha.
“Dih, serem gitu.”
Anastasha tertawa mendengar ucapan Darryl, pria itu sama seperti papanya, takut pada kecoak.
Darryl mencebikkan bibirnya, Anastasha sangat aneh.
“Buat apa emang?”
“Hadiah buat Papa.”
“Hadiah?”
“Iya, sekarang, kan, hari ayah. Darryl enggak kasih hadiah buat papanya Darryl?”
Darryl terdiam, kata-kata Anastasha berhasil membuatnya menghentikan langkahnya. Ia tidak tahu jika sekarang hari ayah, bagaimana dia bisa tahu, jika papanya saja tidak pernah berada di sisinya?
“Darryl nggak punya Papa, Anastasha!”
Benar-benar seperti nasi rames, perasaan Darryl campur aduk.
“Jangan bilang gitu, nggak boleh.”
“Dia nggak peduli sama Darryl, nggak mau tahu apa yang Darryl lakukan. Apa itu masih pantas disebut seorang papa?”
Anastasha memeluk Darryl sebelum pria itu terbawa emosi. “Iya, aku ngerti, maaf.”
***
I Miss You Too, Captain!
Di sinilah Darryl dan Anastasha sekarang, taman Situ Lembang. Darryl menatap ke depan, melihat bagaimana bisa danau di depannya sangat tenang? Sedangkan pepohonan di sekelilingnya harus bergoyang-goyang saat angin menerpa. Ingin sekali dia menjadi seperti danau itu, sangat tenang walau angin bertiup keras.
Tetapi, kenapa Darryl harus menjadi seperti pohon yang diterpa angin sedikit saja daunnya sudah melambai-lambai persis seperti dirinya? Kenapa ia tak bisa seperti danau itu?
Anastasha menolehkan wajahnya ke kanan, melihat sosok lelaki di sampingnya yang sepertinya sedang berpikir keras.
“Darryl kenapa?” tanya Anastasha heran.
Pria itu menoleh ke samping menatap Anastasha, lalu merentangkan kedua tangannya. “Darryl butuh pelukan.”
Astaga, itu bukan sebuah jawaban menurut Anastasha. Tetapi seperti ultimatum yang harus gadis itu turuti.
“Peluk sekarang!”
Anastasha lalu memeluk Darryl. “Darryl kenapa?”
“Darryl nggak mau jadi pohon.”
Ucapan Darryl membuat Anastasha bingung. Bukankah Darryl memang bukan pohon?
“Kan, Darryl memang bukan pohon.”
“Bukan itu maksudnya, Darryl nggak mau kayak pohon karena cuma karena angin yang embusannya kecil aja dia udah goyah.”
Anastasha mengerti sekarang. “Darryl, walaupun angin bisa bikin pohonnya goyah, seenggaknya dia nggak tumbang,” kata Anastasha mengelus pipi pria di pelukannya itu.
Darryl menikmati sentuhan Anastasha di pipinya, rasanya seperti ada ribuan bunga-bunga di hati pemuda itu. Sungguh, ia sangat suka diperlakukan begini oleh Anastasha. Darryl merasa sangat dicintai. Tetapi, apakah Anastasha mencintainya?
“Tasya!”
“Iya?”
“Udah cinta sama Darryl?”
Astaga, pertanyaan itu lagi. Anastasha harus menjawab apa? Anastasha tidak mengerti dengan perasaannya. Dia tidak suka saat Darryl berlaku seenaknya padanya, tetapi dia bahagia saat Darryl memperlakukannya dengan lembut.
“Enggak tahu,” jawab Anastasha membuat pria itu menunduk lesu.
Kenapa Anastasha belum bisa mencintainya?
“Tasya, cukup bilang kalau Anastasha mencintai Darryl,” kata Darryl menatap tepat di retina gadis itu.
“Darryl mohon katakan Anastasha,” pinta Darryl.
“Katakan apa?”
“Katakan, kalau Anastasha mencintai Darryl!”
