Sekarang sudah pukul sepuluh malam, itu tandanya jam kerja Renata telah usai dan Billy sudah menunggu di halaman parkir apotek. Dia selalu datang tepat waktu kalau urusan jemput menjemput sang pujaan hatinya. Renata pun bergegas menghampiri Billy.
"Hai sudah lama disini?"
"Belum kok Ren baru lima belas menit."
"Maaf ya jadi merepotkan, maaf juga sudah bikin nunggu selama itu." Renata sambil memegang tangan Billy dan tatapan memohon.
Billy begitu nampak bahagia ketika tangannya dipegang oleh Renata, kemudian langsung mengelus punggung tangan Renata sambil berkata "Please! deh Ren jangan lebay begitu, cepat kamu naik, kamu mau di sini sampai tengah malam nanti apa?" goda Billy sembari mengedipkan sebelah matanya.
Sebuah pukulan melayang dan mendarat sempurna di d**a bidang Billy, membuat lelaki itu sedikit meringis.
"Sialan kamu, siapa juga yang mau di sini sampai tengah malam, kalau ketemu hantu gentayangan gimana?"
"Kan ada aku yang siap melindungimu." kembali Billy mengedipkan salah satu matanya.
"Gombal mulu ah, eh by the way aku boleh nggak sih aku panggil nama saja ke kamu biar lebih akrab gitu?"
"Terserah kamu deh Ren asal kamu senang."
"Ok deh."
"Yuk Ren kita pulang, mau aku anter sekarang nggak nih ngobrol mulu? Atau kamu pengen berlama-lama denganku ya?"
"Apaan sih? Sudah ah! Ayo jalan." ajak Renata.
Sepanjang perjalanan terasa begitu indah bagi Billy, karena malam itu merupakan malam yang begitu bersejerah baginya bisa berduaan dengan Renata, ditambah Renata juga sudah mulai welcome padanya, tidak sedingin biasanya. Billy berharap ini bisa jadi pertanda baik bagi hubungannya dengan Renata.
Sedangkan Renata, dia diam seribu bahasa sambil memikirkan perkataan Elisa tadi sore. Satu kata yang selalu terngiang-ngiang di telinga Renata yaitu ikhlas. Ya, hanya ikhlas lah yang bisa membuat hidup kita tentram. Mungkin sekarang belum bisa menerima keadaan, tapi Renata akan menjalani hidupnya bagai air yang mengalir seperti perkataan Elisa tadi.
Suasana malam yang begitu dingin hingga menusuk tulang dan juga detak jantung Billy yang berdegup kencang akhirnya dia berusaha membuka suara.
"Ren"
"Hmmm."
"Angin semilir membuat udara semakin dingin."
"Iya terus?"
"Aku ngebut ya biar cepat sampai rumah."
"Apa? ngebut? Nggak usah aku takut."
"Kalau kamu takut kamu pegangan aja."
"Nggak usah Billy aku mohon."
Tiba-tiba Billy menancap gasnya dan akhirnya mau tidak mau tangan Renata menyabuk di pinggang Billy.
Billy POV
Andai kamu tau perasaanku sekarang Ren, aku begitu bahagia, sangat bahagia sekali bisa sedekat ini denganmu. Rasanya aku ingin memeluk Tuhan dan mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepadaNya, karena telah mengabulkan permintaanku untuk bisa merasakan hidup sedekat nadi denganmu, dan aku harap kita akan seperti ini selamanya tanpa batas waktu.
Renata memang cantik, hidungnya yang mancung dengan bola mata bulat dihiasi manik mata kehitaman membuat dirinya semakin manis. Tidak heran jika aku dibuatnya begitu terbuai.
Aku tidak tahu bagaimana bisa rasa ini muncul, karena cinta datang tak butuh untuk dijemput dan tidak butuh alasan. Cinta datang mengalir begitu saja seperti aliran air terjun yang mengalir dari atas menuju ke pusaran tanah, dan semakin deras aliran itu maka akan semakin dalam genangannya.
Ya itulah kuasa Ilahi.
Bagaimana pun juga aku harus mengucapkan banyak terimakasih kepada pak de Doni nanti, karena berkat pak de Doni 'lah aku bisa mendapatkan nomor telepon Renata dan pada akhirnya bisa berkomunikasi langsung dengannya seperti sekarang ini. Pokoknya besok aku akan menceritakan semuanya ke pak de Doni dan aku akan menepati janjiku untuk mentraktirnya, pasti dia bakal senang dapat makan gretongan.
