AWAL TRAGEDI

1104 Words
Owen tengah berdiri di depan pintu kontrakan Rumah Meisin yang sudah lapuk. Warna catnya mengelupas dimakan usia. Owen mematung bimbang, antara mengetuk pintu atau diam menunggu Meisin keluar dan melihatnya. Dilihatnya jarum jam sudah menunjukkan pukul lima dinihari. Kabut menyusut, dingin yang menggigit permukaan kulit mulai semakin terasa menusuk tulang. Dia tak bisa menunggu lebih lama, atau selamanya dia tak akan bisa mendapatkan gadis yang belakangan membuatnya bertindak tak biasa. Tok tok tok ... pintu kontrakan Meisin diketuk Owen, dengan sebelah tangannya dia lipatkan di depan dadanya. Dingin menyeruak membuatnya tak bisa berdiri di luar lebih lama. Terdengar langkah kaki dari dalam yang mendekat ke tempat dirinya berdiri sekarang. Owen menggesekkan kedua telapak tangannya, mencoba membuat kehangatan walau tidak seberapa. Krek ... Pintu terbuka, sosok bermata cokelat itu berdiri memandangi Owen dengan memicingkan kedua bola matanya. “Kamu? Ngapain pagi-pagi gini di luar? Ayo masuk,” ajak Meisin dengan nada lembut berbeda dari biasanya. Rupanya ritual yang dikatakan Ki Bagong adalah kebenaran, karena terbukti sikap Meisin berubah drastis terhadap dirinya. Owen menurut masuk karena tangannya digandeng dan ditarik oleh Meisin ke dalam. Owen tak ingin membuang waktu sedikit pun. Hasratnya kian memuncak, ingin segera menguasai gadis dengan mata bulat berwarna cokelat itu. “Ini belum sampai seminggu. Aku menang, Mei,” ucap Owen duduk di kursi yang telah pernah dia duduki saat pertama kali mendatangi rumah ini. Mendengar itu, Meisin tersenyum, manis sekali. “Aku tau, mari kita menikah,” ajak Meisin. Wow, Mak jleb juga Dukun itu. Nggak rugi gue bayar mahal itu Aki-aki. Mendengar bahwa Meisin sudah terkena jampi-jampi dari Si dukun untuk dirinya, Owen berniat untuk segera melangsungkan pernikahan dengan Meisin, selagi hati gadis itu belum berubah, dan dia berharap bahwa gadis itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Dia berniat segera membawa Meisin pergi dari rumah kumuh yang lebih pas disebut gubuk itu. Atap rumah seolah menggantung siap jatuh pada penghuni yang berada di bawahnya, dindingnya pun mengelupas bak kulit manusia yang terkikis dagingnya memperlihatkan tulang putihnya dengan lumuran darah. Sedang kerangka rumah yang mengelupas itu, memperlihatkan bebatuan di dalamnya dengan bekas tanah yang telah luruh dimakan usia. Owen menutup mata seketika, saat pandangannya menangkap sesosok makhluk menempel bak cicak di pojok ruangan. Makhluk yang sekilas pernah dilihatnya melintas cepat di Jl. Keramat semalam. Makhluk itu berbentuk siluet menghentikan laju mobilnya dan menyebabkan mobilnya mogok ditengah jalan. Iya dia ingat, makhluk itu lah yang menyebabkan dirinya terjebak di antara gelap dan ringkikan jangkrik malam di jalan setan itu. Dia anggap, perjalanannya semalam hanyalah mimpi semata. Dia tak ingin mengingatnya, karena menurutnya dia sudah bangun pagi ini dari mimpi buruk itu, namun dia tak habis pikir bagaimana makhluk itu masih mengikutinya bahkan sampai ke kontrakan gadisnya. “Kamu kenapa, Owen?” tanya Meisin, dia heran karena dilihatnya lelaki di hadapannya menutup mata seolah ada sesuatu yang tak ingin dilihatnya. “Owen ....” Meisin menepuk pundak Owen, namun lelaki itu enggan membuka mata. Kebiadabannya luruh bahkan dia tampak seperti bukan lelaki dengan wajahnya yang pias bak tak ada darah yang mengalir di bagian wajahnya. “Owen ....” ulang Meisin dengan menyentuh tangan Owen, dirasanya bahwa tangan lelaki itu dingin dengan keringat yang membuat telapaknya terasa sedikit basah karenanya. “Aku harus pulang, ada meeting sebentar lagi, nanti kukabari lagi untuk acara pernikahannya,” ucap Owen dengan wajah pias, lalu ia berlari keluar tanpa perlu mendengarkan jawaban