“Anastasha enggak bisa.”
“Kenapa? Kenapa nggak bisa? Apa sangat susah untuk mencintai Darryl?”
Anastasha terdiam, bingung harus melakukan apa.
“Anastasha jawab! Jangan diem aja!” Suara Darryl meninggi, membuat Anastasha kaget dan langsung melepas pelukannya.
Napas Darryl tidak beraturan, menatap Anastasha dengan nanar.
“Jawab Anastasha, apa begitu susah untuk mencintai Darryl?”
Anastasha merasakan hatinya sangat sakit, tidak suka melihat Darryl seperti itu. Sungguh, hatinya sangat sakit melihat Darryl terpuruk. Ia kembali mendekap erat Darryl, mencoba menenangkan pria itu.
“Sstt, ada Tasya di sini. Tasya mencintai Darryl ....”
***
Minggu pagi, Darryl turun dari kamarnya menuju meja makan. Hidangan sudah tersedia, tetapi ia malah hanya mengambil selembar roti tawar, yang kemudian ia olesi dengan mentega. Saat sudah melahap habis roti itu, orang tuanya datang untuk bergabung. Merasa enggan berada di sekitar mereka, Darryl berdiri dari duduknya.
“Tetap di situ!” perintah Abraham tegas.
Darryl memutar bola matanya lalu duduk kembali, ia kemudian meminum s**u hangat buatan Bi Minah yang ia tahu itu untuknya.
“Darryl, kelas berapa sekarang?" tanya Megan, sang mama.
Darryl tertawa sumbang mendengar pertanyaan konyol mamanya. “Mama bahkan nggak tahu Darryl kelas berapa?” Ia tersenyum miris.
“Bukan gitu Darryl, Mama cuma nggak ingat, Mama sibuk sama pekerjaan Mama.”
Darryl terkekeh. “Kerja aja terus, sampek lupa kalau punya anak,” sindirnya.
“Jangan mengada-ngada kamu, Papa sama Mama kerja juga buat kamu!” Kini Abraham yang angkat bicara.
“Darryl nggak butuh harta kalian!” hardik Darryl terpancing emosi.
“Anak kurang ajar! Lulus nanti, kamu harus ikut Papa!”
Darryl menggebrak meja dan berdiri, menatap nyalang lelaki dengan pahatan wajah mirip dengannya itu. “KALIAN PIKIR KALIAN SIAPA?”
Sudahlah, kesabaran Darryl sudah sampai di ujungnya.
“JAGA PERILAKU KAMU! PAPA TIDAK PERNAH MENGAJARKAN KAMU BERLAKU TIDAK SOPAN SEPERTI ITU!" tegas Abrahan menunjuk anak laki-lakinya.
Lagi-lagi Darryl tertawa mengejek, lucu saja menurutnya. Memang kapan pria paruh baya di depannya ini mengajarkan tentang kesopanan padanya?
“Memang kapan Anda mengajarkan saya tentang kesopanan? Sepertinya tidak pernah, jangankan mengajari saya, menanyakan kabar saya bagaimana saja tidak.” Darryl mendengkus, menatap papanya dengan tatapan mengejek. Sungguh, ia emosi dengan perkataan lelaki itu.
Abraham berdiri, matanya memerah. Telunjuknya mengarah pada Darryl. “KAMU! BENAR-BENAR ANAK s****n!”
Mendengar hal itu, tangan Darryl terkepal erat, ingin sekali memberikan bogeman mentah di rahang pria paruh baya itu jika saja ia tidak ingat jika lelaki itu adalah papanya.
Sungguh, selain merasa emosi, ada rasa lain yang mendominasi dirinya. Sakit, ia sakit papanya menyebut dirinya sebagai anak s****n. Selama ini bahkan Darryl tidak menuntut macam-macam pada kedua orang tuanya.
Tak ingin berbuat di luar kendali, Darryl segera meraih tasnya dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya di meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.