Renata POV
Billy kamu orang yang baik, orang macam apa aku jika nanti akan mengecewakanmu. Mungkin bila dikatakan jahat aku adalah orang paling jahat sedunia yang telah mempermainkan perasaan lelaki sebaik kamu.
Tapi mana bisa aku berkata iya jika ada nama Deon yang telah lebih lama ada dihatiku, meskipun aku tidak tahu perasaan Deon kepadaku seperti apa.
Deon ...
Kenapa kamu tidak pernah peka dengan perasaanku.
Ya Tuhan, kenapa saat ini aku malah terjebak dengan kebohonganku sendiri?
Kebohongan yang malah membuat harapan palsu untuk Billy. Aku tidak sanggup dengan ini semua. Benar ragaku sekarang bersama Billy tapi hatiku bersama Deon.
***
Di depan rumah Renata.
"Ren sudah sampai."
"Iya makasih banyak ya Billy."
"Iya sama-sama."
Beberapa saat kemudian mama Renata menyadari ada suara motor di depan rumahnya dan bergegas ia membuka pintu.
"Assalamu'alaikum anak mama."
"Mama, wa'alaikumsalam ma bikin Renata kaget aja."
"La gimana nggak kaget kamunya asyik begitu ngobrol sama nak Billy, sampai nggak nyadar ada mama di sini."
"Iya ma maaf."
"Tante, Assalamu'alaikum. " sapa Billy sembari mencium tangan Jihan.
"Wa'alaikumsalam nak Billy maaf ya jadi merepotkan harus antar jemput Renata ke tempat kerjanya."
"Tidak tante, 'kan memang saya yang menawarkan untuk menjemput Renata, jadi saya juga harus bertanggung jawab untuk mengantarkannya pulang dengan selamat."
"Kamu ini memang anak yang baik nak."
"Tante ini bisa saja." kemudian Renata memutus perbincangan Billy dan mamanya karena sudah merasa ngantuk dan lelah, lantas dia ingin berpamitan masuk ke dalam rumah.
"Billy maaf ya aku ngantuk banget jadi nggak bisa berlama-lama ngobrolnya."
"Eh iya nggak apa-apa Ren kalau gitu aku langsung pamit pulang ya kamu cepat tidur. Good night Renata, nice dream."
"Iya kamu hati-hati pulangnya."
"Iya Ren."
Kemudian Billy berpamitan dengan Jihan.
"Tante saya pulang dulu ya, maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya."
"Iya nak Billy kamu hati-hati ya di jalan."
"Iya tante, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam"
***
Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Mirna yang sedari tadi mondar-mandir di ruang tamu karena mendapati anaknya yang sampai sekarang belum pulang. Ia begitu khawatir dengan anak lelakinya itu karena tidak biasanya pulang selarut malam begini jika sedang main dengan teman-temannya.
Billy memang belum sempat bilang ke ibunya jika malam ini dia sedang menjemput Renata dari tempat kerjanya. Rencananya memang mau cerita ketika dia sudah sampai rumah.
Sepuluh menit kemudian Billy sudah sampai di halaman rumahnya, mengetahui hal tersebut ibunya langsung bergegas membukakan pintu dan langsung ngomel.
"Billy .... " teriak Mirna.
"Kamu itu ya dari mana saja jam segini baru pulang?" sambil menimpuk bahu anaknya dengan telapak tangan.
"Ibu apa sih anak baru datang tidak disambut malah dicereweti." Billy mendengus kesal.
"Habisnya ya kamu ini bikin ibu menunggumu pulang selarut ini."
"Iya bu maaf tadi aku habis jemput Renata dari tempat kerjanya."
"Apa Renata? Cewek yang kamu suka itu 'kan? Trus trus gimana kamu sudah jadian sama dia? Kapan kamu mau ajak dia kesini?"
"Ibu satu-satu kenapa tanyanya."
"Ya kan ibu penasaran nak."
"Giliran sebut nama Renata aja cerewetnya hilang."
"Ya ya maafkan ibu sudah cerewetin kamu tadi. Gimana, gimana kamu sudah jadian sama Renata?"
"Belum bu baru dekat saja, makanya ibu do'akan aku biar cepat bisa jadian sama Renata."
"Iya ibu pasti akan do'akan yang terbaik untuk anak laki ibu ini."
"Makasih ya bu kalau gitu Billy pamit tidur dulu ya ngantuk." sambil masuk ke dalam meninggalkan ibunya
"Jangan lupa cuci kaki sebelum tidur." titah Mirna. "Duh dasar ya ini anak tidak ada sopannya main nyelonong saja, orang tua masih disini malah pergi begitu saja." Mirna mendengus sambil mengelus d**a.