Meisin. “Ish, dasar laki-laki aneh. Eh, tapi rasanya baru kemaren aku mengenal lelaki itu. Bagaimana aku bisa tiba-tiba akan menikah dengannya?” pikir Meisin saat dilihatnya lelaki itu menghilang dari pandangannya. “Aah ... mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama,” ucap Meisin bercakap sendiri. Sementara Pak Leo dan Bu Rena yang mendengar perkataan Meisin mendukung dan mengiyakan ucapan putrinya. Kata sepasang suami-istri yang kompak dalam urusan uang itu, dia menjawab bahwa Owen adalah laki-laki yang baik dan akan mengangkat derajat mereka. “Tidak penting bagaimana perasaan kamu, toh sekarang kamu sudah cinta, kan sama dya,” ucap Bu Rena meyakinkan anak semata wayangnya. Sepasang suami-istri itu berjingkrak girang karena mendengar bahwa putri mereka akan menikah dengan menantu idaman mereka. Iya, Owen dengan pesona angkuh dan tampan itu dan tentunya karena penampilan orang kayanya, dia telah memikat keduanya di saat pertama melihatnya. Sesuai tantangan Meisin tempo hari, Owen menagih janji itu untuk dengan segera melangsungkan pernikahan dengan Meisin, perempuan yang telah berhasil ditaklukkannya walau dengan jalan pintas. Malam merangkak bersamaan dengan deru hujan di perumahan mewah kediaman Owen. Lelaki itu terlelap dalam buaian suara hujan menambah lelap dirinya dalam mimpinya. Seharian dia tidak tidur mempersiapkan acara pernikahannya dengan Meisin, rupanya lelaki itu sudah tak sabar untuk segera mencicipi darah perawan yang akan dia tumpahkan di malam pertamanya. Ah, lelaki ini hanya ingin memuaskan hasratnya pada diri gadis itu? Lalu bagaimana dengan perasaan di hatinya? Hatinya dikuasai kegelapan dan gemerlap kesenangan hingga dipikirnya rasa itu hanya nafsu seperti biasanya. Suara burung hantu ikut mengerang di taman belakang rumah elit itu. Bekas guyuran air menyisakan bulir pada dedaunan. Namun pemilik taman dan penghuni rumah pun tak ada yang peduli, karena mereka telah terbuai dalam mimpi masing-masing. Alarm telah berbunyi, menandakan dirinya untuk segera bangkit dan bersiap-siap. Pernikahan yang dinantikannya akan terjadi hari ini. Dengan penuh semangat, Owen bangkit mengguyurkan air untuk mengembalikan kesegaran pada dirinya. Dia harus tampil sempurna untuk hari paling bersejarah dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya, dirinya akan berkomitmen dan mengganti status lajangnya. Benar-benar hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Sementara gadis itu, telah siap dengan busana pengantin adat India. Konsep pernikahan yang diinginkan Owen, yang hanya diiyakan oleh Meisin. Banyak senyum yang tertoreh dari wajah keluarganya yang memang kurang mampu. Jelas terasa derajat mereka akan ikut terangkat begitu pernikahan selesai antara Meisin dan pengusaha muda itu. Meisin tampak begitu cantik dengan busana dan tampilan make-upnya. Dia terlihat bak boneka hidup dengan senyum yang begitu menggoda. Gadis itu tengah menunggu mempelai lelaki di teras rumahnya yang tampak lebih rapi dari biasanya. Rupanya Bu Rena dan Pak Leo sudah mengemas rumah mereka agar tak terlalu kelihatan kumuh. Sementara Owen Wilson tengah duduk tampan di jok belakang diantar sopir pribadinya. Dia akan menjemput calon istrinya sesuai janjinya tadi tepat bangun tidur. Dengan tanpa menunggu lebih lama, keduanya sama-sama sudah duduk di satu mobil dengan kemudi di tangan sang sopir. “Di depan, mampir ke tempat sahabat aku. Aku mau dia nyaksiin pernikahan kita.” Meisin menunjuk jalanan di depan yang disana terdapat sebuah rumah dengan seseorang yang terlihat sudah menunggu di dekat gerbang rumahnya. “Maksud kamu, dia numpang sama kita?” tanya Owen seolah tak terima. Dia ingin menolak, tapi biarlah. Toh dia dan Meisin akan sering berdua setelah pernikahan sebentar lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD