Pagi ini matahari bersinar dengan terangnya. Bahkan, langit pun terlihat begitu cerah. Birunya langit seakan tahu jika ada harapan seorang gadis yang sedang bergantung kepada cerahnya sinar matahari pagi.
Ireshi Kiana terbangun dari tidurnya dengan senyum yang terkembang menghiasi bibir mungilnya. Tangannya membentang sambil menghirup napas dalam-dalam seakan ingin memenuhi pasokan oksigen di dalam paru-parunya.
Berbeda dengan Zavia yang sudah selesai dan bersiap untuk berangkat bekerja. Setelah memakai sepatunya ia pun mengambil tas yang ada di sofa. Mulai hari ini setiap pagi di rumah kontrakannya pasti akan terlihat sibuk karena sudah memiliki kesibukan masing-masing.
“Aku berangkat duluan, ya,” pamit Zavia dengan nada suara yang sedikit kencang karena berharap Iresh dapat mendengarnya.
Tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, Zavia pun bergegas keluar dari rumah karena tidak ingin terlambat ketika sampai di kantor. Dia masih termasuk karyawan baru, jadi mana mungkin dia berani datang terlambat.
Tak lama kemudian, Iresh pun juga sudah keluar dari kamarnya. Gadis itu bergegas memakai sepatunya dan ingin buru-buru berangkat karena tidak ingin terlambat. Mana mungkin dia berani datang terlambat di saat hari pertamanya bekerja.
“Aku nggak boleh telat di hari pertamaku bekerja,” batinnya.
Dia memang sengaja tidak sarapan karena takut terlambat sampai kantor. Dia melangkah dengan cepat menuju ke kantornya. Untungnya tempat tinggalnya tidak begitu jauh dengan kantornya, jadi dia bisa berangkat dengan berjalan kaki.
“Sambil olah raga pagi lebih baik aku jalan kaki aja,” ucap Iresh dalam hati.
Untuk sampai di tempat kerja, gadis itu membutuhkan waktu sekitar lima belas menit dengan bejalan cepat, tapi jika berjalan santai membutuhkan waktu yang lebih lama sekitar dua puluh lima menit.
Akhirnya Iresh pun sampai juga di lobi kantor, dia berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya ke lantai tujuh, di mana lantai divisinya berada. Karena sangking terburu-burunya akhirnya Iresh tersandung kakinya sendiri.
Bruukk …!
Tiba-tiba saja Iresh terjatuh karena baru saja menabrak seseorang. Mungkin karena kerasnya dia menabrak pria itu hingga membuat tubuhnya terpental dan terjatuh tepat di depan pria tampan yang berbadan tegap yang saat ini tengah menatapnya dengan wajah yang sudah merah padam.
Seorang pria tampan dengan tinggi badan yang jauh di atas Iresh tampak berdiri menjulang di hadapannya. Badannya tegap dan bentuk tubuhnya atletis, pasti banyak perempuan yang tergila-gila kepadanya.
“Ma … maaf, Tuan. Saya tidak sengaja,” tutur Iresh dengan penuh penyesalan.
Perempuan itu merasa tidak enak dan secara spontan langsung menepuk-nepuk jas pria itu karena berniat untuk membersihkannya. Di samping itu, Iresh juga merasa tidak enak karena telah ceroboh di hari pertamanya bekerja. Dia tahu jika pria yang baru saja dia tabrak pasti memiliki posisi tinggi di kantor ini karena melihat ada dua orang yang berjalan di belakangnya.
“Singkirkan tangan kotormu itu. Kamu membuat jasku semakin kotor dengan tangan menjijikkan itu,” pungkas Ishan sambil menepis kasar tangan iresh.
Bahkan, Ishan juga memberikan tatapan tajam ke arah Iresh. Pria itu memang tidak suka jika ada orang yang menyentuh tubuhnya tanpa seijinnya.
Ya … dia adalah Ishan Kawindra, pemilik perusahaan terbesar yang ada di dalam negeri yang sekaligus juga pemimpin kelompok Black Eagle yang sangat kuat dan terkenal akan kekajamannya di seluruh belahan dunia.
Bukannya takut, Iresh malah memandang ke arah Ishan dengan tatapan yang sama dengan yang pria itu berikan kepadanya. Iresh juga menatap Ishan dengan tak kalah tajamnya. Menurutnya dia sudah meminta maaf secara baik-baik, tapi dirinya malah mendapat makian yang sangat merendahkan dari pria tersebut.
Iresh memang tidak suka jika ada yang mengintimidasi dirinya. Oleh karena itu, ia pun harus bisa memberikan pria itu sedikit perlajaran agar tidak sembarangan menghina orang lain.
“Apa Anda bilang? Tangan saya kotor? Tangan saya menjijikkan? Asal Anda tau aja, tangan saya ini lebih higienis dari pada mulut Anda itu. Pakaian Anda juga tidak mencerminkan kepribadian Anda sama sekali, Tuan. Dasar orang aneh!” balas iresh dengan tak kalah pedasnya sambil menghentakkan kakinya karena kesal.
Setelah mengatakan itu Iresh berniat berbalik dan melangkah pergi dari lobi karena harus segera naik ke lantai divisinya berada. Namun, baru saja dia berbalik, tangannya sudah dicekkal oleh Ishan dengan keras.
“Kamu berani mengataiku, hah? Apa kamu nggak tahu siapa aku?” tanya Ishan dengan tatapan yang sudah berkilat penuh emosi.
Bagaimana dia tidak emosi jika ada orang yang berani kepada dirinya. Padahal selama ini tidak ada yang berani membantah ucapannya. Apalagi perempuan yang ada di hadapannya ini malah mengatai dirinya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Bahkan, perdebatan di antara mereka sudah menjadi tontonan beberapa karyawan yang sedang melintas. Ada yang sengaja berhenti karena ingin melihat kejadian langka ini dari sisi yang jauh karena tidak ingin mendapatkan masalah. Namun, tidak sedikit yang tetap meneruskan langkah kakinya karena tidak berani menonton kejadian tersebut. Mereka lebih memilih mencari selamat dari pada nanti mendapatkan masalah.
“Saya tidak tahu Anda ini siapa, dan saya juga tidak ingin tahu,” sahut Iresh dengan kesal.
Perempuan itu ingin segera pergi dari tempat itu, tapi Ishan masih saja menahannya dengan mencekal tangannya.
“Dengar baik-baik dan buka telingamu lebar-lebar …,” tutur Ishan yang terpotong oleh suara Iresh lagi.
“Haha … membuka telinga saya? Apa Anda tidak melihat kalau telinga saya sudah terbuka seluruhnya,” potong Iresh dengan raut wajah yang sudah terlihat jengah.
Gadis itu tidak peduli seberapa dinginnya Ishan, tapi jika sudah ada yang mencoba mengintimidasinya dia akan berubah menjadi singa betina yang bersiap untuk menerkam mangsanya.
“Kamu lihat aja, aku bisa membuat hidupmu merasa seperti di neraka,” bisik Ishan sambil menyeringai mengerikan.
Bagi orang lain yang melihat pria itu sedang menyeringai pasti sudah merasa ketakutan. Namun, semua itu berbeda dengan Iresh. Gadis itu tidak gentar sedikit pun. Dia di sini hendak bekerja dan malah bertemu dengan pria aneh yang marah-marah tidak jelas karena tanpa sengaja dia tabrak.
“Cih … apa Anda bilang? Akan membuat hidup saya serasa di neraka? Anda terlalu percaya diri, Tuan yang terhormat. Tapi maaf, saya tidak takut dengan ancaman murahan Anda karena kita sama-sama manusia,” ucap Iresh bernada tegas dengan penuh penekanan.
Setelah mengatakan itu, Iresh langsung menghempaskan cengkeraman tangan Ishan dengan kasar. Dia sudah tidak mau peduli lagi dengan pria aneh yang ada di hadapannya ini karena pekerjaannya lebih penting dari semuanya. Gadis itu langsung berjalan meninggalkan Ishan yang masih berdiri di tempatnya dengan tatapan nyalang.
Mendengar ucapan Iresh, membuat wajah Ishan seketika merah karena sedang menahan amarah. Bahkan, rahangnya sudah terlihat mengeras dengan suara gemeretak gigi yang saling beradu karena saking kuatnya dia menahan emosinya.
“Beraninya kau!” geram Ishan sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Dia memang sengaja membiarkan perempuan itu pergi karena tidak ingin perdebatannya dengan Iresh menjadi tontonan para karyawannya. Lebih baik dia menyelesaikannya dengan cara seperti biasanya, senyap dan sangat rapi.
Detik kemudian dia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lift khusus untuk dirinya karena langsung menuju ke lantai ruangannya berada.
“Leo, cari informasi tentang perempuan itu,” pinta Ishan bernada dingin.
“Baik, Pak!” jawab Leo.
Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul sepuluh siang. Saat ini Iresh sudah diperkenalkan dengan seluruh anggota tim divisinya, dan sekarang tiba waktunya dia diajak untuk bertemu dengan CEO perusahaan tempat dia bekerja.
Tok … tok … tok!
“Masuk …!”
Setelah pintu terbuka, muncul sekretaris Ishan yang bernama Rose. Sebelumnya perekrutan karyawan untuk divisi IT bagian komunikasi memang atas permintaan pria itu karena memang semakin pesatnya kemajuan usahanya hingga kekurangan tenaga di dalam divisi tersebut.
“Permisi, Pak. Di luar ada orang yang akan bergabung dengan tim satu bagian komunikasi,” tutur Rose menjelaskan.
“Suruh dia masuk!” pinta Ishan.
Beberapa saat kemudian Rose telah kembali bersama dengan seorang perempuan cantik dengan rambut panjang yang hitam berkilau. Setelah memberitahu Ishan jika orang yang dimaksud sudah berada di depan meja, Rose pun diam di tempatnya sampai menunggu urusan sang atasan selesai.
“Siapa nama kamu?” tanya Ishan tanpa melihat ke arah mereka karena dia masih sibuk mengetik di laptopnya.
“Nama saya Ireshi Kiana, umur saya dua puluh empat tahun, dan mulai hari ini saya telah bergabung dengan perusahaan Anda, Tuan,” tutur Iresh memperkenalkan diri dengan ramah.
Ishan pun langsung tertegun ketika mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Detik kemudian ada sebuah wajah yang terlintas di dalam benaknya.
“Suara itu …,” batin Ishan yang mencoba menebaknya.
Kemudian pria itu pun langsung mengalihkan pandangan dari laptopnya. Kini dia menatap ke arah asal suara, dan ternyata tebakannya benar.
“Kamu …!”
Iresh sangat terkejut dengan sosok pria yang saat ini tengah duduk di hadapannya. Pria yang tadi pagi dia tabrak dan berdebat dengan dirinya. Jika mengingat hal itu, membuat tubuh Iresh mendadak lemas. Pekerjaan sudah berada di tangannya, tapi sepertinya akan terlepas begitu saja. Sekarang pimpinan mana yang akan bersedia memberikan pekerjaan untuk seseorang yang sudah berani bersikap kurang ajar seperti dirinya.
“Mati aku …!” batin Iresh.
Namun, semua berbeda dengan Ishan. Pria tampan itu tampak tersenyum smirk sambil menatap lekat ke arah Iresh.