Ana mengatur nafasnya yang hampir saja kehabisan. Ia hanya diam menikmati sentuhan yang di berikan sang kakak. Desahan demi desahan lolos dari bibirnya. Kaos bermotif bunga sudah tergeletak di atas lantai apartemen, tinggal menyisakan bra berwarna hitam yang menutupi bagaian atasnya. Begitu juga Hendrik kemeja warna navy-nya sudah terlepas dari badannya.
Tangannya terus memberikan kenikmatan pada bagian gundukan Ana, ciuman kembali beradu menimbulkan bunyi sebagai tambah kenikmatan mereka. Hawa dingin karena gerimis di luar sana menambah gairah pada kedua insan yang di landa nafsu itu.
" kakak.." desahan Ana lolos kembali kalah lidah Hendrik bermain di pucuk gundukan kembar Ana secara bergantian. " ya sayang..."
Celana yang Ana kenakan juga lepas dari tempatnya, jilatan dari pucuk gundukan turun ke perut. Ana semakin geli di buatnya. Ana menutupi bagian kewanitaannya yang masih tertutup celana dalam. " Ana malu kak." keluhnya
" jangan malu sayang nanti kamu akan menikmatinya." Hendrik menurunkan celana dalam berwarna hitam itu dengan satu kali gigitan, polos tanpa sehelai benang pun. Ana semakin malu, Hendrik tersenyum kismark semakin terlihat tampan di mata Ana saat ini.
Ia masih mengapit kedua pahanya. Hendrik tidak kurang akal. Jarinya menerobos di sela sela apitan itu. " nikmati sayang."
" ahhh..." Ana merasa geli ada yang berkedut di bawah sana. Akhirnya di buka juga apitan itu, Ana sudah tidak bisa menahannya lagi. Pertahanannya tak mampu mengalahkan rasa nikmat di sana.
Jari Hendrik masih bermain di luar sana tidak sama sekali menyentuh area sensitif wanita. " keluarkan yang ingin kamu keluarkan sayang." Hendrik membuka kedua paha itu agar semakin merenggang. Ada biji kewanitaan Ana terlihat jelas di mata Hendrik, warna merah jambu yang mengundang Hendrik ingin segera menjilatnya. Hendrik menahan dulu keinginannya itu. Ana sangat malu, menutupi lagi bagian kewanitaannya itu dengan kedua tangan.
" kak..." keluhannya terdengar sangat merdu di telinga Hendrik.
Hendrik kembali membuka s**********n itu, tangannya bermain di bagian sensitif kewanitaan Ana. Ana menggilat kuat, tubuhnya tak mampu di kontrol. Rasa apa tadi, kenapa begitu geli dan nikmat.
" Ana gak tahan kak, mau pipis." Hendrik semakin giat bermain dengan biji itu. Dan " ahhhh." erangan kuat dari Ana, tubuhnya bergetar karena begitu nikmatnya. Akhirnya Ana mencapai klimaks-nya, Hendrik mengangkat sudut bibirnya.
" kakak." Ana menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hendrik meraih tangan itu. " kakak ingin melihat wajahmu, jangan di tutup sayang." Hendrik kembali menciumi Ana, lidah itu bermain di belakang telinga. Ana kembali merasakan geli yang nikmat lagi.
Ana tak menyadari dari kapan, benda tegak kaku menjulang panjang ke atas itu sudah lepas dari wadahnya. Satu tangan Hendrik menuntun tangan Ana untuk menyentuh pusaka ajaibnya. Kaget itu yang Ana rasakan karena baru pertama kali ini ia menyentuh benda seperti itu dan melihatnya secara langsung, baru tadi ia melihat benda itu dalam video dan beberapa saat kemudian ia melihat langsung dan bisa menyentuhnya.
" pengang saja sayang, itu milikmu." suara Hendrik di telinga Ana semakin membuat Ana lupa bahwa itu adalah kakaknya.
Ana memberanikam diri menyentuh benda itu. menamati betul betul benda yang di klaim kakaknya bahwa itu miliknya. Hendrik sudah setengah duduk di tengah kedua s**********n Ana. " kamu siap sayang..." tanya Hendrik memastikan bahwa Ana sudah siap karena permainan sebenarnya akan di mulai.
" Ana takut kak."
" terasa sakit di awal sayang, nanti kamu akan merasakan nikmat lebih dari tadi setelah sakit."
" Benarkah." Hendrik mengangguk.
Pusaka ajaib itu mulai di pintu gerbang Ana, sesak tidak bisa masuk sama sekali. Hendrik masih berusaha. Sampai ujungnya sedikit masuk dan Ana teriak histeris segera Hendrik membungkamnya dengan ciuman agar Ana tidak teriak lagi. " pukul atau Cakar punggung kakak bahkan kamu boleh gigit dan tarik rambut kakak sayang, kalau kamu merasa sakit." Setelah berucap itu Hendrik kembali mencium Ana.
Ia berusaha lagi menerobos pintu tanpa kunci itu, tangan Ana menarik kuat rambut kakaknya. Keringat membasahi kening Ana, ada bulih air mata keluar menetes di samping kanan kiri matanya. Ada rasa tidak tega di Hendrik saat ini. Ia ingin memberi keindahan untuk adiknya bukan menyiksanya. Berlahan Hendrik menarik pusakanya yang tadi terbenam di dalam goa Ana.
Rasa lucu juga tadi waktu masuk warna kulit sawo matang kenapa sekarang malah jadi merah seperti di lumuri saos tomat. Ana merintih kesakitan saat di cabut.
Pandangannya menatap lurus pada netra mata coklat sang kakak, Ada rasa kecewa juga. Ada apa dan kenapa tiba tiba kakaknya mencabut. " kenapa kak ?" Ana memberikan diri untuk bertanya.
" kakak tidak tega sayang melihat kamu kesakitan seperti itu." Pandangan Ana menunduk di antara rasa malu dan rasa ingin lanjut.
Setan oh setan, biarlah persetan dengan siapa pria yang di atasnya. Ana menutup mata dan logikanya. " tidak apa kak, tadi kakak bilang rasa sakit itu hanya di awal." Ana menggeleng.
" kamu yakin." Ana mengangguk.
Pikir Ana untuk apa tidak di lanjutkan toh dia sudah tidak perawan lagi, selaput darahnya sudah sobek. Hal bodoh yang di lakukan Ana adalah saat ini.
Dengan telanjang bulat tanpa sehelai benang apapun, Hendrik mengangkat tubuh Ana ke kamar. Di rebahkan tubuh Ana dengan berlahan dan lembut. Hendrik mulai memberikan rangsangan lagi pada Ana, ia tidak ingin berburu buru untuk memberi kenikmatan pada adiknya.
Hendrik membuka lebar s**********n Ana, ia berusaha kembali menerobos goa yang masih sangat sangat sempit itu, Ana merintih kesakitan dalam desahan. Pelan pelan dengan tempo sangat lamban, Ana mencengkram kuat spei warna warna abu abu. Hendrik mengecup puncuk gundukan kembar adiknya secara bergantian. Desahan Ana memacu Hendrik untuk menaikkan temponya. Ana sudah tidak tahan lagi, ia mencapai klimaksnya dengan erangan yang kuat sambil menarik rambut Hendrik.
Semakin cepat tempo yang di mainkan Hendrik semakin dalam pula pusaka itu masuk dalam goanya, " sebut nama kakak sayang..." desah Hendrik dengan keringat menetes di tubuh Ana.
" kak Hend... Ana gak kuat lagi." dan erangan keras dua suara pasangan di Landa nafsu itu secar bersamaan Hendrik telah mencapai puncak kenikmatannya sama halnya dengan Ana yang juga mencapai klimaksnya.
Tubuh Hendrik terkulai lemas di samping Ana, mereka berdua mengatur nafas yang tersengal sengal. Hendrik mencium kening adiknya, kemudian menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya.
Hari sudah mulai malam, sepasang adik kakak itu masih tertidur pulas di atas kasur dengan cuaca gerimis di luar sana. Sementara yang di rumah keluarga Mahameru ada orang yang menunggu pulangnya Ana.
" sudah lah Mah... Ana kan sama Hendrik. Kenapa mamah harus cemas." tanya Alex pada shopia
" pah... walau bagaimanapun Ana anak gadis, Hendrik pria dewasa." cemas Shopia
" mamah... mereka adik kakak tolong jangan berfikir macam macam. Papah percaya Hendrik akan bisa menjaga adiknya." kata akan membuat Shopia berfikir. Ya akan tapi kalau tidak bagaimana, sedangkan mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Shopia mulai berfikir negatif lagi.
Tempo hari, Shopia mendapatkan curhatan dari Alya tentang seberapa marahnya Hendrik ketika tau Ana menjadi model salah satu rancangan gaun malamnya. Dari sana Shopia berfikir bahwa Hendrik terlalu posesif pada Ana. Selama ini Shopia diam bukan berarti tidak tau, dari sorot mata Hendrik pun terlihat jelas betapa dia tidak sukanya dengan hubungan Ana dan Gio.
" pah bagaimana kalau kita paksa Hendrik agar segera menikah dengan Alya." Tatapan mata Alex semakin menyorot tajam pada isterinya.