Sore itu Renata sedang bersiap-siap mau berangkat kerja, mulai dari mengecek barang bawaan Renata di tas kerjanya, ataupun menyiapkan pakaian kerjanya. Diujung kebingungan antara harus ngomong sama mamanya ataupun membiarkan tawaran Billy untuk menjemputnya, pada akhirnya Renata meminta izin kepada mamanya jika dia akan dijemput teman cowoknya ketika berangkat kerja nanti. Hal ini dilakukan Renata karena merasa tak enak hati dengan Billy jika harus menolak niat baiknya. Lantas dia mendekati mamanya yang sedang menyirami tanaman di halaman rumahnya.
"Ma Renata mau ngomong sama mama."
"Iya Ren kamu kenapa kok terlihat gugup begitu?"
"Ma Renata boleh tidak jika nanti waktu berangkat kerja dijemput sama teman cowok Renata?"
"Apa Ren teman cowok? Perasaan biasanya tiap keluar kamu selalu bareng sama teman cewek, mana pernah kamu keluar dengan teman cowok? Hayo ini teman apa teman Ren?" goda Jihan.
"Teman ma."
"Yakin cuma sebatas teman Ren?"
"Mama kenapa sih tidak percaya dengan Renata, bikin bete." Renata sembari mencemberutkan bibirnya lalu membuang muka dari mamanya.
Jihan yang paham betul dengan sifat anak perempuan satu-satunya itu lantas mencoba mencairkan suasana dengan meminta maaf kepada anaknya. Dengan sigap Jihan meraih tangan Renata dan mengelus jemarinya.
"Ren maafkan mama ya, bukan maksud mama membuat Renata kesal, mama hanya bercanda kok tadi, mama sadar Renata sudah besar sekarang dan sudah saatnya untuk Renata mulai mengenal cowok."
"Tapi ma Renata tidak bohong. Renata cuma menganggap dia teman walaupun sebelumnya dia pernah bilang ke Renata kalau dia suka sama Renata, tapi aku tidak ada rasa ma cuma kasihan saja karena Renata bingung mau kasih jawaban apa sama dia, sejak pertama kalinya dia ngomong suka sama Renata belum aku kasih jawaban." Renata berusaha menjelaskan kejadian sebenarnya kepada mamanya.
"Ren dengarkan mama, yang namanya cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, sama kaya mama dulu juga begitu dengan papamu, awalnya mama tidak ada rasa dengan papamu, tapi melihat ketulusan papamu akhirnya hati mama luluh dan akhirnya mama menaruh rasa juga sama papamu. Kalau saran mama kamu coba gali dulu si cowok itu jika memang dirasa dia anak yang baik kamu bisa belajar membuka hati untuknya. Mama akan mendo'akan yang terbaik untukmu Ren."
"Tapi ma dia bukan tipe Renata, Billy itu orangnya agak gendut dan postur tubuhnya tidak seberapa tinggi paling hanya 5cm lebih tinggi dari postur Renata. Aku tuh ingin punya pacar kaya cowok impian Renata, mirip-mirip korean style begitu."
"Baik buruknya seseorang itu bukan dilihat dari paras ataupun postur tubuh, tetapi kepribadian Ren, ingat kita itu hidup di dunia nyata bukan dunia khayalanmu. Jika memang anak tadi baik ya tidak ada salahnya kamu coba buka hatimu untuknya. Apapun keputusanmu mama akan dukung Ren, karena mama ingin melihatmu bahagia."
"Baiklah ma terimakasih atas sarannya ya, nanti coba Renata pertimbangkan lagi kata-kata mama."
"Sama-sama Ren. Sudah ah! sana segera siap-siap berangkat kerja nanti telat lagi gegara bingung kasih jawaban yang habis ditembak orang." Goda jihan sambil senyum-senyum.
"Mama sudah ah! Renata pergi saja dari sini habisnya diledekin mulu sama mama."
Renata bergegas nyelonong masuk ke dalam rumah meninggalkan Jihan.
***
Renata mengambil ponsel yang tergeletak di nakas kemudian mencari nama Billy di daftar kontaknya dan bergegas mengirim pesan kepadanya.
Renata
Assalamu'alaikum mas Billy
Billy yang sedari tadi mainan ponsel terlihat begitu bahagia melihat notif pesan dari Renata dan bergegas membalasnya.
Billy
Wa'alaikumsalam Ren, gimana jadi mau aku jemput?
Renata
Iya
Billy
Alamat kamu dimana Ren aku segera meluncur ke sana
Renata
Jalan Belimbing no 56 Madiun
Billy
Ok Ren tunggu ya
DI KEDIAMAN RENATA
Selang dua puluh menit kemudian Billy sampai di depan rumah sang pujaan hatinya dan segera memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah Renata. Billy menyapa seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di teras rumah.
"Assalamu'alaikum tante."
"Wa'alaikumsalam, iya nak cari siapa ya?"
"Tante apa benar ini rumahnya Renata?"
"Iya benar, apa kamu yang namanya Billy? Tadi Renata cerita jika berangkat kerja mau dijemput sama temannya yang bernama Billy."
"Iya tante saya Billy."
"Sebentar ya nak tante panggilkan Renata dulu, kamu silahkan duduk dulu."
"Iya tante."
Selang beberapa menit kemudian Renata keluar diiringi langkah mamanya dibelakangnya kemudian berpamitan kepada mamanya.
"Ma Renata berangkat kerja dulu ya."
"Iya Ren kamu hati-hati."
"Iya ma, assalamu'alaikum." Renata mencium tangan mamanya.
"Tante kami berangkat dulu ya, assalamu'alaikum." timpal Billy
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya nak."
"Iya tante."
***
Author POV
Sore itu jalanan sedikit ramai, suasana pun begitu hening, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Billy maupun Renata. Begitu canggung bagi Billy saat itu, jantung Billy berdegup begitu kencang, seperti rasanya mengikuti ajang bergengsi lari maraton sepuluh kilometer tingkat internasional, dan dinobatkan sebagai pemenangnya, sehingga rasanya nano-nano antara senang dan gemetar. Selang beberapa menit kemudian akhirnya Billy mencoba membuka percakapan untuk melawan rasa sunyi saat itu.
"Ren."
"Hmm."
"Gimana dengan pertanyaanku waktu itu? Maukah kamu jadi kekasihku?"
"Kita jalani saja seperti ini dulu."
"Maksudny Ren?"
"Aku belum bisa memberi kepastian tapi tidak ada salahnya kita jalani saja dulu, kita bisa mengawalinya dengan kita jadi teman dekat."
"Baiklah kalau memang itu maumu aku sudah merasa sangat beruntung bisa jadi teman dekatmu, dan aku akan menunggumu sampai kamu siap untuk mengatakan iya padaku. Aku akan berusaha jadi yang terbaik serta akan melakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia untuk bisa membuktikan kepadamu bahwa aku ingin serius denganmu."
"Terimakasih ya atas pengertiannya."
"Sama-sama Ren, pokoknya apa yang bisa membuatmu senang katakan aku siap jadi penopang sedihmu dan aku pun siap menjadi bagian dari bunga kebahagiaanmu."
Renata POV
Ya Allah aku harus bagaimana sekarang? Aku tidak tega bila harus menyakiti hati Billy. Sampai detik ini pun aku tidak pernah merasakan getaran apapun ketika dekat dengan Billy. Orang bilang kalau kita sedang jatuh cinta itu akan merasakan getaran di d**a, tapi aku sama sekali tidak merasakan apapun. Rasanya beda sekali ketika aku sedang berada di dekat Deon. Jangankan di dekat Deon, menatap matanya saja rasanya sudah meleleh seperti es lilin yang terkena sinar mentari.
Tapi ini semua aku lakukan karena semata-mata ingin menyenangkan hati Billy, karena aku tidak berani untuk menolaknya, tapi sebenarnya aku sama sekali tidak ada hati padanya. Bagaikan makan buah simalakama jadinya, ngiri salah nganan juga salah.
Mungkin rasanya akan jauh berbeda jika yang sedang bonceng aku sekarang adalah Deon, apalagi jika Deon juga berbicara serupa dengan yang Billy katakan barusan ke aku. Rasanya akan sangat indah sekali.
Billy POV
Renata aku harus bagaimana lagi agar aku bisa mendapatkan hatimu? Apa aku harus mengarungi lautan agar kamu percaya padaku? Katakanlah Ren jika memang itu yang kau pinta, akan aku lakukan demi untuk membuktikan cintaku padamu dan bisa membuatmu percaya.
Andai kamu tahu betapa besar cintaku padamu. Andai kamu tahu aku sudah lama menantikan jawaban iya darimu. Entah sihir apa yang membuatku jadi seperti ini. Tidak adakah sedikit celah hatimu untukku? Tolong dong Ren jangan buat aku semakin gila karenamu. Aku tidak sanggup jika cintaku nanti akan bertepuk sebelah tangan. Ya Allah engkaulah yang maha membolak-balikkan hati manusia, aku mohon bukakanlah hati Renata untukku.