20

1333 Words
Beberapa jam yang lalu, Shopia mendapatkan hasil kondisi suaminya. Dokter berkata penyakit yang di derita Alex sudah lama sekali tapi tidak pernah di rasakan olehnya. Shopia pun menyangkal karena selama ini kondisi suaminya seperti baik baik saja itu karena Alex tidak ingin membebani fikiran keluarganya. Shopia ingat beberapa bulan yang lalu sebelum merekrut Hendrik menjadi kepala Presdir di perusahaannya Alex berpamitan akan melakukan perjalanan bisnis keluar Negeri selama sebulan, biasanya Alex selalu membawa sang istri jika ia keluar Negeri selain melakukan perjalanan bisnis mereka bisa jalan jalan dan honeymoon kesekian ratus kali. Tapi waktu itu Alex menolak keras keinginan Shopia untuk ikut, sampai Shopia berpikir negatif padanya. Ia berpikir kalau suaminya itu main perempuan di luar sana. Ternyata dugaan Shopia saat itu salah besar, sekarang semua terjawab sudah. Perjalanan bisnis suaminya saat itu hanya alasan saja, yang sebenarnya terjadi adalah Alex sendang melakukan transparansi ginjalnya di salah satu rumah sakit perusahaan. Shopia memukul mukul dadanya, mengerutu kebodohannya saat itu marah marah pada Alex. Betapa bodohnya dia tidak tau penyakit yang menggerogoti tubuh suaminya saat itu, istri macam apa dia saat itu. Tubuhnya lemas di atas ubin rumah sakit yang dingin. " bangun mah..." Hardin mencoba membangunkan mamahnya di lantai " mamah istri tidak berguna Din... mamah bodoh." tangis Shopia semakin menjadi jadi. Keterangan kondisi suaminya saat ini terus terngiang ngiang di telinganya. Transportasi ginjal Alex gagal karena ginjal satunya tidak bisa merespon dengan baik ditubuh Alex. Shopia tidak sadarkan diri di pelukan Hardin, ia langsung membawa mamahnya keruangan UGD untuk mendapatkan perawatan. Sementara itu Ana duduk mematung di kamarnya, mengingat kenyataan pahit dalam hidupnya. Dia bukan anak dari mamah papahnya berarti dia bukan adik dari Hendrik dan Hardin. Tatapannya kosong matanya bengkak terlalu banyak menangis, sampai ia tak sadar Hendrik masuk membawa nampan berisi semangkuk sup jamur kedukaannya dan segelas s**u vanilla kesukaannya juga. " sayang makan ya..." Ana masih diam tak menjawab " sayang jangan siksa bayi kita ya... kakak suapin ya..." Hendrik menyendok sup ke arah mulut Ana. Ana menampelnya sampai jatuh, " kenapa selama ini kakak diam, tidak pernah memberi tau Ana... kakak jahat.," Hendrik tidak marah sama sekali, melihat kondisi Ana seperti itu di tambah lagi ada janin hasil pembuahannya yang tumbuh di dalam perut Ana membuat Hendrik merasa semakin sedih. " Dengarkan kakak sayang..." Hendrik mengarah dagu Ana agar mereka saling berpandangan. " hal yang paling kakak takutkan adalah kehilangan kamu, dan hal yang paling kakak benci adalah melihat kamu bersedih." Hardin mengusap sisa air mata Ana di pipinya. Mata mereka saling bertatapan, wajah mereka terkikis 2 Sentimeter saja. Sedikit lagi bibir mereka akan saling bertemu. Akhirnya bibir mereka bersatu belum sempat ada lumatan pintu kamar Ana di banting dengan kasar mereka melepaskan ciuman itu. " apa kalian mau berbuat dosa lagi, dasar pria b***t sudah tau adik sendiri masih saja di embat dan kamu Ana, kamu itu calon istri ku tapi tubuhmu sudah kamu lempar suka rela pada pria yang berstatus kakak kandungmu sendiri. Apa kalian ini manusia,." ucap gamblang Aska tubuhmu sudah di jajah pria lain, tidak jauh dari wanita berstatus jalang batinnya. " jaga mulutmu Ka..." Hendrik menunjuk ke arah wajah calon ipar yang tidak ia restui itu. Ingin rasanya Hendrik menghajar Aska saat ini juga tapi mata Ana seperti memohon agar tidak terpancing emosi oleh dosen gila itu. Di rumah sakit. Alex masih belum sadarkan diri juga saat ini, sudah 5 hari ia koma. Terpaksa pernikahan Ana dan Aska di undur sampai sang wali siuman. Keluarga Mahameru tidak hentinya berdoa memohon pada sang kuasa untuk kesembuhan Alex saat ini. Kemarin dokter dari Singapore juga datang ikut melakukan operasi lagi untuk Alex, Dokter spesialis penyakit dalam itu sudah memberikan vonis pada Alex dengan hitungan beberapa bulan saja. Keluarga Mahameru hanya menunggu mujizat dari sang pencipta saja karena umur umatnya ada di tangan sang pencipta alam semesta bukan dari analisa dokter. Tengah malam dini hari jari jari tangan Alex bergerak, matanya tertutup tapi bibirnya terus memanggil lirih nama Ana. Dan kebetulan juga Ana sedangkan ingin menunggu papahnya malam ini belum tertidur juga ia menghilangkan rasa kantuknya untuk membuka goegle tentang ibu ibu hamil muda, seru juga. " ini Ana pah...." Ana memegang tangan papahnya. " bolehkah papah minta satu permintaan dari kamu sayang..." Ana mengangguk. " menikah dengan Aska untuk menutupi aib keluarga kita. Hen kakakmu sayang, kalian tidak boleh berhubungan lebih dari saudara." " tapi pah... Ana juga mencintai kak Hen." " tolong kabulkan permintaan terakhir papah sayang." Sungguh dilema Ana saat ini, ia saat ini benar benar mencintai kakaknya tidak bisa berpisah dengannya tapi saat ini juga papahnya sedang sekarat memintanya dengan permintaan terakhir. " papah ingin besok kamu melakukan pernikahan dengan wali papah di sini sayang sebelum papah benar benar pergi meninggalkan kalian." " papah ini bicara apa... papah akan sembuh." Ana seperti sumber kekuatan Alex untuk ingin bertahan hidup lebih lama lagi. " baik pah... Ana akan menikah dengan kak Aska besok." keputusan terberat bagi Ana untuk menuruti keinginan papahnya. Alex tau sifat putri kesayangannya itu tidak bisa membangkang. Putri polosnya itu paling tidak tegaan dengan orang apalagi melihat kondisinya sekarang seperti itu. Keesokan harinya, pagi masih buta mentari pagi masih malu malu untuk keluar. Keluarga Mahameru di buat geger dengan pernikahan dadakan ini, padahal rencana akan di undur sebulan kedepan kenapa mendadak nanti siang. Héndrik orang paling tidak terima saat ini. " kamu pilih mana An... mau mempertahankan bayi hasil hubungan laknat dengan menikahi Aska atau kamu gugurkan kandunganmu sekarang juga." Ancam Shopia yang geram melihat tingkah putra bungsunya yang bersih kekeh mempertahankan hubungannya dengan Ana. Shopia tau bahwa Ana akan memilih menikah dengan Aska dari pada mengugurkan kandungannya, karena semalam Shopia mendengar dengan kedua telinganya sendiri obrolan antara Ana dan juga suaminya dari balik pintu. " sudahlah kak lupakan Ana, carilah wanita baik di luar sana untuk menggantikan Ana." miris sekali hati Ana berucap demikian, perutnya tiba tiba kram seakan sang bayi merespon tidak senang dengan ucapannya baru saja tapi ia berusaha menahannya agar tidak terlihat lemah depan Hendrik. " kamu tega An..." Hendrik melangkah pergi meninggalkan rumah dengan perasaan penuh rasa kecewa mendengar keputusan Ana. Padahal baru kemarin sebelum ke rumah sakit Ana berjanji akan mempertahankan bayinya dan juga hubungan mereka tapi sekarang Ana sendiri yang mengingkari itu. Maafkan Ana kak Hen, Ana mencintai kakak. Sangat dan tulus. Di rumah sakit. Ana dan Aska duduk berhadapan di depan bankar tempat tidur Alex. " sudah siap kedua mempelai." tanya pak penghulu " ya pak." jawab Aska tapi tidak Ana ia masih diam mematung dengan pandangan kosong Pikirannya mencari keberadaan Hendrik saat ini, dimana dia, sedang apa dia, bagaimana perasaannya saat ini, Tuhan lindungilah kak Hen, janagan biarkan dia melakukan sesuatu di luar nalarnya. " Saya kawinkan dan saya nikahkan Aska Admadja dengan Mariana Mahameru dengan mas kawin cincin emas 2 gram dan uang sebesar 2 milyar di bayar tunai." " saya terima nikah dan kawinnya Mariana Mahameru dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." dengan satu tarikan nafas Aska sudah melakukan ijab qobul di depan penghulu dan depan mertuanya dengan benar dan lantang. Tidak ada rasa gugup bagi Aska karena ini pernikahan keduanya yang tanpa dasar rasa cinta, jauh berbeda dengan pernikahan pertamanya yang di landasi cinta. " Bagaimana para saksi." tanya pak penghulu pada Alex Shopia, Hardin dan juga Tuan Admadja. Mereka berempat berkata Sah secara bersamaan. Dari balik pintu Hendrik berdiri disana dengan kondisi yang berantakan seperti orang yang baru saja baku hantam, dengan pandangan nanar Hendrik mengusap air matanya. Meninggalkan pintu di mana di dalamnya sedang ada acara sakral antara wanita yang ia cintai dengan pria lain. Hardin yang tidak sengaja menoleh melihat kakaknya miris sekali, hatinya juga merasa sakit melihat Hendrik seperti itu. " mah... Din keluar sebentar ya." Shopia hanya mengangguk. Hardin mengejar kakaknya. Shopia tidak melihat kedatangan Hendrik depan pintu, pandangannya fokus melihat putri sulungnya menikah terlebih dulu dari pada kakak kakaknya. Tidak ia sangka sekarang putri kesayangannya itu telah di persunting pria lain, sungguh ia menyesal sekali telah berucap kejam tadi pagi pada Ana. Maafkan mamah sayang... Batin Shopia menyeka air mata harunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD